TIKAM SAMURAI 115

SUMBARTIME.COM-Namun si Bungsu tak pergi jauh. Hanya berjarak seratus meter di kiri hotel Sam Kok itu ada lagi hotel bernama International. Hotel itu kecil saja, meski mereknya International namun di dalamnya serba brengsek. Si Bungsu memilih hotel itu hanya karena letaknya yang strategis. Berada tepat di depan jalan yang menuju dermaga di pelabuhan.

Dari balik jendela kamarnya dia bisa langsung melihat ke dermaga. Melihat orang-orang yang lalu lalang. Melihat mobil yang keluar masuk. Dan di hotel International yang brengsek itulah dia mempelajari lagi dokumen tentang sindikat perdagangan wanita-wanita itu. Dari dokumen itu dia melihat bahwa di Jakarta ada beberapa nama dengan jabatan-jabatan resmi di beberapa departemen.

Iklan

Ada pula beberapa nama yang kerjanya adalah pedagang. Overste Nurdin nampaknya telah menyelidiki hal ini sampai mendetail. Hanya saja, ketika dia akan mulai bertindak tubuhnya diberondong peluru. Dan ingatan itu segera menyadarkan si Bungsu pada keadaan Nurdin. Bagaimana temannya itu kini? Sudah beberapa hari ini dia tak datang ke gedung Konsulat untuk menengoknya.

Dia segera berkemas. Menyimpan dokumen itu dan mengunci kamar. Kemudian dengan sebuah taksi dia berangkat ke Konsulat.
Di Konsulat dia mendapatkan Nurdin masih terbaring diam. Tubuhnya masih dipenuhi balutan. Salma menemani disana. Duduk dengan diam disisi pembaringan suaminya. Sementara Eka, anak mereka, duduk dipangkuannya.

“Sudah banyak angsurannya?” si Bungsu bertanya perlahan. Salma mengangguk.“sudah bisa makan?”
Salma mengangguk. Kemudian mereka sama-sama terdiam.
“Paman, apakah paman telah menangkap orang yang melukai ayah?” tiba-tiba gadis kecil itu bertanya.
Si Bungsu menatap gadis kecil itu.

“Sudah. Mereka telah paman bunuh…”
“Betul?”
“Betul..”
“Paman bunuh pakai apa? Pakai pistol seperti punya ayah?”
“Tidak”
“Lalu pakai apa?”
“Mereka…mereka..” si Bungsu terhenti. Akankah dia ceritakan terus terang pada gadis kecil ini? Dan dia menoleh pada Salma.

Salma juga tengah menatap padanya. Dan Salma yakin bahwa si Bungsu memang telah membunuh orang yang menembak suaminya itu. Dia yakin benar akan hal itu. Dan dia tahu, si Bungsu pasti lah membunuhnya dengan samurai kecil itu. Dan Salma juga tahu bahwa si Bungsu kesulitan dalam menjawab pertanyaan anaknya itu. “Dengan pisau” si Bungsu berkata perlahan. “Dengan pisau..?” gadis kecil itu mengerutkan keningnya.

“Ya. Dengan pisau.”
“Apakah orang bisa mati karena pisau?”
“Bisa”
“Ah. Tapi orang jahat itu matinya tentulah tak sesakit yang diderita ayah..”
“Sakit. Malah dia jauh lebih menderita dari ayah Eka..” si Bungsu menjelaskan.
“Benar…?”
“Benar!”
Wajah anak itu berseri.

“Terimakasih paman. Eka akan ceritakan pada ayah kalau dia bangun nanti, bahwa orang jahat itu telah paman bunuh. Paman tidur disini saja malam ini ya? Kami selalu ketakutan. Malam tadi ada orang yang memanjat jendela. Ibu sampai berteriak ketika orang itu memecahkan jendela. Lihatlah, jendela itu masih pecah…” gadis kecil itu menunjuk ke jendela yang menghadap ke belakang.

Si Bungsu kaget mendengar cerita anak itu. Dia menoleh ke arah jendela yang disebutkan gadis kecil itu. Dan benar saja, kaca jendela itu kelihatan ompong. Dia menatap pada Salma. “Ya. Malam tadi ada orang masuk. Sekitar jam satu. Saya tak pernah tidur sebelum jam tiga. Saya duduk disini. Mendengar saya memekik, orang itu kaget sebentar. Kemudian nampaknya ingin masuk terus. Mungkin karena tahu saya sendirian disini. Tapi begitu penjaga yang berada di ruang sebelah masuk, dia lalu melompat lari.

Penjaga tak sempat memburunya. Orang itu melarikan diri dengan sebuah mobil yang tak sempat pula dikenali penjaga. Mobil itu parkir di lorong belakang konsulat ini..” Salma mengakhiri ceritanya. Si Bungsu masih menatap dengan diam. Ada semacam ketegangan menjalar di pembuluh darah anak muda ini mendengar cerita itu.
“Barangkali orang itu berniat mencuri…” Salma berkata perlahan. Namun naluri si Bungsu tak berkata demikian.

