TIKAM SAMURAI 1

SUMBARTIME.COM-Pembaca media online Sumbartime.com, mulai Senin 23 Maret 2020 ini kami setiap hari akan menyajikan cerita bersambung (Cerbung) khususnya karangan Sastrawan Makmur Hendrik.

Makmur Hendrik Penulis Novel Tikam Samurai
Iklan

Pembaca Setelah kami menghunbungi beliau (Makmur Hendrik) Dalam usianya yang telah sepuh, kami di izinkan untuk kembali menyajikan karangan Fenomenal beliau berjudul TIKAM SAMURAI di media online yang kita cintai ini… Dan berikut kami sajikan Novel Fenomenal Kisah yang berlatar belakang Penuntutan balas seorang anak muda asal Nagari Situjuah Ladang Laweh Kabupaten Limapuluh Kota kepada seorang Perwira Jepang yang telah menghabisi keluarganya ketika zaman pendudukan Jepang di Ranah Minang.

Anak muda tersebut mencari perwira Jepang ini dengan samurai yang dipergunakan oleh perwira tersebut untuk membunuh Ayah, Ibu, serta kakak wanitanya hingga sampai ke Negri Matahari Terbit.

Mari Kita ikuti kisah pertualangannya…

EPISODE: PERKELAHIAN DI ATAS SURAU

Perkelahian yang tak seimbang itu segera saja berakhir. Keempat lelaki berdegap tersebut dengan mudah menyikat lawan mereka. Lawan yang mereka sikat itu adalah seorang anak muda yang berusia sekitar 19 tahun.

Anak muda itu tergelimpang dekat sungai di belakang surau tinggal, jauh di pinggir kampung. Pakaian anak muda itu sobek-sobek. Dia tak sadar diri. Uangnya terserak-serak. Keempat lelaki yang mengeroyok dan melumpuhkan dirinya itu segera memunguti uang yang terserak-serak itu. Uang itu tadinya adalah uang mereka berempat.

Berpindah tangan pada anak muda itu dalam suatu perjudian yang berlangsung sejak sore kemarin.Menjelang subuh, ternyata anak muda itulah yang menang. Dia memang seorang penjudi ulung. Tiap berjudi jarang yang kalah. Tapi malangnya dia selalu disikat lawannya yang dia kalahkan. Perjudian hampir selalu diakhir perkelahian.

Dan dalam tiap perkelahian dipastikan dialah yang kalah, karena lawan-lawan yang dia kalahkan bersatu mengeroyoknya. Lalu selalu saja uang yang telah dia menangkan disikat oleh lawan-lawannya kembali. Termasuk juga uang miliknya sendiri!”Lihat-lihat dulu orang yang akan waang lawan buyung. Jangan sembarang main saja…….”Salah seorang dari lelaki yang berempat itu berkata.

Tak ada sahutan. Karena anak muda itu memang tak mendengar apa-apa. Dia tergolek pingsan. Keempat lelaki itu kemudian pergi. Kertas koa berserakan di antara puntung rokok daun enau. Hampir tengah hari anak muda itu baru sadar dari pingsannya.Tak ada yang mengetahui bahwa dia tergolek di sana.

Tempat mereka berjudi memang tempat yang terpencil. Di sebuah surau yang telah lapuk. Surau itu tak lagi pernah dipakai sejak seorang guru mengaji mati diterkam harimau saat pulang mengajar. Kampung jadi gempar. Dan surau tempat mengaji dipindahkan orang ke tengah kampung. Tapi lama-lama bekas surau itu berobah jadi tempat orang bermain koa. Berjudi dengan daun ceki.

Mereka tak takut pada harimau. Sebab umumnya pejudi-pejudi itu adalah orang-orang yang mahir dalam bersilat. Lama-lama, berjudi di surau bekas itu menjadi suatu kebanggaan di antara para pejudi. Sebab berjudi di sana merupakan salah satu ujian mental. Hanya orang orang berani dan berilmu tinggi saja yang berani main ke sana.Untuk mencapai surau itu harus melewati kuburan.

Kemudian sebuah lembah berbelukar. Baru surau. Lembah berbelukar itu, dahulu, ketika surau itu masih tempat mengaji, adalah sawah. Tapi kini sudah ditinggal dan jadi belukar.Anak muda itu menggerakkan tangannya. Dia masih tertelungkup. Menggerakkan kaki. Matanya masih terpejam.

Hidungnya mencium bau tanah liat. Telinganya lambat-lambat mendengar kicau burung.”Hm, . . . aku masih hidup,” bisiknya.Dia coba memutar tubuh. Kepalanya terasa berdenyut. Tapi dengan menghunjam semua tenaga, dia berhasil juga menelentangkan tubuh. Matanya jadi silau menatap sinar matahari yang terjun dari sela-sela daun pepohonan. Dia bangkit. Duduk dengan bersitumpu pada kedua lengannya.

