TIKAM SAMURAI 243

SUMBARTIME.COM-Ketika dia di dorong dibawah todongan senjata agar bergerak cepat,maka tak ada cara lain yang dilakukan si Bungsu selain melompat-lompat dengan kedua kakinya bergerak sekaligus.

Semua tentara Amerika yang berada dalam kerang di kandang babi itu menatap dengan diam pada tawanan tersebut.Mereka tak mendapat informasi apapun tentang lelaki tersebut.Semua tentara dan penduduk yang mendekat ke tempat mereka di sekap pada tutup mulut.Penduduk kampung disini adalah orang Vietnam Selatan yang pada masa perang berpihak pada Amerika.

Iklan

Apapun yang terjadi pada tawanan mereka harus tutup mulut atau tak ikut campur.Mereka takut akan siksaan dari tentara Vietna utara itu,yang kini menguasai seluruh negeri mereka.Sudah pemandangan biasa bila ada Ayah,ibu dan seluruh anak-anaknya di tembaki,jika dicurigai telah berkhianat.

Kecurigaan pihak Vietkong pada penduduk tidak di perlukan bukti.Jika saja ada salah satu pihak vietkong yang merasa mencurigai satu orang atau satu keluarga melakukan pengkhianatan,dia menembaki orang atau keluarga itu.

Dalam situasi ini,rasa suka atau tak suka amat menentukan kelangsungan hidup seseorang atau satu keluarga,bisa hidup atau harus di akhiri nyawanya.itulah sebabnya pihak vietkong dengan leluasa memperkosa wanita-wanita dari pihak selatan.Tak peduli dia masih gadis atau sudah punya suami.Jika menolak,pasal penghianatan sudah bisa membinasakan seseorang atau satu keluarga.

Itulah sebabnya,setelah Vietkong memenangkan peperangan.Jutaan orang orang selatan berbondong-bondong keluar dari Vietnam menuju perbatasan ke kamboja dengan melewati hutan belantara yang ganas,dan ada juga dengan kapal-kapal kecil mengarungi lautan untuk mencari negara yang mau menampung mereka.Itulah sebabnya mereka di sebut’orang-orang perahu’

Si Bungsu memasuki sebuah rumah yang paling besar di kampung itu.Sekali pandang dia bisa mengetahui kalau desa itu adalah kampung yang di bangun oleh kelurga-keluraga petani yang mengungsi dari kota-kota yang sedang terjadi pertempuran.Namun perang dengan cepat berakhir,semua tanah vietnam kini di kuasai Vietkong.

Setelah dia masuk,seorang tentara berpangkat Letnan Kolonel sedang duduk dengan beberapa orang perwira lainnya.Termasuk Kapten gorila itu dan Lok Ma.Ada sebuah kursi reot di depan mereka.Si Bungsu disuruh duduk disana.

Di meja reot tanpa alas itu dia lihat beberapa benda yang dia kenal.Senjata-senjata kecil yang selama ini dia pakai dalam berbagai pertarungan.Beberapa bilah samurai kecil,beberapa lempengan baja tipis yang sangat tajam.Beberapa diantaranya ada yang sebesar uang logam yang disisinya ada gerigi yang sangat tajam.

Sebagiannya bundar biasa,dengan pinggiran yang setajam pisau cukur.Dia lihat ada lima buah samurai kecil dan enam buah besi bulat itu terletak diatas meja.Letnan Kolonel itu sepertinya sangat terpelajar,berbeda dengan si Kapten gorilla yang menghantam dadanya sampai dia muntah darah dan menendang ubun-ubun nya sampai dia koma.

“Ini punya mu Tuan…?ujar Overste itu membuka interogasi itu dengan bahasa inggris yang fasih.
“Ya..Tuan..”jawab si Bungsu.
“Engkau salah seorang yang ikut membebaskan tawanan tentara Amerika yang kami tawan sembilan minggu yang lalu?”

