TIKAM SAMURAI 31

SUMBARTIME.COM-Sopir itu sudah sejak tadi pucat. Begitu terasa benda runcing dan dingin mencecah tengkuknya, tubuhnya segera menggigil. Seperti robot dia kembali menghidupkan mesin bus. Beberapa kali bus itu hidup mati mesinnya. Sebab sopir itu salah memasukkan gigi.“Tenanglah, kalau tidak nyawamu kucabut dengan samurai ini” Si Bungsu berkata.

“Ya .. ya pak Saya tenang .. saya tenang ..”Sopir itu menjawab sambil menghapus peluh. Bus itu berjalan. Kembali memasuki jalan utama menuju Bukittinggi. Kembali merangkak terlonjak lonjak dijalan yang berlobang lobang. Deru mesinnya seperti batuk orang tua yang sudah sakit menahun. cukup lama bus itu berkuntal kuntil ketika tiba tiba sopir menginjak rem.“Ada pemeriksaan oleh Kempetai ……..” sopir berkata.

Iklan

Mei-mei, menatap pada si Bungsu. Si bungsu menyimpan samurainya. Kelima le laki yang luka itu saling memandang.“Mau kemana ..?” suatu suara serak bertanya dari bawah kepada sopir. Buat sesaat sopir itu tergagap tak tahu apa yang harus dijawab. Sebuah kepala menjulur kedalam. Memperhatikan isi bus tua itu. Memperhatikan wajah yang luka luka.“Hmm, ada yang luka. Kenapa ?”“Kami baru saja dirampok di bawah sana ..” si Bungsu berkata.“Di mana ada rampok ?” Jepang itu balik bertanya.

“Di Padang Tarab ..”sopir menjawab cepat.“Siapa yang merampok ?”“Orang Melayu ..”“Berapa orang ..?”“Ada delapan orang. Mereka semua memakai pedang..” salah seorang yang luka itu menjawab.“Mereka tidak merampok perempuan ?”Jepang itu bertanya lagi. Sementara matanya nanar menatap Mei-mei yang duduk memeluk si Bungsu.“Semula mereka memang ingin. Tapi begitu dia ketahui bahwa gadis ini sakit lepra, mereka cepat cepat menyingkir. Dan hanya uang kami yang mereka sikat …” jawab si Bungsu.“Lepra ..?” Jepang itu bertanya kaget.“Ya. Isteri saya ini sakit lepra .. akan dibawa kerumah sakit Bukit Tinggi ..” si Bungsu menjawab lagi.

Kepala Jepang itu dengan cepat menghilang keluar. Kemudian terdengar perintah untuk cepat cepat jalan. Bus itu kemudian merayap lagi. Mereka semua menarik nafas lega. Kelima lelaki itu menjadi lega, karena mereka lepas dari tangan Kempetai. Sebab merekalah yang melakukan beberapa kali perampokan di sepanjang jalan Bukittinggi Payakumbuh. Dan bus ini salah satu alat mereka untuk itu. Si Bungsu tak mengetahui, bahwa yang dia lukai adalah perampok perampok.

Orang Minang yang mempergunakan kesempatan dalam kesempitan orang yang mengail di air keruh. Ketika penduduk sedang ketakutan dan menderita di bawah kuku penjajahan Jepang, mereka menambah penderitaan itu dengan merampok.Padahal yang mereka rampok hanya orang-orang sebangsanya, mana berani mereka merampok tentara Jepang. Tapi malam ini mereka mendapat pelajaran pahit dari anak muda ini.

Untung saja anak muda ini tak mengetahui sepak terjang mereka selama ini. Kalau saja si Bungsu tahu, mungkin kelima lelaki ini sudah mampus semua. Bungsu merasa lega karena dia lepas dari pengawasan Kempetai. Kalau saja mereka tahu, bahwa dialah yang membunuhi Jepang di bulan-bulan terakhir ini, mungkin dia akan mati mereka tembak di dalam bus ini. Untung saja mereka tak tahu. Sementara itu Mei-mei menatap si Bungsu dengan perasaan takjub.

