SUMBARTIME.COM-Dia lalu memaparkan rencananya pada Kolonel MacMahon. Dia akan meyerang barak tentara Vietnam bersama Thi Binh. Dijelaskannya bahwa gadis itu tak bisa menghapus dendamnya pada tentara Vietnam di bawah sana, akibat perkosaan dan dijadikan pemuas nafsu selama berbulan-bulan.
Tanpa berniat dan menimbulkan kesan mengajari si kolonel, si Bungsu menjelaskan teori klasik perkelahian, bahwa pertahanan yang terbaik adalah menyerang. Konkretnya, menyerang sepuluh kali lebih baik dari pada bertahan.
“Jika Anda setuju, kolonel, saya akan menyusup menghancurkan gudang senjata mereka. Siapa tahu, kami bisa mencuri beberapa senjata dari gudang tersebut. Tapi, paling tidak, meledaknya gudang itu akan menyebabkan ditariknya sebagian pasukan yang memburu kita…” ujar si Bungsu perlahan.
Kolonel MacMahon menyetujui rencana tersebut, namun dia mengusulkan agar si Bungsu disertai salah seorang dari anak buahnya yang berasal dari pasukan SEAL. Saran itu segera disetujui si Bungsu. Namun ketika dia akan berangkat bersama Thi Binh dan Sersan Mc Dowell, Roxy yang tidak bersenjata segera pula berdiri di samping Thi Binh.
“Saya ikut bersamamu…” ujarnya sambil melemparkan senyum pada Thi Binh.
Saking jengkelnya, hampir saja Thi Binh menampar bibir mungil yang tersenyum itu. Sungguh mati, dia tak ingin perempuan yang dianggapnya gatal ini ikut-ikut pula bersama dia dan si Bungsu. Namun sebelum dia sempat bereaksi, si Bungsu sudah menyuruh pasukan kecil itu bergerak. Si Bungsu di depan, Mc Dowell menyilahkan Thi Binh dan Roxy bergerak duluan, dia menempati posisi paling belakang.
Namun, ketika si Bungsu sudah bergerak cukup jauh, kedua gadis itu masih tegak dan saling pandang, seperti dua harimau yang akan saling terkam. Sudah dua kali Mc Dowell menyilakan mereka untuk maju, keduanya masih tegak dan saling pelotot. Penat saling tatap dan saling pelotot, akhirnya Roxy yang memang dalam usia jauh lebih tua dari Thi Binh segera mengambil inisiatif menyilahkan gadis itu melangkah duluan.
Namun Thi Binh masih tegak. Maka Roxy tak lagi peduli, dia segera berjalan mengejar si Bungsu. Thi Binh seperti disengat lebah melihat Roxy yang dicapnya sebagai perempuan gatal itu tiba-tiba saja nyelonong duluan. Dia memegang bedilnya erat-erat, kemudian bergegas menyusul langkah Roxy. Menyelinap di antara belukar dan batu-batu besar.
“Perempuan gatal, perempuan lont….” gerutu Thi Binh sambil berusaha mempercepat langkah.
Hatinya bertambah sakit, tatkala melihat jauh di depan sana, di antara palunan belukar, sekilas-sekilas dia melihat perempuan itu sudah berjalan beriringan dekat sekali dengan si Bungsu. Oo, jengkel dan gondoknya dia. Kalau saja tak khawatir suaranya akan terdengar oleh tentara Vietnam, yang mungkin sudah ada di sekitar mereka, Thi Binh pasti akan berteriak menyuruh si Bungsu berhenti menantinya.
Tapi maksudnya itu terpaksa dia urungkan, sebab dia tak tahu apakah tentara Vietnam yang memburu mereka sudah berada di sekitar tempat ini atau tidak. Kalau dia bersuara keras, pasti akan terdengar oleh orang yang memburunya itu. Kendati demikian, Thi Binh tak bisa menghapus jengkel dan gondok di hatinya begitu saja terhadap perempuan yang dicapnya gatal itu.
Sebenarnya, sumber rasa gondok dan jengkel itu, adalah rasa cemburu. Sungguh, dia demikian mencintai si Bungsu. Dia tak ingin ada perempuan lain yang menyela di antara kehidupan mereka berdua. Usianya yang baru lima belas, meski tubuhnya seperti gadis 17 tahun, menyebabkan dia sulit mengontrol hatinya. Dia merasa Roxy adalah sumber gangguan yang amat potensial bagi hubungannya dengan si Bungsu. Dia tak menginginkan itu.
