• AD ART Sumbartime.com
  • Advertorial
  • Disclaimer
  • Home
  • Home
  • Iklan
  • Pedoman Berita
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Visi Misi
Sumbartime.com
Advertisement
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Sumbartime.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Sumbar
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Nasional
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Video
  • Wisata
ADVERTISEMENT
Home Cerbung

TIKAM SAMURAI 242

Sumbar Time by Sumbar Time
22 Agustus 2021
in Cerbung, Tikam Samurai
A A
0
0
SHARES
60
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

SUMBARTIME.COM-Kasus ini membuktikan secara amat konkret kebohongan Vietnam tersebut. Amerika tidak hanya melakukan protes keras, tetapi tetap akan melakukan segala tindakan yang diperlukan. Akan terus mencari, dan membebaskan tentara dan warga negaranya yang hilang selama peperangan, selama Vietnam tetap melakukan kebohongan seperti sekarang.

ADVERTISEMENT

Dalam pernyataan berikutnya, diuraikan pengalaman tawanan perang tersebut, bersumber dari penuturan MacMahon dan kawan-kawannya, yang direkam di rumah sakit militer di pangkalan Subic.

ADVERTISEMENT

Sebuah cerita yang menegakkan bulu roma, tentang kekejian dan kebiadaban Vietnam menyiksa para tawanan, lelaki dan perempuan. Pernyataan di atas sebenarnya tidak disetujui oleh Kementerian Luar Negeri Amerika. Namun para jenderal tak peduli, terutama dari Angkatan Darat dan Angkatan Laut.

Mereka yang belum habis marahnya akibat pukulan yang mereka terima di Vietnam itu, mengancam Kementerian Luar Negeri AS, agar mengirim pernyataan yang amat di luar kezaliman dan tatakrama diplomatik itu.

BacaJuga

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021

Namun pernyataan itu pula yang menyebabkan penguasa Vietnam yang memang sengaja menyembunyikan ratusan tentara Amerika yang mereka tawan selama peperangan, segera memindahkan tempat-tempat tahanan dan memperketat penjagaan.

Bersamaan dengan itu, Kolonel MacMahon dan Laksamana Lee secara rahasia ditempatkan di Teluk Kompong Sam di selatan Kamboja untuk melakukan penerbangan dan operasi intensif mencari tempat disekapnya lelaki Indonesia bernama si Bungsu itu.

Mayor Black diperintahkan untuk berusaha maksimal membebaskan lelaki yang sudah membebaskan belasan tentara Amerika tersebut. Pada saat itu nyawa si Bungsu seperti tergantung di sehelai benang yang amat rapuh. Luka yang belum sembuh akibat lima peluru yang bersarang di sekujur tubuhnya diakhiri dengan dua tendangan kapten Vietnam bertubuh besar itu.

Terutama tendangan ke ubun-ubunnya benar-benar mengantarkan nyawa lelaki dari Situjuh Ladang Laweh itu ke bibir liang lahat. Dia tidak pernah sadar sejak dihantam tendangan maut kapten Vietnam tersebut.

Pada puncak kritis, dia mengalami mimpi atau mungkin sebuah halusinasi yang dahsyat. Yang kalau saja dialaminya ketika dia berada dalam kesadaran penuh, pasti akan mengguncang jiwanya. Dalam mimpi atau halusinasi itu, rasanya dia memasuki sebuah taman indah yang amat semerbak dan dihiasi bunga serba putih.

Di taman itu ada ayah, ibu dan kakaknya. Ketiga mereka berpakaian sutera serba putih yang amat indah. Ibunyalah yang pertama datang menyongsongnya dengan pelukan dan deraian air mata. Dipeluknya anak bungsunya itu seperti takkan dia lepas. Ayah dan kakaknya menatap dia dengan senyum namun berdiam diri.

“Lama benar engkau merantau dan menderita seorang diri, Bungsu anak Bunda. Sekarang, janganlah pergi lagi dari ibu, ayah dan kakakmu, Nak. Di sinilah bersama kami. Di luar sana, di rantau-rantau yang jauh entah di ujung dunia mana, engkau berkelana seorang diri. Tanpa ibu dan ayah, tanpa kakak dan sanak saudara. Engkau anak seorang penghulu pucuk di kampungmu, keluargamu dihormati orang negeri.

