TIKAM SAMURAI 117

SUMBARTIME.COM-Kedua tentara itu tersenyum tipis.“Anda punya mental yang cukup tangguh anak muda. Tapi kalau anda bermaksud menggertak, maka bukan kami orangnya…” “Saya tidak menggertak. Lihatlah ke lantai. Di antara kedua sepatu tuan…”Tanpa dapat ditahan, kedua mereka melihat ke bawah. Dan demi Yesus yang mereka agungkan, mereka hampir tak percaya.

Betapa mereka akan percaya, kalau diantara kedua kaki mereka kini tertancap sebilah samurai kecil hingga hampir separoh tertanam di lantai?
Mereka tak melihat bila anak muda itu melemparkannya. Apakah sudah sejak tadi samurai itu ada di sana, dan mereka tak melihatnya? Mustahil. Mereka melihat lagi pada si Bungsu.

Iklan

Dan saat itu tangan anak muda itu bergerak perlahan.
“Kini ada dua samurai diantara kaki tuan…” katanya perlahan. Dan kedua mereka melihat lagi. Dan demi Tuhan, ya Nabi dan ya Malaikat! Memang benar ada dua samurai kecil diantara kaki mereka! Mereka menatap pada si Bungsu. si Bungsu mengangkat tangan kanannya. Membuka lengan bajunya. Dan disana nampak sebuah samurai tersisip.

“Jika saya mau, tak terlalu sulit untuk membunuh tuan. Tapi apakah itu ada gunanya?” Si Bungsu berkata perlahan. Dan kedua bekas tentara itu segera sadar, bahwa mereka berhadapan dengan seorang lelaki yang ketangguhannya melempar pisau ada puluhan, barangkali ratusan lebih cepat dan lebih mahir dari diri mereka yang sudah termasuk jagoan di pasukan komando dahulu.

Anak muda ini tidak membual ketika berkata bahwa dia sanggup membunuh mereka dengan mudah. Buktinya, sama sekali mereka tidak melihat bagaimana caranya anak muda ini melemparkan pisaunya. Tahu-tahu telah tertancap saja! Mereka berpandangan satu dengan yang lain. Muka mereka jelas sebentar pucat sebentar merah.

Kini anak muda itu tegak menatap pada mereka dengan tenang. Dengan kedua tangan tergantung disisi tubuhnya. Dan tangan itu, kalau dia mau, memang sanggup menyebar maut. Diam-diam kedua bekas tentara Australia itu pada merinding bulu tengkuknya. Tapi, yang seorang lagi, yang berdiri di bahagian kiri si Bungsu, tetap saja merasa kurang puas. Dia bergerak ke arah meja. Di meja itu terletak gelas, piring dan bekas kaleng minuman.

Dia memungut kaleng minuman yang telah kosong itu. Lalu berjalan ke sudut ruangan. Menyeret sebuah kursi kesana. Kemudian meletakkan kaleng bekas itu di kursi tersebut. Dan dia tegak lagi ketempatnya semula. Si Bungsu menatap saja dengan diam. “Nah, anak muda. Kini kita buktikan siapa yang lebih cepat mempergunakan pisau. Engkau atau kami. Jarak antara kaleng itu dengan ketiga kita, sama-sama sekitar empat depa. Pisau saya bertanda merah. Pisau teman saya kuning hulunya.

Dan samurai kecilmu jelas berbeda dengan milik kami. Saya akan melemparkan kotak korek api ke atas. begitu kotak itu jatuh di lantai, kita lempar kaleng itu dengan pisau. Yang dituju adalah lingkaran huruf O yang ada di tenagh kaleng itu. Dengan demikian kita akan ketahui siapa yang cepat..” Bekas tentara itu memandang pada temannya. Temannya mengangguk.

Kemudian mereka sama-sama memandang pada si Bungsu. si Bungsu masih diam. Dia bukannya tak tahu, banyak orang-orang yang licik.
Apakah tak mungkin ini adalah suatu jebakan? Apakah tak mungkin, disaat dia melemparkan kaleng bekas minumannya itu dengan pisau, saat itu pula kedua bekas tentara itu melemparkan pisaunya. Tapi bukan ke arah kaleng, melainkan kearah dirinya!

Itulah sebabnya dia memandang saja dengan diam dan tak segera menjawab tantangan itu. Dan barangkali kedua bekas tentara itu mengerti jalan pikirannya. “Jangan khawatir anak muda. Kami takkan berbuat curang. Yang punya sifat curang biasanya adalah kalian, orang-orang Melayu.

