SUMBARTIME.COM-Maka kini, mereka benar-benar hanya menyerahkan nasib dan nyawa mereka pada ketajaman pendengaran masing-masing.
Hutan itu, dalam radius hanya sekitar lima ratus meter persegi, dipenuhi tak kurang dari 40 manusia. Mereka adalah tiga puluhan tentara Vietnam yang terbagi dalam dua regu, serta empat pelarian yang kurus kerempeng dan kelaparan. Hanya karena malam dan belantara itu amat lebat saja mereka tak saling melihat antara satu dengan yang lain.
Setelah cukup lama menanti, namun tak ada tanda-tanda gerakan apapun dari pelarian tersebut, kedua komandan regu tentara Vietnam itu sepakat mengambil insiatif untuk menggeledah saja belantara itu. Mereka berani mengambil inisiatif karena mereka lebih banyak dan kondisi tubuh mereka tentu saja lebih baik di banding kondisi tubuh orang yang mereka buru.
Kedua regu tentara itu segera membentuk formasi bersaf. Dengan formasi seperti itu mereka mulai begerak maju. Jarak seorang tentara dengan yang lain hanya sekitar lima depa. Maju selangkah demi selangkah, sambil tiap sebentar berhenti, mendengarkan kalau-kalau ada gerakan lain di sekitarnya.
Tentu saja tak seorang pun yang mengetahui, bahwa di antara ke empat pelarian yang sedang mereka buru itu adalah ‘pangeran belantara’! Seorang yang benar-benar hafal bentuk dan struktur rimba raya. Seorang yang bisa berlari cepat di belantara lebat, kendati dalam suasana gelap gulita.
Seorang yang bisa membedakan apakah sebuah daun bergoyang karena angin atau karena sebab yang lain. Seorang yang bisa membedakan bau kayu atau daun yang sudah disentuh manusia dengan bau daun kayu yang belum disentuh apa pun.
Tak seorang pun di antara tentara Vietnam itu yang tahu, bahwa ada orang dengan kualifikasi seperti itu di antara ke empat pelarian yang sedang mereka buru itu. Kalau saja mereka tahu, bahwa setiap saat, setiap detik, orang itu tiba-tiba bisa berada sejengkal di depan hidung mereka, tanpa diketahui dari mana datangnya, mereka takkan gegabah merancah hutan tersebut.
Namun bagi beberapa tentara Vietnam yang bernasib malang, waktu sudah terlambat. Seorang prajurit di bahagian kanan, ketika merunduk-runduk melewati sebuah dahan besar, tiba-tiba seutas tali menjerat lehernya.
Dia ingin berteriak, tapi teriakannya tersangkut di tenggorokan yang dijerat semakin ketat oleh tali kasar itu. Dia berusaha menarik pelatuk bedilnya, namun jarinya tak bisa dia gerakkan. Tubuhnya telah dibuat lumpuh!
Ada yang mendengar suara bergedebuk agak lemah, disusul suara bergedebuk lebih keras. Kemudian sepi. Tak seorang pun yang menyangka, suara gedebuk pertama adalah suara jatuhnya senapan dari tangan kawan mereka yang lehernya kena jerat itu. Gedebuk kedua adalah suara jatuhnya tubuh si tentara ke tanah beralaskan dedaunan kering.
Si Bungsu lalu turun, mengambil bedil yang jatuh tersebut. Kemudian berlutut di tanah. Lalu menembak ke arah kiri. Usai beberapa tembakan dia melompat cepat beberapa meter ke belakang. Dan memutar ujung bedil dan menembak ke arah kanan.
Saat dia menembak kekiri terdengar pekikan-pekikan. Begitu juga saat dia menembak ke kanan. Hanya sesaat setelah itu, semburan api dan rentetan peluru terdengar dari kiri dan kanan ke tempat dia memuntahkan peluru.
Kemudian sepi!
Tembakan balasan dari belasan tentara Vietnam itu menerpa tempat kosong. Sebab begitu bedilnya usai memuntahkan peluru, disusul pekikan tentara yang diterkam timah panas itu, si Bungsu segera bergerak secepat yang bisa dia lakukan. Menghindar dari lokasi tersebut. Cowie dan Tim Smith mendengar rentetan tembakan itu dengan tegang.
