Pemko dan Ratusan Satrawan Nasional Serta Lokal Gelar Payakumbuh Literary

Jumpa Pers Payakumbuh Literary

SUMBARTIME.COM-Payakumbuh bekerjasama dengan Kemendikbud serta Pemprov Sumbar, pada Rabu (14/11) dan Kamis (15/11) akan menggelar Payakumbuh Literary Festival yang bertempat di Rumah Budaya Intro, Kawasan Padang tangah, Koto Nan Ampek, Payakumbuh.

Menurut Iyut Fitra, salah satu panitia mengatakan, gelaran Literary Festival tersebut rencananya akan dikuti oleh puluhan sastrawan Nasional dan daerah, ujarnya mengatakan, Selasa (13/11) malam, di Pendopo Rumah Dinas Walikota Payakumbuh.

Iklan

Dijelaskan Iyut, Sumatra Barat merupakan gudangnya kelahiran para seniman dan sastrawan budayawan besar di Indonesia. Sebut saja Chairil Anwar, Buya Hamka, Marah Rusli, serta para satrawanmuda kontemporer seperti Fadlizon, Indrian Koto, Heru, Adri Sandra, serta para sastrawan lainnya.

Alangkah naifnya jika Sumbar khususnya Payakumbuh tidak melestarikan dan mengembangkan bakat para sastrawan muda yang saat ini banyak lahir dan tumbuh di Payakumbuh, ujarnya.

Sastra adalah merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu atau yang lazim disebut seni.

Sastra, mungkin telah ada sejak manusia ada. Bersamaan dengan perkembangan manusia dan kebudayaannya, sastra juga berkembang menurut situasi dan kreasi manusianya. Dengan demikian, sejalan dengan pengelompokan-pengelompokan manusia serta kebudayaannya, sastra juga berkembang dalam kelompok-kelompok itu.

Sastra merupakan perwujudan pikiran dalam bentuk tulisan. Tulisan menggambarkan media pemikiran yang tercurah melalui bahasa, bahasa yang bisa direpresentasikan dalam bentuk tulisan, media lain bisa saja berbentuk gambar, melody musik, lukisan ataupun karya lingkungan binaan/arsitektur, papar Iyut.

Penutup, dirinya juga mebjelaskan jika Sastra di Minangkabau ini adaalah bagian budaya yang tak terpisahkan. Salah satu contoh kecil banyak karya karya sastra dalam bentuk novel karya Buya Hamka seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937) yang menjadi fenomenal sepanjang masa, demikian Iyut Fitra menyampaikan. (aa)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here