Kami menjunjung tinggi nilai-nilai sportif. Kami tahu engkau cepat dengan pisaumu. Dan kalau kau mau, kau bisa menghabisi kami sejak tadi. Nah, kami menghargai sikapmu itu. Kini kami ingin menguji sampai dimana ketangguhan kami sebagai bekas tentara komando. Yang amat mahir mempergunakan pisau. Kami ingin membandingkan dengan dirimu…”

Kembali si Bungsu menarik nafas panjang. “Baiklah, kalau itu yang tuan-tuan kehendaki” akhirnya dia berkata. Yang meletakkan kaleng bekas minuman tadi segera merogoh kantong dengan tangan kirinya. Dari dalam kantongnya dia mengeluarkan kotak korek apai. “Siap?” tanyanya. Temannya mengangguk. Si Bungsu juga mengangguk perlahan. Kedua bekas serdadu itu bersiap. Tangan kanan mereka yang memegang hulu pisau komando itu tadi mengeras.

Sementara tangan si Bungsu melemas. Sebuah gerakkan kecil lengan kanannya membuat samurai terakhir di sebelah kanan itu meluncur turun.
Korek api itu dilambungkan keatas. Ujung-ujung jari si Bungsu menjepit ujung samurai kecil yang meluncur dari lengannya. Kotak korek api itu rupanya terlalu kuat dilemparkan. Dia membentur loteng. Dan benturannya menyebabkan korek itu cepat pula terpukul ke bawah.

Ketiga mereka tak melihat kotak itu. Hanya mempertajam pendengaran. Menanti suara jatuhnya korek api itu menyentuh lantai kamar.
Kedua bekas serdadu sekutu itu memang cepat luar biasa dengan lemparannya. Dan lemparannya juga tepat. Buktinya, kedua pisau komando mereka menancap saling dempet di dinding! Ya, kedua pisau komando itu menerkam dinding di belakang kaleng bekas minuman tadi.

Sementara kaleng minuman itu sendiri sudah terpental dan terpaku ke dinding sedikit ke bawah dari kedua pisau komando itu. Kedua bekas tentara sekutu itu menatap dengan mata tak berkedip pada kaleng bekas minuman itu. Selain takjub pada kecepatan anak muda itu, mereka dengan kaget juga melihat bahwa pada huruf O yang menjadi sasaran lemparan tersebut, tertancap tidak hanya sebilah samurai kecil melainkan dua bilah! Dua bilah samurai kecil pada sasaran yang amat kecil dan dalam kecepatan yang sama dengan ketepatan yang fantastis!

Lalu mereka menoleh pada si Bungsu. “Ada dua samurai. Anda hanya memiliki sebuah tadinya…” kata salah seorang diantara mereka dengan heran. Si Bungsu tak menjawab. Dia membuka lengan baju kirinya dan disana kelihatan kulit pengikat samurai seperti yang berada di tangan kanannya.Kedua bekas tentara sekutu itu benar-benar takjub. Dengan demikian berarti anak muda ini tadi melempar dua bilah samurai dengan tangan kiri dan kanannya.

Dan kedua lemparan itu sama cepatnya, sama tepatnya.
“Anda memang seorang Master anak muda. Anda tak berbohong ketika mengatakan bahwa anda dengan mudah bisa membunuh kami bila saja anda kehendaki. Ternyata anda tak melakukan hal itu meski telah kami tantang dan telah kami pukul. Terima kasih atas kebaikan anda. Kami takkan melupakan pertemuan ini…”

Berkata begitu kedua bekas serdadu itu mengulurkan tangan pada si Bungsu. si Bungsu turun dari tempat tidur dimana dia tegak sejak tadi. Kemudian menerima jabatan tangan dari kedua orang Australia itu.
Kedua orang itu menyalaminya dengan sikap penuh persahabatan yang akrab dan penuh kekaguman. Kemudian mereka mengambil pisau komandonya yang tertancap di dinding. Lalu mengambil samurai si Bungsu yang memakukan kaleng bekas itu di bawah pisau komando mereka.
Mereka mengamati model samurai kecil itu.

