TIKAM SAMURAI 2

SUMBARTIME.COM-Si Juling berbisik ke telinganya. Dan lelaki itu mengurungkan niatnya untuk melanyau anak muda itu. Kemudian si Juling memutar tubuh. Bicara pada anak muda itu.
“Lebih baik waang hati-hati buyung. Tuan kami ini adalah pesilat yang bergelar Baribeh. Kerjanya memang merobek mulut orang-orang sombong seperti waang. Untung dia berbaik hati kali ini. Nah, kapan permainan bisa dimulai?”

“Terserah. Sekarangpun jadi. Tapi harap diingat, saya hanya menantang sanak untuk berjudi. Bukan untuk berkelahi . . .”
“Baik, baik!. Tapi siang ini kami ada urusan. Bagaimana kalau senja nanti?”
”Tengah malampun saya mau. Saya tunggu kalian disana”.
Dan tanpa menoleh lagi anak muda ini berlalu.
”Pukimaknya!. Anak siapa dia makanya berani jual lagak begitu…,” maki lelaki yang tadi dibuang puntung rokoknya itu.
“Nampaknya dia cukup berisi. Kalau tidak mana dia berani berbuat seperti itu”.
“Berisi tak berisi, yang jelas dia punya banyak uang. Malam ini kita sudahi dia. Hei, waang siapkan dadu dua pasang Jul”.
“Dadu itu selalu saya bawa..” jawab lelaki yang dipanggil Jul itu.
Panggilan itu ternyata singkatan dari kata ”Juling”. Lalu, persis ketika azan magrib berkumandang, mereka muncul di surau usang itu. Di sana anak muda tadi telah menanti. Di bawah cahaya lampu damar yang ada di bekas surau itu mereka segera memulai permainan.

Iklan

Mula-mula mereka main dadu. Dadu itu sudah disiapkan oleh si Jul. Biasanya mereka tidak pernah kalah. Sebab dadu itu sudah dibuat sedemikian rupa, hingga apa saja yang dipasang lawan, pasti bisa diputar letaknya hingga tidak tertebak. Cara memutar dadu itupun dengan lihai dilakukan oleh si Jul yang Juling itu. Kelihatannya hampir-hampir sempurna.

Tapi kali ini mereka ternyata menghadapi seorang hantu judi. Mereka tidak menyangka bahwa dalam usia yang sedemikian mudanya anak ini sudah tidak terkalahkan dalam soal berjudi. Lewat tengah malam hampir semua uang mereka disikat anak muda itu. Mereka sudah pada mengantuk. Tapi anak muda itu tetap seperti semula. Matanya yang sayu, mukanya murung, tetap saja tidak berubah. Tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sedikitpun.

Si Jul sudah beberapa kali memberi isyarat pada Baribeh untuk menghantam anak muda itu Tapi Baribeh sendiri ragu-ragu. Masakan anak muda ini tak mempunyai “simpanan” agak sedikit. Artinya, anak muda ini paling sedikit tentu pandai bersilat. Sebab mustahil dia akan berani sendirian saja kalau tak ada kepandaian apa-apa.

Hanya kini yang menjadi bahan pertimbangan mereka adalah silat apa yang dimiliki dan jadi andalan anak muda ini. Ku¬mango? Pangian, Lintau, Starlak atau Pauh? Atau Sunua dan Silek Tuo yang terkenal itu? Tak ada jawaban yang pasti. Anak muda itu tetap saja meraih kemenangan demi kemenangan.
“Ah, kita istirahatlah sebentar…..” si Baribeh berkata.

“Boleh. Berhentipun juga boleh..!” anak muda itu menjawab seenaknya.
Muka Baribeh dan teman-temannya jadi kelabu mendengar jawaban itu.
“Berhenti kata waang?! Adat di mana waang pakai buyung, berhenti di saat orang lain kalah!” si Jul bertanya dengan nada tak sedap.
Tapi anak muda itu tetap cuek, malah dengan tenang pula dia balas berkata: “Tak ada adat apa-apa dalam berjudi ini sanak. Kalau mau main terus juga tak apa. Tentu kalau kalian masih punya duit. Saya khawatir kalian akan pulang dengan celana dalam saja……….”

Dan sambil mengulum senyum, anak muda ini mengelaikan diri ke tikar pandan usang yang mengalas lantai surau itu. Baribeh menggerutu panjang pendek. Tapi dia juga mengelaikan tubuhnya. Pelita kecil yang menerangi ruangan surau itu bergoyang-goyang kena angin lemah yang masuk dari sela-sela lobang di dinding.