Si Bungsu tertegun.
“Maksud tuan?”
Letnan Kolonel itu menatapnya dengan tajam.Lok Ma berbisik kepada overste itu dengan bahasa Vietnam.Overste itu mengangguk pelan usai lok Ma berbisik.

“Dua bulan yang lalu,sekitar seratus meter dari sini,tujuh belas orang tentara Amerika di bebaskan teman-temannya.Apa anda termasuk salah seorangnya?”

Si Bungsu menarik nafas panjang,berarti selama itu pula dia pingsan.
“Saya bukan bagian yang membebaskan itu,tuan….”jawabnya pasti.
Overste itu menatap dia dengan tajam,kemudian dia melanjutkan ucapannya.

“Saya ingin menjelaskan,kalau saya sendiri membebaskan mereka. Ada tiga orang Vietnam yang jadi penunjuk jalan. Jika mereka di hitung,maka yang membebaskan tawanan itu kami berempat. Namun sesungguhnya, selain sebagai penunjuk jalan, mereka tak berperan apapun. Pembebasan itu sepenuhnya tanggung jawab saya..”overste itu menatapnya dengan tajam.
“Demikian hebatnya kau,sehingga bisa menghancurkan sepuluh tentara Vietnam…”desis overste itu.

Sebelum ucapanya selesai,dengan cepat tangan nya menyambar salah satu samurai kecil si bungsu diatas meja.Dan dengan cepat dan mahirnya dia lemparkan kearah dada kanan si Bungsu,dari arah lemparan dada sebelah kanan bukan sebelah kiri dimana jantungnya,si Bungsu tahu overste itu hanya ingin menyiksanya.Dia terkejut dengan gerakan lemparan itu yang tiba-tiba dan amat cepat.

Namun saat itu pula tubuhnya seolah-olah menunduk ke meja,terdengar suara berdetak halus.Dan saat dia meluruskan badanya dan menengok kebelakang dia lihat samurai itu tertancap didinding tempat tangan nya terikat.Semua yang ada di ruangan yang dindingnya terbuat dari bambu itu pada terdiam.

Tak ada seorang pun yang tahu, termasuk overste itu kalau lemparan itu meleset karena kebetulan. Gerakan merunduk kemeja itu telah di perhitungkan si Bungsu. Si Bungsu kembali duduk dengan lurus di kursinya. Overste itu menyuruh Lok Ma mencabut samurai kecil itu yang tertancap didinding tempat si Bungsu diikat. Lok Ma melangkah kearah si Bungsu mencabut samurai kecil tersebut.Dan kembali meletak di meja di depan letnan Kolonel tersebut.

“Apa pangkat tuan di ketentaraan Amerika..”ujar LetKol itu.
“Saya bukan tentara Amerika tuan,dan juga bukan warga negara Amerika…”
Letnan Kolonel itu kembali menatapnya dengan tajam.Dia hampir tak yakin kalau orang yang punya kemahiran seperti lelaki ini bukan dari Pasukan Khusus Amerika.

“Jika bukan kebangsaan Amerika,lalu apa kebangsaan tuan?”
“Indonesia…”
“Indoneesia?”
“Ya,Indonesia..”
“Engkau tentara Indonesia?”
“Bukan,Tuan…”

Overste itu kembali menatap si Bungsu. Tak ada tanda sedikit pun bahwa orang ini berdusta atas setiap kata yang diucapkannya, bisik hati si overste.
“Engkau ke Vietnam bersama tentara PBB yang dari Indonesia?”

Si Bungsu kini yang tertegun mendengar pertanyaan overste tersebut. Dia tidak tahu, bahwa sejak beberapa bulan yang lalu, ratusan tentara Indonesia memang sudah berada di Vietnam. Dia memang tak pernah mendengar bahwa dalam proses menciptakan perdamaian di Vietnam.

Setelah Amerika angkat kaki dalam perang belasan tahun yang melelahkan itu, Indonesia diminta menjadi salah satu negara yang mengirimkan pasukan perdamaian di bawah bendera PBB. Masuknya Indonesia menjadi anggota pasukan ICCS (International Commission of Control and Supervision) yang disepakati di Paris.

