• AD ART Sumbartime.com
  • Advertorial
  • Disclaimer
  • Home
  • Home
  • Iklan
  • Pedoman Berita
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Visi Misi
Sumbartime.com
Advertisement
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Sumbartime.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Sumbar
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Nasional
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Video
  • Wisata
ADVERTISEMENT
Home Cerbung

TIKAM SAMURAI 113

Sumbar Time by Sumbar Time
4 Agustus 2020
in Cerbung, Tikam Samurai
A A
0
0
SHARES
65
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

SUMBARTIME.COM-Si Belanda itu masih mengejang-ngejang ketika bosnya sudah mati. Tubuhnya meregang-regang. Suaranya gemuruh seperti kerbau disembelih. Lalu tiba-tiba diam. Matanya memandang pada si Bungsu dan juga sekaligus memandang pada bosnya. Kenapa bisa begitu? Memang begitulah, karena matanya jadi juling!

ADVERTISEMENT

Si Bungsu juga jatuh terduduk. Darah sudah cukup banyak mengalir dari dua luka di paha dan di lengan kanannya. Dia terduduk dengan lemah. Matanya memandang ke meja. Ada surat kabar dan ada majalah dengan gambar wanita-wanita telanjang. Dan ada dokumen yang tadi dirampas oleh Cina gendut itu darinya di hotel Sam kok.

ADVERTISEMENT

Dia bangkit dengan susah payah. Untung saja di rumah ini hanya empat orang itu saja yang ada. Kalau ada seorang lagi, maka tamatlah riwayatnya. Bagaimana dia akan melawan dengan tubuh luka demikian?
Dia lalu memunguti dokumen itu. Memasukkan ke balik baju di sebelah kiri. Kemudian mengitari kamar-kamar di rumah itu dalam usahanya mencari kotak obat-obatan.

Dan kotak obat itu dia temukan di ruang makan. Dia buka tutupnya. Mengambil sejenis alkohol. Menyiramkannya ke kapas. Lalu dia merobek kaki celana dan lengan bajunya di tentang luka tertembak tadi. Untung kedua peluru itu menembus langsung kaki dan tangannya. Dengan demikian dia tak begitu menderita.

BacaJuga

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021

Yodium itu dihapuskan ke lukanya. Pedihnya bukan main. Namun dengan teguh dia bersihkan terus. Setelah itu dia mengambil sejenis obat lalu membalutkan ke lukanya. Dia masih belum pergi dari rumah itu. Sidik jarinya bertebaran di rumah ini. Polisi Singapura bisa dengan mudah membekuknya dengan alasan pembunuhan. Sebab sidik jarinya diambil ketika dia mula pertama mendarat di lapangan udara.

Pembunuhan anggota sindikat itu di rumah Nurdin yang terletak di jalan Brash Basah memang tak diusut sebagai sebuah pembunuhan. Karena pihak Konsulat Indonesia melakukan protes dan menyatakan sindikat-sindikat itu datang dengan niat merampok. Maka untuk menghilangkan jejak, si Bungsu lalu mengambil derigen minyak yang dia temukan di garasi. Lalu dia siramkan ke seluruh ruangan.

Nah, kini tinggal mengambil korek api. Dan benda itu ada di atas meja. Dekat majalah dengan gambar perempuan telanjang. Dia mengambil korek api. Lalu membakar majalah dan koran di meja itu. Api menyala. Koran dan majalah itu dia lemparkan ke minyak yang tadi telah dia siramkan. Dan api segera menjilat dan membakar keseluruhan ruangan.

Si Bungsu masih menanti beberapa saat. Kemudian setelah yakin rumah itu bakal dilahap api seluruhnya, dia lalu berjalan keluar dengan tenang. Membuka pintu pagar. Kemudian dia masih harus berjalan beberapa ratus meter baru sampai di jalan Gagak Selari Timur. Di jalan itu baru ada taksi lewat. Dia menyetop taksi. Kemudian kembali ke hotelnya.

