TIKAM SAMURAI 116

SUMBARTIME.COM-Si Bungsu masih tetap diam bergelantungan di luar jendela. Dia ingin tahu apa kelanjutannya. Kini jelas olehnya “orang dalam” yang terlibat dalam sindikat perdagangan wanita ini. Hanya dia ingin melihat bagaimana Nurdin keluar dari saat yang genting ini. Sementara Polisi Singapura itu tetap saja menodongkan pistolnya ke arah Nurdin.
Sementara itu Nurdin bicara lagi.

“Kalaupun saya anda bunuh, namun anda takkan pernah mendapatkan dokumen itu. Dan anda takkan pernah selamat. Saya sudah mengirimkan nama anda ke Jakarta….Lelaki itu tertawa perlahan. “Apa artinya bagi saya pengiriman nama itu ke Jakarta. Di Jakarta laporan anda itu akan diterima oleh teman saya. Dan kalaupun jatuh ketangan orang lain, saya juga tak usah khawatir. Saya tak perlu kembali ke Indonesia. Seluruh keluarga saya…”

Iklan

“Sudah di Tiongkok…” overste Nurdin memutus ucapannya.
“Hmm, anda mempunyai pengamatan yang tajam juga…”
“Ah. Siapapun akan bisa menebak, bahwa anda adalah orang Komunis. Setelah gagal dengan pemberontakan Madiun kalian menyelusup ke seluruh departemen…”

Lelaki itu tertawa lagi. “Bukankah itu suatu bukti, bahwa pemerintah berada di pihak kami? Buktinya, meski kami telah memberontak, kami diterima lagi Departemen-departemen. Bahkan menduduki posisi kunci. Nah, kita tak usah berpanjang lebar lagi Overste… kini serahkan dokumen itu dan bekerja sama dengan kami, atau kalian bertiga kami sudahi di sini..”

Lelaki itu mengeluarkan tangannya yang sejak tadi tersimpan dalam kantong celananya. Dan kalau tadi dia selalu tersenyum ramah, kini wajah aslinya kelihatan. Mukanya berkerut masam. “Tak satupun yang akan anda peroleh…” jawab overste itu tenang. Sementara tangan kanannya tetap membelai kepala anaknya yang berada dipangkuan isterinya. “Kami tidak main-main Overste…” berkata begini, tangannya segera merenggutkan tangan Salma.

Perempuan itu tertegak oleh renggutan kasar itu. “Hajar dia..!” kata lelaki itu pada Polisi Singapura yang nampaknya merupakan bahagian dari sindikat itu. Polisi itu maju setapak dan bersiap menarik picu pistolnya. Si Bungsu sudah menggebrak kaca jendela, ketika tiba-tiba terdengar letusan. Terlambat, pikirnya. Dan seiring dengan letusan itu tubuhnya menghantam kaca jendela. Hanya beberapa detik, dia sudah tegak dalam kamar itu. Dan tangannya yang telah menggenggam dua samurai kecil terayun.

Namun gerakannya terhenti. Dia melihat Polisi Singapura itu rubuh dengan dada berlumur darah. Sementara staf konsulat yang tadi menyentakkan tangan Salma tegak kaget memandang ke jendela dan juga pada Overste Nurdin. Lalu tiba-tiba tangannya bergerak ke balik jasnya. Sepucuk pistol kecil muncul dan sebuah letusan lagi bergema. Gema letusan itu berasal dari bawah selimut overste Nurdin.

Staf konsulat itu terputar. Bahunya dihantam peluru. Dan ketika Nurdin mengeluarkan tangan kirinya, dia menggenggam sebuah revolver enam silinder. Si Bungsu masih tetap tegak diam. Nurdin teranyata berhasil keluar dari saat kritis itu dengan baik. Nurdin dan si Bungsu bertatapan. Kemudian overste itu tersenyum. “Terimakasih. Anda telah menjaga diriku dari balik jendela kaca itu…” kata Nurdin sambil tersenyum.

