• AD ART Sumbartime.com
  • Advertorial
  • Disclaimer
  • Home
  • Home
  • Iklan
  • Pedoman Berita
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Visi Misi
Sumbartime.com
Advertisement
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Sumbartime.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Sumbar
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Nasional
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Video
  • Wisata
ADVERTISEMENT
Home Cerbung

TIKAM SAMURAI 142

Sumbar Time by Sumbar Time
21 Agustus 2021
in Cerbung, Tikam Samurai
A A
0
0
SHARES
75
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

SUMBARTIME.COM-”Ha, bisa juga kau memainkan senjata itu nona….” katanya sambil tersenyum tanpa memperdulikan darah di dadanya. Babah gemuk itu sebenarnya sudah agak takut. Tapi karena tukang pukul nya itu tak takut, dia juga jadi berani.”Sudahlah, Dik. Jangan main-main palang panjang, eh, kapak, eh, jangan main-main samulai. Nanti adik luka. Mali sini abang simpan…” kata apek gemuk itu sambil maju mengulurkan tangan pada Michiko.

ADVERTISEMENT

Maksudnya membujuk agar samurai itu diserahkan padanya. Namun sebuah tendangan menantinya. Tendangan yang telak dari jurus karate yang telah mahir dipelajari Michiko. Tendangan itu mendarat di kerampang Cina gemuk itu. Babah gemuk itu terhenti.

ADVERTISEMENT

Nafasnya tertahan. Matanya juling. Alat kesenangannya, yang biasa dia buat untuk bersenang-senang, terasa sangat sakit. Rasa akan pecah dihantam tendangan gadis itu. Dengan melenguh, dia jatuh berlutut di lantai. Husein jadi kaget juga melihat makan kaki gadis itu.

Dia segera membantu bosnya. Dengan masih bertelanjang, dia menyergap gadis itu dari samping. Namun Michiko sudah siap. Meski dia tak bisa segera menggunakan samurai, pukulan tangan kirinya mendarat di jidat lelaki itu. Lelaki itu terhenti. Jidatnya bengkak sebesar telur ayam. Namun dia tak merasa sakit. Yang dirasakannya hanya sedikit pening dan kaget. Dia memang lelaki yang alot. Tak merasakan pukulan.

BacaJuga

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021

Tapi waktu dia berhenti menyerang itu sudah cukup bagi Michiko untuk mempergunakan samurai di tangan kanannya. Cress! cresss!, dua sabetan cepat. Pada sabetan pertama telinga kanan Husein bercerai dari kepalanya. Sebelum Husein sempat berteriak karena sakit, sabetan kedua menghantam perutnya. Perutnya menganga. Husein kali ini menatap dengan wajah pucat pada gadis itu. Gadis itu juga menatapnya. Mukanya masih tetap merah. Husein memang tangguh.

Dengan tangan kiri memegang perutnya yang belah, dia maju menyerang. Dia sebenarnya tukang pukul yang ditakuti di Jakarta saat itu. Namun samurai Michiko menantinya lagi. Sebuah sabetan menghantam kepalanya! Cress! Kulit kepala lelaki itu berikut rambutnya seluas telapak tangan terbang! Demikian tajam dan demikian cepatnya. Darah meleleh. Husein berhenti lagi. Sedepa di depannya,

Michiko tegak lagi menanti! Husein maju. Kembali samurai Michiko bekerja. Cress! Dan kali ini arahnya adalah sebuah benda di bahagian depan bawah. Husein terhenti. Kali ini dia tak bisa untuk tidak meraung. Tangannya segera mendekap selangkangnya. Di sana, tadi ada sesuatu yang hampir menusuk-nusuk tubuh Michiko. Dan kini sesuatu itu putus sudah! Tercampak di lantai! Lelaki itu meraung-raung.

Membangunkan orang di hotel. Mereka berlarian ke kamar nomor empat itu. Ketika sampai di sana, pintu terbuka. Seorang lelaki Cina bertubuh gemuk, merangkak ke luar dengan wajah meringis menahan sakit dan wajah pucat. ”Ada apa, ncek?”
”Ada sakit. Banyak sakit…” jawab incek gemuk itu sambil meerangkak terus meninggalkan kamar maut itu.