Gadis Cina anak pemilik hotel Sam Kok di daerah Anting itu kaget melihat dia muncul. Dari kaget wajahnya berobah sangat gembira. Dia lantas meninggalkan buku dan tamunya yang akan menginap. Berjalan bergegas ke arah si Bungsu. tamunya dua orang dari Australia, menganga saja ditinggalkan gadis itu.

“Hei, kami bagaimana, ada kamar atau tidak..” kedua orang Australia itu berseru. Tanpa menoleh gadis cantik dengan lesung pipit di kedua pipinya itu balas pula berseru: “A Bun! Layani orang itu…” Dari belakang muncul seorang lelaki Cina yang lain. Dialah A Bun yang di panggil gadis itu.
“Tuan ingin menginap disini?” tanya A Bun. Tapi kedua orang Australia itu masih memandang pada gadis cantik yang telah meninggalkannya itu.

“Itu suaminya?” salah seorang bertanya sambil memonyongkan mulutnya ke arah si Bungsu. A Bun menggeleng. “Tunangannya?” A Bun menggeleng.
“Pacarnya…?” A Bun menggeleng.
“Apakah orang itu adalah orang yang menginap disini?” Kali ini A Bun mengangguk. “Kalau demikian, nona itu harus melayani kami juga. Dia harus adil melayani tamu. Jangan berat sebelah…”

“Tuan mau menginap disini atau tidak..?” A Bun bertanya kesal.
“Yes. Yeslah. Yeslah…” A Bun lalu mencatat nama mereka. Tapi mata kedua orang Australia itu tak pernah lepas dari tubuh gadis Cina cantik itu. Pada pinggulnya yang sintal. Pada dadanya yang ranum. Pada lesung pipit dan senyumhya yang membuat kepala pusing tujuh keliling.

“Anda luka…” suara gadis itu terdengar perlahan begitu dia tegak di depannya. Si Bungsu menatap pada lukanya. Kemudian pada gadis itu. Lalau mengangguk perlahan. “Anda berkelahi dengan mereka..?”
Si Bungsu menggeleng. “Lalu kenapa kaki dan tangan anda luka begini..?’
“Digigit kerbau…” Gadis itu menatap heran pada si Bungsu. si Bungsu menatap pula padanya.

Akhirnya gadis itu tersenyum. Manis sekali dengan lesung pipit di pipinya.
“Kenapa senyum. Ada yang lucu?” “Ya..”
“Apa..?”
“Tentang kerbau itu”
“Apanya yang lucu?”
“Bukankah kerbau yang menanduk anda itu adalah kerbau yang datang kemari pagi tadi?” Dia melangkah masuk. Gadis itu mengiringkan. Tapi sampai di loby, kedua lelaki Australia tadi memegang tangan gadis itu. Gadis itu menyentakkan tangannya.

“Hei, kamu harus menunjukkan mana kamar kami, nona..”
“Ngomong ya ngomong. Tapi tangannya jangan gentayangan ya!”
“Oho-ho! Galak benar si cantik ini. Siapa namamu upik?”
Yang berjambang lebat dan bermata coklat berkata sambil mencowel pipi gadis itu tentang lesung pipitnya. Namun gadis itu mengelak. Dan orang Australia itu mencowel angin.

“Tuan kalau tidak sopan, silahkan meninggalkan hotel ini..”
Kedua orang itu berpandangan. Kemudian tertawa. “Ah, maafkan. Kami adalah orang yang paling sopan upik. Tentu kami berbaik-baik. Nah, kini tunjukkan dimana kamar kami…” Gadis itu memberi tanda pada A Bun, dan A Bun membawa kunci berjalan ke belakang lewat gang yang dialas perlak berwarna merah.

