TIKAM SAMURAI 30

EPISODE MERANTAU KE BUKITTINGGI

SUMBARTIME.COM-“Tenanglah Mei-mei. Kurasa arwah ibumu sudah tenang di akhirat. Dendamnya telah kubalaskan”“Ya, dendam ibu dan dendamku telah Koko balaskan. Terima kasih. Itulah sebabnya kenapa saya harus menyelamatkan Koko dari tangan Kempetai dua hari yang lalu…”

Iklan

Si Bungsu terharu. Gadis itu memanggilnya dengan sebutan Koko. sebutan itu berarti abang dalam bahasa Indonesia. Sebagai sebutan terhadap adik perempuan adalah Moy-moy. Dia mengetahui itu dari beberapa temannya orang Tlonghoa yang jadi temannya dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun gadis ini telah ternoda hidupnya, namun itu bukan atas kehendaknya sendiri.

Dia pegang bahu Mei-mei, dan berkata lembut :“Tenanglah Moy-moy. Aku akan melindungimu dari orang orang yang berniat mengganggumu”Mei-mei memang terdiam. Gadis cina yang cant ik ini, berwajah bundar berhidung mancung dengan mata yang hitam berkilat, hampir hampir tak percaya bahwa anak muda yang dipanggilnya dengan Koko itu balas memanggilnya dengan sebutan Moy-moy. Dan ketika dia yakin bahwa memang anak muda itu berkata demikian, dia lalu tegak dan tiba tiba mereka telah berpelukan.

“Terima kasih Koko, terima kasih …” isaknya.Si Bungsu memang seperti mendapatkan seorang adik. Dia pernah merasakan kasih sayang seorang kakak yang kemudian mati diperkosa Saburo. Kini dia seperti mendapatkan kembali tempat menumpahkan sayang yang telah hilang itu. Akan halnya Mei-mei, gadis Tionghoa malang yang berusia tujuh belas tahun itu adalah anak tunggal yang hidupnya selalu teraniaya. Lelaki yang diharapkannya menjadi pelindungnya adalah ayah tirinya.

Tetapi lelaki itu, si Babah gemuk komunis itu, ternyata telah menjualnya dari satu lelaki ke lelaki yang lain. Gadis yang tak pernah mendapatkan perlindungan dan kasih sayang itu kini ada dalam pelukan seorang pemuda Melayu yang telah membalaskan dendamnya, dan pemuda itu memanggilnya dengan sebutan adik, alangkah terlindungnya dia terasa.“Apakah Koko akan pergi ke Batusangkar mencari Saburo ?” Mei-mei bertanya ketika mereka kembali ke ruangan pertama.

Si Bungsu menatapnya. “Kalau aku pergi, dengan siapa engkau tinggal di sini, Moy-moy?”Gadis itu menunduk. Lama dia menatapjari jari tangannya. Kemudian ketika dia mengangkat kepala, si Bungsu melihat matanya basah. Gadis itu berkata perlahan :“Di sini tak ada lagi orang tempatku berlindung. Kalau aku tidak akan mendatangkan kesusahan bagi koko, aku ikut dengan koko. Kemanapun koko pergi …” Air mata lambat lambat membasahi pipinya. Nyata sekali suaranya adalah suara gadis yang dirundung sepi.

Suara gadis yang amat butuh perlindungan dan kasih sayang. Suara seorang gadis yang mulai menginjak usia remaja, yang selalu ingin dekat dengan orang yang disayangi. Si Bungsu menarik nafas panjang. Dia benar benar menyayangi Mei-mei. Bukan karena gadis itu amat cant ik bukan pula karena gadis itu telah menolong nyawanya. Tapi gadis itu dia sayangi karena si gadis memang harus disayangi. Harus dilindungi.