Namun lihatlah keadaanmu kini, Bungsu mata hatiku. Tak ada yang menanakkan nasi untukmu, tak ada yang akan mengurut kepalamu jika engkau pening dan demam. Tak ada yang menungguimu kala engkau sakit. Tak ada tempatmu mengadu, Anakku. Tetaplah disini bersama Bunda, Ayah dan Kakakmu, buyung buah hatiku…” ujar bundanya.

Si Bungsu tak mampu berbicara sepatah pun. ‘Pertemuan’ itu amatlah dahsyat baginya. Saat berada dalam pelukan bundanya, saat berada di antara ayah dan kakaknya, dia seperti mendapatkan kembali masa kecilnya yang hilang. Separoh lenyap karena perangainya sendiri.

Sementara yang separoh lagi lenyap direnggut kekejian balatentara Jepang. Belasan tahun hidup sendiri, dia tak pernah tahu bagaimana rasanya meneteskan air mata. Air matanya seperti sudah kering dihisap gurun derita sepanjang jalan hidupnya yang sunyi.

Terpental dari suatu negeri ke negeri lain. Terhempas dari muara nasib yang satu ke muara nasib yang lain. Kini, dalam dekapan bundanya yang penuh kasih sayang, dia merasakan betapa air matanya merembes, membasahi lengan baju sutera bundanya.

Tubuhnya terguncang menahan isak yang tak mampu dia bendung. Tangis haru dan bahagia yang belum pernah dia rasakan selama puluhan tahun.
“Oo, betapa rindunya Bunda padamu Buyung sibiran tulang. Betapa rindunya kakak dan ayahmu, ingin bersua denganmu…” bisik bundanya dengan suara bergetar.

Kemahiranmu mempergunakan samurai, membuat Ayah bangga. Kendati tak pernah kuajar, kini engkau adalah pesilat tangguh, yang puluhan kali lebih hebat dari ayah. Kami bangga padamu, Nak…” bisik ayahnya dengan suara yang benar-benar menggambarkan rasa bangga dan bahagia.

Dengan mata basah si Bungsu menatap wajah ayahnya. Yang menatapnya dengan senyum dan mata yang juga basah.

“Jangan katakan bahwa Ayah tak pernah mengajar saya bersilat. Semua yang saya ketahui tentang samurai dan gerak silat yang hanya separoh-separoh, saya pelajari dari gerakan yang ayah lakukan tatkala ayah bertarung dengan Saburo Matsuyama. Semuanya. Ayahlah satu-satunya guru saya. Darah yang mengalir dalam tubuh saya adalah darah Ayah…” ujar si Bungsu.

Ayahnya tertawa renyah. Suaranya yang bernada bariton, berat berwibawa, membuat si Bungsu merasa sangat bangga dan terlindungi.

“Ternyata engkau tak hanya pandai bersilat dan bersamurai, tapi juga pandai membawa diri. Mandi di hilir-hilir, berkata di bawah-bawah, Buyung. Ayah bangga mempunyai anak seperti engkau…” ujar ayahnya sembari mengusap kepala si Bungsu.

Si Bungsu ingin menangis mendengar ucapan ayahnya. Namun dia tak ingin terlihat menjadi lemah. Dia tersenyum, kendati air mata membasahi pipinya. Kemudian dia bangkit, berjalan ke arah kakaknya. Dia duduk berlutut di depan kakaknya. Si kakak memeluk kepala adiknya.

“Ampuni adikmu ini, Kak. Yang tak bisa membelamu, ketika engkau dinistai serdadu Jepang itu…” bisiknya.
“Apa yang telah engkau lakukan, Adikku, lebih dari segala-galanya. Tentang apa yang mereka lakukan pada Ayah, Ibu dan Kakak, kelak akan tiba saatnya masa perhitungan. Biarlah Hakim Yang Maha Agung menimbangnya dan menghukum. Karena Dia memang Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Adil dan Maha Menghukum. Kakak bangga mempunyai adik seperti engkau.