Dia sebenarnya ingin berlari kencang. Tapi alat kesenangannya amat sakit. Menyebabkan dia tak bisa berdiri. Tapi dia tak berani bertahan terus di kamar perempuan tukang bantai itu. Dia harus pergi. Kesempatan itu terbuka tatkala perhatian Michiko tengah terarah sepenuhnya pada Husein. Dia cepat merangkak keluar. Michiko memang tak melihatnya. Di kamar, Husein masih meraung-raung. Namun Michiko tak memperdulikannya.

Samurainya kembali bekerja. Kedua tangan lelaki itu putus hingga bahu! Lelaki itu bergulingan di lantai. Bermandi darah dan seperti dijagal. Dia belum mati. Orang yang melihat ke dalam jadi tersurut dengan wajah pucat pasi. Kemudian menghindar dari sana. Takut dan ngeri. Michiko mengambil buntalan pakaiannya. Kemudian dengan tenang dia melangkah ke luar. Namun langkahnya terhenti tatkala mendengar suara Husein menghiba-hiba.

Leher gemuk yang hampir saja disikat samurai kecil itu. Dia menatap ke samurai yang tertancap itu. Kemudian beralih ke Michiko. Bergantian menatap samurai dan Michiko. Sambil tangannya masih meraba lehernya.
”Perempuan sundal. Kau akan rasakan akibat perbuatanmu ini…” desis Babah itu sambil menyeringai buruk.

Michiko tak memperhatikannya. Dia justru tengah memperhatikan lelaki kurus berwajah pucat itu. Semakin diperhatikannya, semakin jelas olehnya bahwa lelaki itu sebenarnya adalah seorang Cina. Tak diketahuinya karena kulitnya hitam. Sama seperti orang melayu.

Tapi melihat matanya yang sipit, tak ayal lagi, sikurus ini adalah Cina tulen. Selain dia Cina tulen, nampaknya dia juga memiliki ilmu silat yang tangguh. Itu terbukti dari kibasan tangannya yang berhasil memukul samurai kecilnya tadi. Michiko pernah mendengar dan membaca kehebatan pesilat-pesilat Cina yang mampu melompati pagar atau tembok setinggi atap.

Yang mampu memukul roboh lawan dari jarak dua atau tiga meter dengan mempergunakan ”tenaga dalam”. Dia tak yakin bahwa ada orang Cina yang memiliki ilmu sehebat seperti di dalam cerita-cerita silat itu. Namun apakah yang telah dilakukan Cina kurus jangkung itu sebentar ini? Bukankah hanya dengan kibasan tangannya saja dia telah membelokkan arah samurai kecilnya? Michiko tak sempat memikirkan terlalu banyak.

Babah gemuk itu telah memberi isyarat kepada lelaki bertubuh besar yang tegak di sisi kanannya. ”Siapa di antara kalian yang berhasil menelanjangi perempuan itu, dia akan mendapat giliran setelah aku….” babah itu berkata dengan kurang ajarnya.

Michiko ingin muntah mendengar ucapan jorok itu. Lelaki besar itu maju. Nampaknya dia telah diberi tahu bahwa gadis ini berbahaya. Begitu maju, tangannya telah memegang sebuah belati. Dengan gaya seorang yang amat ahli, dia mulai maju dengan mengayun-ayunkan pisau di depan tubuhnya yang agak membungkuk ke depan.

Michiko masih tetap tegak di tempatnya. Tak bergerak sedikitpun. Dia telah bertekad, kalau dia tak bisa melawan orang-orang ini, maka dia akan menyudahi nyawanya sendiri. Dia akan bunuh diri sebelum dinodai. Tapi dia bersumpah akan membunuh babah gemuk itu sebelum dia bunuh diri. Dia benar-benar berharap dapat melaksanakan sumpahnya itu.