Konyolnya, Roxy yang tahu benar bahwa gadis itu mencintai si Bungsu, dan dia juga tahu bahwa gadis tersebut cemburu padanya, justru bersikap membakar-bakar. Seperti sikapnya memilih tinggal bersama si Bungsu, bukannya ikut menyelamatkan diri bersama teman-temannya yang lain. Padahal, apalah urusannya berada bersama si Bungsu. Dia tentu akan lebih aman bila menyingkir dari tempat ini bersama rombongan yang dipimpin Duc Thio.
Pertempuran pertama terjadi ternyata bukan melibatkan rombongan si Bungsu atau MacMahon yang bertahan. Pertempuran itu justru terjadi pada rombongan orang-orang yang menyelamatkan diri bersama Duc Thio. Untung saja mereka tak masuk jebakan.
Pertempuran pecah setelah letnan dari pasukan Baret Hijau yang menyertai Duc Thio, yang tadi menerima jam tangan sinyal dari si Bungsu, melihat sekilas gerakan mencurigakan sekitar dua puluh depa di depan mereka.
Dia memberi isyarat ke rombongan di belakangnya. Rombongan itu berhenti tiba-tiba dan mencari perlindungan di balik batu atau kayu-kayu besar. Si Letnan membisikkan kepada Duc Thio bahwa dia melihat gerakan di depan sana.
“Anda tunggu di sini. Senjata kita hanya dua pucuk…” bisik si letnan sambil memberi isyarat memanggil seorang sersan pasukan Baret Hijau yang berada di bahagian belakang.
Sersan itu, yang tak memiliki bedil, segera mendekat pada si letnan. Mereka mengatur taktik untuk mengetahui berapa jumlah tentara Vietnam di depan sana, kemudian jika mungkin menjebak dan melumpuhkannya. Si letnan membuat gerakan melambung ke kiri, sementara si sersan yang hanya berbekal bayonet melambung ke arah kanan. Keduanya lenyap dalam palunan belantara lebat.
Duc Thio berjaga-jaga di tempat tersebut. Dia segera ingat senjata di tangannya. Dia melihat ada seorang kopral Baret Hijau yang duduk bersandar ke batang kayu besar sembari memeluk tubuh Helena, tentara wanita yang sakit dan tak mampu berjalan itu. Duc Thio bergerak ke belakang, ke arah kopral tersebut.
“Senjata ini akan jauh lebih bermanfaat jika Anda yang memegangnya. Biar saya yang menggantikan memapah dia…” bisik Duc Thio sambil menunjuk pada Helena.
Kopral itu tentu saja menerima tawaran tersebut. Bagi tentara seperti dia, berada dalam pelarian tanpa senjata sama dengan lari bertelanjang. Perlahan dipindahkannya tubuh Helena ke pelukan Duc Thio, kemudian diambilnya senjata laras panjang hasil rampasan tersebut, dan segera bergerak ke bahagian depan.
Letnan yang tadi menyelinap ke depan, tiba-tiba mendengar ada suara langkah di bahagian kanannya. Dengan cepat, nyaris tanpa menimbulkan suara dia bersembunyi ke balik rimbunan belukar.
Hanya beberapa detik setelah dia bersembunyi, di balik beberapa pohon besar di bahagian kanannya muncul dua orang tentara Vietnam. Kedua mereka menatap tanah, nampaknya mencoba melihat jejak yang ditinggalkan pelarian yang mereka kejar.
Kedua tentara itu lewat hanya sekitar dua depa dari tempat persembunyian si letnan. Si letnan masih menanti beberapa saat, dia tak bisa gegabah. Dia tak tahu berapa orang sebenarnya tentara Vietnam yang memburu mereka ke arah ini.
Jika sekarang dia menembak, dia khawatir bahagian lain dari tentara yang memburu mereka akan berdatangan kemari. Namun usahanya untuk berdiam diri digagalkan oleh seekor ular daun yang sejak dia menyelusup ke belukar rimbun itu sudah mengintai.
Ular hijau itu besarnya tak lebih dari sebesar jempol lelaki dewasa, dengan panjang sekitar satu depa. Namun tak seorang pun di antara tentara Amerika yang bertugas di belantara Asia yang tak tahu betapa mematikannya gigitan ular kecil tersebut.
Si letnan masih beruntung, saat dia menatap tajam ke arah dua tentara Vietnam di depannya, sudut matanya sekilas menangkap ada benda yang bergerak di bahagian atas kepalanya. Nalurinya yang tajam masih cepat bereaksi ketika kepala ular itu menyambar ke arah lehernya.
Dia berguling menjatuhkan diri, dan menembak. Kepala ular tersebut hancur dihantam pelurunya. Dan si letnan dalam suatu gerakan berputar segera memuntahkan peluru ke arah dua tentara Vietnam yang terkejut mendengar letusan hanya empat depa di belakang mereka.