Si Bungsu tak sempat menjawab, sebab Salma dan gadis kecilnya telah memeluk Nurdin. Lalu saat itu pintu terbuka. Dan dipintu tegak Konsul Indonesia bersama tiga orang petugas keamanan. “Saya dilaporkan ada tembakan disini…” kata konsul itu. “Ya. Dan yang kena tembak adalah dia. Yang menembak saya…”

Nurdin berkata sambil menunjuk pada staf konsulat yang saat itu tengah duduk dilantai. Bersandar kedinding sambil memegang bahunya mengalirkan darah. Konsul itu menatap pada stafnya itu. Lalu menatap pula pada Nurdin. “Ya. Dialah orangnya…” kata Nurdin. Konsul itu melihat pada staf seniornya itu dengan berang. “Komunis jahanam! Kau akan mendapat ganjaran, laknat!” kemudian memerintahkan untuk mengangkat mayat polisi singapura itu.

Menyerahkannya pada pihak penguasa disertai laporan lengkap tentang sindikat perdagangan wanita tersebut. Sementara staf senior konsulat Indonesia itu dijebloskan ke dalam tahanan. Nampaknya Nurdin telah meporkan soal sindikat itu pada Konsul. Namun satu hal yang pasti. Nurdin tetap tak pernah mengatakan soal dokumen yang ada pada si Bungsu.

“Engkau harus ke Jakarta Bungsu. Saya punya firasat bahwa apa yang dikatakan staf senior konsulat itu memang benar. Bahwa setiap laporan tentang sindikat yang saya kirim ke Jakarta, jatuh ketangan komplotan itu sendiri. Artinya, di departemen yang menangani kasus ini juga terdapat orang-orang Komunis yang menjadi dalang sindikat ini di Indonesia.
Karena itu engkau berangkat ke sana. Meski pun saya sembuh, namun saya tak bisa bertindak drastis.

Ada peraturan yang harus saya taati sebagai seorang militer. Tapi sebaliknya saya tak ingin mengampuni sindikat perdagangan wanita ini. Dan saya tak mau toleransi pada Komunis. Keduanya, sindikat dan Komunis itu sama jahanamnya. Mereka telah gagal dalam pemberontakan di Madiun. Namun saya yakin, suatu saat nanti, cepat atau lambat, mereka akan memberontak lagi.

Mungkin korban yang jatuh akan lebih banyak. Bagi mereka menjual wanita, membunuh orang tak ada artinya sama sekali. Mereka tak mengenal Tuhan. Saya ingin mereka dibunuh saja semua. Bayangkan betapa menderitanya sanak famili dari perempuan-perempuan yang dijual oleh sindikat itu. Saya tak tahu dengan pasti berapa orang sudah perempuan dari Indonesia yang berhasil mereka bujuk dan mereka jual sampai ke Eropah sana untuk dijadikan penghuni rumah lacur.

Namun menurut catatan selama saya bertugas disini, tak kurang dari seratus wanita telah dibawa dari Indonesia. Sindikat ini harus digulung. Anggotanya harus dibunuh. Ya, itu hukuman yang patut buat mereka. Namun saya tak bisa melaksanakan itu. Makanya engkau yang saya minta Bungsu…” Si Bungsu duduk dengan diam disisi pembaringan Nurdin. Mendengarkan ucapan Overste itu dengan tenang. Pembicaraan itu sepekan setelah penembakan terhadap staf senior konsulat itu.

Si Bungsu tak segera bisa memberikan jawab atas permintaan Nurdin. Sebab dihatinya semula telah ada rencana untuk pulang ke kampungnya. Dia terlalu rindu pada harumnya bau padi dan bunga jagung. Dia rindu pada kesejukan angin yang bertiup dari kaki Gunung Sago. Ah, siapa yang takkan rindu pada kampung halamannya? Siapa yang takkan rindu pada kampung dimana mereka berlarian mengejar layang-layang sewaktu kecil.