Dia merasa takjub, dan amat berdebar mendengar ucapan si Bungsu yang terakhir pada Jepang itu :“Isteri saya ini sakit lepra .. akan dibawa kerumah sakit”Kata kata Isteri saya ini yang diucapkan si Bungsu mengirimkan denyut amat kencang kejantungnya. oh, kalau saja benar bahwa anak muda ini menjadi suaminya, alangkah bahagiannya dia. Dia merasa aman dalam pelukannya. Merasa tentram dan terlindungi di sisinya. Si Bungsu merasa gadis itu tengah menatapnya. Dia balas menatap.“Moy- moy ..” katanya sambil tersenyum.“Koko..”

“Sebentar lagi kita akan sampai di Bukittinggi ..” bisiknya.Mei-mei hanya mengangguk. Kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu si Bungsu. Bus itu tadi dicegat lagi oleh Kempetai di pos penjagaan di Baso. Mereka memang tengah mendekati Bukittinggi. Kota itu mereka masuki hampir tengah malam.“Antarkan saya kepenginapan ..” si Bungsu berkata pada sopir.“Ya .. ya..” sopir yang masih merasa ngeri pada samurai di tangan anak muda yang berada di belakangnya ini menjawab cepat.

Bus berhenti di sebuah penginapan di Aur Tajungkang. Sebelum turun, si Bungsu menoleh kepada ke lima lelaki yang masih tersandar dan luka luka itu. “Saya tak pernah menyusahkan sanak sebelum ini. Saya tak mau kita berurusan lagi. Ingatlah itu..” katanya berlahan. Kemudian dia membimbing tangan Mei-mei turun dari bus. Meninggalkan para rampok itu terperangah. Diam dan mati kutu. Dua orang perempuan separoh baya yang sejak tadi duduk ketakutan di belakang, ikut bergegas turun di penginapan itu.

Mereka adalah dua orang perempuan yang berjualan kacang dan jagung dari Bukittnggi ke Payakumbuh dan Padang Panjang. Ketika mereka sama sama mendaftar di penginapan kecil itu, kedua perempuan itu menceritakan tentang perampokan yang beberapa kali pernah terjadi terhadap pedagang pedagang.“Apakah kelima orang tadi adalah perampok itu ?” tanya si Bungsu.“Tak tahu kami. Kebetulan kami tak pernah mengalami nasib kena rampok.

Tapi beberapa teman yang telah pernah mengalami mengatakan, bahwa perampok perampok itu memang orang awak jua. Dan caranya memang seperti tadi. Sama sama menompang bus. Kemudian berhenti di tempat sepi. Untung ada anak muda. Kalau tidak. pastilah kami yang kena rampok …”Si Bungsu terdiam. Kemudian mereka masuk kekamar karena hari sudah larut malam.

Karena semua kamar penuh, maka dia terpaksa satu kamar dengan Mei-mei. Untung dalam kamar itu ada dua tempat tidur.“Tidurlah Moy- moy. Besok kita cari famili ibumu yang di Kampung cina..” katanya perlahan
“Koko tidak tidur ?”“Ya. Saya juga akan tidur. Tapi saya akan sembahyang dulu”

Dia lalu berganti pakain dengan kain sarung. Kemudian ke kamar mandi berudhuk. Mei-mei belum tertidur. Dia melihat anak muda itu sembahyang. Dia melihat tubuh anak muda yang semampai itu. Bermuka lembut atau lebih tepat dikatakan murung. Sinar matanya sayu. Ketika si Bungsu selesai sembahyang Isa, ketika dia menoleh mengucapkan salam dia melihat Mei-mei belum juga tidur. Masih menatap padanya. Dia tersenyum pada gadis itu.

“Belum tidur Moy-moy ?”Mei-mei menggeleng. Kemudian duduk di sisi tempat tidur. Si Bungsu masih duduk di lantai yang beralas tikar. Mei-mei pindah duduk ke bawah, duduk tak jauh dari si Bungsu.
“Koko sembahyang apa ?”“Isa ..”“Kenapa orang Islam harus sembahyang lima kali sehari semalam ?”“Karena begitu suruhan Tuhan ..”“Tidak melelahkan ?”Bungsu menatap Mei-mei. Dia tersenyum. Pertanyaan begitu pernah memenuhi tengkoraknya dulu. Ketika ayahnya selalu menyuruhnya sembahyang.

