Mengurai Pangkal Perseteruan Dua Kelompok Umat di Ranah Minang

gambar ilustrasi diskusi

SUMBARTIME.COM-“Anda Bidah! melakukan perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi. Kalaulah perbuatan itu baik tentu sekiranya nabi serta sahabat yang lebih dulu mengerjakan amalan tersebut”. Anda Khawarid!, mudah memasukan orang ke dalam neraka. Kunci sorga terletak di tangan anda. Terlalu dangkal pemahaman anda jika sunnah itu hanyalah apa yang dikerjakan Nabi saja”.,

Begitulah secuil cuplikan perdebatan dua kelompok Islam yang sama sama mengaku umat dari Rasulullah Nabi Muhammad Shallahualaihi Wasalam, dalam forum forum perdebatan antar dua Manhaj beda pemahaman itu di sosial media (sosmed) sejak dua pekan belakangan ini.

Iklan

Perdebatan yang menjurus pada caci maki serta saling hujat antara dua kelompok yang masing masing dikenal dengan istilah Salafi Wahabi dan satunya lagi dikenal dengan panggilan Ahli Sunah Wal Jamaah (Aswaja) sering terjadi di sosial media, terkhusus kawasan Luhak Limopuluah, Ranah Minang.

Perseteruan mereka yang sama sama mengaku umat dari Rasullah tersebut telah terjadi sejak belasan tahun silam hingga sampai hari ini ditenggarai tidak pernah selesai selesai. Situasi akan memanas dan saling serang semakin meninggi intensitasnya bila memasuki bulan memperingati Maulid Nabi. Ramai riuh rendah cuitan perdebatan yang terjadi diantara mereka serta menjurus saling hujat menghiasi jagad sosmed demi saling mengklaim kebenaran yang mereka yakini.

Fenomena saling serang dan saling jatuh menjatuhkan yang membuat publik menjadi jengah itu diakui dan dibenarkan oleh salah seorang pengikut kelompok pemahaman Aswaja bernama Sofyan, salah satu warga kawasan Luhak Limopuluah.

Kepada awak media Sumbartime.com, Kamis 4 November 2021, membenarkan jika telah terjadi perang opini antar dua kelompok beda pemahaman di sosial media, akunya. Hal itu kerap terjadi menghiasi jagad sosmed, sambungnya lagi.

Menurut Sofyan, perdebatan itu biasanya terjadi jika kelompok sebelah (Salafi Wahabi) sering menyindir melalui tulisan terkhusus kegiatan Maulidan yang dianggap Bidah (Perkara baru yang tak berlandaskan dalil) di sosmed.

“Masa orang mencintai Nabi dengan merayakan hari kelahiranya harus masuk neraka. Kalau menganggap Sunnah itu hanyalah amalan yang dicontohkan oleh Nabi saja, maka alangkah dangkal pemahaman mereka tentang Syariat,” paparnya.

Lebih jauh Sofyan menerangkan, jika dakwah Salafi Wahabi selalu menyesatkan amalan yang di luar kelompok mereka.Salafi menganggap hanya merekalah yang paham dengan dalil, diluar mereka salah semua. Atas fenomena itulah, maka Aswaja yang merupakan pengikut Mahzab terbesar di negara ini menjadi geram serta resah atas ulah mereka sehingga melakukan serangan balik menangkal opini penyesatan mereka, ungkapnya.

Terbaru papar Sofyan lagi, saat pihak Aswaja menerima dan menyambut ajakan tantangan diskusi ilmiah yang dilayangkan oleh Salafi Wahabi beberapa waktu lalu, justru malah mereka yang menghindar.

Saat menerima tantangan itu, pihak Aswaja bersedia menjadi panitia dan mencari lokasi kegaiatan. Rencananya acara diskusi diadakan di Ponpes Al Manaar Batu Hampar, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Limapuluh Kota, pada tanggal 2 November 2021 kemaren. Namun acara batal akibat pihak Salafi Wahabi tidak hadir memenuhi undangan.

Namun anehnya di sosmed terkait ketidakhadiran mereka dalam memenuhi undangan, mereka mengatakan dan bertaqiah (beralasan) karena patuh kepada penguasa setempat. Akibatnya pernyataan kelompok Salafi di sosial media itu ramai mendapat tanggapan serta komentar dari nitizen, paparnya.