Mengendap-endap mengintai burung balam. Bermain dan berlari di jalan yang membelah kampung. Meskipun jalan kampung tak pernah diaspal, namun kerinduan padanya tak pernah padam. Kini akan kemanakah dia? Pulang ke kampung dahulu baru kemudian ke Jakarta. Atau ke Jakarta dahulu baru ke kampung setelah tugasnya selesai? Keduanya mempunyai resiko.

Kalau dia ke Jakarta dahulu, lalau baru pulang ke kampung, apakah dia akan selamat dalam tugasnya itu. Kalau tidak, maka kampungnya takkan pernah dia pijak lagi. Dia tahu, sindikat ini adalah sindikat yang berbahaya. Memiliki tukang bunuh bayaran. Memiliki manusia-manusia yang siap mengerjakan apa saja demi uang.

Tapi kalau dia pulang dulu ke kampung, itu berarti memberi kesempatan bagi sindikat itu untuk beroperasi terus. Selama ia berada di kampung, berapa orang gadis dan perempuan akan jadi korban pula. Lama si Bungsu memikirkan kedua kemungkinan ini di hotelnya. Dia tak menyangka bahwa dirinya akan terlibat dalam urusan serius seperti ini. Dia tengah tegak menatap ke pelabuhan lewat jendela kaca di hotelnya itu ketika dia lihat di depan hotel sebuah sedan berhenti.

Dari dalamnya turun dua orang Barat. Kedua orang itu langsung masuk ke hotel. Si Bungsu tak begitu memperhatikan kedua orang itu. Pikirannya tengah melayang. Memikirkan kemungkinan untuk pulang ke kampung atau langsung ke Jakarta. Kalau saja pikirannya tak tengah menerawang, dia pasti segera mengenali kedua orang Barat itu. Mereka tak lain dari bekas tentara Australia yang terlibat baku hantam dengannya di hotel Sam Kok sebulan yang lalu.

Mereka baku hantam karena soal Mei-Mei. Anak gadis pemilik hotel itu. Bekas tentara sekutu berkebangsaan Australia itu semula berjumlah tiga orang. Dan mereka berniat memperkosa Mei-Mei. Si Bungsu yang datang sesaat sebelum gadis itu dinistai, berhasil membunuh salah seorang diantaranya. Si Bungsu masih tegak di depan jendela ketika kedua orang Australia itu sampai di depan pintu kamarnya.

Dia baru sadar ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Dia mengalihkan pandangannya dari kapal-kapal di tengah laut ke pintu kamar.
“Siapa…?”
“Saya, pelayan…” Tanpa curiga dia berjalan ke pintu. Membukanya. Pintu itu baru saja terbuka sedikit, ketika tiba-tiba ditendang dengan keras dari luar.

Pelayan yang diminta mengetukkan pintu itu kaget. Dia tak menyangka bahwa tamu ini akan main tendang. Padahal mereka tadi minta tolong tunjukkan kamar orang Indonesia ini dengan sikap yang sopan. Kok sekarang pakai tendang segala. Dia sebenarnya ingin marah. Sebab pintu hotelnya ditendang. Induk semangnya bisa berang. Namun bekas tentara Australia itu telah mengirimkan sebuah bogem mentah ke kepala si Bungsu.

Anak muda itu terpental ketempat tidur. Dan melihat keadaan gawat begini, pelayan yang orang Cina itu cepat-cepat berlalu. “Awas jangan lu telepon Polisi…!” ancam orang Australia yang satu lagi padanya. Pelayan itu menggeleng sambil angkat langkah seribu. Mereka lalu masuk ke kamar si Bungsu. menutupkan pintu! Si Bungsu yang tadi terlempar ke tempat tidur kena pukul, kini mulai bangkit. Karena kedua orang itu telah berada dalam biliknya, dia terpaksa tegak di atas tempat tidur.