Lelaki itu tiba-tiba menyerang. Pisaunya bergoyang cepat sekali di depan dada Michiko. Michiko bukannya tak tahu itu adalah sebuah tipuan. Dia tetap diam. Dan benar, kaki lelaki itu ternyata degan cepat menyapu kaki Michiko. Maksudnya ingin agar gadis itu terjatuh.

Dengan demikian bisa dia tindih. Namun Michiko adalah Michiko. Dia telah belajar cukup banyak dari Zato Ichi. Dia telah belajar banyak dari Tokugawa. Dan dia telah belajar banyak dari Kenji. Teman si Bungsu dan abang Hanako. Bukankah dia tinggal bersama Hanako lebih kurang setahun? Selama itu pula dia belajar karate dari Kenji.

Kini, Michiko adalah seorang pemegang sabuk hitam karate. Sistem pelajaran yang dipakai oleh Kenji untuk membekali Michiko adalah sistem memintas. Hingga memungkinkan gadis itu memiliki bekal yang lebih daripada cukup. Ketika kaki lelaki besar itu menyapu kakinya, dia justru memajukan kakinya selangkah ke depan.

Dan serentak dengan itu tangan kanannya terayun dalam bentuk sebuah pukulan yang telak. Prak! Pukulannya mendarat di hidung lelaki besar itu. Lelaki itu seperti tersentak. Kepalanya seperti ditarik ke belakang dan hidungnya bocor. Darah segar mengalir dari hidung yang pecah itu. Bukan hanya si gendut, tapi lelaki Cina kurus kerempeng yang tadi memukul samurai kecil Michiko itupun jadi kaget. Serangan gadis itu demikian cepat dan demikian telaknya.

Lelaki besar itu menggeram. Tangannya yang tak berpisau menghapus darah yang meleleh di hidungnya. Sopir taksi tadipun, yang saat itu tetap tegak di pintu, jadi kaget. Namun mereka adalah bandit-bandit ibukota yang tak mudah gentar oleh bahaya. Apalagi kalau hanya terhadap seorang gadis, cantik pula. Bos mereka telah menjanjikan bahwa siapa yang berhasil meringkus gadis itu akan mendapat giliran pertama menikmati tubuh gadis itu, setelah si bos.

Pernyataan demikian membuat mereka terangsang dan bersemangat untuk menundukkan Michiko. Lelaki berpisau itu maju lagi. Kini dengan lebih berhati-hati. Dia telah kecolongan. Michiko masih belum mau mencabut samurainya. Dia ingin menghemat tenaga dan kecepatannya. Lawannya yang dia taksir berbahaya adalah lelaki Cina kurus tinggi itu. Maka dia harus menyimpan kepandaian bersamurainya untuk menghadapi lawannya yang kurus itu.

Kalau kini dia menggunakan samurai, dia khawatir permainan samurainya bisa dibaca oleh si kurus. Itu sudah tentu membahayakan. Karena itu, ketika si besar itu menyerang, dia masih mengandalkan ilmu karatenya. Lelaki itu maju dengan sebuah tusukan pisau yang cepat ke rusuk Michiko. Michiko mengelak dengan mengalihkan tegak kakinya.

Lelaki itu tahu. Dia menyabetkan pisaunya ke kanan, hampir saja menebas perut Michiko. Untung gadis ini juga cepat melompat mundur. Tegaknya justru mendekat ke dekat sopir taksi tadi. Sopir itu menatap heran dan kagum. Dan saat itulah Michiko mencabut samurai. Sopir taksi itu masih belum sadar akan bahaya yang mengintainya. Dia menyangka bahwa gadis itu hanya sekedar bermain tongkat.

Michiko menanti si besar berpisau itu menyerang kembali. Ketika lelaki itu kembali menyerang dengan menyabetkan pisaunya, Michiko seperti akan menangkis dengan samurai. Namun dia sama sekali tidak menangkis serangan pisau itu. Melainkan mundur selangkah lagi. Dan samurainya justru membabat ke belakang! Ke arah sopir taksi yang masih tegak di dekat pintu! Cress! Samurai itu memakan bahunya.