Dalam kasih sayang, perbedaan kulit dan asal usul tak pernah menjadi hambatan. Sebab rasa sayang muncul dari dalam tidak dipermukaan.“Apakah ada familimu di Batusangkar ?” Mei-mei menggeleng.“Di Bukittinggi?”“Kalau di Bukittinggi ada. Adik jauh ibu. Tinggal di Kampung cina …”Si Bungsu berfikir. Di akan mengantarkan gadis ini terlebih dahulu ke Bukittinggi. Di sana dia bisa tinggal di rumah saudara ibunya itu.

Untuk dibawa kemana pergi memang akan menyusahkan. Bukan karena dia tak mau. Tapi yang akan dia hadapi adalah bahaya melulu. Dan dia tak mau membawa bawa Mei Mei kedalam bahaya. Nanti kalau urusannya dengan Saburo di Batusangkar selesai, dia akan menjeputnya ke Bukittinggi.“Baiklah. Kita akan pergi ke Bukittinggi bersama, kalau keadaan telah memungkinkan …”“Terima kasih koko, terima kasih”Mei-mei melompat memeluk si Bungsu.

Dia sangat bahagia bisa pergi bersama anak muda itu. Belasan tahun dia hidup di rumah ini. Disekap tak boleh keluar. Dia hanya bisa keluar dikala Hari Raya Imlek. Itupun tidak bisa jauh jauh. Tugas berat selalu menantinya di rumah. Memuaskan nafsu perwira perwira Jepang. Kini dia bersumpah untuk meninggalkan semua pekerjaan laknat yang dipaksakan padanya itu. Dia akan tobat dan minta ampun pada Tuhan. Tapi mereka baru bisa meninggalkan rumah itu setelah masa dua minggu.

Sebab selama jangka waktu itu, Kempetai tetap mengawasi rumah tersebut dengan ketat. Mei-mei terpaksa minta bantuan pembantunya, seorang wanita Minang, untuk membelikan keperluan mereka kepasar. Dan suatu malam, yaitu di saat mereka sudah merasa pasti untuk bisa melarikan diri, mereka lalu keluar dalam hujan lebat. Dengan membayar cukup tinggi, mereka bisa menompang sebuah bus yang akan berangkat ke Padang.

Bagi mereka soal uang tak jadi halangan. Uang judi yang dimenangkan oleh si Bungsu ternyata diselamatkan Mei-mei ketika dia membersihkan jejak si Bungsu sesat sebelum Kempetai mendobrak pintu. Selain itu, mereka juga berhasil menemukan simpanan uang dan perhiasan emas milik ayah tiri Mei-mei. Jumlahnya bisa membuat mereka jadi orang kaya. Uang itu didapat si Babah dari hasil judi, hasil menjadi mata mata untuk Belanda dan Jepang, dan hasil menjadi germo bagi beberapa perempuan di rumahnya itu.

Termasuk diri Mei-mei.Di dalam bus itu hanya ada beberapa lelaki dan tiga orang perempuan. Perempuan yang dua separo baya, yang satu lagi adalah Mei-mei. Selain ketiga perempuan itu, penompang yang lainnya adalah enam orang le laki. Dalam hujan lebat, bus itu melaju membelah jalan raya yang nampaknya seperti ular raksasa berwarna hitam. Memanjang dan meliuk liuk di tiap tikungan.

Lima lelaki penompang bus itu tak pernah menoleh ke belakang ketempat si Bungsu dan Mei-mei. Mereka hanya memandang sekali, yaitu ketika naik tadi. Setelah itu, kelima lelaki itu tetap memandang kedepan dalam kebisuan. Namun si Bungsu yang telah hidup di rimba raya, yang kini memiliki indera yang amat tajam, dapat merasakan bahaya yang datang dari kelima lelaki itu. Meski lelaki lelaki itu berdiam diri saja, bahkan saling berbisikpun tidak.

