TIKAM SAMURAI 228

SUMBARTIME.COM-Dengan kakinya dia tutupkan pintu di belakangnya. Kemudian, dengan mata nyalang menatap tubuh Thi Binh yang ranum, sambil membuka baju dinasnya.

Thi Binh yang semula sudah menggigil di tempat tidur, menginsutkan dirinya ke sudut, dan makin ke sudut, sampai tubuhnya menempel ke dinding. Si kolonel yang masih berdiri sekitar dua meter dari pembaringan, membuka sepatu dinasnya, kemudian celananya.

Iklan

Kini dia tegak dengan celana kolor kecil. Setelah sekali lagi menatap dengan muka yang sudah memerah karena menahan nafsu, kolonel itu mulai mendekati pembaringan. Thi Binh bertekad akan mempertahankan kehormatannya sampai mati.

Begitu si kolonel meraba tangannya, dia segera menggigit tangan kolonel tersebut sekuat tenaga. Tidak hanya itu, saat giginya menggigit lengan kolonel itu sekuat daya, kedua tangannya mencakar wajah kolonel tersebut.

Laknatnya, si kolonel tidak hanya membiarkan tangannya digigit terus dan mukanya dicakari, dia malah semakin terangsang oleh gigitan dan cakaran itu. Thi Binh baru melepaskan gigitannya setelah dia merasakan asinnya darah di mulutnya. Darah segar kelihatan meleleh di lengan si kolonel akibat gigitan Thi Binh. Kolonel itu duduk berlutut di pembaringan.

Dia menatap ke lengannya. Darah menetes dari bekas gigitan ke alas tempat tidur. Perlahan diangkatnya lengannya yang berdarah itu ke dekat mulutnya. Gerakannya terhenti sesaat tatkala tertatap pada paha putih Thi Binh yang tersingkap lewat roknya yang tak karuan.

Matanya menatap paha putih dan mulus itu dengan jalang. Thi Binh cepat-cepat manarik ujung roknya yang tersingkap, kembali menutup pahanya yang tersimbah separoh.

Kolonel itu tersenyum. Tangannya yang berdarah kembali dia dekatkan ke mulutnya. Lalu perlahan dia menjulurkan lidah. Dengan mata jalang menatap nanap ke dada Thi Binh yang ranum dan berombak akibat nafasnya yang sesak, si kolonel menjilati darah yang menetes tersebut. Kemudian menelannya. Usai menjilati, dia mengulurkan tangan kirinya yang belum kena gigit. Seolah-olah meminta agar tangan kirinya itu juga digigit.

Bulu Tengkuk Thi Binh benar-benar merinding. Ketika gadis itu tak bergerak, kolonel itu mengingsutkan dirinya perlahan. Thi Binh memekik histeris dan tangannya kembali mencakar-cakar.

Namun karena jaraknya masih agak jauh, cakaran tangannya hanya menerpa angin. Si kolonel menghentikan gerakannya. Dari jarak tak sampai sedepa itu, dia menatap diam Thi Binh yang sedang memekik dan mencakar-cakar angin.

Dia seolah-olah menikmati tidak hanya darah di tangannya yang masih saja menetes, tapi dengan nafsu yang amat aneh dia juga menikmati gadis itu memekik dan gerakan mencakar-cakarnya. Kejadian itu berlangsung beberapa lama, sampai akhirnya Thi Binh kehabisan suara untuk memekik, dan kehabisan tenaga untuk mencakar. Gadis itu tersandar lemas ke dinding.

Kolonel itu kembali menatap ke dada ranum Thi Binh, yang berombak turun naik akibat nafasnya yang sesak. Menjilati paha gadis itu yang putih mulus dan tersimbah, dengan tatapan mata jalangnya. Sadar pahanya ditatap dengan rakus, dengan sisa-sisa tenaganya Thi Binh memperbaiki ujung roknya yang tersingkap, sehingga pahanya kembali tertutup.

Kemudian, ketika mata kolonel itu nanap menatap dadanya yang ranum, gadis itu menutup dadanya dengan kedua belah tangannya. Si kolonel mengingsut tubuhnya ke dekat Thi Binh.

Gadis itu tak punya tempat lagi untuk surut. Tubuhnya sudah tersandar rapat ke dinding. Melihat tak ada reaksi, si kolonel perlahan mengulurkan tangannya membelai rambut Thi Binh. Tak ada reaksi perlawanan. Tangan kolonel itu turun ke pipi.