Kedua lelaki itu mengikuti sambil melemparkan senyum cengar-cengirnya pada gadis tersebut. Gadis itu menoleh pada si Bungsu. Tapi anak muda itu sudah tak ada lagi. Dia sudah sampai di kamarnya di lantai dua. Disana dia membuka pakaian. Kemudian dengan kelelahan yang tak tertanggungkan dia membaringkan diri setelah meletakkan dokumen tentang sindikat perdagangan wanita itu di dalam kopernya di lemari.

ADVERTISEMENT

Sesaat setelah dia membaringkan diri, kepalanya terasa berdenyut. Lelah dan kantuk menyerang dengan hebat. Rasa sakit menghentak-hentak. Dan entah mana yang datang duluan, entah tidur entah pingsan. Yang jelas, sepuluh atau sebelas detik setelah dia meletakkan kepalanya di bantal diapun tak sadar diri. Dan dalam tak sadar dirinya, Salma dan Mei-mei seperti datang merawatnya.

Kemudian Hannako dan Michiko. Dia sangat gembira atas gadis-gadis itu. Namun itulah mimpi yang paling buruk seumur hidupnya. Dia tersadar. Membuka mata perlahan. Yang membuat dia bangun adalah rasa lapar yang tak tertanggungkan. Kepalanya masih terasa berat. Ada bayangan samar-samar. Kemudian ketika dia membiasakan matanya dari cahaya terang. Dia jadi kaget melihat siapa yang di depannya.

Dia berusaha bangkit. Namun tangan halus dari gadis yang duduk disisinya mencegahnya dengan halus. Dan gadis itu tersenyum. Dua lesung pipit segera saja membayang dipipinya yang montok. “Anda harus banyak istirahat….tetaplah tenang…” Si Bungsu menggelengkan kepala perlahan. Mencoba mengusir rasa pening dan bayangan mimpi yang tak menentu.

Dia memandang ke jendela. “Hari sudah sore…” katanya perlahan.
“Ya. Dua kali sore. Anda bermimpi banyak sekali…” gadis itu tersenyum lagi. Si Bungsu menarik nafas, kemudian ketika ingat pada lukanya, dia melihat ke pahanya. Namun pahanya tertutup selimut. Dia buka selimut tentang bahunya. Bahunya telah terbalut kain.

“Obatnya telah diganti ayah saya. Ayah punya obat tradisional yang ampuh. Hari ini anda sudah bisa bangkit dan bisa ditanduk kerbau lagi. Lihatlah…!” berkata begitu, gadis tersebut menusuk luka di bahu si Bungsu. si Bungsu yang semula kaget, jadi terheran-heran. Bekas luka di bawah balutan kain itu tak merasa apa-apa lagi.

Dia menatap gadis itu. “Ya. Sudah sembuh. Kami memiliki obat-obatan yang dibawa ayah dari daratan Tinggoan di Tiongkok. Kampung kami terkenal dengan tabib-tabib yang masyhur. Ayah saya termasuk salah seorang diantara tabib yang masyhur itu….nah, anda pasti lapar. Dua hari tak makan bukan?” Si Bungsu akhirnya menyerahkan dirinya pada kehendak gadis itu. Dia disuapkan oleh gadis dengan bubur ayam yang bukan main nikmatnya terasa.

Pada sendokan kedua puluh empat, si Bungsu berhenti. Dia menatap gadis itu tepat-tepat. “Ada apa? Ayo, tinggal lima atau enam sendok lagi…”
“Anda baik sekali nona. Kenapa anda mau bersusah-susah membantu saya?” “Ah, sudah kewajiban saya membantu tamu yang menginap di hotel saya bukan? Anda tamu saya..” “Anda berbuat baik pada setiap tamu?”
“Ya. Harus begitu bukan?” Si Bungsu mengangguk. Dia tersenyum.