Waktu itu dia bukan hanya sekedar bertanya, tapi malah membangkangi suruhan ayahnya. Tak mau sembahyang. Buat apa sembahyang, pikirnya. Kesempatan untuk bersuka ria adalah waktu muda. Kelak kalau sudah tua, barulah sembahyang.Lagi pula, sembahyang lima kali sehari semalam, alangkah seringnya. Kenapa sembahyang itu tidak hanya sekali seminggu, atau paling tidak sekali dua hari misalnya.

Itu mungkin lebih ringanNamun ketika sendirian di Gunung Sago, ketika dia bersujud menyembah Allah di tengah belantara, dia merasakan betapa tentram hatinya saat dan setelah sembahyang. Dia merasakan betapa Tuhan melindunginya. Dia merasakan suatu kedamaian setiap selesai sembahyang. Dia merasakan seperti mendapat tenaga dan semangat baru selesai sholat. Ya, itulah intinya. Menemukan kedamaian dan ketentraman, menemukan semangat dan tenaga baru, setelah mengerjakan suruhan Tuhan.

Perlahan dia menjawab pertanyaan Mei-mei,“Tidak ada pekerjaan yang melelahkan, bila pekerjaan itu dikerjakan dengan ikhlas. Apalagi kalau kita mencintai pekerjaan itu Moy-moy”Mei-mei menatapnya.“Engkau pernah sembahyang Moy-moy ?”Mei-mei menggeleng.“Waktu kecil bersama ibu saya pernah sembahyang. Tapi semenjak ibu meninggal, saya tak lagi pernah melakukannya ..” ujar Gadis itu sembari menunduk.“Nah, tidurlah Moy-moy. Koko juga mengantuk ..

”Namun mereka belum sempat membaringkan dirinya di tempat tidur, ketika terdengar suara heboh. Suara heboh itu diikuti oleh suara menggedor pintu kamar mereka.“Hei beruk yang ada di dalam. Buka pintu ini cepat”Suara berat terdengar memerintah. Dari suara yang berbahasa Minang itu, si Bungsu segera tahu bahwa orang di luar adalah lelaki asal daerah ini. Dia menatap pada Mei-mei yang tertunduk di tepi pembaringan. Kemudian mengambil samurainya. Kemudian melangkah kepintu.

“Tenang saja di dalam Moy- moy. Jangan buka pintu kalau bukan saya yang menyuruhnya..”“Koko ..” gadis itu berlari memeluknya.“Tenanglah ..”“Jangan tinggalkan saya koko ..”“Tidak. Saya akan kembali ..”“Saya akan bunuh diri kalau koko meninggalkan saya..”“Tenanglah. Nah kunci pintu ..”Dia muncul di gang di luar kamarnya. Di depan pintu, orang lelaki berjambang kasar tegak berkacak pinggang. Begitu dia muncul, lelaki itu mencekal lengannya. Kemudian menariknya keruang tengah.

Mendorongnya hingga si Bungsu terjajar.“Ini beruk yang waang katakan itu Pudin ?” orang bertubuh kasar itu berkata.Si Bungsu menatap pada orang itu. Dan dia segera kembali mengenali kelima lelaki yang mencoba merampoknya tadi. Di sana juga ada sopir bus.“Benar. Dialah orangnya Datuk ..” jawab si Kurus.Orang bertubuh besar itu menggerendeng. Sementara penghuni penginapan yang lain tak berani menampakkan muka.

Mereka lebih merasa aman berada rapat rapat di bawah selimut daripada mencampuri urusan orang yang satu ini.“Waang telah melukai anak buah saya buyung. Itu hanya bisa dibayar dengan dua hal. Pertama dengan seluruh isi bungkusan yang waang bawa. Atau kalau waang keberatan, maka harus waang bayar dengan nyawa waang dan tubuh bini waang …” dan si Tinggi besar itu meludah. Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here