Nafas Thi Binh semakin sesak, namun tetap tak ada perlawanan. Tangan kolonel itu beralih ke tengkuk Thi Binh. Membelainya dengan lembut. Namun ketika tangan itu baru bergeser dari pipi ke tengkuk, rasa takut yang amat sangat tiba-tiba membuat Thi Binh memekik lagi. Mencakar lagi. Menendang-nendang lagi. Lagi, lagi, lagi dan lagi! Namun akhirnya dia sampai ke batas kodratnya sebagai seorang wanita.

Seorang gadis kecil yang jolong besar. Seluruh tenaga dan dayanya terkuras sampai ke titik paling bawah. Itulah mula bencana, dan sekaligus laknat, yang menimpa diri Thi Binh.

Lima belas hari berturut-turut dia direndam di kamar jahanam itu. Benar-benar dijadikan budak pemuas nafsu kolonel celaka itu. Di hari kelima belas, ada gadis lain yang berhasil diculik pasukan si kolonel. Kecantikan gadis itu sedang-sedang saja. Tapi bodinya bukan main. Pinggulnya luar biasa bahenol.

Sudah menjadi ketentuan, yang tak boleh dilanggar sedikit pun, bahwa setiap wanita yang didapat yang mencicipinya pertama kali haruslah sang komandan. Siapa lagi kalau bukan kolonel gaek kurapan itu. Begitu pula dengan gadis berpinggul dan berpaha besar itu. Dia segera diserahkan kepada si kolonel.

Thi Binh semula berharap dirinya akan segera tertolong dengan adanya korban baru tersebut. Dia berharap bisa segera dibebaskan dari neraka jahanam itu.

Namun nasibnya ternyata sangat malang. Wakil komandan pasukan itu, seorang tentara buncit berpangkat mayor, sudah sejak awal menaruh minat yang amat sangat pada Thi Binh. Semasa gadis itu masih dipakai si kolonel, seringkali si mayor diam-diam mengintip Thi Binh saat mandi di belakang barak.

Di belakang barak si kolonel ada sebuah kamar mandi darurat yang airnya dialirkan dari bukit-bukit batu tak jauh dari belakang barak dengan slang bambu. Kamar mandi itu merupakan tempat para perwira mandi. Kalau prajurit yang lain mandinya ke sungai semua. Kamar mandi tersebut didinding dengan papan kasar. Jadilah dia dinding apa adanya.

Papan seperti itulah yang dibuat untuk dinding seluruh barak dan kamar mandi perwira. Tentu saja ada bahagian-bahagian yang tak begitu rapat. Dari celah dinding itulah si mayor sering ngintip bila Thi Binh atau wanita-wanita lainnya mandi. Wanita-wanita itu, semuanya, termasuk Thi Binh, memang tak terbiasa memakai kain basahan ketika mandi. Hal itu amat membuat si mayor bersuka cita.

Kini, setelah si kolonel mendapat mainan baru, si besar pinggul yang baru datang itu, Thi Binh segera diantarkan seorang sersan ke barak si mayor. Di sini gadis itu harus menderita selama sepuluh hari. Saat si kolonel selesai dengan gadis berpinggul besar itu, dia lalu menyerahkan pada si mayor agak empat atau lima hari, kemudian ditempatkan di barak seorang kapten.

Setelah para perwira menikmati tubuhnya, pada bulan kedua Thi Binh baru diantar ke barak dimana belasan wanita lain sudah sejak lama disekap. Thi Binh tak tahu, mana neraka yang lebih jahanam antara barak perwira atau di barak umum ini.

Para prajurit datang silih berganti. Kadang-kadang sehari dia dipaksa melayani empat sampai tujuh prajurit. Dan tiga bulan di barak umum itu, akhirnya dia diserang sipilis.

Di tubuhnya, termasuk di bibirnya, muncul kudis yang mengeluarkan nanah yang baunya amat menusuk. Dia segera dikembalikan kepada ayahnya di kampung, dan hanya beberapa hari di kampung, lelaki dari Indonesia yang bernama Bungsu itu muncul bersama Han Doi.

Si Bungsu terkejut melihat tubuh Thi Binh menggigil. Roxy yang tegak tak jauh dari si Bungsu juga kaget melihat betapa tubuh gadis yang sering dibuatnya cemburu itu menggigil hebat, sementara matanya menatap lurus ke depan.

