Sumbartime.com,- Sumatera Barat, 26 Juni 2023 – Di tengah perayaan Hari Raya Idul Adha yang dirayakan oleh umat Muslim di seluruh dunia, Sumatera Barat memiliki tradisi unik yang kaya akan budaya dan kebersamaan.
Masyarakat Minangkabau, suku yang mendiami daerah ini, menjalankan beberapa tradisi istimewa yang menarik perhatian banyak orang.
Salah satu tradisi unik yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau adalah Basirakaik. Basirakaik adalah tradisi kerja bersama atau gotong royong dalam suatu pekerjaan, seperti berkebun atau bercocok tanam.
Dalam tradisi ini, para urang sumanda (orang pendatang yang merupakan menantu Minang) yang tinggal di kampung itu bekerja secara gotong royong dengan dipimpin oleh seorang ketua.
Hasil penghasilan atau upah yang didapat dari kerja bersama ini kemudian digunakan untuk berkurban bersama di Hari Raya Idul Adha.
Selain itu, tradisi unik lainnya adalah mendandani hewan kurban sebelum disembelih. Di Nagari Lubukbasung, Kabupaten Agam, warga Silayang Tinggi memiliki kebiasaan untuk membersihkan dan merawat sapi dan kambing kurban sebelum disembelih.
Hewan kurban tersebut disisir, diberi bedak, pewangi, kain putih di perut, dan diberi makan yang enak. Peralatan dandan dan makanan tersebut dibawa menggunakan jamba, sebuah tempat khusus untuk membawa makanan khas Minangkabau.
Proses mendandani hewan kurban dilakukan oleh para peserta kurban sebagai bentuk rasa ikhlas dan pengorbanan.
Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban di Sumatera Barat juga memiliki tradisi unik yang disebut “membantai”. Biasanya, kegiatan ini dilaksanakan di halaman masjid, musholla, atau halaman kantor wali nagari setempat.
Seluruh proses penyembelihan ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan dilaksanakan dengan menjaga kebersihan serta kebersamaan.
Setelah penyembelihan hewan kurban, saatnya para ibu-ibu memasak hidangan istimewa. Mereka memasak rendang yang menjadi hidangan utama dalam perayaan ini.
Seluruh anggota keluarga berkumpul untuk menikmati hidangan lezat tersebut. Setelah itu, para bapak-bapak akan memotong, mengiris, dan mencincang daging kurban agar bisa dibagikan secara merata kepada warga.
Untuk menjaga semangat para bapak-bapak dalam bekerja, ibu-ibu segera memasak gulai bantai menggunakan sebagian daging yang disisihkan.
Di Kabupaten Agam, tradisi Manampuang menjadi salah satu tradisi unik yang dilakukan oleh masyarakat setempat.
Dalam tradisi ini, pembagian daging kurban dilakukan tanpa menggunakan kupon. Petugas pembagi daging kurban datang langsung ke rumah-rumah





