Kini tetaplah bersama kami di sini…” bisik kakaknya, sembari mencium kepala adik kesayangannya itu.
Bundanya mendekat. Kemudian kembali memeluk si Bungsu. Lalu membawa anak lelakinya itu berdiri.
“Marilah kita pergi bersama-sama…” ujar si ibu.

Si Bungsu dibimbing ibu dan kakaknya melangkah ke arah taman yang lain. Namun Ayahnya memanggil mereka perlahan. Mereka berhenti. Datuk Penghulu yang berwibawa itu menatap pada istri dan anak perempuannya. Dengan wajah yang amat jernih, perlahan dia memberi isyarat dengan gelengan kepala.

“Belum saatnya dia bersama kita sekarang. Masih banyak hal yang harus dia selesaikan di tempat lain…” ujar ayahnya.
“Tetapi…” ibunya ingin protes.

“Kita tak boleh melawan kodrat Yang Maha Pencipta. Kehadiran seseorang di suatu tempat dalam suatu peristiwa dan kejadian, sudah diatur ketika orang itu masih berada dalam rahim Bundanya. Dia harus menyelesaikan seluruh takdir yang sudah disuratkan untuknya.

Mari kita antar dia ke gerbang darimana tadi dia datang…” ujar ayahnya perlahan dan dengan suara yang demikian teduh.
Dengan berat hati si ibu membimbing anaknya ke gerbang darimana si Bungsu tadi masuk ke taman yang amat indah itu.

“Di sini Bunda akan menantimu, Buyung sibiran tulang. Di sini Ayah dan Kakakmu menanti kedatanganmu kelak. Pergilah dengan doa dan kasih sayang yang tak bertepi dari kami. Terutama dari Bundamu ini, Buyung anakku… Pergilah.

Jangan sekali-sekali engkau menoleh ke belakang… pergilah!” bisik bundanya, sembari untuk kali terakhir kembali mencium wajah anaknya, mencium kepalanya. Air matanya membasahi rambut, dan menyelusup ke ubun-ubun si Bungsu.

Hal pertama yang dirasakan si Bungsu saat siuman dari pingsannya yang panjang, dari masa kritisnya yang sudah berada di ambang maut, adalah rasa sejuk dan nyaman yang melenyapkan seluruh sakit di ubun-ubunnya yang kena tendangan itu.

Air mata bundanya seperti menyelusup lewat ubun-ubunnya yang retak. Mengalir perlahan lewat pembuluh darah di otaknya. Mungkin tak banyak orang yang bisa percaya akan perjumpaan secara halusinasi seperti yang dia alami. Yang dalam dunia kedokteran disebut sebagai saat-saat ‘transendental’.

Di alam metafisik itu secara ajaib dan amat luar biasa “air mata” seorang ibu mampu mengobati semua luka dan melenyapkan rasa sakit anaknya, yang sudah tak lagi punya harapan untuk hidup.

Hanya beberapa orang, termasuk kaum sufi dan ulama, yang percaya bahwa hal-hal gaib seperti itu merupakan bahagian dari kebesaran Yang Maha Pencipta. Namun kendati kejadian seperti itu bukanlah sesuatu yang khayali, lalu dibelokkan untuk melakukan ziarah dan memuja kuburan. Kejadian itu adalah salah satu cara dari Yang Maha Pencipta menunjukkan kebesaran-Nya.

Bahwa apa yang musykil bagi manusia, hanya sesuatu yang teramat mudah bagi-Nya. Tak ada yang tak mungkin bagi-Nya. Karenanya, Allah menginginkan agar umat manusia lebih iman dan lebih tawakal. Selain rasa sejuk yang menjalar dari ubun-ubun ke seluruh pembuluh darahnya.

Hal lain yang pertama dirasakan si Bungsu, yang siuman dari pingsan dari masa kritisnya yang mencekam, adalah bau yang amat busuk. Bau yang menusuk hidung. Dia dengar dengus yang menjijikkan. Ketika membuka mata, yang pertama tertatap oleh matanya adalah jerajak bambu sebesar-besar lengan.

