SUMBARTIME.COM-Salim memberikan pelajaran yang telah dia terima selama tiga tahun ini. Baik pelajaran yang telah dia kuasai. Maupun pelajaran dalam taraf dilatih. Ternyata pelajaran Mei-mei maju dengan sangat cepat. Malah kini dia sangat sukar menundukkan gadis itu. Dalam rimba persilatan, memang terdapat apa yang disebut anak anak ajaib.
Di Tiongkok, yaitu tempat asal muasal silat yang ada di seluruh dunia, anak ajaib di kalangan persilatan ini lahir satu atau dua orang dalam seratus tahun.Itupun sangat sulit menemukannya. Kalau ada, maka sejak lahirnya anak itu senantiasa menjadi rebutan kalangan persilatan. Sebab bisa diduga, siapa saja yang berhasil menjadikannya murid, pastilah perguruannya akan menjadi perguruan yang disegani.
Itu pulalah yang terjadi pada ayah dari kakek Mei-mei. Bu Beng Kiam Hiap dari Tinggoan yang terkenal itu. Ayah kakeknya ini, lahir di biara Budha. Biara itu milik perguruan Bu Tong Pay. Kala itu Biksu Bu Tong Pay yang melihat pertama kalinya sangat terkejut. Diam diam dia memelihara anak itu. Namun Biksu itu membuat suatu kesalahan.
Dalam rangka mengamankan anak itu agar tak sampai jatuh ke tangan perguruan lain, dia sampai sampai tak membenarkan ayah ibunya menemui si anak.Ini sudah keterlaluan- Suatu malam anak itu diculik oleh ayahnya sendiri. Dan si ayah hampir mati di tangan si Biksu. Namun saat itu muncul seorang pendekar dari perguruan Siaw Lim Pay, yang menolong ayah dan ibu anak itu dari kematian. Membawa ketiga beranak itu ke perguruannya.
Dan tentu kehadiran anak itu disambut dengan kaget dan gembira oleh guru guru besar perguruan tersebut. Akhirnya ayah kakek Mei-mei menjadi pesilat yang kesohor. Kesohor karena dia selalu muncul di saat saat genting.Dimana ada penindasan dari yang kuat pada yang lemah, di sana dia muncul dan turun tangan menolong. Siapa sangka, cucu buyutnya yang lahir di Indonesia juga mempunyai susunan tulang seperti dia. Dan kini menjadi murid dari Perguruan Silat Tuc di Minangkabau.
Datuk Penghulu tak memiliki banyak murid. Bukannya tak ada orang yang ingin berguru padanya. Cukup banyak orang yang datang. Tapi dia selalu menolak dengan halus. Kini muridnya hanya tiga orang. Si Upik anaknya, Salim kemenakannya dan Mei-mei. Hanya tiga orang. Namun dia merasa puas dengan ketiga muridnya ini. Salim dan Mei-mei menjadi dua sahabat. Kehadiran Mei-mei di rumah Datuk Penghulu tak banyak diketahui orang.
Pertama karena rumah Datuk itu terletak di tengah kebun yang luas, selain itu dikelilingi pula oleh hutan bambu di daerah Padang Gamuak. Di daerah itu hanya ada beberapa rumah.Mei-mei juga sangat menyayangi Upik. Gadis kecil ini tak punya abang dan tak punya kakak. Itulah kenapa dia memanggil Mei-mei dengan sebutan Uni. Mei-mei senang punya adik seperti dia. Baik Datuk Penghulu maupun istrinya, sangat menyayangi Mei-mei.
Gadis itu sangat pandai membawa diri. Dia sudah bisa bertanak dan menggulai. Pandai merendang dan membuat dendeng.Mei-mei gadis yang tak segan bekerja keras membantu istri Datuk Penghulu. Hari ini, selesai latihan Salim mengawani si Bungsu. Dia ingin membawa anak muda itu berjalan jalan keliling rumah untuk melatih kakinya. Mereka berjalan di bawah pohon bambu. Kemudian tengah hari mereka kembali kerumah.
