TIKAM SAMURAI 137

SUMBARTIME.COM-Begitu dulu Kenji mengajar dan melatihnya ilmu judo dengan tekun. Kini ilmu itu dia pergunakan. Sesaat ketika letnan itu berputar untuk membanting, dia berusaha menanamkan kuda-kuda yang kukuh di lantai. Namun sentakkan tangan dan pukulan pinggul letnan itu telah lebih dahulu mematahkan keseimbangannya. Tubuhnya telah terangkat dan dibanting melayang. Maka kini usahanya hanyalah memutar tubuhnya yang tertelentang diudara itu.

Dia berhasil dan snap…! Tubuhnya jatuh dengan kaki duluan! Mereka kini tegak berhadapan. Tangannya masih dipegang oleh letnan itu yang untuk sesaat tertegun menyaksikan betapa anak muda itu tak bisa dibanting jatuh. Sesaat! Ya, hanya sesaat, tapi itu sudah cukup bagi si Bungsu untuk balas menyentakkan tangan letnan yang memegang tangannya. Kini tubuhnya yang berputar, pinggulnya menghantam bahagian depan tubuh letnan itu.

Iklan

Cepat sekali, sebuah bantingan lewat pinggang menyebabkan letnan itu terbanting di lantai! Ya, bantingan lewat pinggang. Hanya bantingan lewat pinggang yang bernama Uki-Goshi itulah yang tak bisa dicounter. Sebab selain tangan, maka pinggang yang dibanting dipeluk erat oleh yang membanting. Lain halnya dengan bantingan Soinage yaitu membanting orang lewat bahu seperti yang dilakukan letnan itu pada si Bungsu tadi.

Pada bantingan Soinage, yang dipegang hanya lengan baju atau sebelah tangan lawan. Sementara bahagian tubuh lainnya bebas.
Begitu terbanting, karena letnan itu tadi mengatakan bahwa dia pernah belajar judo ketika dalam pendidikan di Amerika, maka si Bungsu melanjutkannya dengan mengunci leher letnan itu di lantai. Dia menunduk rapat di atas kepala si letnan. Sebuah kuncian yang menurut Kenji dahulu bernama Keshagatame. Letnan itu berusaha melepaskan kunciannya.

Namun pitingan lengan si Bungsu seperti jepitan kepiting. Akhirnya si letnan menepuk punggung si Bungsu tanda menyerah. Si Bungsu melepaskannya. Terdengar tepuk tangan meriah dari anggota RPKAD yang menonton. Si Bungsu mundur beberapa langkah. Letnan itu tegak.
”Tehnik mengcounter, membanting dan kuncianmu hampir sempurna, kawan. Saya ingin tahu sampai dimana silat Minangmu yang kesohor itu,” ujar si letnan yang nampaknya masih berminat.

Dia menyerang dengan pukulan-pukulan beruntun. Pukulan dan tendangan karate yang luar biasa cepatnya. Si Bungsu terpaksa main elak dan main mundur. Beberapa kali bibir dan jidatnya nyaris dihantam kepalan tangan si letnan yang hebat itu. Namun sepandai-pandai mengelak, kerugian berada di pihak yasng bertahan. Dia tak sempat membalas. Sikap agresif menyerang nampaknya memang dilakukan bagi anggota-anggota RPKAD itu.

Mereka memang diajar untuk mahir mempergunakan tangan dan kaki sama berbahayanya seperti senjata tajam. Dan si Bungsu mendapat ”bagian” sampai tiga kali. Kali pertama sebuah pukulan yang mendarat di bibirnya…

Bibir nya yang belum sembuh benar dari tendangan Nuad beberapa hari yang lalu,kini menyemburkan darah lagi.Bagian kedua dia terima di sudu hatinya. masih untung pukulan itu tak begitu mantap kenanya,dia masih sempat mengelak setengah langkah ketika pukulan yang amat cepat itu mendarat.Tapi akibatnya luar biasa,buat sesaat nafasnya seperti berhenti.