Kedua lelaki itu menatap padanya dengan wajah sadis. Dan dipinggang mereka tersembul gagang pisau komando. Rupanya mereka masih ingat bahwa salah seorang teman mereka mati ditangan anak muda ini karena lemparan sebuah pisau kecil. Makanya kini mereka membawa pisau komando. Yaitu pisau pengganti sangkur yang sangat mahir mereka mempergunakannya ketika dalam perang dunia ke II dahulu.

Betapa mereka takkan mahir, sebab mereka berada dalam pasukan Green Barets Pasukan Komando tentara Inggris yang tersohor itu. “Monyet, dulu kau mempergunakan pisau kecilmu untuk membunuh teman kami. Sekarang mari kita coba siapa yang lebih cepat melemparkan pisau…”
Salah seorang diantara kedua lelaki itu, yang memakai kaos oblong berwarna merah darah buka suara.

Dan pisau komando yang kuning, runcing berkilat itu telah berada ditangannya. Tergantung ke bawah dengan ujung yang runcing terjepit diantara telunjuk dan jarinya. Pisau itu siap untuk dilemparkan. Si Bungsu masih tegak diam di atas kasur. Kedua tangannya juga terjuntai kebawah. Ada enam samurai tersisip di kedua tangannya. Tersembunyi dibalik lengan bajunya yang panjang.

Dia yakin, melihat gerakan kedua lelaki ini ketika mengambil pisau, kemudian melihat caranya memegang ujung pisau komando itu, kemudian menggantungnya dengan tangan lemas disisi badan, kedua orang ini adalah pelempar pisau yang tangguh. Tapi apakah dia akan melayani mereka? Dia terlibat perkelahian dengan kedua orang ini hanya soal Mei-Mei. Mereka akan memperkosa anak pemilik hotel Sam Kok itu. Dan dia datang menolong. Hanya soal itu mereka berkelahi. Sudah jatuh korban nyawa. Apakah masih perlu ditambah?

Kalau saja kedua orang ini adalah bahagian dari sindikat perdagangan wanita itu, maka dia pasti sudah membereskannya sejak dahulu. Tapi karena mereka bukan anggota sindikat yang dia benci itu, makanya kedua orang ini tak dia bunuh dahulu. Hanya dia tendang kerampangnya sekedar untuk melumpuhkan. Tak dinyana, kedua orang ini ternyata menaruh dendam. Dendam karena teman mereka dibunuh. Dan dendam karena kerampang mereka kena tendang.

Kedua lelaki itu memencar. Yang satu berada dibahagian kiri. Yang satu dibahagian kanan. Jarak antara mereka ada sekitar empat depa. Dan jarak masing-masing mereka dengan si Bungsu yang masih tegak di tempat tidur itu sekitar tiga depa lebih. Dengan demikian mereka menghindarkan diri dari kena serangan yang amat cepat. Mereka bukannya tak yakin bahwa anak muda ini seorang pelempar yang cepat. Itu sudah dibuktikan dengan kematian teman mereka di hotel dulu.

Demikian cepatnya kejadian itu. Mereka tak melihat bagaimana anak muda itu mencabut dan melemparkan samurainya. Itulah sebabnya kini mereka bertindak hati-hati. Dan dengan tegak agak terpisah satu dengan yang lain dalam jarak yang empat depa itu, mereka yakin akan susah diserang sekaligus. Anak muda itu harus membuat dua gerakan. Dan harus berputar untuk menyerang mereka berdua.

Sementara itu, si Bungsu yang mendengar tantangan lelaki Australia itu, menarik nafas. Lalu suaranya terdengar perlahan.
“Saya rasa tak ada gunanya perkelahian ini…”
“Babi! Tak ada gunanya katamu, setelah teman kami engkau bunuh, setelah perlakuanmu terhadap diri kami di hotel itu?”
“Saya berharap hal itu bisa berakhir. Dan saya bersedia minta maaf pada tuan-tuan…”

Kedua orang Australia itu berpandangan. Namun mereka tetap tegak dengan kaki terpentang dan tangan memegang ujung pisau komando.
“Apakah engkau takut melihat pisau kami anak muda?”
Si Bungsu tersenyum lembut. Menatap ke pisau di tangan kedua bekas pasukan Komando itu. “Ambillah pisaumu. Mari kita pertahankan nyawa kita sebagai seorang jantan…” suara tentara Asutralia itu kembali terdengar menantang.