Namun firasatnya yang tajam membisikkan akan adanya bahaya. Dia tetap diam. Sementara bus itu berlari sambil terguncang guncang karena jalan yang berlobang lobang. Dalam diamnya dia mulai membuat perhitungan. Kenapa kelima lelaki ini sampai berniat tak baik pada mereka. Apakah itu hanya hayalannya saja? Tidak. dia tak pernah dibohongi oleh firasatnya.Nah, mungkin ada tiga sebab kenapa mereka ingin berbuat tak baik. Pertama mungkin melihat Mei-mei yang cantik.

Dizaman Jepang berkuasa, hampir tak pernah orang melihat perempuan cantik berada di luar rumah. Nah, mungkinkah lelaki lelaki ini menginginkan tubuh Mei-mei? Atau barangkali mereka telah mencium bahwa di dalam bungkusan yang dia bawa tersimpan uang dan perhiasan emas yang nilainya amat tinggi? Atau barangkali juga mereka mengetahui, bahwa Mei-mei berasal dari rumah bordil dimana si Babah menjadi mata-mata. Karena itu mereka menduga bahwa Mei-mei adalah mata mata Jepang pula.

Kalau dugaan terakhir ini benar, maka si Bungsu tak begitu khawatir. Sebab tentulah kelima lelaki itu dari pihak pejuang pejuang Indonesia. Atau para lelaki itu merasa curiga atas kehadiran mereka berdua, sepasang anak muda, yang satu cina dan yang satu Melayu?Pikirannya masih belum rampung, ketika bus tiba tiba berhenti. Dari cahaya lampu bus, si Bungsu segera mengetahui, bahwa mereka tidak lagi berada pada jalan utama menuju Bukittinggi.

Nampaknya sebentar ini ketika dia melamun, bus telah dibelokkan kesuatu jalan kecil dimana dia kini berhenti. Si Bungsu mulai merasa bahwa firasatnya tadi akan terbukti. Kelima lelaki itu turun satu demi satu. Akhirnya tinggal kedua perempuan separoh baya tadi, si Bungsu, sopir dan seorang lelaki yang bertubuh kurus dan Mei-mei.“Turunlah sanak berdua sebentar” Seorang lelaki yang bertubuh kurus, saat akan turun berkata pada si Bungsu. si Bungsu menatap saat dia turun.

“Dimana kita sekarang ..?” si Bungsu bertanya pada sopir.“Disinilah”, sopir itu menjawab seadanya.Dari jawaban itu si Bungsu tahu, bahwa sopir bus berada dipihak kelima lelaki itu.“Mengapa kami harus turun ?” si Bungsu bertanya pada si Kurus yang sudah menjejakkan kakinya di tanah.“Turun sajalah kalau sanak mau selamat …”Si Kurus itu berkata dengan suara kering serak. Mei-mei merapatkan duduknya pada si Bungsu. Tangannya memeluk tangan si Bungsu erat erat.“Jangan turun koko ..jangan turun ..” gadis itu berbisik ketakutan.

“Diamlah Moy-moy …”“Hei, waang yang ada di atas, turunlah bersama anak cina itu”Tiba tiba terdengar bentakan dari bawah. Mei-mei makin mengeratkan pegangan tangannya pada si Bungsu.“Kenapa kita tak terus saja ?” si Bungsu masih mencoba bertanya pada sopir.“Lebih baik kau turun saja daripada tubuhmu dilanyau mereka ..” Sopir itu menjawab dingin.Namun si Bungsu tak beranjak dari tempat duduknya. Tempat dimana mereka duduk, kebetulan tak ada jendela di kiri kanannya Jadi mereka aman.