Kesepakatan itu ditanda tangani di Paris tanggal 23 Januari 1973. Masuknya Indonesia atas permintaan langsung pihak yang bertikai, yaitu Vietnam Utara dan Amerika Serikat. Ada tiga negara lainnya yang menjadi anggota ICCS, yaitu Kanada, Hongaria dan Polandia.

Ada empat tugas utama yang dipercayakan ke pundak pasukan ICCS, yaitu:
1) Mengawasi/mencegah pelanggaran-pelanggaran dan menjaga status quo.
2) Me ngawasi evakuasi pasukan.
3) Mengawasi evakuasi alat-alat perang dan
4) Mengawasi pertukaran tahanan perang.

Kontingen pasukan Indonesia pertama yang datang ke Vietnam diberi nama GARUDA IV. Garuda I sampai III ditugaskan di bawah bendera PBB ke berbagai negara yang dilanda kemelut sebelum perang Vietnam, seperti Kongo misalnya. Komandan Garuda IV ke Vietnam adalah Letjen HR. Dharsono.

Jumlah pasukan Garuda IV adalah 290 orang, tiba di Vietnam pada 28 Januari 1973. Markas besar pasukan ICCS adalah Kota Hanoi, Ibukota Vietnam Utara. Di kota itu mereka semua bertugas. Bulan Juli tahun yang sama Garuda IV ditarik dari Vietnam digantikan oleh Garuda V.

Pada Juli 1975, setelah seluruh proses evakuasi dan pertukaran tawanan perang usai, dan seluruh Vietnam sepenuhnya berada di tangan Vietkong (Vietnam Utara), Indonesia menarik pasukan perdamaiannya dari Vietnam.

“Maaf saya tak tahu apa yang Tuan maksud dengan pasukan Indonesia di Vietnam…” jawab si Bungsu dengan polos.
Kembali letkol itu menyelidik si Bungsu dengan tatapan matanya yang tajam.
“Apa pendidikan Anda?”
“Maksud Tuan, sekolah?”
“Ya, sekolah. Tamatan sekolah mana Tuan?”
“Saya hanya tamat sekolah rakyat.

Sewaktu muda saya lebih suka berjudi. Kemudian saya mengembara…” jawab si Bungsu apa adanya tentang dirinya.
“Darimana Tuan belajar bahasa Inggris, sehingga bisa berbicara demikian fasih?”

Si Bungsu menarik nafas. Bagaimana dia harus menjelaskan bahwa dia tak hanya fasih berbahasa Inggris, tapi juga Jepang. Dan itu tanpa menduduki sekolah formal.
“Saya belajar dengan mendengar orang bicara, kemudian mencobanya. Barangkali ingatan saya sangat kuat terhadap kata-kata…” ujarnya dengan jujur.

“Siapa yang memerintahkanmu untuk datang membebaskan para tawanan Amerika itu?” lanjut si Overste mengalihkan bahasan interogasi.
“Saya tidak diperintah, melainkan dibayar oleh seseorang, Tuan….”
“Maksudmu?”

“Di Dallas saya berkenalan dengan seorang milyader. Dengan bayaran tinggi dia meminta saya datang kemari, mencari anak gadisnya yang hilang dalam peperangan dua tahun yang lalu.

Nama anak gadisnya itu adalah Roxy Rogers. Gadis itu ada di antara tawanan yang saya bebaskan itu….”
“Engkau membunuh Kolonel Van Truang, komandan di barak yang kalian hancurkan itu?”
“Tidak secara langsung,tapi kenyataan nya dia memang mati setelah baraknya meledak.

Si Bungsu terdiam sesaat,namun akhirnya dia memutuskan bercerita apa adanya.Sudah tak akan membahayakan Thi Binh lagi.Gadis itu,ayahnya dan sepupu nya tentu sudah berada di suatu tempat jauh dari Vietnam.Di suatu negara yang tak terjangkau oleh kekejaman negeri yang masih saja menggelegak seperti Dalam Neraka ini.