Semburan peluru dari bedil si letnan membuat kedua tentara Vietnam itu terjungkal mati. Namun setelah itu terdengar suara teriakan-teriakan. Dan tempat si letnan kemudian dihajar ratusan peluru dari balik-balik pepohonan.
Dengan menyumpah si letnan bergulingan dari balik pohon ke pohon lain untuk menyelamatkan diri dari terkaman peluru. Sekitar lima puluh meter dari tempat si letnan, Duc Thio dan para pelarian wanita serta tentara yang sakit, mendengar suara letusan itu dengan berdebar.
Suara tembakan tiba-tiba berhenti. Si letnan tiarap di balik sebuah pohon besar. Dia tidak tahu ada berapa tentara Vietnam yang kini berada di hadapannya. Baik dirinya maupun pasukan yang mengejarnya sama-sama tak mengetahui berapa lawan yang mereka hadapi.
Sersan yang tadi melambung ke bahagian kanan, yang hanya berbekal sebuah bayonet, begitu mendengar suara tembakan di bahagian kirinya, segera menyelusup mendekati tempat pertempuran tersebut. Dia tahu yang disirami tembakan itu adalah si letnan.
Dengan cara menyelusup yang kemahirannya masih dia miliki, kendati sudah tiga tahun dalam sekapan, dia sampai ke tempat pertempuran itu saat suara tembakan terhenti.
Dia tak tahu si letnan berada di mana. Untuk itu si kopral bersiul. Siulnya amat susah dibedakan dengan suara burung. Kemahiran meniru suara burung atau suara hewan lainnya menjadi andalan bagi pasukan Baret Hijau dan pasukan SEAL Amerika, dalam perang di hutan belantara.
Si letnan, yang masih dalam posisi tiarap dan menanti, mendengar suara sejenis burung yang hidup dalam belantara Vietnam tersebut. Dia segera tahu, suara itu adalah suara si sersan. Ada kode khusus di dalam tiruan suara burung itu, yang hanya diketahui oleh orang-orang yang memang mempelajari suara tersebut.
Dia lalu menyahuti suara itu dengan meniru suara burung pula. Dari asal suara itu, si sersan menjadi faham di mana letnan itu kini berada. Sekitar lima puluh depa di depannya. Kalau begitu, tentara Vietnam kini berada antara dia dengan si letnan.
Sersan itu mengambil sebuah dahan kering sebesar lengan yang tergeletak tak jauh dari tempatnya tegak. Setelah mengira-ngira, dia melemparkan dahan itu ke rimbunan semak di bahagian kanannya. Begitu suara desau dahan kering itu menerpa semak, serentetan tembakan menghajar semak tersebut. Dan si sersan menandai sebuah pohon besar tempat asal tembakan yang terdekat dengannya.
Pohon besar itu berada di depannya, agak ke kiri, hanya sekitar sepuluh depa. Dia melihat, tentara di balik pohon besar itu berada di posisi paling belakang dari empat temannya yang lain, yang tadi menghujani semak yang dilemparnya dengan dahan itu dengan siraman peluru. Sersan itu menarik nafas, mengingat kembali masa-masa terakhir pertempuran sebelum dia tertangkap.
Disiksa dengan amat sangat selama berbulan-bulan, dan dijebloskan ke tahanan di goa batu di bukit cadas itu. Hanya mereka yang memiliki ketahanan fisik dan kekuatan mental yang luar biasa saja yang mampu melewati masa penyiksaan tak terperikan itu dengan selamat.
Yang tak kuat, seperti puluhan teman-temannya, mati atau paling tidak lumpuh. Sebagaimana terjadi pada beberapa orang di antara mereka, yang baru saja dibebaskan si Bungsu dan kini sedang berupaya menyelamatkan diri.
Sersan berkulit hitam itu merasa urat-uratnya menegang saat dia mulai menyelinap dari pohon ke pohon, melata seperti seekor ular, mendekati kayu besar di mana salah seorang tentara Vietnam menyemburkan tembakannya barusan. Hampir tanpa suara dia sampai ke sebuah pohon sekitar lima depa dari pohon besar itu.
Dari tempatnya kini dengan jelas dia dapat melihat tentara Vietnam yang sedang tiarap dan mengarahkan senjata ke belukar di mana letnan dari pasukan Baret Hijau Amerika itu bertahan.