“Benar-benar senjata yang ampuh. Tapi jika dibanding dengan pisau komando kami, rasanya pisau kami lebih baik buatan dan mutunya. Hanya saja senjata ini berada ditangan seorang ahli…” mereka lalu mengembalikan samurai itu pada si Bungsu. “Diluar sana ada sebuah restoran. Kami ingin mengundang anda untuk minum dan merayakan perkenalan ini…” yang berbaju kaos oblong merah berkata.

“Mari kita minum, anda tidak keberatan bukan?” yang bercelanan jean menguatkan ajakan temannya. “Terimakasih atas undangan anda. Saya tak suka minuman keras…” “Restoran itu tak hanya menjual minuman keras. Disana juga dijual teh atau susu es. Ayolah..” Akhirnya si Bungsu tak dapat mengelak ajakan kedua bekas serdadu itu. Dia ikuti kedua orang itu.

Pelayan yang tadi kena tendang pantatnya dan diancam untuk tak menelpon polisi menjadi ketakutan melihat kedua orang Australia itu muncul. Dan rasa takutnya segera berobah jadi rasa heran takkala melihat diantara kedua orang itu ada si Bungsu. dan ketiga orang itu berjalan dengan wajah berseri. Pelayan itu menganga mulutnya. Ketiga orang tersebut melangkah keluar.

Menyeberangi jalan raya. Dua buah taksi lewat. Mereka berhenti membiarkan taksi itu lalu dengan kencang. Restoran itu terletak di dermaga, yaitu ditempat dimana si Bungsu dan Nurdin minum-minum dahulu. Jalan itu kosong kini. Ada sebuah taksi, tapi masih agak jauh dan jalannya perlahan. Mereka lalu menyeberang. Mereka tetap beriringan, yang pakai kaos oblong merah di kanan, yang pakai jeans, yaitu yang agak muda dikiri dan si Bungsu di tengah.

Ketika mereka berada persis di tengah jalan, sedan merah yang tadi berjalan perlahan tiba-tiba menekan gas. Sedan itu seperti disentakkan meluncur maju. Ketiga orang itu kaget. Mereka tengah berada ditengah jalan. Dengan cepat mereka berlari keseberang sana. Namun sedan itu seperti sengaja dihadapkan pada mereka. Jaraknya sudah demikian dekat, dan saat itulah bekas tentara yang memakai jeans menolakkan tubuh si Bungsu.

Dalam keadaan berlari demikian, tentu saja si Bungsu kehilangan keseimbangan. Tanpa dapat ditahan, dia jatuh bergulingan ke pinggir parit. Dan begitu dia jatuh, serentetan tembakan terdengar. Dan sedan itu meninggalkan asap putih di tentang mereka. Si Bungsu kaget ketika dia dengar keluhan. Demikian juga orang Australia yang memakai kaos oblong itu.

Mereka menoleh, dan dengan terkejut mereka melihat betapa si celana jeans itu tertelungkup mandi darah. Yang memakai kaos oblong, yang nampaknya berusia sedikit lebih tua segera memburu. Dia memangku tubuh temannya itu dan membawanya ke pinggir jalan. Orang-orang segera berkerumun.

Robert…! Robert…!” yang pakai oblong itu mengguncang tubuh temannya itu. Lelaki bercelana jeans itu perlahan membuka matanya. Perlahan darah mengalir dari sela bibirnya. Si kaos oblong menoleh pada orang yang berkerumun. “Saya bekas Kapten tentara Inggris. Tolong telponkan Rumah sakit Militer untuk mengirimkan mobil dan dokter kemari…” seorang yang tegak menonton segera berlari ke toko di pinggir dermaga.

“Kapten…” yang tertembak itu berkata perlahan.
“Robert…” “Ingat….ketika kita memasuki Bombay…? Ketika kita menghadapi tentara Ghurka yang memberontak…ingat..?” si celana jeans bertanya. Bibirnya tersenyum tipis. Nampaknya ada kisah nostalgia dalam pertanyaan itu.

“Saya ingat Robert. Saya ingat….engkau terjebak di jalan raya. Dikepung oleh enam Ghurka. Tapi engkau berhasil membunuh mereka semua. Tiga orang engkau sudahi dengan pisau komandomu. Tiga orang lagi dengan pistol Lucer. Engkau harusnya sudah berpangkat Kapten sepertiku. Tidak letnan seperti sekarang…” Yang muda yang bercelana jeans itu tersenyum.
“Mana anak muda tangguh itu…?” tanyanya.