“Seorang gadis Vietnam asli,yang bernama Thi Binh yang menembak kolonel itu dengan howitzer sehingga tubuhnya hancur berkeping.Saya memang berjanji padanya untuk memberi kesempatan untuk mmbalas dendam.Kolonel itulah yang memperkosanya pertama kali,dan selama dua minggu berturut-turut setelah itu,ketika dia di tangkap dan diseret ke barak-barak itu.

Setelah kolonel itu puas dia serahkan pada perwira-perwira bawahannya.Kemudian di jeblos kan ke barak yang di huni wanita-wanita penghibur.Dia harus melayani kebuasan lelaki tiap hari.Sampai akhirnya dia dipulangkan karena sakit sipilis.Untung saya bisa mengobatinya dengan dedaunan,seminggu setelah itu dia sembuh samasekali,itulah yang terjadi,Tuan…”

“Dan dia sembuh?”
“Sembuh total,Tuan..”
“Hanya dalam beberapa hari dia sembuh oleh ramuanmu?”
“Seminggu,Tuan…”
“Siapa kontakmu di negeri ini?”
“Seorang Indo Vietnam-Perancis,bernama Ami Florence…”

“Dimana dia Tuan temui…?”
“Di sebuah bar,di kota Da Nang…”
“Dia mata-mata Amerika?”
“Ya,salah satu mata-mata yang sangat di andalkan….”

“Dimana dia sekarang?”
“Sudah melarikan diri dengan speedboat,bersama abangnya bernama Le Duan..”
“Lari hanya dengan speedboat?”
“Sebuah kapal perang Amerika menanti mereka di Laut China Selatan..”overste itu menatap si Bungsu dengan tajam.

“Engkau tahu nama kapalnya..?”
“USS Alamo…”
“Dari mana kau tahu?”
“Mereka melakukan kotak radio,dua hari sebelum melarikan diri..”
“Dimana dia melakukan kontak radio?”
“Disebuah terowongan bawah tanah.

Pintu masuknya ada di lantai bar itu.Tapi bar itu sudah hancur oleh bom waktu yang mereka pasang..”
“Tun tahu semua detil pelarian itu?”
“Tidak semua,hanya saat mereka melakukan kontak radio..”ujar si Bungsu mencoba mengelak dari pertanyaan detil.
“Tuan mengenal anggota pasukan saya ini?”tiba-tiba overste itu mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk Lok Ma.

Ada beberapa saat si Bungsu ragu menjawab.Namun akhirnya dia memutuskan bicara apa adanya.Dia yakin,betapa genting dan ruwet nya situasi saat ini,dia tetap percaya pada nalurinya.Bahwa ke terusterangaan akan lebih mudah menyelesaikan persoalan.

“Ya,Sersan Lok Ma…”
“Dimana anda mengenalnya?”
“Didalam hutan,saat dia dan dua orang lainnya di tugaskan menjebak saya..”
“Lalu apa yang terjadi..?”
“Saya melumpuhkan mereka,ketiganya…”
“Lok Ma adalah andalan kami dalam mencari jejak dan memburu orang.Bagaimana kamu bisa melumpuhkannya..?”

“Bahwa Lok Ma adalah pencari jejak dan pemburu ulung saya akui kebenarannya.Namun hutan ibarat rumah bagi saya.Dan dalam Penyergapan yang di pasang Lok Ma,ternyata saya lebih beruntung…”

“Engkau menyergap mereka dengan menodongkan bedil?”
“Tidak,Tuan saya melumpuhkan mereka…”
“Tuan melumpuhkannya dengan tangan kosong…?”tanya overstye itu,sambil meyelidik sampai dimana kemampuan lelaki ini.Si Bungsu menari “nafas. Menunduk sesaat kemudian berkata.

“Saya lumpuhkan mereka dengan lemparan hulu samurai kecil ketempat yang melumpuhkan.kecuali Lok Ma.Dai sedang mencari tahu keberadaan dua anak buahnya yang saya lumpuhkan,ketika saya menyelusup tegak setengah depa di belakangnya tanpa dia ketahui…”
“Lalu dia melepaskan kamu pergi begitu saja..?”
“Tidak.