Bambu yang seolah-olah menjadi loteng tempatnya berada dengan bermacam daun kering yang dijadikan atap. Ada beberapa saat dia membiarkan dirinya tertelentang diam. Kemudian mata­nya melirik ke kanan. Tak sampai sedepa di kanan, dia lihat jerajak batang bambu yang sama. Dia melirik ke kiri, ke bawah kakinya, jejarak bambu yang sama tetap terlihat.

Aku berada dalam kurungan yang terbuat dari bambu, bisik hatinya, sembari bangkit untuk duduk. Begitu dia duduk, dia segera melihat bahwa dirinya dikurung dalam kurungan yang kukuh.

Kurungan yang ditaruh dalam kandang babi. Suara dengus dan pekik babi yang belasan ekor itulah yang terdengar olehnya sebelum dia membuka mata. Begitu juga bau busuk yang amat menusuk hidung, yang membuat dia ingin muntah. Bau apalagi kalau bukan bau taik, kencing dan makanan babi itu. Rasa dingin di punggungnya ternyata karena dia terbaring menelentang di atas lumpur di kandang babi itu.

Babi-babi itu pada menjulurkan kepala dari sela-sela
tiang bambu kurungannya. Menatap padanya, mungkin dengan perasaan heran. Sungguh suatu hal yang tak pernah terbayangkan olehnya, dalam hidupnya dia akan mengalami penghinaan seperti ini.
“Hei, kamu hidup kembali?”

Tiba-tiba sebuah suara serak dan lemah terdengar dari arah kanan. Dia menoleh, dan di kanannya, hanya berjarak sekitar tiga depa dari dia, ada lagi sebuah kandang bambu seperti yang dia tempati. Tidak, tidak sebuah, ada dua tiga buah. Masing-masing berisi seorang manusia. Dan semuanya jelas tentara Amerika.

Itu dapat segera ditandai dari pakaian seragam compang-camping yang masih melekat di tubuh mereka. Bedanya antara tempat dia ditahan dengan orang-orang itu adalah tinggi rendahnya tempat tahanan.
Kurungan yang dia tempati ditaruh di atas tanah kandang tersebut. Sementara kurungan yang lain nampaknya sengaja digali sedalam satu meter.

Semua kotoran kandang babi itu dialirkan ke tempat tawanan tersebut. Hal itu menyebabkan mereka berendam sepanjang hari di dalam air kotoran babi yang ketinggiannya mencapai perut. Nampaknya untuk sementara kurungan yang dia tempati lebih lumayan.

“Kami sangka kau takkan hidup. Kami dengar kapten gorilla itu menendang dada dan kepalamu. Sudah belasan tawanan tentara Amerika yang mati disiksa gorilla haus darah itu…” ujar tentara kurus kerempeng dan pucat, dari kubangan di sebelah si Bungsu.

Ada beberapa saat dimana semua yang dia lihat, yang dia dengar dan dia rasakan lewat seperti bayang-bayang. Matanya melihat apa yang ada di
hadapannya, telinganya mendengar semua suara, indera penciumannya mengendus semua bau. Namun hanya sampai di sana. Belum satupun yang masuk ke rekaman otaknya.

Fikirannya masih berada di dalam impian dahsyat bertemu ayah, ibu dan kakaknya yang baru saja lewat. Impian itu demikian nyata dan
demikian jelas. Perlahan dia raba kepalanya. Ada perban di sana, dililitkan dari ubun-ubun ke bawah dagunya.

Saat itulah dia baru sadar sepenuhnya, bahwa apa yang dia alami sebentar ini adalah sebuah mimpi. Mimpi yang amat luar biasa. Dia yakin, sekali pun yang baru dia alami adalah mimpi, namun dia amat bahagia.

ADVERTISEMENT

Dia bisa bertemu kembali dengan ayah, ibu dan kakaknya. Meski hanya dalam mimpi, namun mimpi itu seolah demikian nyata.

Dua hari setelah itu, dia melihat dua tentara Vietnam datang dari arah depan kandang babi itu ke tempatnya. Salah seorang di antara mereka nampak menjinjing sebuah ransel dengan tanda palang merah. Kedua tentara itu tak dapat menyimpan rasa kagetnya, ketika melihat lelaki yang biasanya secara rutin mereka beri obat dengan cara injeksi itu sudah duduk dan kelihatan demikian sehatnya.