Si sersan kembali menarik nafas, menggenggam bayonet rampasannya dengan erat. Tak dia lihat tentara Vietnam yang lain. Mereka pastilah tersembunyi di balik-balik pohon yang lain. Hal itu paling tidak memberi kesempatan padanya untuk lebih leluasa bergerak. Dengan sekali lagi menarik nafas panjang, dengan gerakan yang masih cukup cepat dia tegak, kemudian memutari pohon tempat dia berada. Menyerbu ke arah tentara Vietnam yang sedang tiarap dengan posisi membelakanginya.
Tentara Vietnam yang sedang menatap ke arah belukar di mana tentara Amerika yang menembaki mereka tadi berada, tak tahu sama sekali bahwa bahaya mengintainya dari belakang. Dia memang sempat mendengar suara perlahan di belakangnya.
Namun sudah sangat terlambat baginya untuk mengetahui suara apa itu gerangan. Karena tiba-tiba saja dagunya diraih dan ditarik ke atas dengan kuat. Dia hanya sempat terkejut dan terbelalak, namun hanya sampai di situ.
Dia bahkan tak sempat menjerit, karena bayonet di tangan tentara Negro Amerika itu sudah memotong lehernya. Terdorong oleh kebencian yang sangat akibat dendam bertahun-tahun disiksa, tentara Amerika itu tak sadar bahwa irisan bayonetnya sudah hampir memutuskan leher si Vietnam. Orang Vietnam itu bahkan tak sempat lagi berkelojotan. Hanya darah yang menyembur-nyembur dari lehernya yang hampir putus.
Kalau saja si Negro berada di bahagian depan, tubuhnya pasti sudah basah kuyup oleh darah yang menyembur ,seperti air bertekanan kuat yang muncrat dari pipa pecah. Tapi kini, karena dia berada di atas tubuh si Vietnam yang tiarap, yang terkena semburan darah adalah tangannya yang memegang bayonet.
Kemudian tubuh Vietnam tersebut terkapar. Sersan Negro itu menghapuskan darah di mata bayonet itu ke baju korbannya. Menyisipkan bayonet itu ke pinggang, kemudian mengambil bedil si Vietnam.
Kemudian dia kembali bersiul menirukan suara burung. Dari isyarat yang dia beri, si letnan menjadi faham bahwa situasi dikuasai si sersan. Letnan tersebut membuat gerakan di tempat persembunyiannya. Begitu dia membuat gerakan, begitu empat senjata dari empat tempat yang berbeda menyalak menyiramkan timah panas ke arah tempat si letnan. Dan kesempatan itu memang ditunggu sersan Negro tersebut.
Kini dia menjadi tahu dimana posisi ke empat tentara Vietnam yang masih tersisa, setelah dua mati di tangan si letnan dan yang seorang mati di tangannya. Dia menuju ke rumpun pinang yang amat rimbun, enam depa di bahagian kanannya.
Di sana dia mendapati seorang tentara yang masih berusia belasan tahun sedang menembak ke arah tempat persembunyian si letnan. Vietnam itu sama sekali tak tahu bahwa maut berada dekat sekali di belakangnya.
Dari balik kayu besar di mana kini dia berdiri, sersan tersebut mengirimkan sebuah timah panas, ke kepala tentara Vietnam itu. Peluru menembus topi waja tentara tersebut, tembus ke kepalanya, dan keluar di kening dengan meninggalkan lobang besar yang memuncratkan benaknya.
Tentara Vietnam yang sedang menembak dalam posisi berlutut di balik pohon tumbang itu langsung tertelungkup ke pohon tersebut. Nyawanya melayang sebelum kepalanya menyentuh pohon melintang di depannya.
Si sersan mengambil senjata otomatis milik tentara Vietnam itu. Kemudian dia kembali bersiul, yang segera difahami oleh si letnan yang masih bersembunyi di balik belukar. Hanya beberapa detik setelah siulan itu, si letnan menghamburkan tembakan ke arah pohon-pohon di mana tadi dia melihat sumber tembakan itu, lalu dia melambungkan diri, bergulingan ke arah pohon besar yang terletak sekitar lima depa di kanannya.
Kemunculan dirinya segera disambut oleh tembakan gencar tentara Vietnam yang berada di tiga tempat. Dan itulah taktik yang sengaja dibuat si sersan dan letnan tersebut. Ketiga sisa regu pemburu itu tak mengetahui bahwa salah seorang pelarian yang mereka kejar justru sudah menusuk ke garis belakang mereka.
Begitu mereka menembak ke arah si letnan, sersan itu segera bergerak cepat. Satu demi satu dia datangi tempat si penembak dari arah belakang, dan dengan mudah menghabisi nyawa mereka.
Sepi!