“Kenapa tersenyum segala, ada yang lucu?” tanya gadis itu.
“Tidak. Hanya saya sedang memikirkan, alangkah repotnya anda waktu menyuapkan kedua tamu orang asing yang mencowel pipi anda tempo hari…” Muka gadis itu bersemu merah. Dia menunduk malu. Benar-benar gadis yang cantik. “Apakah anda menyuapkan semua tamu anda?’ si Bungsu menggoda lagi.

“Ya. Kami menyuapkan mereka semua. Tapi bukan saya yang bertugas. Untuk menyuapkan tamu-tamu yang lain, saya menyuruh a Bun, pembantu saya…” Dan si Bungsu tertawa mendengar gurau ini. Gadis itu juga tertawa. Aneh, mereka seperti sudah menjadi teman akrab. “Hei, nama saya telah anda ketahui. Tapi saya belum mengenal nama anda. Apakah anda punya nama?” si Bungsu bertanya lagi setelah menelan bubur yang disendokkan gadis itu.

“Apakah itu perlu?” “Tentu. Bagaimana saya akan memanggil nona. Apakah cukup dengan si lesung pipit saja?” Gadis itu tersipu lagi. Menunduk, dan menatap pada si Bungsu dengan matanya yang indah. Rasanya si Bungsu ingin sakit seratus tahun lagi. “Nama saya Mei-mei…” suara gadis itu terdengar perlahan.Namun ditelinga si Bungsu suara menyebutkan Mei-mei itu bukan main dahsyatnya.

Dia terbatuk. Wajahnya jadi pucat. Gadis itu kaget. Memegang kepala si Bungsu. Menyangka panas dan penyakit anak muda itu kambuh lagi. Ketika kepala anak muda itu tak apa-apa, dia mendekapkan telinganya kepada si Bungsu yang tak dapat berbuat apa-apa selain membiarkan saja gadis itu seperti dokter memeriksa pasiennya. “Hei. Jantung anda tak normal. Terlalu kencang degupnya. Ada apa?”

Si Bungsu tak dapat menjawab sekalimat pun. Dia menatap gadis itu dengan tatapan tak menentu. Gadis itu bangkit. Mengambil sebuah tablet berwarna coklat di meja. “Nah, minumlah ini, tablet ini bisa menenangkan anda. Degup jantung begitu bisa membuat anda sakit jantung…” gadis itu berkata sambil menoyongkan tablet itu kedekat mulut si Bungsu.
Busyet!

Si Bungsu menggeleng. “Saya memang telah sakit jantung nona. Kalimat-kalimat anda membuat saya putus-putus..” Gadis itu mengerutkan kening. Tersenyum. Dia tak mengerti apa yang diucapkan si Bungsu. “Saya tak begitu mendengar anda menyebutkan nama anda tadi. Dapatkah nona ulangi kembali?” si Bungsu meminta dengan harapan bahwa dia salah dengar.

“Nama saya Mei Ling. Tapi panggilan saya Mei-Mei..”
Si Bungsu terbatuk lagi. Kemudian matanya terpejam. Nafasnya memburu. Dan lagi-lagi gadis itu meraba kepalanya. Mendekapkan telinganya ke dada si Bungsu. waktu dia berbuat begitu, tubuhnya dibahagian atas menelungkup diatas tubuh si Bungsu. terang saja debur darah dan detak jantung si Bungsu seperti deru lokomotif yang mendaki lembah Anai.
“Hei. Anda sakit jantung?”
“Tidak. Jantung saya tak sakit. Tapi sudah pecah!”

Gadis itu tertawa dan mencubit tangan si Bungsu. dan mau tak mau, anak muda itu terpaksa ikut nyengir. “Nah, untuk merekat kembali jantung anda yang pecah itu, minumlah obat ini” gadis itu menyorongkan tablet itu lagi. Karena si Bungsu tetap saja tak membuka mulut, maka tablet itu disumbatkannya ke bawah bibir si Bungsu!

