Rapal Mantra Pemain Opini dan Tim Sukses dalam Kontestasi Pilkada @ by: Anton Aruan

SUMBARTIME.COM-Sebentar lagi direncanakan Pilkada akan segera gelar. Baik itu pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota serentak tahap II akan segera dimulai.

Apakah HAJAT akan digelar di penghujung Tahun 2020 atau di awal Tahun 2021 tentu yang lebih mengetahuinya secara pasti adalah pihak penyelenggara itu sendiri yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU)

Iklan

Namun gemuruh politik pelan tapi pasti telah mulai digulirkan oleh para pengamat, tokoh dan anggota partai sampai masyarakat biasa di kawasan yang daerahnya akan menggelar pesta demokrasi.

Tak terkecuali di media online mainstream, media sosial (medsos), grup whatsapp, warung warung kopi, hingga kelas kafe yang sering menjadi tempat nongkrong para pemain opini dan para pegiat demokrasi.

Bicara tentang Pilkada, tentu keberadaan para pemain opini tidak bisa diniscayakan. Para pemain opini tidak bisa dianggap remeh begitu saja oleh para kandidat. Terkadang para pemain opini tersebut juga memiliki banyak pengikut yang kicauannya selalu ditunggu tunggu oleh para pengikutnya.

Di sisi lain, para kandidat calon juga harus mesti mewaspadai para pemain opini. Tidak tertutup kemungkinan para pemain opini tersebut adalah merupakan bagian strategi kuda troya bagi kandidat untuk melemahkan lawan politiknya.

Mungkin ditengah masyarakat awam, strategi kuda troya belum begitu dimengerti dan populer. Namun yang pasti bagi sebagian kandidat akan menerapkan strategi kuda troya untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya.

Selanjutnya, bicara pilkada juga kita tak bisa melepaskan hubungan simbiosis mutualisme antara sang kandidat dengan para tim sukses. Diakui atau tidak, yang namanya Kandidat terutama yang tidak berasal dari partai atau calon tokoh yang tidak dikenal sebelumnya, ibarat orang yang sedang karam di tengah lautan.

Jika kepala para calon kandidat dibelah, maka akalnya hanya tinggal setengah. Sedangkan setengah lagi, akan berisi hayalan hayalan serta ambisi untuk mencapai impiannya. Dalam kondisi seperti itulah mereka butuh tim yang merapalkan mantra mantra politik dan menjadi dewa penyelamat mereka.

Telah lumrah di sistem Pilkada langsung ini, semua Calon pasti membutuhkan peran dari tim sukses. Baik itu dari Parpol pengusung, maupun dari masyarakat non partai.Tim sukses dibentuk sebagai organ serta mesin untuk pemenangan si calon kandidat itu sendiri. Di musim musim jelang pilkda hubungan kandidat dengan tim sukses ibarat hubungan Romeo dan Juliet. Mereka mesra seakan tak ada yang bisa memisahkan cinta mereka. Namun tak jarang usai pilkada hubungan mereka bisa bisa menjadi sebaliknya, bagaikan Tom and Jery.

Lalu pertanyaannya siapa itu tim sukses? TIM SUKSES adalah sekelompok orang yang dibentuk oleh si kandidat untuk berbagi peran demi suksesnya kandidat meraih kursi impiannya. Adapaun perang yang dimainkan oleh tim sukses bisa berupa, memberikan edukasi ke masyarakat akar rumput tentang sosok kandidat, mengkapnayekan program serta visi misi kandodat, bahkan ada juga yang berperan sebagai penyandang dana untuk si kandidat itu sendiri.

Tim sukses memegang peranan penting dalam kontestasi politik. Mereka bisa menjadi media bagi kemenangan sang kandidat itu sendiri, namun tak jarang juga bisa menjadi bumerang membuat sang calon terjungkal.

Idealnya tim sukses merupakan cerminan dari sang kanidat itu sendiri. Tim sukses adalah kepanjangan tangan dari si calon menyampaikan visi serta misi maupun citra kandidat ke khalayak publik. Namun realita di lapangan justru ada ditemukan sebagian tim sukses yang menjadi “nyamuk” dan membuat pencitraan serta pesona sang kandidat menjadi hancur di mata publik.

Biasanya Tim sukses yang menjadi “nyamuk” itu telah sukses duluan dalam arti telah sukses menggerogoti fasilitas serta sarana yang telah disediakan kandidat. Namun performanya di lapangan justru menghancurkan pesona sang kandidat.

Tentu kandidat tidak pernah ingin bermimpi memiliki tim sukses yang seperti nyamuk tersebut. Dalam impian Kandidat tim sukses adalah orang orang para pekerja keras. Tim yang mampu tangguh di medan juang memenangkan pertarungan untuk dirinya melawan lawan lawan politiknya.

Sebaliknya, Tim sukses ideal ini tentu juga bekerja bukan hanya demi ikhlas semata dan hanya sebagai tim relawan yang bekerja demi kemanusiaan saja. Bagi tim sukses memenangkan si calon ibarat petani sedang menanam benih di sawah. Dan berharap benih yang ditanam dan disemai akan menghasilkan keuntungan yang bagus baginya.

Keuntungan yang bagus maksudnya disini ialah jika sang kandidat yang mereka perjuangkan sukses menduduki kursi jabatan, maka dia mendapatkan imbalan yang bisa saja seperti fulus, jabatan, akses, hingga proyek. Sebab dengan kemenangan yang diraih oleh kandidat, tim sukses pasti merasa dialah yang paling berjasa.

Dengan merasa paling berjasa itu, tentu saja tim sukses merasa merekalah yang paling utama di perhatikan dan dilayani.

Disinilah kehati hatian dan kematangan seorang kandidat yang baru saja terpilih menduduki sebuah jabatan di uji. Jika dirinya tidak pandai mengelola manajemen tim sukses pasca pilkada, maka ini akan menjadi senjata bumerang dan siap menyerang si kandidat itu sendiri. Yang pasti TIM SUKSES baik secara terang terangan atau malu malu berharap agar si kandidat yang telah sukses untuk segera “berbalas budi’ kepadanya.

Namun Jika sang kandidat yang juga terlalu memberi hati kepada tim suksesnya “tanpa batas”, justru akan bisa berpotensi rusaknya roda pemerintahan yang sedang dia jalankan.

Tim sukses bisa saja bermanuver mengatas namakan sebagai orang dekat akan mencarter proyek proyek kakap di lingkungan daerah yang dia pimpin. Atau tim sukses akan melakukan atau menjalin bergaining dengan para pejabat pejabat yang cilakanya adalah para tukang penjilat yang intinya membuat posisi si pejabat itu sendiri aman tak dimutasi oleh sang kandidat terpilih.

Inilah fenomena yang akan dihadapi kandidat. Suka atau tidak suka oleh para kandidat calon kepala daerah HARUS menghadapi realita lapangan di sistem pemilihan langsung ini. Lalu pertanyaannya, Sudah siapkah sang para kandidat untuk benar benar memikirkan kesejahteraan rakyat serta kemajuan daerah seperti jargon politik mereka tanpa adanya gangguan dari pemain opini dan tim sukses?*

*Penulis adalah Pemred Sumbartime.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here