Ada sesuatu yang tak beres di gedung konsulat ini. Ucapan Nurdin seperti melintas lagi ketika overste itu baru kena tembak:
“Saya harap engkau meminta dokumen itu pada Salma. Bawa ke Jakarta. Jangan sampai tahu orang di konsulat bahwa dokumen itu ada padamu Bungsu. bukannya saya tak percaya pada rekan-rekan di konsulat. Tapi….tapi…saya lebih suka dokumen itu berada padamu…”

Ada misteri dan rahasia yang terpendam dalam ucapan Overste Nurdin itu. Kenapa dia tak mempercayai dokumen itu pada seseorang di konsulat ini? Apakah ada diantara orang di konsulat yang ikut terlibat dalam sindikat perdagangan wanita internasional itu? Tak ada petunjuk tentang hal itu dalam dokumen tersebut. Si Bungsu mengulangi membaca dokumen itu berkali-kali di hotelnya.

Dia coba mencari petunjuk meski amat kecil sekalipun tentang keterlibatan orang di konsulat itu. Namun usahanya sia-sia. Dalam dokumen itu hanya ada beberapa nama orang Melayu, Inggris, Keling dan Cina. Namun alamat mereka tak tertera jelas. Empat orang diantara mereka telah mati. Yaitu Cina gemuk seperti kerbau dan orang Inggris yang mati dimarkasnya empat hari yang lalu.

Lelah mencari petunjuk itu, si Bungsu akhirnya memutuskan untuk mengintai gedung konsulat Indonesia itu malam ini. Siapa tahu, malam ini ada lagi orang yang berniat datang ke sana seperti malam sebelumnya.
Tak begitu sulit baginya untuk menemukan lorong di belakang gedung konsulat itu. Di mulut lorong itu dia melihat seorang Melayu tengah menyapu jalan. Orang itu memakai topi lebar dari bambu, dengan baju dinas berwarna biru.

Si Bungsu melewati orang itu. Berjalan terus ke lorong yang cukup untuk dilewati sebuah sedan. Tiba-tiba dia melihat sebuah gudang kosong. Dia masuk kesana. Lalu bersiul panjang. Tukang sapu itu menoleh. Si Bungsu melambainya. Tukang sapu itu datang. “encik mau apak…?” tanyanya.
“Di dalam sana ada perempuan cantik tidur..” si Bungsu berkata sambil menunjuk ke dalam. Tukang sapu itu mengerutkan kening. Kemudian berjalan ke arah yang ditunjukkan si Bungsu.

Sampai di dalam dia mencari-cari. Tapi tak seorangpun yang dia lihat. Usahkan perempuan cantik, cacingpun tak ada yang tidur disana. Merasa dipermainkan, dia lalu menoleh pada si Bungsu. “Hei, encik jangan main-main ya. Mana perempuan cantek yang encik katakan itu…” Si Bungsu yang tegak sedepa darinya hanya tersenyum. “Jangan senyum-senyumlah…” bentaknya berang.

Namun berangnya hanya sampai disitu. Sebab sebuah pukulan dengan sisi tangan tiba-tiba mendarat di tengkuknya. Tukang sapu itu melosoh jatuh.
“Maaf kawan. Saya ingin meminjam pakaianmu. Jadi engkau harus jadi perempuan cantik itu. Tidur disini…” si Bungsu berguman sendiri sambil membukai pakaian dinas tukang sapu itu. Kemudian tukang sapu itu dia ikat. Nah, kini dia mirip tukang sapu dengan segenap peralatannya. Dengan pakaian itu, dia bebas berada di lorong tersebut.

Dia berjalan terus hingga melewati belakang gedung konsulat. Dia meliaht jendela yang pecah itu kini telah diganti kacanya. Dan dia melihat pula, bahwa gedung itu memang mudah untuk dipanjat dari belakang ini. Modelnya yang kuno, yang banyak variasi jendelanya, banyak bendul dan bahagian-bahagian yang menonjol membuat gedung itu mudah untuk dinaiki tanpa tangga pembantu.

Artinya mudah bagi kaum pencuri. Si Bungsu meneruskan langkahnya sambil sekali-sekali melayangkan sapunya ke sampah yang ada dilorong itu. Seratus meter dari gedung konsulat itu lorong tadi tembus ke jalan besar. Jadi dari ujung dia masuk tadi ada jarak lima puluh meter baru sampai ke konsulat. Kemudian seratus meter dari konsulat sampai pula ke jalan besar.

Lorong ini merupakan jalan pintas dan bahagian belakang dari gedung-gedung besar lagi kuno yang ada di daerah itu. Merasa sudah cukup mengenal situasi. Si Bungsu balik lagi ke gedung kosong dimana tukang sapu tadi dia pukul sampai pingsan. Tukang sapu itu masih meringkuk dengan kaki dan tangan terikat. Tapi ternyata orang ini tidak pingsan lagi. Hal itu segera diketahui oleh si Bungsu lewat suara dengkurnya yang berirama.