Sambil mundur dia mengatur nafas,setelah beberapa jurus lagi kembali sebuah tendangan letnan itu masuk.Menghajar lengan kanannya,lengan kanannya itu serasa akan patah. Nah,dia kini hanya memiliki sebelah tangan yang utuh untuk berkelahi.Tangan sebelah kiri pula,dalam keadaan seperti itu dia harus melawan seorang perwira RPKAD yang pendidikan khusus di amerika.!

Sedangkan dengan dua tangan saja dia sudah kewalahan,apalagi sebelah tangan saja.Dia segera menyadari kalau dia berada di pihak yang rugi kalau hanya main tangkis dan elak.Sadar akan hal itu,ketika letnan itu menyerang,dia melompat agak jauh kebelakang.Ketika letnan itu menggerakkan kaki akan maju dia pergunakan senjata lainnya yaitu lompat tupai yang kesohor itu.yang biasanya dia pakai jika mempergunakan samurai.

Bergulingan kedepan,berputar di lantai dua atau tiga kali,lau sambil bergerak bangkit di dekat musuhnya,samurai nya bekerja.!Kini gerakan itu digunakan tanpa samurai,dia bergulingan di lantai menyongsong serangan letnan itu. sesaat letnan itu heran,kok tiba-tiba lawannya menjatuhkan diri.

Tapi dia sudah melangkah maju,lawannya sudah dekat.Ketika dia ingin mengelak sebuah tendangan si Bungsu dari bawah meluncur keatas.tendangan yang dilakukan sambil berbaring.Si letnan baru menyadari bahaya itu,namun terlambat selangkangan nya digebrak oleh si Bungsu!tubuh si letnan itu terangkat dua atau tiga centi,lalu tercampak kebelakang,Rubuh!yang menonton menahan napas.

Si Bungsu melompat tegak.Ketika letnan itu sudah tegak pula si Bungsu kembali menyerang dengan jurus yang sama,bergulingan di lantai.Kali ini letnan itu memasang perangkap,dia tahu sudah jurus andalan lawannya ini.

Dia pura-pura kaget,lalu menanti serangan yang menuju selangkangan nya!Dia akan melangkah kekanan selangkah begitu si bungsu menyerang,dari arah kanan dia mengirimkan tendangan kerusuk lawannya yang terbaring itu.itulah senjata panangkalnya!Si Bungsu seperti tidak menyadari perangkap itu,dia meluncur kelantai,lalu mengirimkan sebuah serangan kaki!tapi justru kali ini letnan RPKAD itu yang masuk perangkap.Si Bungsu sama sekali tidak menyerang dengan tendangan dari bawah ke atas,Tidak!

“Jangan menyerang seorang lawan yang lihai dengan serangan yang sama berturu-turut sampai dua kali dalam waktu yang dekat,Bungsu-san.Mereka akan bisa menjebakmu.kecuali kalau kau memang ingin menjebaknya.Pura-pura menyerang dengan serangan yang sama,kemudian ketika tiba saatnya,kau tukar serangan dengan yang lain….”

Begitu kenji sering berkata ketika dia belajar karate.Nasehat itu bisa diterapkan dengan ilmu bela diri manapun,termasuk Silat.Itulah yang dilakukan si Bungsu ,dia tidak menyerang seperti tadi dari atas kebawah,tetapi memakai kakinya untuk mengait dan menghantam kaki letnan itu dar bawah!Dia menyapunya dengan posisi berbaring.

Letnan itu kaget bukan main,tapi lagi-lagi dia terlambat.Kakinya terkait dan tersapu degan telak.Dia terlambung lebih dari setengah meter,jatuh dengan suara berdebum.Waktu itu si Bungsu sudah tegak,ketika letnan itu berbalik menelentang untuk berdiri,tumit si Bungsu tiba dekat dengan lehernya.!