Padahal, hampir tak seorang pun yang meyakini bahwa lelaki ini akan
bisa hidup. Kalaupun hidup, dia akan cacat seumur hidup. Beberapa langkah sebelum memasuki kandang mereka berhenti. Bicara sebentar. Kemudian yang seorang kembali ke arah barak. Yang membawa ransel dengan tanda palang merah masuk ke kandang setelah terlebih dahulu menutup hidung dan mulutnya dengan kain seperti yang dipakai para dokter ketika melakukan pembedahan di rumah sakit.

Tentara yang baru datang itu tak masuk ke kurungan penyekapan si Bungsu. Dia hanya tegak menatap dari jarak sekitar dua depa dari kurungan. Beberapa ekor babi yang semula bertemperasan ketika dia masuk ke kandang itu, kini pada mendekat. Berseliweran di sekitar dirinya. Lalu saat itu datang empat orang tentara lainnya. Selain masing-masing membawa bedil, salah seorang dari mereka membawa sebuah tongkat pendek dan seutas tali.

Ketika mereka masuk, mereka menendangi dan memukul babi-babi yang mencoba mendekati mereka. Lalu yang seorang memerintahkan si Bungsu untuk keluar, dengan menghardikkan satu-satu­nya kata dalam bahasa Inggris yang dia kuasai, yaitu kata “out!”.

Di bawah tatapan mata empat sampai lima tawanan Amerika, yang berada dalam kurungan bambu dan berjejer dalam kandang babi itu, si Bungsu berdiri perlahan. Dia merasa dirinya amat enteng dan sehat sekali. Sebenarnya, “mimpi dan air mata” ibu yang menyebabkan dia sadar, setelah puluhan hari berada dalam keadaan koma, secara ilmiah bisa ditelusuri.

Selama dia koma, tentara Vietnam tetap memberinya semacam obat agar dia tetap bertahan hidup untuk dikorek keterangannya. Obat-obat itu hari demi hari bekerja menyembuhkan bahagian-bahagian dalam tubuhnya yang cedera. Baik karena luka bekas tembakan peluru maupun bekas hantaman kaki kapten gorilla itu.

Hanya saja, semua obat yang diberikan dan diterima oleh tubuhnya, secara psikologis ternyata ditolak oleh jiwanya. Penolakan jiwa bawah sadar
inilah yang membuat obat-obat kedokteran tidak berdaya.
Secara kejiwaan, ada beberapa faktor yang menyebabkan tubuh orang-orang sakit parah melakukan penolakan terhadap obat. Ada yang karena hidupnya tertekan berkepanjangan. Tergeletak sakit, atau mati sekalipun, merupakan istirahat atau pembebasan dirinya dari rasa tertekan.

Kesembuhan fisik baginya tak lain dari kembalinya dia ke dalam hidup yang penuh tekanan. Karenanya, kendati dia tetap diobati, diinjeksi, diinfus proses kesembuhannya sangat lama.

Karena jiwa dan bawah sadarnya memang tak menginginkan kesembuhan.
Ada pula yang alam bawah sadarnya tidak menginginkan kehidupan, karena dia tak tahu untuk apa dia hidup. Orang dari kelompok ini bisa saja dari kalangan orang-orang berada, namun tak punya landasan agama yang kuat.

Hari-hari dalam hidupnya berlalu tanpa manfaat untuk siapapun. Begitu dia jatuh sakit, dia merasa mendapat jalan keluar dari perasaan hidup tanpa guna. Makin lama dia tergeletak sakit, makin tenteram perasaannya. Karena sebagai orang sakit, dia merasa memang layak tak bisa mendatangkan manfaat untuk siapapun.

Ada yang alam bawah sadarnya melakukan penolakan terhadap obat, karena dia memang tak mampu lagi menahan rasa sakit berkepanjangan. Daripada menderita menjadi langganan rumah sakit terus, lebih baik mati. Akan meringankan beban keluarganya dan membebaskannya dari rasa menderita berkepanjangan.

Akan halnya si Bungsu entah ke kelompok mana dia masuk. Atau barangkali ada kelompok lain, yang memang beragam alasan, alam bawah
sadar seseorang menolak obat-obat.