Si Juling dan Baribeh mulai sama-sama berfikir. Bagaimana kalau lampu ini dimatikan. Kemudian mereka hantam anak muda itu, dan uangnya mereka sikat. Uang anak muda ini ternyata banyak sekali. Ada tiga kali sebanyak yang dia perli¬hatkan di Pasar Jumat pagi tadi. Dengan uang itu mereka bisa membeli tiga buah pedati atau bendi dan beberapa petak sawah. Ah, uang itu harus mereka peroleh. Harus !  Baribeh melirik ke lampu togok yang bergoyang itu.

“Kalau lampu ini mati, kita akan susah…..” tiba-tiba anak muda itu berkata.
Baribeh dan si Jul kaget. Anak muda ini rupanya bisa membaca isi hati mereka. Dan mereka jadi tambah yakin bahwa anak muda ini punya ilmu yang tak rendah.
“Hei, sanak ada membawa api ?” Anak muda itu bertanya.
Baribeh menelan ludahnya sebelum menjawab.
“Ada. Mengapa ?”
“Ada yang berniat mematikan api itu nampaknya…… ” anak muda itu berkata lagi. Baribeh dan teman-temannya tambah kaget dan pelan-pelan jadi kecut. Anak muda ini memang seorang yang padat isinya, pikir mereka. Tapi untuk tak kalah gengsi Baribeh kembali bertanya :
“Siapa pula yang akan mematikannya?”
“Angin!. Tak terasa angin makin kencang?”

Anak muda itu berkata seadanya. Tak sedikitpun dia menyangka bahwa orang-orang itu memang berniat akan mematikan lampu itu. Tapi Baribeh dan teman-temannya merasa diolok-olok oleh anak muda itu. Mereka merasa disindir. Karenanya mereka memilih diam saja. Diam dengan hulu hati yang amat pedih saking menahan berang.

Menjelang subuh mereka bangun dan main lagi. Kali ini main koa. Tapi sialnya, anak muda itu menang terus. Terus dan terus. Akhirnya keempat lelaki itu memang tinggal celana kotok saja. Semua pakaian mereka, termasuk keris dan pisau serta korek api, habis tergadai kepada anak muda itu. Anak muda itu ternyata memang setan judi. Dan ketika mereka sudah hampir telanjang, anak muda itu tertawa terpingkel-pingkel.

Saat itulah iman Baribeh dan teman-temannya layu. Anak muda itu mereka sikat bakatintam. Mula-mula yang menghantam adalah si Jul. Tendangan¬nya yang pertama tak mengenai sasaran. Anak muda itu sebenarnya terteleng kepalanya.

Tendangan si Jul lewat. Tapi dalam penglihatan mereka, anak muda itu mengelak dengan jurus lihai. Teman si Jul meng¬hantam pula dari belakang. Waktu itu anak muda tersebut tiba-tiba menunduk, ingin memungut duitnya yang berserakkan. Dan ten¬dangan yang melaju dari belakangnya kembali tak mengenai sasaran. Malah ketika dia bangkit tiba-tiba, kaki yang tengah melintas itu terbawa naik oleh punggungnya. Tak ampun lagi, si tinggi di belakangnya terjengkang.

Keempat lelaki itu terkejut, tak sedikitpun mereka menyadari bahwa kedua serangan tadi luput hanya secara kebetulan saja. Kini dengan kewaspadaan tinggi, keempat lelaki itu bersiap. Si Baribeh membuka serangan dengan sebuah pukulan. Dan kali ini faktor  kebetulan itu  tak lagi menyertai  anak muda tersebut. Pukulan itu mendarat dengan telak di dadanya. Dia terhuyung, serangan berikutnya berkatintam menghamtam tubuhnya. Dia terpekik-pekik. Teraduh-aduh.

Namun keempat laki-laki itu tidak memberi ampun sedikitpun. Dari atas surau perkelahian yang tidak bisa disebut perkelahian itu, beralih ke bawah. Beralih karena tubuh anak muda itu tercampak menghantam dinding karena sebuah tendangan yang telak. Tubuhnya menghantam dinding lapuk dan jebol, tubuh¬nya melayang ke bawah lewat dinding lapuk yang jebol itu. Dan di bawah surau itulah nasibnya selesai. Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here