Si Bungsu duduk di bawah pohon jambu di depan rumah tersebut, dikawani oleh Salim. Salim menceritakan kemajuan kemajuan yang dicapai oleh Mei-mei dalam latihan silat.“Saya dengar mak Datuk bercerita tentang perkelahian engkau dengan penyamun penyamun di Penginapan itu ..” Salim berkata setelah dia bercerita tentang kemajuan Mei-mei dalam silat.“Oh ya ..?”“Ya. Saya ingin sekali belajar mempergunakan samurai itu.
Apakah sulit belajarnya ..?” Si Bungsu tersenyum.“Ilmu silatmu cukup tinggi. Saya pernah mencoba belajar. Namun tak pernah bisa. Saya memang tak ada jodoh untuk jadi pesilat. Mempergunakan samurai inipun hanya karena takdir saja. Kekerasan tekad untuk membalas dendam”.Dia lalu menceritakan nasib keluarganya. Nasib yang menimpa diri mereka. cerita itu pernah dia Ceritakan pada Datuk Penghulu Basa dan istrinya ketika lima belas hari dia terbaring.
Dia juga menceritakan nasib yang menimpa diri Mei-mei kepada kedua suami istri itu. Itulah sebabnya kenapa suami istri kusir bendi itu merasa sayang pada Mei-mei. Mereka menganggap Mei-mei sebagai kakak si Upik. Dan kini si Bungsu menceritakan perihal dirinya pada Salim.“Saya tak menyangka demikian pahitnya hidupmu Bungsu ..” kata Salim, setelah si Bungsu selesai bercerita.Si Bungsu menarik nafas panjang, ketika Salim permisi sembahyang ke Mesjid di tepi jalan besar di luar hutan bambu ini, si Bungsu tegak dan berjalan perlahan dengan dibantu sebuah tongkat kerumah.
Di ruang tengah dia melewati istri Datuk Penghulu yang tengah sembahyang. Dia ingat belum sembahyang lohor. Tapi dalam keadaan sakit begini apakah dia mungkin untuk sujud? Sembahyang duduk sajakah? Dia mencari kain sarungnya. Mungkin dijemur. Dia kembali lewat di ruang tengah. Akan ke belakang mencari Mei-mei untuk mengambil sarungnya. Namun di pintu ruang tengah dia tertegak seperti patung.
Dia tertegak diam melihat pada perempuan sembahyang yang tadi dia sangka istri Datuk Penghulu itu. Perempuan itu nampaknya baru selesai sembahyang. Kini dia tengah menampungkan tangannya membaca doa. Dan ketika dia benar benar melesai sembahyang, dia menoleh pada si Bungsu. Si Bungsu benar-benar terkesima. Dia ingin bicara, namun lidahnya terasa kelu.“Koko ..” akhirnya perempuan itulah yang bicara perlahan.
Masih dalam keadaan terpukau, si Bungsu melangkah kembali ke ruang tengah. Perlahan dia duduk di depan perempuan itu. Perempuan yang baru saja selesai sembahyang itu tak lain daripada Mei-mei.“Koko .. sebentar ini aku berdoa untuk arwah ibu dan ayahku. Dan aku berdoa untukmu. Untuk kesembuhanmu. Untuk keselamatanmu ..”“Mei-mei kau ..?” hanya itu kalimat yang terucap si Bungsu.Ada perasaan yang amat luar biasa menyelusup ke hatinya melihat gadis itu sembahyang Lohor.
“Ya, koko. Telah saya pikirkan. Dan saya memilih islam sebagai agama saya ..”“Tapi …”“Saya merasa tentram dan damai setelah sholat. Bukankah koko yang mengatakan itu dipenginapan dulu?” si Bungsu masih tak kuasa bicara.“Masih ingatkah koko waktu saya bertanya, apakah tak meletihkan sembahyang lima kali sehari semalam? Koko katakan, bahwa diri koko merasa tentram dan damai set iap selesai sembahyang. Diri koko merasa mendapatkan tenaga dan semangat baru setiap selesai sholat.