Sopir taksi yang sok sopan itu benar-benar tak pernah menduga bahwa dirinya akan dimakan senjata gadis cantik itu. Dia sebenarnya seorang pesilat aliran Cimande. Begitu bahunya termakan samurai, dia segera memasang kuda-kuda Cimande. Tangannya bergerak seperti akan bersilat.

Tapi apa hendak dikata, gerakannya itu sudah tinggal sekedar lagak saja. Tak ada gunanya. Bahunya telah dibabat samurai yang alangkah tajamnya. Mata samurai itu menetak dan memutus tulang bahunya. Terus ke bawah membelah jantungnya. Demikian tajamnya samurai itu. Tubuh sopir itu belah dan mati sebelum jatuh ke lantai! Sekali lagi babah gemuk itu jadi pucat dan sekali lagi Cina kurus tinggi itu dibuat kaget bukan main.

Samurai Michiko hanya sekejap berada di luar sarangnya. Tak sampai lima hitungan cepat. Begitu dicabut, dia melangkah ke belakang, samurainya berkelebat, membabat bahu sopir itu dan snap…masuk kembali ke sarungnya di tangan kiri Michiko!

Kini dia tegak dengan diam. Lelaki besar berpisau itu juga tegak. Kaget bercampur ngeri melihat ketenangan gadis itu membunuh manusia. Mereka bertatapan. Lelaki besar itu, juga seorang bandit yang sering menghantam mangsanya dengan kepalan atau dengan pisau, kali ini mulai hati-hati benar. Dia menggertak lagi. Michiko masih diam. Kakinya menendang cepat dalam suatu tendangan Silat Mataram.

Tendangan melengkung dari kanan ke kiri. Michiko bergerak cepat, kakinya melesak maju antara kaki kanan yang menendang itu dengan kaki kiri yang tegak sebagai kuda-kuda. Tendangan lelaki itu cukup cepat. Namun jauh lebih cepat lagi tendangan kaki Michiko. Tendangannya menghajar selangkang lelaki itu, menyebabkan lelaki itu tersurut dua langkah. Dia meringis menahan sakit.

Babah gemuk itu mengerutkan kening. Dia seperti dapat merasakan sakit yang diderita anak buahnya itu. Bukankah dia juga kena tendang selangkangnya di hotel Angkasa tadi oleh Michiko? Bukankah dia terpaksa harus merangkak untuk meninggalkan hotel itu? Kini anak buahnya kena tendangan seperti itu pula.

Dia dapat mengerti betapa sengsaranya anak buahnya itu. Tapi lelaki besar itu memang agak tangguh. Hanya sebentar dia mengerang dan mengerutkan kening. Saat berikutnya dia sudah tegak. Kali ini, dalam jarak empat depa, dia tak lagi berusaha untuk maju. Tapi dengan ayunan yang amat cepat, dia melemparkan pisau itu ke dada Michiko.

Lelaki itu juga dikenal sebagai pelempar pisau yang bukan main mahirnya. Tadi dia memang tak berniat melemparkan pisau itu pada Michiko. Sebab lemparan pisaunya berarti maut. Dia tak ingin membunuh gadis itu. Sebab selain tak dibolehkan bosnya, dia sendiri ingin menikmati tubuh gadis itu terlebih dahulu.

Tubuh yang montok dan menggiurkan. Tapi kini, setelah gadis itu menghantam selangkangnya, dia tak perduli lagi dengan kemontokan itu. Dia berniat membunuh gadis itu. Pisaunya melayang cepat secepat kilat. Namun Michiko juga bergerak cepat. Samurainya tercabut. Membabat di udara. Trangg!

Terdengar suara besi beradu. Dan pisau itu berobah arah. Dihantam dengan telak dan tepat oleh samurai Michiko. Arahnya justru melaju cepat sekali ke arah si gemuk! Kembali bahaya mengamcamnya! Gerakan itu juga telah diperhitungkan dengan cermat oleh Michiko. Tapi kembali tangan Cina kurus itu bergerak. Kembali pisau yang meluncur cepat berobah arah. Jatuh ke lantai dengan menimbulkan suara ribut!