Jelas dia ingin membunuh saya.Tapi saya katakan padanya,setiap gerakan yang di buat sama dengan bunuh diri.Karena,maaf,gerakan saya lebih jauh cepat dari yang mampu dia lakukan.Dia lalu saya totok,sehingga tak bisa bergerak.,”
“Kenapa ketiga orang itu tidak tuan bunuh?”

Si Bungsu kembali tak segera menjawab.Ada beberapa saat dia menatap Letnan Kolonel itu
“Ini bukan perang saya,tuan.Negeri saya tak terlibat didalamnya Maka saya pikir,tak pantas saya mengotori tangan saya dengan darah orang-orang Vietnam…”

Letnan Kolonel itu mendahak.dahaknya yang kental dia semburkan dengan kecepatan yang luar biasa ke arah si Bungsu.Si Bungsu tak bergerak sedikitpun.Dan dahak kental itu hanya sejari dari telinga si Bungsu.Dia tak mengelak,karena dia tahu dahak itu tidak secara langsung bukan diarahkan padanya.

“Maaf,paru-paru tuan sangat parah,Ludah tuan berwarna kehitaman..”letnan kolonel itu tertegun.Namun hanya sesaat.Kemudian ketika dia bicara,suaranya terdengar mendesis tajam.

“Tak pantas melumuri tanganmu dengan darah orang Vietnam, katamu?Cis!,setelah belasan orang terbunuh di tangan mu,termasuk seorang Mayor dan enam orang terbunuh di timpa batu besar yang kau tembak beruntun dengan howitzer yang kau curi dari barak senjata kami?Itu yang kau maksud tak ingin melumuri tanganmu dengan darah orang Vietnam?”

“Belasan orang lainnya dipastikan sudah terbunuh, jika saya tidak berobah pendirian dalam belantara itu, saat dijebak oleh Lok Ma…” ujar si Bungsu perlahan

“Alangkah sombongnya…” desis overste tersebut.

“Selain Lok Ma dan dua anggotanya, barangkali juga ada dua belas sampai lima belas orang lainnya yang terlibat pertempuran di padang lalang itu, yang tak saya cabut nyawanya, kendati saya mampu. Mereka hanya saya tembak bahu atau tangannya, sekedar mereka tidak bisa menembak helikopter yang akan meloloskan diri itu.

Termasuk kapten bertubuh seperti gorilla di samping Tuan sekarang…” tutur si Bungsu dengan datar dan tenang, tanpa ada kesombongan sedikit pun di dalam nada suaranya.

Kali ini overste itu benar-benar terdiam. Si Bungsu menoleh pada belasan tentara yang tegak di pinggir dinding. Beberapa di antaranya bahu dan tangan mereka terlihat masih terbalut perban. Kemudian dia menatap kembali pada overste tersebut. Overste itu, bersama tiga atau empat perwira lainnya, juga menatap padanya.

“Jika saya benar-benar haus darah, mereka takkan ada di sini saat ini. Barangkali mayat mereka sudah dirobek-robek binatang buas di tepi danau penuh buaya dimana pertempuran saat helikopter menjemput itu terjadi…” ujar si Bungsu perlahan.

Ketika semua orang masih terdiam, tatkala melihat kapten bertubuh gorilla yang dua kali menghantamnya ketika dia masih tergantung dengan kepala ke bawah tempo hari, mendekatinya. Sebuah rencana separoh gila tiba-tiba melintas di kepala si Bungsu. Dia menatap lurus kepada si kapten bertubuh besar itu dan berkata.

“Seorang prajurit tangguh, tidak ditentukan oleh besarnya badan. Tetapi ditentukan oleh sejauh mana memiliki otak. Apalagi jika sudah menjadi perwira, haruslah memakai otaknya ketimbang otot. Amatlah mudah melumpuhkan orang bertubuh besar.