Si Bungsu tahu, dialah yang ditanyakan bekas tentara itu. “Saya disini, terimakasih tuan menyelamatkan nyawa saya…”
“Nampaknya ada orang yang menginginkan nyawamu di kota ini…samurai…” Si Bungsu tak menjawab. Dia ingat betapa tadi dia ditolakkan dengan kuat oleh bekas tentara ini. Ketika dia menduga orang ini akan mencelakakannya.

“Ketika deru mobil itu melaju, saya sempat memandang sekilas. Saya lihat ada moncong bedil…sebagai bekas tentara yang telah kenyang dalam pertempuran, saya tahu, bedil itu diarahkan padamu, makanya engkau saya dorong hingga jatuh…” “Terimakasih. Saya berhutang nyawa pada tuan, saya takkan melupakan budi tuan…” Bekas tentara itu tersenyum. Kemudian menatap temannya.

Letnan itu muntah darah. Dari kejauhan terdengar sirene. Polisi Militer yang ditelepon segera datang bersama ambulance. “Dokter datang….Robert…” si kaos oblong yang berpangkat Kapten itu berkata. Namun si celana jeans telah terkulai. Tubuhnya dingin. Matanya layu. Meninggal. Ketika orang berkuak, ketika Polisi Militer turun, ketika tandu diletakkan, ketika petugas rumah sakit militer itu akan mengambil mayat si Letnan, bekas Kapten yang masih memangkunya itu masih terduduk menatap bekas Letnan itu dengan diam.

Tak percaya dia akan yang telah terjadi. Seorang Polisi Militer berpangkat letnan mendekat dan memberi hormat pada bekas Kapten itu ketika mayat telah diambil dan dimasukkan ke Ambulance. “Apakah kami dapat tahu apa penyebab pembunuhan ini?” Tanya letnan polisi militer itu.
“Perang…” desis bekas Kapten berkaos oblong itu.
“Perang…” Polisi Militer itu mengerutkan kening. Tak faham dia apa yang dimaksud.

“Ya. Perang! Akan ada perang di kota ini antara bekas Baret Hijau dengan bajingan yang telah membunuh Robert…” suara Kapten itu mendesis perlahan. Kemudian dia bangkit. Menoleh pada si Bungsu yang tegak disisinya dengan diam. “Maafkan, saya terpaksa tak jadi mengundang anda untuk minum..” Si Bungsu yang perasaannya tak menentu, tegak mematung. Menatap pada mayat Robert yang telah menyelamatkan nyawanya.

Orang-orang Australia bekas serdadu perang dunia ke II itu, benar-benar membuktikan ucapannya tentang nilai sportifitas. “Jangan khawatir anak muda. Kami takkan berlaku curang. Yang suka berbuat curang biasanya adalah kalian. Orang-orang Melayu. Kami menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas” ucapan Robert ketika menantang dia di kamar tadi masih terngiang ditelinganya. Sementara itu di Ambulance, pihak perawat dan dokter mencatat segala sesuatu.

“Kapten…ini barang-barang miliknya…” dokter tentara itu menyerahkan rantai dan plat nama yang terbuat dari perak, yang senantiasa tergantung dilehernya. Rantai dan plat nama begitu dimiliki oleh setiap prajurit yang terjun ke kencah peperangan. Bekas Kapten itu menerima barang-barang tersebut. Dompet, uang dan sapu tangan. Polisi Militer sibuk pula mencatat keterangan-keterangan para saksi. Kemudian mereka menuju rumah sakit.

Ketika segala urusan di rumah sakit selesai, mereka menuju ke markas tentara. Di kota itu masih ada suatu badan perwakilan tentara sekutu. Yaitu badan yang mengurusi segala sesuatu kepentingan bekas tentara sekutu di Asia Tenggara ini. Dan Kapten itu nampaknya selain cukup dikenal, juga disegani di sana. Hal itu jelas terlihat oleh si Bungsu pada sikap para tentara yang menerima mereka. Kapten itu memang sorang komandan Kompi dari pasukan Baret Hijau Inggris yang terkenal itu.

“Jenazah Robert bisa dikuburkan setiap saat tuan kehendaki…” seorang Mayor yang mengurus kejadian itu berkata. “Dia takkan dikubur disini Mayor. Saya minta kalian menerbangkan mayatnya ke Australia. Disana ada anak dan isterinya. Disana jenazahnya harus dimakamkan…”
“Kami akan melaksanakan permintaan tuan. Ini ada telegram dari induk pasukan tuan di Inggris. Menyampaikan duka cita yang dalam atas meninggalnya Letnan Robert..”

