TIKAM SAMURAI 152

SUMBARTIME.COM-‘’Buku ini tak boleh masuk ke negerimu, Bungsu. Saya tahu beberapa orang pimpinan politik dan wartawan yang menyelusup kemari. Mereka kasak kusuk mencari buku-buku atau majalah yang menulis tentang negerimu, tentang pimpinan-pimpinan negaramu. Aneh juga bukan, orang terpaksa pergi jauh-jauh dari rumahnya, bertanya kepada orang lain tentang segala sesuatu yang terjadi di dalam rumahnya sendiri.

Itu pertanda, di dalam rumahnya dilarang berbicara tentang kebenaran. Begitulah negerimu kini, sobat. Kau bisa baca buku ini. Barangkali tak semuanya benar, namun kau dapat menjadikannya sebagai pembanding. Kau tahu tentang rumahmu, kemudian kau dengar orang bercerita tentang rumahmu itu, maka kau akan ketahui mana yang benar mana yang tak benar…”

Iklan

Si Bungsu meraih buku itu. Buku itu dicetak buat pertama kali di tahun 1961. kulitnya berwarna merah putih dan hitam. Sudah cetakkan kedua. Di kulit luar itu ada gambar sepotong tangan yang seperti menggapai, ada bercak-bercak darah dan lingkaran yang tak mengerti dia apa maksudnya. Nampaknya kulit buku itu dirancang dengan selera setengah pop.

Warna hitam dan merah, selain ingin menggambarkan keseraman, juga ingin menimbulkan suasana misteri. Namun kesan tak menarik tak bisa disembunyikan dari ilustrasi itu. Kalau ada yang menarik barangkali adalah judulnya itu. Tentang pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Indonesia.

Di halaman lain, si Bungsu membaca tulisan Mossman sebagai berikut: “Sejak hari-hari pertama perang saudara itu, Mossman mempunyai kesan yang pelik. Adapun Simbolon dan pemimpin militer yang lain, pendiri-pendiri sesungguhnya dari gerakan otonomi Sumatera Tengah, tidak pernah mengharapkan akan harus berkelahi sama sekali untuk kepercayaan-kepercayaan mereka.

Mereka mengira akhirnya akan berunding di meja konferensi dengan Soekarno. Menurut Mossman pula, pasti Syafruddin tak pernah mengira akan terjadi segalanya itu. Yakni PRRI akan diserang dengan kekuatan tentara oleh Jakarta.

Sampai saat-saat akhir, dia percaya pada bantuan pasukan dan sekutu-sekutunya, prajurit-prajurit, politisi dan dunia barat. Kekalahan tak masuk akal baginya, karena dia percaya perjuangannya adalah benar.

Ketika dilihatnya prajurit-prajurit PRRI tak mampu menghadapi serangan udara dan tak punya keinginan untuk menewaskan sesama orang Indonesia, atau dibunuh oleh mereka dalam suatu pertarungan untuk mana mereka tidak begitu aktif perasaan simpati mereka, maka dia jauh lebih terkejut daripada perwira-perwira yang mengangkatnya ke atas jabatan pemberontaknya. Itulah tulisan Mossman tentang Syafruddin Prawiranegara.

Selanjutnya, wartawan Inggeris itu mencerca Syafruddin dengan pedas. Dalam bukunya itu dia menulis: ‘’Syafruddin seorang kerani, bernafsu, picik. Ia adalah kerani bank yang akhirnya lepas lalang dan merampok bank.’’
Tapi Mossman tak pernah menjelaskan kebenaran tuduhan pedasnya, Bank mana saja yang dirampok oleh Syafruddin.

Di halaman lain, si Bungsu membaca tentang PRRI itu sebagai berikut: ‘’Tokoh-tokoh PRRI tampaknya sangat mengandalkan bantuan Barat.Sebab PRRI berjuang antara lain untuk menghancurkan komunis di Indonesia. Namun ketika bantuan itu tak kunjung datang, atau kalaupun datang tapi tak menentu dan dalam jumlah yang nyaris tak ada arti untuk mempersenjatai beberapa resimen, sementara tentara APRI telah mendesak terus, mereka tak dapat berbuat lain, kecuali menyumpah dan amat kecewa.”