”Hm. Bukan main. Cantik, cepat dan kejam!”Untuk pertama kalinya Cina kurus tinggi itu bersuara. Suaranya seperti keluar dari sebuah goa. Bergema mengerikan. Matanya yang kuning menatap pada Michiko. Tapi Michiko tak sempat terkejut atas kehebatan Cina itu, sebab si besar yang pisaunya telah dilemparkannya itu kembali menyerang.

Dia menyerang dengan melompati tubuh Michiko yang saat itu tengah menghadap pada si kurus. Sungguh malang orang ini. Dia melompati mautnya sendiri. Michiko bukannya kanak-kanak. Bukan pula orang yang mudah merasa takut dan gentar menghadapi serangan bandit seperti mereka. Selagi perkelahian satu lawan satu, maka Michiko tak usah khawatir.

Lelaki itu masih melompat, tubuhnya tengah melayang ketika Michiko menggeser tegak. Dia melayang setengah hasta di sisinya. Saat itu samurai Michiko kembali bekerja. Samurainya memancung dari atas ke bawah, persis di pinggang si lelaki. Tubuh lelaki itu masih melayang sedepa lagi. Baru akhirnya menubruk seperangkat meja dan kursi.

Jatuh dan mati dengan pinggang hampir putus. Tapi saat itu pula tubuh Michiko terlambung. Tubuhnya menerpa dinding. Kepalanya berdenyut, untung samurai masih di tangannya. Ternyata ketika dia melangkah menghindarkan tubrukan tadi dia tegak membelakangi si kurus.

ADVERTISEMENT

Ketika dia menghantam lelaki yang menubruknya itu dengan samurai, si kurus maju pula menghantam tubuh Michiko. Pukulannya hebat. Tubuh Michiko sampai terpental menubruk dinding. Michiko terduduk di lantai dengan punggung bersandar ke dinding. Dia menggelengkan kepala.

Berusaha menghilangkan pening, menatap pada Cina kurus itu. Cina itu tegak tiga depa di depannya dengan kaki terpentang. Menatap ke bawah, ke arah Michiko dengan mata kuningnya yang berkilat buas.
”Tegaklah, Nona. Saya akan tunjukkan padamu bagaimana seorang perempuan harus menanggalkan pakaiannya satu demi satu secara baik.” Bersambung>>>

ADVERTISEMENT
Previous Post

Warga Bukittinggi Diduga Korban Penggelapan Mobil oleh Pasangan OTK Asal Riau

Next Post

Terkait Insiden Pengambilan Paksa Jenazah Covid 19, Begini Keterangan Pers Kapolres Payakumbuh

Sumbar Time

Sumbar Time

Setiap Waktu Bernilai Informasi

BacaJuga

Cerbung

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 257

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 256

22 Agustus 2021
Next Post
Terkait Insiden Pengambilan Paksa Jenazah Covid 19, Begini Keterangan Pers Kapolres Payakumbuh

Terkait Insiden Pengambilan Paksa Jenazah Covid 19, Begini Keterangan Pers Kapolres Payakumbuh

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Justictalk ” Ngobrol santai melek hukum”

https://youtu.be/r3p0YSm3qWE
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

7 Juni 2024
Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

30 Desember 2023
Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

23 Desember 2023
Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

5 Mei 2024

Depósitos protegidos e ganhos instantâneos no casino Bwin para Portugal

0
Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

0
BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

0
Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

0
Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026
Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

25 April 2026
Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

18 April 2026
Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

10 April 2026

Berita Terbaru

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026
Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

25 April 2026
Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

18 April 2026
Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

10 April 2026
ADVERTISEMENT
Sumbartime.com

Sumbartime.com -"Setiap Waktu Bernilai Informasi"

Ikuti Kami

  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.

No Result
View All Result
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer
  • Iklan

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.