“Inilah namanya jurus sapu tungganai dalam ilmu silat kami,letnan…” katanya perlahan sambil tetap meletakkan tumitnya sejari dari leher perwira RPKAD itu. Buat sesaat,dalam keadaan telentang,perwira itu termangu,kemudian dia tersenyum.

Si Bungsu melihat senyum itu,sesaat dia jadi lengah.waktu yang sesaat itu sudah cukup bagi si letnan,cepat tubuhnya berguling kekanan dan seiring dengan itu tangan nya menepiskan kaki si Bungsu.Dalam gerak yang amat cepat tubuhnya melenting dan si Bungsu yang masih belum konsentrasi,entah bagaimana cara nya tahu-tahu saja dia sudah terbanting.

Letnan RPKAD itu menggunakan gerak cepat dan tipuannya lihai sekali.Kini tiba-tiba Ketika dia berusaha menelentang Ujung sepatu si letnan sudah menyentuh tulang rusuk nya,sekali,dua kali,tiga kali!

Suasana hening,letnan itu tegak dismping si Bungsu yang masih terbaring.Si Bungsu segera sadar,kalau saja letnan itu mau.maka dalam tiga tendangan itu tadi sudah empat atau lima buah tulang rusuknya yang patah.!artinya,dia sudah dikalahkan letnan itu dengan telak!Kini gantian si Bungsu yang tersenyum dari bawah,dari tempat dia terlentang.
“Kau menang,letnan..”Ujarnya jujur.

Si letnan tersenyum dan mengulurkan tangannya,tangan itu di sambut si Bungsu,si letnan membantunya tegak.Mereka masih berpegangan,suasana di pecahkan oleh tepuk tangan,yang bertepuk adalah anggota-anggota RPKAD yang tegak menonton ditepi ruangan.Mereka benar-benar baru saja menyaksikan suatu pertarungan beladiri yang sangat luar biasa.

Mereka telah lama mendengar bisik-bisik tentang kehebatan anak muda yang bernama si Bungsu ini. Malam ini, mereka menyaksikannya sendiri.
”Saya tak malu bila kalah di tanganmu, kawan…” ujar letnan pasukan elite Indonesia itu dengan jujur, sambil menggenggam tangan si Bungsu dengan erat. Kemudian menyambung. ”Ternyata nama hebatmu yang kami dengar selama ini tidak hanya sekedar isapan jempol…”

Si Bungsu suka pada letnan yang rendah hati ini. Padahal dia tahu, dalam perkelahian sebentar ini, dia dikalahkan secara telak sekali.
”Terimakasih. Saya bangga berkenalan dengan …letnan…”.
”Fauzi, nama saya Fauzi..”
”Terimakasih Letnan Fauzi ..”
Mereka sama-sama tersenyum.
”Kenalkan, ini Letnan Azhar..” ujar Letnan Fauzi memperkenalkan sahabatnya.

Beberapa anak buah si Letnan maju dan menyalami si Bungsu. Letnan Fauzi tersenyum. Si Bungsu menghapus peluhnya. Dia menarik nafas lega. Bisa keluar dari dunia yang penuh keganjilan ini. Letnan ini memang seorang perwira yang pantas diteladani. Berani dengan jantan dan satria mengakui kelebihan orang lain. Ketika dia akan naik jip, tiba-tiba dia teringat pada perkataan ”meminjammu” yang diucapkan letnan itu.

Dia berhenti. Menoleh pada Letnan Fauzi yang tegak dekat Letnan Azhar.
”Ada yang ingin kutanyakan, kalau boleh” katanya.
”Dengan segala senang hati”
”Berapa hari yang lalu, ada seorang anggota PRRI satu kamar tahanan dengan saya, yang dijemput malam-malam. Kemudian tak kembali. Kabarnya dipindahkan ke Padang. Apakah dia masih hidup?”
Letnan itu menatap Letnan Azhar, kemudian pada si Bungsu.

”Dia temanmu?”
”Ya, teman sekamar di tahanan…”
”Begitu pentingkah berita tentang dia bagimu?”
”Ya. Agar bisa kusampaikan pada anak dan isterinya”
Letnan itu menatap si Bungsu lagi.
”Siapa namanya?’
”Sunarto…”
”Hanya itu?”