Mayor itu memberikan telegram tersebut. Kapten tersebut menerimanya. Tapi tak membacanya. Telegram itu dia simpan dalam kantongnya.
“Kapan tuan kehendaki kami menerbangkan jenazah Robert ke Australia..?” “Saya akan beritahu dalam waktu dekat…” sambil berkata begitu Kapten tersebut berdiri. Dia memberi isyarat pada si Bungsu untuk ikut. Mereka menuju sebuah restoran di jantung kota Singapura.

“Saya sangat menyesal atas kematian Robert, Kapten…kalau saya tidak ikut dengan anda, saya rasa dia masih hidup…” si Bungsu berkata ketika mereka duduk dan memesan minuman. “Jangan menyesali diri Bungsu. kita percaya pada takdir Tuhan bukan? Nah, memang takdirnya sudah harus mati di kota ini. Hanya saja, saya akan membuat perhitungan dengan orang yang membunuhnya. Saya akan mencari jejaknya, dan saya akan menemukan mereka.

Dan saya akan membunuh mereka. Saya yakin, mereka berada dalam satu komplot. Dan jika perlu, saya akan berperang dengan mereka. Saya masih punya pasukan di kota ini. Bekas pasukan Baret Hijau yang telah mengundurkan diri seusai perang dunia yang laknat itu…”
“Ini bukan peperangan anda Kapten…ini peperangan saya. Mereka sebenarnya menghendaki nyawa saya. Mereka adalah anggota sebuah sindikat perdagangan wanita…”

Dan si Bungsu menceritakan segala kejadian yang dia alami sehubungan dengan sindikat itu. Mulai dari dia bertemu dengan Nurdin sampai pada detik terakhir mereka ditembak dijalan yang menyebabkan kematian Robert. “Dan Overste Nurdin ditembak persis ditempat Robert kena tembak. Dia ditembak juga dari sebuah taksi yang dilarikan dengan kencang….” Si Bungsu mengakhiri ceritanya.

Bekas Kapten berbaju kaos oblong itu meneguk wiskinya. Kemudian menatap pada si Bungsu. “Kini persoalan ini bukan hanya persoalan dirimu Bungsu. juga jadi persoalan saya. Selain disebabkan orang itu telah membunuh Robert, kita telah mengikat persahabatan. Kami memang orang kasar. Umumnya bekas tentara yang keluar dari kencah perang dunia seperti kami memang berperangai kasar. Tapi kami adalah orang-orang yang memuliakan persahabatan.

Ah, kalau saja Robert masih hidup, kita bertiga akan bersama-sama menyikat sindikat itu. Jangan khawatir Bungsu, saya masih punya pasukan. Saya akan sebar mereka untuk mencari dimana markas sindikat itu. Selain membalas perlakuan mereka pada dirimu dan pada temanmu yang bernama Nurdin itu, sindikat perdagangan wanita itu memang harus dibinasakan…kita akan bahu membahu…nah habiskan minumanmu. Kita akan segera mulai…”

Si Bungsu tercengang dan merasa haru yang amat dalam mendengar ucapan Kapten itu. Banyak hal-hal yang tak dia duga yang pernah dia temui dalam hidupnya. Antara lain, dia tak pernah menduga bahwa Michiko, gadis yang ditolongnya di Asakusa dan yang sekereta dengannya menuju Kyoto itu, dan yang dia cintai itu, adalah anak Saburo Matsuyama. Anak musuh besarnya!

Dan kini, orang yang akan membunuhnya karena persoalan Mei-Mei di hotel Sam Kok itu. Bekas serdadu perang dunia ke II, tiba-tiba saja beralih menjadi sahabat yang bersedia mati untuk membantunya. “Terimakasih, Kapten…” katanya perlahan. Mereka segera saja menyelesaikan minum disana.

Kemudian Kapten itu menuju telepon. Kelihatan dia bicara dengan seseorang. Lalu menuju kembali pada si Bungsu.
“Apakah dokumen sindikat itu ada padamu..?”
“Ada. Di hotel..”
“Mari kita lihat..” Dengan sebuah taksi mereka menuju hotel didepan pelabuhan dimana mereka hampir bertarung dengan pisau kemaren. Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here