TIKAM SAMURAI 155

SUMBARTIME.COM-Di Hongkong, tiga jam kemudian, sebahagian dari penumpang turun. Kemudian sebagai gantinya masuk sekitar dua puluhan penumpang menuju Amerika.

Dalam perjalanan menuju Honolulu di Lautan Teduh, dimana pesawat itu harus berhenti mengisi bahan bakar dan menurunkan/menaikan beberapa penumpang, gadis Itali yang pramugari itu kembali sibuk menolong pramugari JAL menghidangkan makanan dan minuman. Kali ini bantuan itu nampaknya memang diperlukan karena penumpang hampir penuh.

Iklan

Si Bungsu tengah tertidur ketika bahunya disentuh dengan lembut. Ketika dia membuka mata, dia lihat gadis itu tegak di sisinya sambil mendorong makanan di kereta kecil. Gadis itu tersenyum, dengan lesung pipit yang indah dan gigi yang putih bersih, menyapanya:
‘’Tuan mau apa?’’
‘’Oh, kopi saja..’’

Gadis itu meletakan kopi dalam gelas plastik di meja kecil di depan si Bungsu. Kemudian melatakkan makan malam yang terdiri dari bistik dengan goreng ayam yang harum. Lalu segelas lagi air putih.
‘’Silahkan menikmati makan malam Tuan..’’
‘’Terima kasih…’’
Gadis itu kemudian berlalu. Tongky kembali menyikut si Bungsu.

‘’Ramah benar dia padamu, kawan..’’ kelakar Tongky sambil melahap ayam goreng dan meminum kopinya.
Si Bungsu memperhatikan gadis Itali itu. Dan tiba-tiba saja, ada sesuatu perasaan ganjil menyelinap di hatinya.
‘’Di mana kita kini….?’’ tanyanya pelan, sambil menghirup kopi.
‘’Di atas Lautan Pacific’’

’Kita akan singgah di Honolulu?’’
‘’Ya, semua kita. Kalau tidak pesawat ini akan kecemplung di tengah laut kehabisan bahan bakar..’’
‘’Berapa lama lagi kita akan sampai di sana?’’
‘’Pagi lewat sedikit’’
Si Bungsu menoleh, heran.

‘’Pagi? Begitu jauh, dan pesawat ini sanggup terbang sepanjang malam tanpa mengisi bahan bakar?’’
‘’Begitu teorinya. Tapi tak usah khawatir. Sebentar lagi, kita akan melewati batas malam dan pagi. Waktu di Indonesia, termasuk Singapura, berbeda nyaris 24 jam dari Amerika.

Bila di negeri Anda jam sembilan pagi, itu artinya di Amerika sekitar jam sembilan malam. Nah, sebelum Honolulu, kita akan melewati batas malam itu. Jadi sebenarnya kita terbang melintasi jarak antara malam dengan siang. Kalau berada di tempat malam lamanya 12 jam, maka dalam penerbangan melintas jarak ini, malam hanya kita alami sekitar empat atau lima jam. Anda begitu khawatir nampaknya. Ada apa?’’

Si Bungsu tak segera menjawab. Dari gadis Itali yang tengah membagi-bagikan makanan itu matanya beralih pandang ke depan, lalu ke belakang. Kemudian tangannya meraih ayam goreng, sebelum mengunyah dia berkata pelan: ‘’Saya tak tahu dengan pasti, tapi saya merasa ada sesuatu yang ganjil…’’

“Yang ganjil adalah jantungmu, kawan. Kau sedang jatuh hati pada gadis itu, bukan? Kau harus berperang dengan empat puluh lelaki dalam pesawat ini untuk mendapatkannya. Kau lihat mata para lelaki itu memandang gadis tersebut? Seperti akan menelannya habis-habisan. Gadis itu memang luar biasa cantiknya. Lihat pinggulnya yang bulat, dadanya yang bukan main..’’

Tongky lalu tertawa bergumam sambil mengunyah makanannya. Si Bungsu menarik nafas. Matanya kembali menatap gadis bertubuh menggiurkan itu. Gadis itu memang amat cantik, amat menggiurkan. Namun ada firasat aneh menyelusup di hatinya. Dia tak tahu apa, tapi dia merasa bakal ada sesuatu yang hebat yang bakal terjadi.