Letnan dari pasukan Baret Hijau itu muncul dari balik persembunyiannya setelah kembali terdengar suara siulan si sersan. Dia menatap ke arah tujuh mayat tentara Vietnam yang bergelimpangan. Dan ketika sersan Negro itu muncul dari balik sebuah pohon besar, dia menyalaminya. Mereka kemudian bergegas ke arah rombongan yang tadi mereka tinggalkan di belakang.
Dengan senjata rampasan dari tujuh tentara Vietnam itu, jumlah senjata mereka sudah sembilan pucuk. Itu berarti hanya seorang yang tak memiliki senjata. Dan tentu saja yang tak diberi bersenjata adalah Helena, teman seruangan dalam tahanan dengan Roxy. Usahkan untuk memegang senjata, untuk berjalan saja dia tak mampu.
“Mereka nampaknya dibagi dalam regu-regu kecil untuk memburu kita. Kita harus bergerak cepat. Suara tembakan tadi bisa mengundang kedatangan regu-regu pemburu yang lain kemari…” ujar si letnan.
Duc Thio yang bertindak selaku penunjuk jalan segera membawa rombongan itu bergerak menuju ke arah danau yang masih cukup jauh.
Dan apa yang dikatakan si letnan nampaknya memang benar. Kendati tempat mereka sudah cukup jauh dari barak tentara Vietnam itu, namun suara tembakan tadi tetap saja terdengar sayup-sayup. Baik oleh tentara Vietnam yang ada di barak, maupun oleh rombongan kolonel MacMahon dan rombongan si Bungsu.
Begitu mendengar tembakan, komandan pasukan Vietnam di barak itu segera memerintahkan suatu pasukan kecil yang terdiri dari dua puluh personil untuk memburu ke arah suara pertempuran tersebut. Kini di barak-barak itu hanya tinggal sekitar sepuluh tentara, termasuk komandannya, seorang kolonel.
Tak seorang pun di antara kesepuluh tentara Vietnam yang kini berada di lapangan di tengah lingkaran barak-barak tersebut yang menyadari bahwa hanya belasan meter dari tempat mereka kini berada, mengintip empat pasang mata.
Keempat orang itu adalah si Bungsu, Sersan MacDowell, Thi Binh dan Roxy. Dari tempat mengintip mereka berempat melihat ke dua puluh tentara yang berangkat buru-buru ke arah asal tembakan tersebut. Pasukan itu nampaknya akan melewati tempat dimana Kolonel MacMahon memasang jebakan.
Si Bungsu membisikkan pada ketiga anggota rombongannya agar menanti ke dua puluh tentara itu berlalu cukup jauh. Pada saat ke dua puluh pemburu itu terlibat pertempuran dengan pasukan MacMahon, mereka baru bergerak menyerang tentara di barak tersebut.
“Ke arah mana pasukan yang lain perginya?” bisik sersan MacDowell pada si Bungsu, yang merasa khawatir pada nasib teman-temannya yang melarikan diri di bawah pimpinan Duc Thio. Jangan-jangan mereka sudah tewas semua.
“Untuk memburu kita, nampaknya mereka dibagi dalam beberapa regu. Tiap regu menyisir arah yang berbeda….” jawab si Bungsu.
Sementara itu, mata Thi Binh nanap menatap ke lapangan di tengah kumpulan barak di depan sana. Di sana, di lapangan tersebut, di dekat tiang bendera, sekitar sepuluh tentara sedang berdiri dengan senjata siap di tangan masing-masing.
Di bahagian depan seorang kolonel terlihat mondar-mandir. Sebentar dia berhenti, tegak dan menatap ke arah bukit-bukit batu, di mana malam tadi dia masih menawan tujuh belas tentara Amerika.
Kemudian dia membalikkan diri, berjalan lagi. Sepuluh langkah berjalan dia berhenti. Menatap ke arah darimana tadi terdengar sayup-sayup suara tembakan. Mata Thi Binh berkilat memancarkan dendam melihat kolonel separoh baya tersebut. Dia teringat, ketika pertama dibawa ke barak-barak ini, dia ditaruh di barak bahagian tengah. Yaitu barak yang dihuni oleh si kolonel.
Tak lama setelah dia dimasukkan ke kamar, di pintu kamar yang dibiarkan terbuka tiba-tiba berdiri si kolonel. Kolonel itu bertubuh besar, kepalanya yang tak bertopi kelihatan botak seperoh bahagian depan. Si kolonel menatapnya dari ujung rambut ke ujung kaki, seolah-olah akan menelannya. Lalu kolonel itu melangkah dua langkah memasuki kamar. Bersambung…

