Lucunya dalam Bertaqiah Salafi Wahabi sering inkonsisten. Jika yang menguntungkan kepada mereka atas himbauan pihak pemerintah, mereka akan ungkap kepermukaan dan sengaja dibesar besarkan memuja muji penguasa. Namun bila himbauan dari pemerintah yang mereka anggap berlawanan dengan pemahaman mereka, mereka tutup mulut serta tiarap dari permukaan dengan mencari cari dalil pembenaran atas sikap mereka, tutup Syofyan.

Terpisah ditempat yang berbeda, pernyataan serta paparan Syofyan diatas tersebut dibantah keras oleh salah satu pengikut paham Salafi Wahabi yang juga salah satu warga Luhak Limopuluah bernama alias Abu Gufron di hari yang sama.

Kepada awak media, Abu Gufron yang menolak dan keberatan jika nama kelompoknya diberi embel embel Wahabi itu membantah jika pihaknya telah dengan mudah menyesatkan umat Islam.

“Kami tidak pernah menyesatkan umat islam disetiap dakwah kami. Kami hanya menjelaskan apa itu tentang Sunnah. Selain itu kami juga ingin meluruskan amalan umat islam yang dianggap telah melenceng dari yang diajarkan oleh Rasulullah,” ungkapnya.

Terkait ada yang marah dan merasa kebakaran jenggot terkait dakwah Al Haq (kebenaran) yang kami sampaikan, itu merupakan sebuah tantangan yang kami harus sabar menerima dan menghadapinya, tutur Abu Gufron.

Disinggungnya soal diskusi ilmiah yang batal dilaksanakan pada tanggal 2 November 2021 kemaren di Ponpes Al Manaar, dirinya menjelaskan bahwa tidak benar jika kelompoknya lari dan menghindar dari undangan tersebut.

Namun sambungnya lagi, saat itu team yang berasal dari pihaknya sudah siap untuk berangkat memenuhi undangan. Akan tetapi, beberapa saat jelang berangkat ke lokasi acara, ada informasi dari pihak pemerintah yang diwakili oleh Kepolisian setempat untuk melarang kami datang ke lokasi acara dengan berbagai pertimbangan keamanan.

“Ya datang himbauan dan larangan dari polisi agar kami tidak boleh datang ke lokasi memenuhi undangan demi alasan keamanan. Sebagai umat rasulullah kami diajarkan untuk patuh serta taat kepada penguasa,” paparnya menutupi pembicaraan secara singkat melalui jaringan seluler.

Sementara itu, terkait perseteruan dan pertikaian antar dua kelompok umat terkhusus di kawasan Luhak Limopuluah yang semakin memanas beberapa hari belakangan ini terutama di sosmed, membuat beberapa pihak menjadi kuatir jika pangkal masalah pertikaian tersebut tidak diurai dan dicari solusinya.

Banyak pihak meyakini, pertikaian tersebut akan menjadi bom waktu yang suatu saat bisa meledak dan mengancam persatuan umat jika tidak cepat dicarikan titik temunya.

Hal itu dikatakan oleh Ketua MUI Payakumbuh Selatan Ustadz Hannan Putra. Menurutnya perselisiahn dua kelompok yang sama sama mengaku dari Umat Nabi ini harus segera dicari titik temua dan jalan keluarnya.

Menurutnya pihak MUI Kota Payakumbuh beberapa waktu yang lalu telah berusaha melakukan mediasi dengan memfasilitasi tokoh antar dua kelompok untuk melakukan dialog serta diskusi tanpa membawa masing masing jamaah. Namun sepertinya kesibukan para pimpinan serta tokoh dari dua kelompok yang sedang bertikai itu menyebabkan kegiatan untuk sementara waktu belum dapat dilaksanakan.

Terkait pangkal masalah pertikaian serta perseteruan yang terjadi, masih menurut Hannan lagi hanyalah berkisar di seputar wilayah Furu’ (cabang).

“Itukan masih masalah wilayah Khilafiah. Harusnya bisa saling hormat menghormati dan berlapang dada,” tuturnya, Rabu (3/11) usai memberikan ceramah di salah satu Mesjid Kota Payakumbuh.

Lebih jauh Hannan melanjutkan, jika persoalan perseteruan antar kelompok di sosmed tidak cepat diantisipasi akan berdampak pada Ukhuwah persatuan umat.

Dirinya berharap agar jamaah antar dua kelompok tersebut dapat menahan diri melakukan perdebatan di sosmed yang menjurus pada saling hujat dan menjatuhkan. Biarlah persoalan tersebut diselesaikan dengan bijak oleh para tokoh masing masing kelompok,harapnya mengatakan. (aa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here