Ternyata pingsannya dia sambung dengan tidur lelap. Mungkin karena lelah bekerja, makanya tukang sapu ini tertidur. Diluar gedung, hari berangkat gelap. Begitu lampu-lampu mulai menyala, si Bungsu segera keluar gedung itu. Dia memperhatikan lorong belakang itu dari ujung ke ujung sepi. Apakah akan ada orang datang malam ini? Firasatnya mengatakan ada! Cuma dia ragu, apakah orang itu akan datang lewat pintu belakang ini atau lewat…

Dia seperti tersentak. Lewat pintu depan, pikirnya. Ya, kalau benar ada orang konsulat yang terlibat dalam sindikat ini, maka bukannya tak mustahil bahwa orang yang akan membunuh Overste Nurdin itu masuk dari pintu depan. Karena bukankah orang dalam, yaitu pegawai konsulat takkan dicurigai untuk masuk?

Dia mendekati dinding belakang itu. Kemudian tak begitu sulit baginya untuk memanjat dinding itu ketingkat dua dimana Nurdin masih terbaring.
Dia sampai ke jendela ditingkat dua itu. Mengintip ke dalam. Di dalam di bawah penerangan lampu neon kelihatan Salma duduk menyuapi suaminya. Disisinya, diatas sebuah kursi, duduk Eka, gadis kecil mereka. Sebelah tangan Nurdin membelai kepala anaknya itu. Sementara mulutnya tetap melulur perlahan bubur yang disuapkan oleh isterinya.

Dia masih menunggu sesaat ketika tiba-tiba dia lihat Salma menoleh ke pintu. Nampaknya ada yang mengetuk pintu. Sebelum Salma berdiri, pintu kamar itu terbuka. Dan tiba-tiba saja muncul dua orang lelaki. Yang satu tak lain daripada Polisi Singapura yang siang tadi bertugas menjaga di depan konsulat. Dan polisi ini menodongkan pistolnya ke arah Overste Nurdin yang terbaring itu begitu dia masuk ke kamar tersebut.

Disamping Polisi ini, adalah seorang lelaki yang dikenal si Bungsu sebagai seorang staf konsulat! Ya, dia adalah orang Indonesia yang menduduki tempat penting pada staf konsulat itu. Lelaki itu tersenyum. Kedua tangannya berada dalam kantong. Senyumnya lebih mirip seringai.
“Tetap sajalah duduk di sana tenang-tenang nyonya…” lelaki itu bicara sopan dan masih tersenyum pada Salma yang akan bangkit.

Suaranya terdengar perlahan ketelinga si Bungsu. Salma bukan main kagetnya melihat kejadian ini. Sebab dia tahu benar lelaki ini Staf Konsulat, teman sejawat suaminya. Akan halnya Nurdin yang terbaring sakit itu tetap saja bersikap tenang. Dia mengunyah makanan dalam mulutnya perlahan.
“Selamat malam Overste…” lelaki itu berkata dengan senyum tetap menghias bibirnya.

“Selamat malam…” jawab Nurdin. “Hmm, nampaknya anda tak terkejut dengan kehadiran saya….” Staf konsulat itu berkata. Nurdin tak segera menjawab. Dia meminta air pada isterinya. Minum beberapa teguk. Lalu kembali menatap pada rekannya itu. “Kenapa saya harus terkejut. Saya sudah menduga anda terlibat dalam sindikat ini. Lagipula dalam sebuah negeri penghianat-penghianat merupakan kejadian yang lumrah…”

Muka lelaki itu jadi merah. Senyumnya lenyap. Namun dia masih tetap tegak di tempatnya. “Saya datang untuk menawarkan kerjasama Overste…”
“Hmm, menarik juga. Kerjasama bagaimana…?” “Anda ikut dalam sindikat kami. Dan anda akan mendapat perlindungan berikut seluruh keluarga anda. Itu dari segi keamanan . dari segi materi anda dapat memiliki apa saja. Dari segi jabatan, anda bisa kami angkat menjadi Panglima Tentara di Indonesia..”

“Tawaran yang menarik. Tapi anda mempergunakan kalimat “kami”. Siapa yang lainnya?” “Itu akan overste ketahui kelak”
“Bagaimana kalau saya tak mau..”
“Tak soal. Anda bisa memilih. Dan kami tinggal melaksanakan pilihan anda itu. Kalau anda menerima, maka serahkan dokumen yang anda susun itu pada kami, dan anda akan menerima imbalan sesuai dengan yang saya ucapkan tadi.

Kalau anda tak mau menerima, maka anda tak perlu susah-susah lagi bekerja. Kami datang untuk menyudahi hidup anda..”
Salma jadi pucat. Dia memeluk anaknya. Pembicaraan kedua lelaki itu nampaknya biasa-biasa saja. Namun siapapun bisa mengetahui, bahwa pembicaraan mereka adalah mengenai soal hidup atau mati. Soal sebuah sindikat dan sebuah negara. Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here