Ah, kalau saja dia di rimba, barangkali dia cepat bisa membaca bahaya yang mengancam. Dia memang hidup dan dibesarkan di rimba, karenanya dia hafal benar akan hal-hal yang bakal terjadi. Dia seperti memiliki indra keenam. Tapi kini dia berada di pesawat udara, kecemasan apa yang menyelusup di hatinya?

‘’Saya rasa gadis itu bukan orang Itali, mungkin orang Mexico atau Cuba..’’ ujar Tongky lewat mulutnya yang penuh berisi. Karena si Bungsu tak mengomentari, dia bicara lagi.‘’Orang Itali, Mexico dan Cuba, banyak persamaannya. Sama-sama berdarah panas. Lebih-lebih perempuannya.

Gadis ini kalau di tempat tidur, saya yakin akan seperti kuda gila, mengamuk dan panas menggelora seperti air yang mendidih. Beda orang Mexico dan Cuba dengan orang Italia hanya pada kulitnya. Orang Italia agak putih, tapi kalau mereka banyak berjemur matahari, maka warna kulit mereka akan susah dibedakan..’’

Si Bungsu masih diam. Memakan penganan di depannya. Kemudian dengan firasat tak enak tetap bersarang di hati, dia akhirnya tertidur. Dia terbangun ketika dibangunkan Tongky. ‘’Hei, kita sudah berada di sebuah pagi’’ ujar kawannya itu.

Lewat jendela si Bungsu melihat sinar matahari yang terang benderang menyeruak masuk. Tak ada apapun yang terlihat di luar jendela sana, kecuali kekosongan. Kemudian sebuah pengumuman dari pramugari.(Pesawat ini kami bajak dan di arah kan ke mexico dan kami juga menyandera menteri muda pertahanan amerika,meminta amerika membebaskan 10 orang teman kami yang di tahan.

Selama tahanan itu belum muncul, tak seorangpun diantara Anda yang akan meninggalkan pesawat. Nah, kami kira semuanya cukup jelas. Jangan panik, yang ingin buang air dan sebagainya, disilahkan ke toilet seperti biasa. Asal jangan coba-coba berbuat yang tidak-tidak.

Bahkan kalau Anda ingin kopi, teh atau makanan, Anda bisa menekan bel, dan pramugari akan kami perintahkan melayani Anda. Kami yakin Anda akan membantu kami demi tegaknya Komunisme Internasional. Terima kasih atas kerjasama Anda..’’

Dia meletakan mik itu. Kemudian mengambil earphone, memencet tombol di dinding dekat pramugari yang masih duduk dan tak tahu harus berbuat apa. Dia bicara beberapa patah. Kemudian lelaki tersebut meminta ketiga pramugari yang masih duduk terbengong-bengong itu untuk pindah ke deretan kedua, di sisi yang berlainan dari Menteri Amerika Serikat tersebut.

Lelaki itu menuju ke cokpit. Mengentuk pintu dua kali. Ketika pintu terbuka, lelaki itu masuk. Tempatnya di dekat earphone tadi segera digantikan oleh pembajak lain yang berjambang lebat. Tak lama setelah lelaki pertama masuk, pintu ruang pilot terbuka. Dari sana muncul gadis Itali itu. Masih tersenyum ramah. Namun di tangannya ada sepucuk pistol.

Lelaki berjambang itu memberi hormat, serta bersikap takzim sekali pada gadis itu. Gadis itu tegak dan meraih mik yang tadi dipakai oleh si lelaki pertama, yang kini nampaknya bertugas mengawasi pilot dan copilot di depan sana.

Lewat mik pramugari Itali itu bicara, suaranya merdu dan lembut: ‘’Selaku pimpinan dari regu pembebasan ini, saya mohon maaf atas terganggunya perjalanan Anda sekalian. Namun percayalah, pengorbanan Anda yang sedikit itu adalah demi kejayaan Komunisme..’’

Gadis itu berhenti. Melayangkan pandangan lewat matanya yang biru dan senyumnya yang memikat ke seantero ruangan pesawat. Tongky kembali menyikut si Bungsu, berbisik: ‘’Anda ternyata benar, kawan. Maksud saya firasat Anda tadi. Anda punya indra keenam yang amat tajam.

