Kisruh Elit Duo Daerah Soal Tapal Batas, Wendra Yunaldi: ” Elit Tak Perlu Gaduh dan Berbalas Pantun di Ruang Publik”

gambar ilustrasi sangketa wilayah

SUMBARTIME.COM-Kisruh soal tapal batas antar dua wilayah bertetangga, yakni Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota yang sempat membuat dua elit pimpinan kedua daerah saling ‘berbalas pantun’ dan lempar statmen di ruang publik, mendapat tanggapan bagi warga Luhak Limopuluah.

Ada warga menanggapi kisruh elit pimpinan dua daerah terkait soal tapal batas wilayah hanyalah sebagai hiburan gratis lucu lucuan semata. Ada juga warga yang menanggapi dengan kalimat sindiran terkait tingkah para elit mereka yang saling ‘berbalas pantun’ dan lempar statmen di ruang publik dan menganggap para elit tersebut seakan kurang kerjaan ditengah wabah Covit yang makin menggila.

Iklan

Melalui komentar warga Luhak Limopuluah di berbagai jaringan media sosial, mereka menanggapi kisruh antar pimpinan di ruang publik terkait soal 10 tapal batas antar dua daerah tidak perlu terjadi jikalau masing masing mereka bisa menahan diri untuk tidak bikin gaduh dengan saling lempar statmen di ruang publik.

Warga menganggap, soal tapal batas bukanlah hal yang patut diperuncing dan dipertentangkan kalau pimpinan masing masing daerah serta lembaga DPRD nya mau duduk bersama dan membahasnya di dalam ruangan terbatas, tulis beberapa warga melalui jejaring sosial media.

Kritikan tajam terkait kisruh dan memanasnya hubungan antar dua pimpinan Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota terkait bola panas yang bernama tapal batas antar wilayah tersebut juga datang dari pratiksi hukum Wendra Yunaldi.

Menurut tokoh muda Luhak Limopuluh tersebut, seharusnya kisruh dan gaduh antar para elit di dua daerah tersebut tidak perlu terjadi kalau masing masing mereka dapat menjaga diri untuk tidak saling lempar tudingan di ruang publik, ujarnya Selasa (6/7) di Payakumbuh.

Seharusnyan para elit bisa memberikan rasa aman serta nyaman kepada warga Luhak Limopuluh yang saat ini kondisi ekonomi mereka sedang menurun karena dihantam pandemi Covid 19, sambung Wendra lagi.

Sebagai pratiksi hukum serta pengamat sosial politik, dirinya merasa heran, kenapa cuman para elite saja yang ribut soal tapal batas, sementara masyarakat dua daerah yang sejatinya saudara sekandung dalam payung Luhak Limopuluah hanya tenang tenang saja tanpa pernah ada terjadi gesekan di lapangan terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitaran tapal batas.

Wendra Yunaldi juga menyarankan agar ‘berbalas pantun’ para elit duo daerah tidak usah di ruang publik. Jikalaupun pembahahasan tapal batas sangatlah penting untuk di bahas dalam suasana Covid -19 ini, cukuplah para elit antar dua daerah duduk bersama membahasnya di ruang terbatas tanpa perlu mengumbar ke ruang publik, pungkasnya mengatakan.

Seperti diketahui sebelumnya, persoalan gaduh antar elit duo daerah ini berawal dari cuitan beberapa Fraksi DPRD Kabupaten Limapuluh Kota dalam sidang Paripurna yang mengatakan jika tetangga mereka Kota Payakumbuh telah jelas jelas mencaplok wilayah serta aset daerah mereka.

DPRD Kabupaten Limapuluh Kota dengan jelas juga mengatakan jika Pemko Payakumbuh dengan tanpa izin mengambil wilayah mereka dan meminta agar Bupati segera mengambil tindakan tegas atas prilaku tidak terpuji tersebut.

Terang saja cuitan serta statmen beberapa fraksi DPRD Limapuluh Kota yang dibawa ke rfuang publik membuat tetangga mereka menjadi tersinggung berat.

Walikota Payakumbuh, Riza Falepi, melalui rilis persnya membantah jika pihaknya telah melakukan aksi pencaplokan wilayah seperti yang dituduhkan. Bahkan dirinya menganggap cuitan serta statmen DPRD Limapuluh Kota tersebut hanyalah sebagai bentuk dari lucu lucuan belaka dan tanpa dasar.

Dalam rilis persnya tersebut, Riza menjelaskan jika soal tapal batas tersebut telah final dan telah menjadi ketetapan Kemendagri. Harusnya DPRD setempat mempertanyakan itu kepada pusat, dan bukan melempar tudingan ke Payakumbuh, jelasnya.

Selain itu, dirinya juga mempertanyakan dimana keberadaan Bupati, Wakil Bupati serta para anggota Dewan mereka yang terhormat tersebut berada saat pihak Kemendagri mengundang mereka dalam membahas keputusan final terkait tapal batas antar duo wilayah, beber Riza dengan serius.

Bola salju pun menggelinding, merasa kebakaran jenggot, cuitan dari orang nomor satu di Kota Payakumbuh tersebut langsung mendapat balasan. sehingga ‘berbalas pantun’ pun dimulai.

Ketua DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, Deni Asra, melalui rilisnya pers, langsung menanggapi cuitan Walikota Payakumbuh dengan mengatakan orang nomor satu di Payakumbuh itu merupakan orang hebat.

Selanjutnya seakan tak mau kalah, ‘pantun’ berbalaspun datang dari Bupati Limapuluh Kota, Safaruddin Dt Bandaro Rajo. Orang nomor satu di pemerintahan Kabupaten Limapuluh Kota tersebut, menjawab pertanyaan Walikota Payakumbuh terkait keberadaan dirinya serta jajarannya saat undangan Kemendagri datang terkait pembahasan tapal batas.

Menurutnya saat undangan perihal pembahasan tapal batas sampai kedirinya, Safaruddin mengatakan jika umur pemerintahannya belum genap 24 jam. Jika Wako Payakumbuh menyalahkan mengenai ketidakhadiran dirinya, jelas keliru. Sebab menurutnya soal pertikaian tapal batas tersebut adalah sesuatu hal yang rinciannya tidak dia ketahui sebelumnya.

Namun sebagai rasa tanggung jawabnya sebagai pucuk pimpinan pemerintahan di Kabupaten Limapuluh Kota, pada hari surat undangan Kemendagri itu datang ke Limapuluh Kota, dia mengumpulkan semua jajaran pemerintah Kabupaten meminta keterangan terkait soal tapal batas yang kabarnya telah 10 tahun dipersoalkan, ujarnya, kepada para awak media. (rd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here