Sebab dinding bus itu terbuat dari kayu tebal. Yang ditakutkan si Bungsu adalah kalau kelima lelaki itu memiliki senjata api. Kalau ada, maka dia dan Mei-mei bisa celaka. Tapi kalau tidak dia merasa aman di atas bus ini.“Kami beri waang kesempatan satu menit untuk turun. Kalau tidak. waang akan kami seret ke bawah ..” terdengar lagi bentakan“Kenapa tak sanak katakan saja apa maksud sanak sebenarnya ?” si Bungsu menjawab.“Turunlah. Jangan banyak cakap waang di sana …

”“Kalau sanak yang punya keperluan, silahkan naik lagi dan kita berunding di sini. Saya tak punya keperluan untuk turun” jawab si Bungsu.Terdengar sumpah serapah dan carut marut dari kelima lelaki di bawah itu. Namun si Bungsu tetap duduk diam di tempatnya. Ketika mereka menyuruh turun lagi, si Bungsu membisikkan sesuatu pada Mei-mei. Kemudian kedua anak muda ini bangkit dari tempat duduknya. Mereka seperti akan turun, tapi ternyata tidak. Si Bungsu hanya pindah tempat.

Kini mereka duduk persis di belakang sopir. Melihat keras kepala anak muda ini, dua orang segera naik dengan maksud menyeretnya kebawah. Si Bungsu sampai saat itu masih belum mengetahui siapa mereka sebenarnya. Apakah orang yang berniat merampok saja atau dari pihak pejuang.Dia tak mau salah turun tangan. Sebab dia sudah bersumpah takkan menurunkan tangan jahat pada pejuang pejuang Indonesia.

Sama halnya seperti dia dilanyau oleh anak buah ayahnya di dekat Mesjid ketika mula pertama turun gunung dulu. Dia tak sedikitpun mau membalas pukulan pukulan mereka. Meskipun dengan mudah dia bisa membunuh orang orang itu. Kinipun, ketika kedua orang itu naik lagi keatas bus dengan wajah berang, dia berkata dengan tenang :“Saya harap sanak mengatakan apa maksud sanaksebenarnya. Apa yang sanak inginkan dari kami ..”

“Jangan banyak bicara waang. Anjing”Lalu tangan orang itu dengan kasar merengutkan bahu Mei-mei. Gadis ini terpekik. Dan sampai di sini si Bungsu mengambil kesimpulan, bahwa orang ini bukan dari pihak pejuang Indonesia. Dia kenal sikap pejuang pejuang bangsanya. Tak mau berlaku kasar dan kurang ajar. Tangannya bergerak. dan lelaki yang tengah mencekal tangan Mei Mei itu terpekik. Dia merasa dada dan lengannya pedih. cekalan pada tangan Mei-mei dia lepaskan. Dan dia lihat dada serta lengan yang tadi terasa pedih itu berdarah.

Temannya yang satu lagi melompati bangku menerjang si Bungsu. Namun dalam bus sempit itu, gerakan jadi terhalang. Dan kembali dia terpekik ketika samurai di tangan si Bungsu bekerja.Pahanya robek dan mengucurkan darah. Mendengar temannya terpekik, ketiga temannya yang di bawah melompat naik. Melihat kedua temannya itu luka, ketiga mereka lalu menghunus golok yang tersisip di pinggang.

Tapi apalah artinya gerakan mereka dibandingkan dengan gerakan anak muda ini. Dua kali gerakan dengan masih tetap duduk dan sebelah tangan memeluk bahu Mei-mei, ketiga orang itu pada melolong panjang. Golok di tangan mereka terpental. Dan tangan serta wajah mereka robek. Masih untung bagi kelima orang ini, karena si Bungsu tak menurunkan tangan kejam pada mereka.Anak muda itu hanya sekedar melukainya saja. Tak berniat membunuh.

Ketika kelima lelaki itu terperangah di tempat duduk mereka, si Bungsu menekankan ujung samurainya pada sopir. inilah maksudnya pindah kebelakang sopir itu. Yaitu agar mudah mengancamnya untuk menjalankan bus. Dengan suara datar, dia berkata:“Kalau kudukmu ini tak ingin kupotong, jalankan kembali bus ini…”Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here