Tapi .. ngomong-ngomomg, pacar Anda ini rupanya punya pangkat yang lebih tinggi. Pimpinan regu pembebasan sepuluh orang tahanan politik dan militer. Hmm, dan harap ingat pula, perkiraanku juga benar, bahwa dia bukan orang Italia, meski dia bekerja di Air Italian. Dia orang Cuba. Perempuan Cuba, kalau dapat tidur dengannya, wouww!’’

Tongky tertawa sendiri. Suara tawanya membuat para pembajak itu menatap tajam. Salah seorang di antaranya, yang tegak tak begitu jauh dari tempat mereka, bertanya: ‘’Anda yang kribo, saya rasa Anda dari Afrika, apa yang membuat Anda gembira hingga tertawa begitu?’’

Ucapan orang itu sopan sekali, namun siapa pun dapat merasakan nada hinaan dalam kalimat ‘Afrika’ yang dia ucapkan. Namun Tongky sedikitpun tak merasa tersinggung, dengan senyum lebar dia menjawab:

‘’Terima kasih Anda punya pengetahuan dan rasa hormat yang dalam pada leluhur saya. Tentang kegembiraan, sehingga membuat saya tertawa, karena rute perjalanan yang dirobah ini..’’
Seluruh pembajak dalam pesawat itu menatapnya.
‘’Teruskan…kawan..’’ kata pembajak yang tadi bertanya.

Mau tak mau beberapa penumpang ikut-ikutan menoleh pada Tongky. Kawan di Bungsu itu menyambung:
‘’Yang membuat saya gembira adalah diperpanjangnya perjalanan ini. Kami membayar hanya untuk Singapura-Dallas, kini siapa sangka, Tuan-tuan berbaik hati membawa kami ke Mexico. Mana tahu, kami bisa pula melihat Cuba. Ah, negeri tuan pasti bagus sekali….he..he..’’

Beberapa penumpang nyengir. Para pembajak itu saling pandang sesamanya. Gadis cantik pimpinan teroris itu ikut tersenyum. Tongky bicara dengan menghadap pada gadis itu.
‘’Kawan di sebelah saya ini orang Indonesia tulen. Dan maaf, dia amat tertarik pada Nona, sebagaimana halnya semua lelaki di pesawat ini..’’

Si Bungsu jadi merah mukanya. Tak kalah merahnya adalah wajah para pembajak. Salah seorang yang tegak di dekat mereka segera mendekati dan berniat memukul Tongky, namun gadis cantik itu memberi isyarat mencegah. Lelaki itu surut lagi ke tempatnya semula. Dengan masih tersenyum, gadis itu bertanya langsung pada si Bungsu.

“Apakah benar ucapan temanmu itu, Love?’’
Si Bungsu tak menjawab, yang menjawab justru Tongky. Dia menjawab dengan siulan nyaring tatkala gadis itu memanggil si Bungsu dengan ’love’.
‘’Nona, Anda bisa menimbulkan perang dalam pesawat ini dengan hanya menyebut Love kepada kawanku ini saja. Anda harus adil..’’ ujar Tongky.

Penumpang lain semakin nyengir dalam situasi genting itu. Lelaki keparat dari mana pula ini, dalam keadaan gawat begini, di bawah todongan bedil dan granat pembajak Cuba, masih sempat berseloroh tak menentu, pikir mereka. Akan halnya gadis itu masih tetap tersenyum. Senyumnya baru lenyap tatkala dari loud speaker terdengar suara:
‘’Nona Yuanita, Yuanita Pablo, Pemerintah Amerika ingin bicara langsung dengan Nona di radio..’’

Itu adalah suara pilot pesawat tersebut. Aksen Jepangnya kentara sekali. Gadis itu, yang ternyata bernama Yuanita Pablo, segera meninggalkan tempatnya berjalan ke ruangan pilot. Suasana di dalam kabin kembali sepi. Orang saling pandang sesamanya. Tak lama kemudian pintu cokpit kembali terbuka, lelaki berkacamata yang bicara atas nama pembajak tadi yang beberapa saat berada di cokpit menggantikan Yuanita, kini muncul.

Dia langsung menuju Menteri Muda Pertahanan Amerika, yang duduk di barisan depan. Dengan pistolnya dia memberi isyarat untuk berdiri. Dua orang lelaki di deretan ketiga, yang tadi duduk di belakang menteri itu, kelihatan bergerak, lelaki yang berkaca mata hitam mengangkat granat di tangan krinya, dan berkata dingin ke arah mereka.. Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here