Si Bungsu seperti orang memakai sugi. Bibir atasnya membengkak. Dan dia merasa lucu. Mau tak mau dia tertawa lagi. Gadis itu juga ikut tertawa renyai. Kemudian meminumkan si Bungsu air dari cawan putih.
“Bagaimana kalau saya memanggil dengan Mei Ling saja?” si Bungsu menawarkan kemungkinan lain pada gadis itu. Sebab bagaimana dia akan bisa menyebut nama Mei-Mei sementara nama itu adalah gadis yang dia cintai buat pertama kalinya.

Dan gadis yang mati sebelum mereka menikah di mesjid kecil di Tarok dahulu? “Seharusnya orang memanggil saya dengan sebutan itu. Tapi karena sejak kecil saya dipanggil Mei-Mei, maka saya seperti tak mengenal lagi nama Mei Ling itu. Jadi kalau anda memanggil saya dengan nama itu, barangkali saya takkan menyahut”

Aduh mak, mati awak, si Bungsu mengeluh. “Apakah anda tak menyukai nama Mei-Mei?” tiba-tiba gadis itu bertanya. Dan pertanyaan ini terang saja membuat jantung si Bungsu rengkah-rengkah. Seperti tanah sawah dihantam panas terik bertahun-tahun. “Tidak. Ya. Eh, anu…suka. Suka, kenapa tidak. Mei-Mei…hmm, bukankah itu nama yang indah. Namanya indah, orangnya cantik…”

Si Bungsu ngomong asal ngomong saja. Soalnya hatinya tak menentu.
Mei-Mei tersenyum lagi. Lalu tegak membereskan meja dan piring mangkuk bekas makan si Bungsu. “Hei, anda banyak sekali memiliki Samurai. Ada yang besar dan enam buah yang kecil. Lalu ini, dalam kopor anda ada enam buah lagi samurai kecil. Nampaknya anda seperti bersiap untuk sebuah pertempuran..” Bersambung>>>

ADVERTISEMENT
Previous Post

Tersangka Pencabulan Terhadap Anak Tiri Hingga Hamil Ditangkap Satreskrim Polres Solok Kota

Next Post

Pelaku Miras di Payakumbuh Dibui 10 Hari

Sumbar Time

Sumbar Time

Setiap Waktu Bernilai Informasi

BacaJuga

Cerbung

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 257

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 256

22 Agustus 2021
Next Post
Pelaku Miras di Payakumbuh Dibui 10 Hari

Pelaku Miras di Payakumbuh Dibui 10 Hari

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Justictalk ” Ngobrol santai melek hukum”

https://youtu.be/r3p0YSm3qWE
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

7 Juni 2024
Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

30 Desember 2023
Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

23 Desember 2023
Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

5 Mei 2024

Depósitos protegidos e ganhos instantâneos no casino Bwin para Portugal

0
Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

0
BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

0
Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

0
Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

18 April 2026
Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

10 April 2026
Paripurna LKPJ Walikota, Ini Kata Ketua DPRD Bukittinggi

Paripurna LKPJ Walikota, Ini Kata Ketua DPRD Bukittinggi

2 April 2026
Lansia di Limapuluh Kota Ditangkap Cabuli Siswi SMP Anak Tetangga

Lansia di Limapuluh Kota Ditangkap Cabuli Siswi SMP Anak Tetangga

29 Maret 2026

Berita Terbaru

Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

18 April 2026
Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

10 April 2026
Paripurna LKPJ Walikota, Ini Kata Ketua DPRD Bukittinggi

Paripurna LKPJ Walikota, Ini Kata Ketua DPRD Bukittinggi

2 April 2026
Lansia di Limapuluh Kota Ditangkap Cabuli Siswi SMP Anak Tetangga

Lansia di Limapuluh Kota Ditangkap Cabuli Siswi SMP Anak Tetangga

29 Maret 2026
ADVERTISEMENT
Sumbartime.com

Sumbartime.com -"Setiap Waktu Bernilai Informasi"

Ikuti Kami

  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.

No Result
View All Result
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer
  • Iklan

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.