“Maafkan saya. Saya tak bermaksud meremehkan kalian berdua. Saya yakin tuan-tuan sangat cepat mempergunakan pisau Komando itu. Cepat menurut ukuran tentara…” Kedua bekas tentara sekutu itu tak begitu faham dengan ucapan si Bungsu. namun mereka tetap tegak dengan waspada. “Saya menantang anda untuk mempertahankan nyawa dengan kecepatan melemparkan pisau anak muda…” lelaki yang berada di sebelah kanannya berkata.

Si Bungsu menggerakkan tangan kananya perlahan. Suatu gerakan yang benar-benar tak mencurigakan kedua bekas tentara sekutu itu. Demikian pula tangan kirinya. Sistim menjepitkan samurai di kedua tangannya itu dibuat sedemikian rupa menurut petunjuk Tokugawa. Sehingga ikatannya seperti bersatu dengan saraf. Bisa diatur kapan meluncur turun meski dengan gerakkan yang amat halus. Sebaliknya, meski dengan gerakan kuat seperti memukul misalnya, jika tidak dikehendaki, samurai itu takkan lepas.

Sistim ini sulit diuraikan menurut ilmu logika atau menurut sistim simpul buhul. Namun bagi orang-orang yang mahir mempergunakan pisau, semacam senjata rahasia di Tiongkok, atau samurai kecil di Jepang, sistim itu mudah dimengerti. Meski tak mudah mempergunakannya. Sebab untuk mempergunakannya diperlukan latihan dan kemahiran yang jarang orang bisa mencapainya. Si Bungsu masuk yang beruntung dan menguasai pada taraf sangat mahir.

Kini, tanpa diketahui oleh kedua bekas tentara sekutu itu, anak muda itu telah memegang dua buah samurai. Masing-masing ditiap tangannya. Dan kedua bilah samurai itu terlindung dari penglihatan kedua tentara sekutu itu oleh punggung tangannya. Hulunya berada di pergelangan, sementara ujungnya terjepit antara jari tengah dan jari telunjuk.

“Bagaimana caranya tuan menghendaki pertarungan ini berlangsung?” si Bungsu bertanya perlahan. “Engkau dapat melempar pisaumu pada kami setiap saat engkau suka, dan kami akan menandinginginya dengan kecepatan…” Demikian yakinnya kedua tentara itu akan kemahiran mereka. Mereka memang mendapat brefet pelempar pisau komando. Dan kini mereka mempraktekkannya pada anak muda ini.

“Setiap saat saya suka?” tanya si Bungsu. “Ya. Setiap saat…” yang dikiri si Bungsu berkata sambil matanya waspada melihat tangan si Bungsu. si Bungsu mengangkat kedua tangannya. Kedua tentara itu jadi tegang dan amat waspada. Tapi si Bungsu ternyata hanya menyisir rambutnya dengan kesepuluh jari tangannya. Lalu menurunkan tangannya kembali.
Kedua bekas tentara itu menatap tajam pada si Bungsu.

Ada suara berdetak perlahan disisi mereka. Namun mereka tak mau menoleh. Sebab tak mau kehilangan pengawasan dari anak muda yang masih tegak di pembaringan itu. “Mulailah..” suara orang Autralia yang dikanan bergema. Sementara pisau komandonya sudah siap sejak tadi.
“Maafkan saya. Anda telah kalah…” kata si Bungsu.

Kedua tentara itu menatap tajam padanya.
“Apa yang anda maksudkan bahwa kami telah kalah?”
“Ya. Kalau saya mau, tuan berdua sudah mati seperti teman tuan di hotel itu. Mati dengan samurai menancap di antara dua mata, atau menancap persis di jantung…”Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here