Namun hanya beberapa saat setelah tembakan balasan terdengar, dalam suasana sepi yang mencekam, Cowie dan Tim Smith tiba-tiba dibuat sangat terkejut oleh suara yang hanya berjarak sedepa dari tempat mereka. Mereka sudah siap menarik pelatuk bedil bersamaan, tatkala tiba-tiba mereka mendengar suara si Bungsu berbisik.
“Jangan tembak, ini saya dan Jock….”
Mengetahui yang datang adalah si Bungsu, Cowie menarik nafas, Smith bercarut-carut. Dalam gelap yang kental itu mereka mendengar erangan Jock Graham.
“Kenapa dia?” tanya Cowie.
“Demam… tapi sudah agak baikan….”
“Anda yang menembak tadi?”
“Ya….”
“Saya kira ada tiga atau empat orang mereka yang terbunuh….”
“Mereka hanya saya lumpuhkan. Jumlah mereka sangat banyak. Kita harus memecah rombongan…” ujar si Bungsu.
“Maksudmu?”
“Anda bisa mencari jalan dalam gelap ini untuk menghindar sejauh mungkin. Letnah Cowie?”
“Jika tidak dikepung, barangkali bisa….”
“Baik. Saya akan mengalihkan perhatian mereka ke arah lain. Kalian larilah sejauh yang kalian bisa hingga pagi tiba. Saya akan menyusul….”
“Sebaiknya saya tinggal berdua dengan Anda, sehingga yang meloloskan diri pertama adalah Smith dengan membawa Jock. Atau yang tinggal Smith, saya membawa Jock…” bisik Cowie.
Akan sulit bila hanya seorang yang memapah Jock. Memapah sambil mencari jalan dalam gelap bukan pekerjaan yang mudah….”
“Tetapi, sendirian menghadapi puluhan Vietnam itu bukan juga pekerjaan yang mudah…” bisik Cowie.
“Cowie, hutan adalah rumahku. Aku hafal setiap lekuk likunya. Aku mustahil bisa bertempur frontal dengan mereka. Aku hanya akan memancing perhatian mereka ke tempat lain, sehingga kalian bisa melarikan diri sejauh mungkin…” bisik si Bungsu.
Akhirnya Cowie memahami penjelasan dan rencana si Bungsu.
“Untuk mengalihkan perhatian dan memancing mereka ke arah lain, saya memerlukan peluru lebih banyak…” ujar si Bungsu.
Cowie lalu membuka magazin senjata Jock Graham. Kemudian dia membuka magazin senjata yang ada padanya. Mengeluarkan separoh isinya. Begitu juga peluru di magazin senjatanya sendiri. Kemudian diisikannya peluru tersebut ke magazin senjata Jock Graham.
Ketika magazin itu penuh, masih ada beberapa peluru lagi.
“Kemarikan magazin senjatamu. Masih ada beberapa peluru. Ini magazin yang sudah penuh…” ujar Cowie sambil menyerahkan magazin yang sudah berisi penuh itu kepada si Bungsu.
Si Bungsu membuka magazin senjata di tangannya. Kemudian menyerahkan pada Cowie, sembari menerima dan memasangkan magazin yang diserahkan Cowie ke senjata nya.
Cowie memasukkan sisa peluru di tanganya ke magazin yang diserahkan si Bungsu. Kemudian memberikan magazin yang juga akhirnya menjadi penuh oleh peluru tersebut kepada orang Indonesia itu.
“Saya akan meninggalkan kalian. Saya mengetahui tempat mereka berada. Mereka membentuk formasi lurus dalam jarak emat sampai lima depa. Saya akan menembaki mereka. Bergeraklah saat kalian mendengar tembakan balasan dari mereka…” ujar si Bungsu.
Ketika dia akan bergerak meninggalkan tempat itu, terdengar Jock Graham berkata.
“Kawan, jika tidak engkau tolong, saya sudah terbunuh di luar sana, atau dilemparkan kembali ke lobang jahanam itu. Terimakasih juga pada obatmu….”
“Jaga dirimu, Jock…” ujar si Bungsu.
Ketika dia akan pergi, Letnan PL Cowie memegang tangannya.