Menggoyang-goyangkan kepala yang kembali berdenyut sakit. Dia segera ingat pada kemenangannya menjelang subuh tadi. Tapi dia tak berniat untuk memeriksa uang dikantongnya. Tak perlu. Uang itu tak perlu diperiksa. Pasti sudah disikat orang. Dia segera mengumpulkan ingatannya kembali. Merekat sisa-sisa ingatannya sejak kemarin. Ya, kemarin senja dia datang kemari bersama empat orang lelaki. Keempat lelaki itu dia kenal tatkala membeli jagung bakar di pasar Jum’at.

Dia tak tahu siapa mereka. Tapi dari cara mereka tegak dan bicara, dia segera mengenal bahwa mereka adalah perewa dan penjudi. Dia kenal orang-orang jenis ini. Sebab dia sendiri adalah penjudi yang lihai. Dia ahli dalam berkoa atau main dadu.

Keempat lelaki itu dia lihat tengah jongkok dekat sebuah pedati yang dipenuhi tembakau. Dia ikut jongkok.”Minta api” katanya pada salah seorang yang mengisap rokok daun enau.Orang itu tak segera bereaksi. Beberapa saat dia menatap anak muda yang tiba-tiba duduk di dekatnya itu. Tapi anak muda itu acuh saja.

Dan akhirnya dia memberikan rokok yang dihisapnya.”Terima kasih” ujar anak muda itu seraya mengambil rokok yang tinggal puntung pendek itu.Tapi setelah dia membakar ujung rokoknya, puntung rokok lelaki itu tidak dia kembalikan. Melainkan dia buang begitu saja. Muka lelaki itu menjadi merah. Tapi anak muda itu seperti tidak peduli. Dia malah mengeluarkan segumpal uang dari balik bajunya.

”Berminat main?” dia bertanya dengan tenang.Ah, dia memang ahli dalam soal ini. Lelaki yang puntung rokoknya dibuang itu kembali menatapnya. Kemudian menatap pada ketiga temannya yang masih tetap dengan tenang mengisap rokok dan duduk mencangkung. Salah seorang di antara mereka mengerdipkan mata. Dan anak muda itu dapat menangkap isyarat kerdipan itu dengan sudut matanya.

Namun dia pura-pura tak tahu.”Main apa waang bisa?” lelaki itu balik bertanya.”Main apa saja!” jawabnya, pasti.”Koa?””Boleh!””Dadu?””Boleh!””Barambuang?””Boleh. Sembaranglah!”Lelaki itu kembali menatap tiga temannya. Dan kembali yang mengerdip tadi mengerdipkan sebelah matanya yang juling.”Wang dengan siapa?””Saya berjudi tak pernah berkawan. Saya bisa main sendiri, dan ….menang!”.Lelaki yang puntung rokoknya dibuang itu menelan ludah. Dia menatap anak muda itu…

Memperhatikannya dengan seksama. Melihat buku jarinya. Melihat sikunya. Melihat kakinya. Dan dia menduga bahwa anak ini pasti seorang pesilat. Tapi dia juga yakin, bahwa dengan berempat mereka bisa “memakan” anak ini. Mereka toh juga bukan orang sembarangan.”Di mana tempatnya?””Terserah””Kami bukan orang sini. Kami tak tahu di mana tempat bermain yang baik. . .””Saya tahu . . .””Di mana . . .””Si surau usang di hilir kampung sana. . .””Tempat guru mengaji diterkam harimau itu?”Kini anak muda itu pula yang balas menatap lelaki itu.

“Kenapa tahu bahwa di surau itu dulu ada guru mengaji yang diterkam harimau, kalau memang bukan orang sini?””Kejadian itu sudah lama bukan? Setiap orang di pasar Jum’at ini bercerita tentang kejadian itu beberapa tahun yang lalu”Anak muda itu menarik nafas.”Benar! Di sanalah tempat main yang aman. Bagaimana, berani ke sana?”Untuk pertama kalinya, keempat lelaki itu tertawa bersamaan. Tertawa mendengar tantangan anak muda ini.”Tak ada yang ditakuti oleh Baribeh dan kawan kawannya buyung. . .”Lelaki juling yang tadi mengerdip berkata.”Baribeh?””Ya. Waang tak pernah mendengarnya?””Pernah.

Baribeh itu binatang”Si Juling terdiam. Yang lain juga. Lelaki yang tadi puntung rokoknya dibuang itu jadi kelabu mukanya karena menahan berang.”Jangan sembarang bicara buyung. Mulut waang bisa saya sobek,” ujar lelaki itu dengan suara berat.”He, bukankah Baribeh itu memang binatang? Dan kerjanya memang tukang sobek pohon Kampeh untuk mendapatkan getahnya, kanapa Sanak mesti marah?”Lelaki itu bangkit dan hampir saja menerjang anak muda itu kalau tak cepat dilerai oleh si Juling…

Bersambung >>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here