Itulah yang mendorongku untuk masuk Islam. Tak ada yang membujuk. Tak ada yang memaksaku. Di rumah ini kulihat mereka sembahyang semua. Dan mereka bahagia, damai, sabar. Meskipun mereka miskin. Bukankah kedamaian dan kebahagian itu yang dicari orang? Kusampaikan niatku itu pada Pak Datuk. Kusampaikan pada istrinya Mak Ani. Mereka membawaku ke Mesjid. Mak Ani memandikanku.
Dan Imam yang ada di mesjid itu membacakan dua Kalimah Shahadat, dan kuikuti. Pak Datuk dan Salim serta Mak Ani sebagai saksi. Sejak hari itu, dua pekan yang lalu, aku telah menjadi seorang muslimah. Dan aku memang mendapatkan kedamaian, ketentraman, semangat baru set iap selesai sholat .. aku bahagia memilih Islam menjadi agamaku …”Tanpa dapat ditahan, mata si Bungsi jadi basah. Mei-mei menatap matanya yang basah.
Dan pelan pelan, mata gadis itu ikut basah. Dan tiba tiba mereka berpelukan.“Koko, engkau sedih aku masuk Islam ?”“Tidak Moy-moy. Tidak. Aku hanya akan sedih kalau kau masuk Islam hanya karena ing in menyenangkan hatiku. Percayalah, tanpa masuk Islam pun engkau, aku tetap kusayang padamu.
Engkau tetap adikku ..”“Tidak koko. Aku masuk Islam bukan karena engkau. Aku masuk Islam karena takdir Tuhan. Bukankah takdir manusia di tangan Tuhan Yang Satu? Tuhan mentakdirkan aku bertemu denganmu. Tuhan pula yang mentakdirkan aku masuk Islam. Aku bahagia menerima takdir itu koko. Sama seperti aku juga bahagia berada di dekatmu…”
“Terima kasih Moy-moy. Terima kasih adikku ..”Peristiwa itu dilihat oleh Datuk Penghulu yang baru pulang. juga dilihat dan didengar oleh Mak Ani, ibu si Upik yang tegak di ruang tengah. Karenanya mereka pada mengusap matanya yang basah. Terharu melihat persaudaraan kedua anak muda yang berlainan bangsa ini.
Yang satu kehilangan seluruh familinya di tangan Jepang. Yang satu kehilangan kehormatannya di tangan Jepang. Nasib mempertemukan mereka. Persis seperti diucapkan oleh Mei-mei sebentar ini. Bahwa mereka dipertemukan oleh Takdir yang telah diatur oleh Yang Satu.
Tanpa terasa setahun telah berlalu. Selama setahun itu Mei-mei dan si Bungsu tetap tinggal di rumah Datuk Penghulu di kampung Padang Gamuak Tarok. Mereka seperti tinggal di rumah orangtua sendiri. Datuk Penghulu dan istrinya menerima mereka dengan tangan terbuka. Datuk Penghulu ternyata seorang pejuang yang menghubungi anggota Gyugun, yaitu tentara Jepang yang berasal dari pemuda pemuda Indonesia.
Dia menginventarisir senjata yang berhasil dicuri, juga logistik, dikumpulkan untuk mempersiapkan bila terjadi perang kelak. Dia juga mencatat nama nama para anggota Gyugun yang bersedia menjadi tentara Peta yaitu pasukan Pembela Tanah Air. Kesibukan Datuk Penghulu akhir akhir ini memang makin meningkat.Sementara itu, kemahiran Mei-mei dalam persilatan setahun ini maju dengan amat pesat.
Salim yang selama ini bertindak sebagai pembantu Datuk Penghulu untuk mengajar Mei-mei, kini sudah tercecer jauh sekali. Bahkan dalam beberapa kali latihan, Mei-mei berhasil mengalahkan Datuk Penghulu. Datuk Penghulu jadi sangat bangga dan bahagia mempunyai murid seperti dia. Berbeda dengan guru guru silat pada umumnya, yang merasa terhina bila muridnya berhasil mengalahkannya. Datuk Penghulu justru merasa karena tak ada lagi ilmu yang bisa dia turunkan kepada Mei-mei.Bersambung>>>


