Dalam suatu wawancara antara Mossman dengan Simbolon di Mess Perwira Padangpanjang pada 15 April 1958 (Saat itu APRI telah maju cukup banyak) dia berkata: ‘’Kami memerlukan pesawat-pesawat pemburu. Hanya dua atau tiga pemburu jet. Satu malah dengan penerbang yang baik. Yang akan menghasilkan tipu muslihat.

Kami akan mampu menahan majunya pasukan Nasution. Mengapa Barat tak melihat hal ini? Mengapa mereka tak mempunyai cukup kepercayaan buat mengirimkan beberapa pesawat pemburu, yang buruk sekalipun? Tak lama lagi, jika bantuan itu datang juga, keadaan sudah akan terlalu terlambat’’. Itu ucapan Simbolon.

Dalam buku itu juga Mossman memperjelas siapa yang dimaksud oleh tokoh-tokoh PRRI itu dengan “teman barat” itu. Mossman menunjukan peranan Central Intelligence (CIA) dari Amerika dalam kemelut perang saudara itu. Sebelum pecah perang saudara, beberapa tokoh PRRI bertemu dengan agen-agen CIA di Sumatera, dan di lain-lain tempat.

Hanya dia tak merinci tempat-tempat pertemuan itu. Tak menyebutkan kota dan tempat serta waktunya. Kemudian menurut Mossman, salah satu sebab kenapa PRRI berantakan dari dalam ialah karena diproklamirkannya Republik Persatuan Indonesia (PRRI) di Bonjol tanggal 7 Februari 1960. Republik ini merupakan gabungan antara PRRI dengna pasukan Darul Islam (DI) di Aceh dan Sulawesi Selatan.

Adapun DI yang fanatik Islam amat tak berkenan di hati orang Permesta yang beragama Kristen seperi Vence Sumual, Alex Kawilarang, Simbolon dan Dr. Sumitro Djojohadikusumo. Proklamasi PRRI itu adalah awal dari perpecahan di kubu PRRI dan Permesta. Pemberontakan itu dianggap selesai sejak Presiden Soekarno memberikan amnesti dan abolisi secara umum terhitung 5 Oktober 1961.

Si Bungsu meletakkan buku tebal itu di meja. Menatap pada kedua temannya bekas tentara Baret Hijau itu.‘’Buku itu tak ada di Indonesia bukan?’’ tanya Fabian.Si Bungsu menatap buku tersebut. Dia menggeleng.‘’Saya tak tahu. Saya tak berminat pada masalah-masalah begini di sana. Saya bukan politisi, bukan militer, bukan cerdik pandai.

Saya tak tahu buku mana yang boleh beredar dan mana yang tidak di negeri saya itu. Lagipula, saya bukan orang terdidik yang menyukai buku,’’ ujarnya jujur tentang dirinya. ‘’Buku itu memang dilarang di negerimu, Bungsu. Sebab, meskipun sebahagian besar bicara tentang kelemahan PRRI, dia juga bicara tentang kelemahan dan kesalahan yang dibuat oleh Presidenmu, oleh para menteri dan pemimpin negeri kalian yang goblok, serakah dan pengecut!’’

Si Bungsu menatap wajah temannya itu. Mukanya jadi merah. Betapapun juga, rasa nasionalismenya jadi tersinggung. Dia tahu, tak semua pimpinan di negerinya sejelek yang diucapkan Fabian. Tapi bekas kapten tentara Baret Hijau ini memaki mereka sama rata. Fabian segera menyadari jalan pikiran temannya itu.

‘’Sorry, kawan. Saya memang agak emosi. Soalnya negerimu itu amat condong ke komunis. Sebahagian besar rakyat kalian kini menjerit kelaparan. Sementara segelintir orang-orang berkuasa, atau yang dekat dengan penguasa, hidup mewah’’

Si Bungsu masih tetap diam dan masih menatap Fabian. Fabian bicara lagi.
‘’Negerimu itu sesungguhnya negeri yang amat kaya, kawan. Di sana, matahari bersinar sepanjang zaman. Negerimu negeri yang amat sangat dilimpahi Rahmat Tuhan. Apapun yang kalian tanam di sana hidup dan tumbuh dengan subur. Untuk kemudian menghasilkan panen yang melimpah. Di sana tak ada musim gugur, tak ada musim salju yang memunahkan seluruh jenis tetumbuhan.