Si Bungsu menoleh ke arah yang ditatap Thin Binh. Dia yakin, gadis itu menatap kolonel yang mondar-mandir di depan belasan pasukannya di tengah lapangan, di depan barak-barak sana.

Si Bungsu melihat Thi Binh tiba-tiba mengangkat bedilnya. Namun sebelum bedil itu meledak, si Bungsu perlahan memegang lengan gadis itu. Kemudian memegang bedilnya. Dia menggeleng, memberi isyarat agar jangan terburu-buru.

“Belum sekarang Thi-thi. Kita semua akan terbunuh jika engkau meletuskan sebuah peluru saat ini. Lagi pula, peluru bedilmu takkan mencapai perwira di tengah lapangan sana. Kalaupun sampai pasti hanya sekedar melukai, takkan mematikan. Sabarlah, sebentar lagi.

Jika belasan tentara yang tadi berangkat sudah dihadang pasukan Kolonel MacMahon, kita akan menyerbu mereka yang di depan sana. Engkau boleh membunuh mereka. Membalas dendammu…” bisik si Bungsu perlahan.

Thi Binh menurunkan bedilnya. Matanya basah, dadanya berombak menahan bara dendam. Roxy yang tegak di samping kiri si Bungsu kini bisa menerka apa yang sudah terjadi pada diri Thi Binh. Diam-diam dia tak hanya merasa menyesal membuat gadis itu keki, tapi juga merasa kasihan pada nasibnya. Perlahan dia menggeser tegak melewati si Bungsu, mendekati Thi Binh.

Gadis yang didekati itu kembali mendelikkan mata melihat orang yang dianggapnya perempuan gatal ini mendekati dirinya. Hatinya sudah sejak tadi bengkak melihat si gatal ini lengket terus di dekat si Bungsu. Kayak perangko dengan amplop saja. Akan halnya Roxy, yang memang jauh lebih dewasa dibanding Thi Binh yang berusia lima belas tahun itu, tak lagi berminat memperuncing suasana.

Biasanya dipelototi seperti itu, dia akan membalas dengan cengar-cengir dan malah semakin mendekati si Bungsu. Namun kali ini, dia mendekati ‘saingannya’ itu dengan wajah jernih.

“Maafkan jika tadi saya menyakiti hatimu. Nasib buruk yang menimpa dirimu terlebih dahulu menimpa diriku dan teman-temanku yang lain, yang mereka sekap dalam goa di bukit cadas itu. Bedanya, karena kalian anak negeri ini, kalian dipaksa menjadi pemuas nafsu mereka terus menerus.

Sementara kami hanya dipakai saat-saat mereka perlukan. Kolonel laknat yang di depan sana, adalah orang yang menodai diriku untuk kali pertama. Kemudian bergantian perwira-perwira yang lain. Saya rasa hal itu juga engkau alami. Namun, nasib kita tak jauh berbeda adikku…” bisik Roxy perlahan sambil memegang bahu Thi Binh.

Mendengar cerita perawat Amerika yang semula amat dicemburuinya ini, yang mengalami nasib yang sama dengannya, hati Thi Binh tiba-tiba runtuh. Dia tak mampu menahan air mata dan menangis sesunggukan. Roxy memeluknya dengan lembut. Thi Binh menyandarkan kepalanya ke dada perawat itu, dan menumpahkan tangisnya di sana. Si Bungsu manarik nafas terharu dan gembira.

Terharu mendengar nasib yang juga menimpa Roxy. Gembira karena kedua wanita yang semula saling bermusuhan seperti kucing dengan tikus itu kini sudah akur, malah saling peluk. Dia bukannya tak tahu, Thi Binh marah pada Roxy karena merasa cemburu. Cemburu karena Roxy sengaja berpura-pura mendekatinya.

“Saya rasa sebentar lagi pasukan tadi sudah akan sampai di tempat jebakan Kolonel MacMahon. Sebaiknya kita mendekati barak itu, serta mengatur strategi…” bisik si Bungsu pada Letnan Rodney Duval, anggota SEAL Amerika yang menyertainya.

“Anda yang memegang komando, Pak. Saya siap menerima perintah…” ujar Letnan Duval, yang diselamatkan nyawanya oleh si Bungsu dalam pertarungan sekeluar dari goa sekapan pagi tadi.

Kata-kata yang dia ucapkan terjauh dari basa-basi. Sampai saat ini dia tak yakin lelaki ini bukan anggota tentara. Kemahiran yang dia miliki, melebihi pasukan SEAL, yang di Amerika sana sangat disegani oleh pasukan elit manapun. Diam-diam Duval yang saat di goa itu memang menganggap enteng lelaki Indonesia ini, kini berbalik mengaguminya.