“Kawan, kami tidak tahu siapa engkau sebenarnya. Namun kami berhutang nyawa padamu. Kendati pun pelarian ini gagal dan kami mati semua, namun keluarga kami, dan juga Amerika, berhutang padamu. Saya tak tahu apakah kita masih akan bertemu atau tidak. Karenanya saya perlu menyampaikan, terimakasih atas segala yang kau lakukan untuk kami, kawan….”
Si Bungsu menggenggam tangan Cowie. Demikian juga tangan Smith dan Jock Graham, yang dalam gelap gulita itu juga mengulurkan tangan pada si Bungsu.
“Cowie, setelah ini dengan atau tanpa saya, saya yakin engkau bisa membawa teman-temanmu keluar dengan selamat dari neraka ini. Kalian adalah orang-orang hebat dan tangguh. Jika kalian bergerak, usahakan agar bergerak ke arah barat.
Ke arah barat Cowie, karena arah itu menuju ke perbatasan Kamboja. Beberapa bulan yang lalu, saya melihat helikopter tempur Amerika yang menjemput Kolonel MacMahon bergerak ke arah itu. Barangkali di sana ada gugus tugas pasukan Amerika. Ingat, ke arah barat, Cowie….!”
“Tunggu, bagaimana kami tahu bahwa yang menembak pertama adalah engkau, sehingga kami yakin bahwa tembakan setelah itu merupakan tembakan balasan dari tentara Vietnam? Bisa saja merekalah yang pertama kali menembakmu…” ujar Cowie.
Si Bungsu terdiam. Benar juga ucapan orang ini, fikirnya.
“Baik, tembakan pertama akan saya arahkan ke tempat kalian ini. Kemudian baru ke arah mereka. Nah kawan, saya pergi.…”
Si Bungsu lalu bergerak cepat.
Baik Cowie maupun Jock Graham dan Smith, nyaris tak mendengar suara apapun ketika lelaki itu menjauh dari mereka. Padahal lelaki itu bergerak di antara belukar yang amat lebat. Dia bergerak seolah-olah tak menyentuh sehelai daun pun. Cowie menarik nafas panjang.
“Lelaki yang luar biasa. Hanya saya tak mengerti, untuk apa dia berada di Vietnam ini….”
Tak ada yang mengomentari ucapannya. Malam terasa merangkak amat perlahan dalam belantara yang ditelan kegelapan kental itu. Ada suara burung hantu di kejauhan. Ada suara desir angin di pucuk-pucuk pohon, jauh di ketinggian belantara.
Sesekali ada bunyi kepak sayap kelelawar, yang terbang melintas dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Dalam kegelapan yang mencekam tersebut terdengar Tim Smith yang memiliki banyak sekali perbendaharaan sumpah serapah dan carut marut itu, berkata perlahan. Perkataan yang seolah-olah ditujukan pada dirinya sendiri.
“Saya tak faham ucapannya. Orang itu sungguh penuh misteri. Dia mengatakan melihat helikopter tempur menjemput Kolonel MacMahon dari arah perbatasan Kamboja. Dia tentu berada di sana ketika MacMahon dijemput helikopter tersebut.
Mengapa dia ada di sana? Kalau dia berada di pihak Amerika, dia tentu pergi meninggalkan Vietnam bersama MacMahon. Ternyata dia tak pergi. Itu berarti dia berada di pihak Vietnam. Tetapi, jika dia di pihak Vietnam kenapa dia disekap bersama kita dalam neraka berlumpur itu?”
Tak segera ada yang mengomentari ucapan Smith. Cowie bertanya pada Jock Graham.
“Engkau datang bersamanya Jock. Apakah engkau tahu kenapa dia ditangkap Vietnam?”
“Saya bertemu dengan dia ketika sudah di atas truk yang akan mengangkut kami ke tempat kalian. Selama di truk tak ada pembicaraan. Mata kami saja ditutup dengan kain….”
Cowie dan Smith mendengar jawaban Jock Graham yang singkat itu dengan berdiam diri, sampai tiba-tiba mereka mendengar suara tembakan. Dan peluru tembakan pertama itu mereka dengar menghantam sebuah dahan kayu di atas mereka.
Detik berikutnya mereka dengar tembakan beruntun, tapi mereka bisa menandai bahwa tembakan beruntun itu berasal dari bedil yang sama dengan suara tembakan pertama tadi,Lalu sepi…Bersambung>>>


