Hanya saja ketika alam bawah sadarnya berada di titik tertinggi penolakan, saat mana nyawanya berada di ujung tanduk, sebab jika masih terjadi penolakan maka kemungkinan yang terbuka baginya hanya satu, yaitu terhentinya semua sistem dan mekanisme kehidupan pada tubuhnya. Jika itu yang terjadi, manusia menyebutnya sebagai suatu kematian.

Pada saat berada di titik kritis tertinggi itulah, mimpi yang hanya Tuhan yang tahu itu terjadi pada dirinya. Air mata sang ibu, merupakan ‘obat’ yang mendorong daya hidupnya kembali menyala.

‘Obat’ yang datang kepadanya dari alam metafisik, dari alam gaib. Pada orang-orang tertentu, mimpi bukan hanya sekedar permainan tidur. Banyak manusia yang mengalami mimpi sebagai isyarat bahkan petunjuk atas sesuatu. Hanya saja, bagi orang-orang yang beriman, isyarat dan petunjuk itu menjadikan dia semakin yakin akan kekuasaan Tuhan.

Sementara, sebahagian lagi keyakinannya bukan pada Tuhan yang menciptakan semua denyut kehidupan di muka bumi,
termasuk menciptakan mimpi itu. Yang dia yakini justru mimpi tersebut. Bagi orang-orang seperti ini, tidak jarang dia terperosok menjadi musyrik.
Mengeramatkan dan minta perlindungan dan rezeki pada makam atau tempat-tempat keramat lainnya.

Akan halnya si Bungsu, begitu keluar dari kerangkeng bambu berlumpur amat busuk itu, kayu sebesar lengan yang panjangnya sedepa yang tadi dibawa seorang tentara, segera diletakkan di bahunya. Kedua tangannya diikat, dengan posisi terbentang ke kiri dan ke kanan, ke kayu tersebut dengan erat. Kedua kakinya diikat pula dengan tali yang terbuat dari kulit kayu.

Tali dari kulit kayu yang mengikat tangan dan kakinya itu dalam keadaan basah. Teknik mengikat dengan kulit kayu khusus, yang liat dan kenyal seperti yang dilakukan pada si Bungsu saat itu, adalah cara yang lazim dilakukan Vietkong.

Kulit kayu basah itu semakin kering semakin mengencang cengkeramannya pada bahagian tubuh yang diikat. Ikatan pada kedua kaki tahanan, yang rentang talinya dibuat tak lebih dari sejengkal, membuat si tahanan benar-benar dalam kesulitan. Usahkan untuk melarikan diri, akibat amat pendeknya rentang tali yang mengikat kedua pergelangan kaki, untuk melangkah saja sangatlah sulitnya. Bersambung>>>

ADVERTISEMENT
Previous Post

Penembakan Pengusaha Batam Hingga Tewas Terkait Penggagalan Penyelundupan 7,2 Batang Rokok Ilegal oleh BC Tembilahan

Next Post

Bayar Tagihan PDAM? Sekarang Bisa Di MPP Payakumbuh

Sumbar Time

Sumbar Time

Setiap Waktu Bernilai Informasi

BacaJuga

Cerbung

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 257

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 256

22 Agustus 2021
Next Post
Bayar Tagihan PDAM? Sekarang Bisa Di MPP Payakumbuh

Bayar Tagihan PDAM? Sekarang Bisa Di MPP Payakumbuh

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Justictalk ” Ngobrol santai melek hukum”

https://youtu.be/r3p0YSm3qWE
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

7 Juni 2024
Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

30 Desember 2023
Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

23 Desember 2023
Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

5 Mei 2024

Depósitos protegidos e ganhos instantâneos no casino Bwin para Portugal

0
Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

0
BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

0
Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

0
Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026
Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

25 April 2026
Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

18 April 2026
Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

10 April 2026

Berita Terbaru

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026
Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

25 April 2026
Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

18 April 2026
Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

10 April 2026
ADVERTISEMENT
Sumbartime.com

Sumbartime.com -"Setiap Waktu Bernilai Informasi"

Ikuti Kami

  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.

No Result
View All Result
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer
  • Iklan

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.