Tidak, negerimu panen bisa berlangsung sepanjang zaman. Tapi kenapa rakyatmu melarat? Kenapa kelaparan? Apa yang tak ada di sana? Sebutlah: emas, perak, minyak, batubara, timah, tembaga, lada, pala, beras, pisang dan seribu macam sayur mayur. Apalagi yang kalian butuhkan? Tapi rakyat kalian tak bisa turun ke sawah, ke ladang dengan aman, sebab banyak teror dan intimidasi politik.

Mereka tak dapat turun ke laut menangkap ikan yang melimpah, karena bajak laut sepertinya ada di mana-mana. Tidak hanya bajak laut dalam arti harafiah, tetapi pembajak dalam segala hal! Segelintir pemimpin kalian terlalu sewenang-wenang. Cobalah renungkan, di negeri yang kaya raya dan subur seperti itu, orang harus membeli beras dengan kupon, membeli minyak dan garam dengan kupon. Bukankah di kampungmu, di Minangkabau ada istilah ayam di lumbung mati kelaparan? Nah, itulah yang terjadi dengan rakyat Indonesia, kawan’’.

Tidak dapat tidak si Bungsu kagum atas ucapan Fabian. Begitu banyak yang dia ketahui tentang Indonesia. Sesuatu yang dia sendiri tak begitu memahaminya.
‘’Banyak yang kau ketahui tentang negeriku, kawan..’’ katanya pelan sambil melempar pandangan keluar.
‘’Saya mengetahuinya lewat koran.’’
‘’Apakah menurut dugaanmu semua yang ditulis koran itu benar?’’

‘’Koran di negeri ini berbeda dengan koran di negerimu, sobat. Wartawan di negeri ini, dan di negeri kami, berbeda dengan wartawan di negerimu. Wartawan di negeri kami menulis fakta. Dan mereka tak takut sedikitpun pada resiko yang ditimbulkan oleh fakta yang mereka ungkapkan. Itulah sebabnya kenapa kami menaruh kepercayaan kepada wartawan-wartawan kami. Percaya pada apa yang mereka tulis.

Tidak seperti wartawan di negerimu. Yang menulis hanya demi periuk nasi. Memang ada wartawan jempolan di negerimu, yang tak mau kompromi dengan penguasa yang tak benar. Saya mengenal nama beberapa orang di antaranya, Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar. Tapi mereka telah disikat penguasamu, masuk bui dan korannya dibredel. Selebihnya, wartawan-wartawan di sana kebanyakan adalah pelacur, atau tukang peras. Barangkali tak semua, masih cukup banyak yang baik.

Namun lebih banyak yang tak baik. Mereka menulis apa yang menyenangkan hati para pimpinan saja. Bukankah di negerimu ada istilah ABS-isme? Asal Bapak Senang? Nah, kami memang mempercayai wartawan kami. Karena umumnya mereka bukan pelacur jurnalistik’’.

Si Bungsu terdiam. Tentang jurnalistik, dunia kewartawanan, dia benar-benar tak mahfum seujung kukupun. Fabian lalu bangkit, menuju ruang dalam. Dari lemari buku dia memilih beberapa saat. Kemudian membawa keluar sebuah buku. Duduk dan meletakan buku itu di depan si Bungsu. Dia melihat dan membaca judul buku tersebut, “THE REBELS” Ditulis oleh Brian Crozier. Nampaknya penulis ini juga orang Inggeris.

‘’Buku ini, kawan, adalah sebuah buku study tentang pemberontakan-pemberontakan yang terjadi setelah Perang Dunia II. Tidak hanya memuat tentang pemberontakan PRRI/Permesta di Indonesia, tetapi juga memuat dan menelaah pemberontakan Fidel Castro terhadap Batista di Cuba, Ho Chi Minh di Vietnam dan Ben Bella di Afrika, dua yang terakhir memberontak melawan Perancis. Lalu Uskup Besar Makarios di Pulau Kreta yang memberontak terhadap Inggeris. Agar engkau tak lelah, saya akan uraikan secara singkat isi buku ini, yaitu jika engkau berminat. Jadi engkau tak perlu membaca keseluruhan isinya…’’ Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here