”Ya, hanya itu. Saya tak tahu nama panjangnya. Tapi OPR yang bernama Nuad itu pasti kenal padanya.” Letnan itu membalik. Berjalan mendekati Nuad. Bicara beberapa saat. Lalu kembali pada si Bungsu.
”Naiklah ke jip itu, kawan….” ujar si letnan tanpa menjawab pertanyaan si Bungsu tadi.

Si Bungsu tak bisa berbuat apa-apa. Dia naik dan tangannya diborgol lagi. Dia menatap pada letnan itu. Si letnan mendekat, memegang tangannya.
”Ini perang, kawan. Dalam peperangan, siapapun yang melibatkan diri di dalamnya, apakah itu karena keyakinan seperti PRRI, atau karena pengabdian dan karena tugas seperti kami, harus tahu resikonya.

Yaitu kematian. Menyesal, temanmu itu tak mau buka rahasia dan dia sudah dieksekusi. Hanya itu yang dapat saya katakan padamu. Saya tak tahu dimana dan bila. Tapi yakinlah, dia sudah tidak ada di dunia ini….”
Mesin jip dihidupkan. Udara dingin menyelinap di malam yang alangkah larutnya itu.

”Terimakasih, Letnan. Terimakasih atas kehormatan yang kau berikan untuk bertanding melawanmu. Suatu kehormatan yang takkan saya lupakan. Dan terimakasih atas kepastian atas nasib Narto….”
”Selamat bebas, kawan…” lalu jip itu menderu. Jantung si Bungsu juga menderu. Tubuhnya terasa dingin. Namun bukan karena angin yang menampar akibat jip yang berlari kencang.

Tubuhya terasa dingin ketika mengetahui kepastian nasib Narto. Anak Jawa yang berjuang untuk Minangkabau itu. Masih terngiang di telinganya betapa lelaki itu berbisik minta tolong padanya. Perlahan tangannya meraba rantai emas milik Narto yang dia gantungkan di lehernya. Malam semakin larut. Perang saudara itu masih belum diketahui kapan akan berakhir. Berapa banyak lagi korban yang akan jatuh. Hanya Tuhanlah yang tahu.

”Katakan aku masih hidup pada anak dan isteriku. Suruh mereka menantiku di Semarang…” suara Narto seperti terngiang lagi. Mata si Bungsu terasa panas dan… basah!

Konvoi itu berhenti di Matur. Mereka berangkat pagi tadi dari Bukittinggi dengan pengawalan ketat. Jumlah truk tak kurang dari dua puluh buah. Begitu sampai, mereka segera menyebar. Kota kecil itu terlalu naif untuk disebut sebagai sebuah kota. Sebenarnya hanya sebuah kampung. Hanya tertata rapi karena di sana ada beberapa rumah yang dibangun oleh Belanda untuk opseternya.

Sejak tiga hari yang lalu Matur berada di bawah kekuasaan APRI. Tapi biasanya, jika kekuatan APRI berkurang, maka kota ini akan pindah lagi ke tangan PRRI. Silih berganti penguasaan atas sebuah kota atau desa bukan hal yang ganjil. Terkadang kekuasaan itu bisa berganti setiap 12 jam. Dari jam enam pagi sampai jam enam senja yang berkuasa adalah APRI. Tapi dari jam enam senja sampai jam enam pagi, yang berkuasa adalah PRRI.

Perpindahan kekuasaan itu ada yang melalui pertempuran, namun tak sedikit yang bertukar secara otomatis begitu saja. Seolah-olah sudah ada semacam ”perjanjian.” Kalau malam PRRI yang berkuasa. Tapi pagi-pagi harus angkat kaki. Kalau siang APRI yang berkuasa, bila malam tiba mereka harus meninggalkan desa.