Betapa dia takkan kagum, di goa itu saja lelaki ini sendirian menghabisi empat tentara Vietnam tanpa sebuah peluru pun. Padahal keempat tentara Vietnam itu memegang bedil yang siap memuntahkan peluru.

“Barak yang di tengah itu adalah gudang senjata. Kita akan mendekati barak itu. Saya akan menyelusup ke dalam. Barangkali saya bisa mengambil dua buah senapan mesin ringan. Kalian bertiga berjaga-jaga di luar. Jika ada yang mencurigakan, jangan membuang waktu. Tembak saja. Sekarang kita berangkat…” bisik Bungsu.
Namun dia terhenti saat teringat Thi Binh dan Roxy.

“Thi-thi, Roxy, ikut kami dari belakang. Hati-hati…” ujarnya.
Kedua gadis itu sama-sama mengangguk. Lalu mereka segera menyelusup di balik lindungan belantara, mendekati barak-barak tersebut. Si Bugsu berada di depan, menyusul Thi Binh dan Roxy. Di belakang sekali berada Letnan Duval.

“Kolonel itu bahagian saya. Dia harus merasakan pembalasan saya…” desis Thi Binh sambil menyelinap di balik sebatang pohon besar.
“Ya, jika pun saya yang berhasil menangkapnya, dia akan saya serahkan padamu, Thi-thi…” bisik Roxy yang berada di sisinya.
“Terimakasih, Roxy…” ujar Thi Binh dengan perasaan terharu, sambil menatap pada ‘bekas musuh’nya itu.

Kendati kedua wanita itu bicara berbisik, namun si Bungsu mendengarnya dengan jelas. Dia menarik nafas panjang, lega. Tiba-tiba hampir serentak langkah mereka terhenti dan masing-masing pada merunduk di tempat yang tersembunyi.

Dari kejauhan mereka mendengar rentetan tembakan, sahut bersahut. Ke empat mereka tahu, suara tembakan itu berasal dari tempat di mana Kolonel MacMahon berada. Itu berarti pasukan Vietnam yang menyusul teman-teman mereka yang dihabisi rombongan Duc Thio, masuk perangkap MacMahon.

“Sekarang giliran kita…” bisik si Bungsu sambil kembali bergerak maju, diikuti ke tiga anggota ‘pasukan’nya.
Dia berhenti di balik sebuah batu besar yang ditumbuhi pohon jenis beringin yang rindang. Kemudian menatap ke lapangan di tengah deretan tentara Vietnam, yang kini jaraknya dari tempat mereka hanya sekitar dua puluh depa.

Dia memberi isyarat pada Duval, bahwa dia akan memasuki salah satu barak itu dari belakang, dan minta Duval mengawasinya. Kemudian dia mendekati tempat Thi Binh dan Roxy.

Dengan berbisik dia minta agar mereka tetap di tempatnya masing-masing. Setelah sekali lagi memperhatikan si kolonel di tengah lapangan sana, yang bersama belasan orang anggota pasukannya sedang menatap ke arah datangnya suara tembakan, si Bungsu mulai mendekati barak senjata yang malam tadi dia masuki. Dia harus merayap ketika melintasi sungai kecil dan dangkal lima depa dari barak.

Di bawah tatapan mata ketiga orang yang dia tinggalkan di belukar di belakangnya, si Bungsu segera mencapai barak tempat menyimpan senjata itu. Dia menyesal juga kenapa malam tadi tidak teringat mengambil senapan mesin ringan jenis bren yang di dalam barak itu ada tiga atau empat buah. Kini dia masuk dengan perasaan khawatir, kalau-kalau senapan mesin itu sudah diambil semua oleh tentara Vietnam dalam upaya memburu mereka.

Di bawah terik matahari dia segera membuka dua keping papan yang malam tadi memang sudah dia copot pakunya. Dia beruntung tak ada patroli. Sebahagian besar tentara Vietnam sudah disebar memburu mereka. Yang tinggal di barak tak menyangka sama sekali kalau orang yang mereka buru justru hanya berada beberapa depa di belakang barak mereka.

Tambahan lagi kini perhatian mereka tertuju pada suara tembakan yang terdengar cukup jelas di perbukitan batu di bahagian barat sana. Ketika sudah berada di dalam barak, si Bungsu merasa lega. Bersambung...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here