Bahkan dengan tangan terikat sekali pun. Untuk membuktikannya, tentu saja jika ada orang bertubuh besar di ruang ini yang berani bertarung dengan saya dalam keadaan kedua tangan saya terikat seperti sekarang, saya bersedia melayaninya…” ujar si Bungsu dalam nada perlahan, dengan sedikit senyum di bibirnya.

Bukan main hebatnya akibat ucapan si Bungsu terakhir. Kapten bertubuh gorilla itu sampai menggeram dan menggigil menahan amuk. Namun beberapa prajurit Vietnam yang memang membenci kapten pemberang dan amat suka melekatkan tangan bila sedikit saja tersinggung itu, merasa senang si kapten diberi hajaran seperti itu di depan orang ramai.

Kapten itu bicara separoh berbisik kepada si overste. Kendati dia bicara dengan suara yang ditekannya serendah mungkin, karena segan pada si overste, namun semua orang mengetahui bahwa kapten itu emosinya nyaris tak bisa dia kendalikan. Sambil bicara matanya berkali-kali menatap penuh amarah kepada si Bungsu.

“Apakah memang engkau mampu mengalahkan orang dalam perkelahian tangan kosong, dengan kedua tanganmu terikat seperi sekarang?” tanya overste itu.

“Mampu! Tapi lawan saya harus yang bertubuh paling besar. Sebab hanya orang-orang bertubuh besar yang dengan mudah bisa dikalahkan. Kecuali jika dia penakut…” ujar si Bungsu menambah bensin, mengompori si kapten bertubuh besar itu.

“Bagaimana jika Anda kalah?” ujar si overste.
“Yang harus dibuat perjanjian adalah bagaimana kalau saya menang…” ujar si Bungsu.
“Engkau tawanan di sini! Kalah atau menang bagimu adalah mati!” sergah kapten gorilla itu dengan penuh emosi.

“Kalau begitu siapa pun lawan saya harus mati. Agar bersama-sama ikut mati dengan saya…” ujar si Bungsu dengan tenang dan menatap tepat-tepat ke mata si kapten, yang juga sedang menatap kepadanya dengan tatapan mata seperti menyemburkan api.

“Kau berani bertarung dengan Kapten Bunh Dhuang dalam keadaan kedua tanganmu terikat seperti sekarang?” tanya overste tersebut.
“Tidak hanya tangan. Dengan kedua kaki saya yang juga diikat dengan jarak langkah hanya sejengkal, saya berani!” jawab si Bungsu.
“Kau berani melawannya dengan tangan dan kakimu terikat seperti sekarang?” ulang overste itu.

“Sebaiknya Tuan tidak bertanya pada saya. Karena tadi saya yang mengajukan tantangan. Sebaiknya tanyakan pada kapten itu, apakah dia benar-benar berani melawan saya…” ujar si Bungsu, lagi-lagi dalam nada yang amat tenang, namun dengan ejekan yang hampir meledakkan paru-paru si kapten saking berangnya.

Kapten itu langsung berdiri. Membuka sabuk pinggangnya yang berpistol dan berpisau. Menghempaskan pistol dan pisaunya itu di meja. Kemudian mendekati si Bungsu yang masih duduk di kursinya. Selangkah dari kursi si Bungsu, kapten itu berdiri dengan tangan terkepal dan muka merah.
“Tegak kau, monyet…!” desisnya sembari menendang kaki kursi.

Si Bungsu masih saja duduk dengan tenang. Barulah saat sepatu lars si kapten sejari lagi dari kaki kursinya dia berdiri. Kaki kursi yang terbuat dari kayu sebesar lengan itu langsung patah, dan kursi itu tercampak ke belakang. Menghantam dinding dan menimbulkan suara berderak, lalu rontok ke lantai dalam keadaan porak poranda.

Kini mereka tegak berhadapan dalam jarak tak sampai sedepa. Semua orang menatap tak berkedip. Mereka kenal benar kemahiran Kapten Bunh Dhuang dalam karate, judo dan jujitsu. Dalam seluruh resimen tak ada yang mampu menandinginya. Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here