Jika ketentuan tak tertulis ini dilanggar, akibatnya adalah perang. Matur juga bernasib sama. Tapi hari ini APRI nampaknya ingin mempertahankan desa kecil itu dengan menambah kekuatan mereka di sana. Malam-malam memang masih sering diganggu serangan PRRI. Namun tak cukup kuat untuk mengambil alih kekuasaan. Salah seorang dari penompang konvoi itu adalah si Bungsu.

”Sampai di sini tujuanmu, anak muda?” tanya seorang letnan dari pasukan Banteng Raiders, tatkala si Bungsu turun dari truk bersama tentara lainnya.
”Ya, sampai di sini. Ini Matur, bukan?”
”Ya, inilah Matur. Kau akan kemana?”

”Mencari rumah seorang teman. Terimakasih atas tompangannya, Pak..”
Letnan itu tersenyum. Kemudian mengatur anak buahnya. Si Bungsu melangkah perlahan. Dia tegak dalam bayang-bayang tengah hari yang terik. Lalu mulai melangkah. Perutnya harus diisi. Terasa lapar sekali. Ada sebuah kedai nasi, kelihatannya sepi.

Dia melangkah ke sana. Seorang perempuan tua kelihatan menuggui warung itu. Di dalam seorang lelaki sedang makan. Si Bungsu melihat ada goreng dan gulai ikan. Ada dendeng. Ada sambal lado dengan jengkol muda. Ada rebus daun ubi. Laparnya menggigit melihat lauk pauk itu. Begitu nasi dihidangkan dia santap dengan lahap. Sesekali dia lihat perempuan pemilik kedai itu mencuri pandang padanya.

Dia tahu, kehadiran setiap orang baru di suatu desa, dalam keadaan bagaimanapun, apalagi dalam keadaan perang begini, pasti menimbulkan berbagai dugaan. Setelah kenyang makan dia memesan secangkir kopi panas. Di luar sana, tentara APRI kelihatan tengah menyusun barisan.

Lelaki yang tadi tengah makan ketika dia masuk, kini membayar makanannya. Kemudian keluar. Namun si Bungsu sempat menangkap betapa lelaki itu melirik ke arahnya sesaat sebelum dia melangkah ambang pintu menuju keluar. ”Ibu kenal dengan Narto?” tanya si Bungsu dalam nada biasa sambil menghirup kopinya.

Perempuan itu menoleh. Lalu dengan wajah seperti tak ada apa-apa, dia menggeleng. ”Sunarto yang dulu pernah jadi Anggota Mobrig. Kemudian menjadi pasukan PRRI. Kabarnya isteri dan anaknya ada di sini. Apakah ibu kenal?” Perempuan itu menggeleng lagi. Matanya melirik ke luar. ”Saya datang dengan pasukan itu. Saya harus menemui keluarganya…”

”Bapak… APRI?”
”Tidak. Tapi…”
”Bapak PRRI?”
”Tidak. Saya kebetulan datang dengan APRI. Saya kenal dengan Pak Narto. Saya harus menyampaikan pesan pada anak dan isterinya…”
Pemilik kedai itu menatap si Bungsu tajam sekali.
”Barangkali anak dapat bertanya di bawah sana. Ke sebuah rumah sebelum pendakian…”

Si Bungsu mengucapkan terimakasih sambil membayar makanannya. Dia menuju ke penurunan yang tadi dia lewati bersama konvoi tentara itu. Seorang lelaki bertongkat, rambutnya sudah memutih, semua giginya sudah ompong, menunjuk ke reruntuhan sebuah rumah ketika si Bungsu menanyakan rumah lelaki yang bernama Narto itu. Dia tertegun. Jantungnya seperti berhenti berdetak.

”Kenapa…?” tanyanya perlahan.
Lelaki tua itu berjalan ke sebuah pohon yang nampaknya rubuh kena mortir. Dia duduk di sana. Si Bungsu mengikuti dan tegak di depan orang tua tersebut.
”Rumah itu terletak di pendakian, dari rumah itu orang bisa melihat ke jalan di bawah sana. Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here