Hasil Reses, Maidestal Sebut Kondisi Sekolah SD Kota Padang Banyak Yang Miris

Reses Anggota DPRD Padang, Maidestal

Sumbartime-Sebagai anggota DPRD Kota Padang, H. Maidestal Hari Mahesa melakukan reses ke daerah pemilihannya. Reses hari pertama, Rabu, 7 Februari 2018, ia laksanakan di Kecamatan Padang Utara.

Sejumlah Kepala Sekolah Dasar (SD), Komite Sekolah, dan Tokoh Masyarakat diundang untuk menghadiri reses tersebut. Pada kesempatan itu, mereka mengadukan kondisi sekolah mereka yang sangat memprihatinkan kepada Ketua Komisi IV DPRD Kota Padang, H. Maidestal Hari Mahesa.

Iklan

Kebanyakan dari mereka mengeluhkan sarana prasarana sekolah yang masih sangat memprihatinkan. Misalnya saja terkait WC sekolah yang tidak ada, kalaupun ada dalam kondisi rusak, atap sekolah yang bocor, mobiler sekolah yang tidak mencukupi dan lain sebagainya.

“Ini yang sangat miris bagi kita sebenarnya. Kenapa? Karena ternyata hampir merata permintaan mereka adalah sanitasi atau WC. WC satu sekolah yang muridnya minimal 100 siswa, hanya dua WC-nya. Bahkan, ada WC itu tidak layak untuk digunakan lagi karena tidak berfungsi,” ujar Maidestal Hari Mahesa kepada wartawan usai pelaksanaan reses tersebut.

Kondisi ini diperparah, jelas pria yang akrab disapa Esa ini, pagar sekolah dan mobiler, seperti kursi dan meja belajar, ruangan kepala sekolah yang tidak ada, mushallanya yang tidak ada. Bahkan, sekolah sering banjir, dan banyak atap sekolah yang bocor.

“Misalnya di SD 22 Ulak Karang, SD Alai, SD 11 Lolong Balanti yang hanya tiga lokal, akibatnya mereka shif-shifan. WC-nya pun tidak ada. Ada lagi sekolah yang pagarnya tidak ada. Ada sekolah yang atapnya bocor. Ada sekolah yang ruang kepala sekolahnya tidak ada, SD 11 dan SD 22. Bahkan ada yang tidak tuntas-tuntasnya, seakan terabaikan, SD yang lokasinya di Ulak Karang, yaitu SD Tanah Air, itu status tanahnya tidak jelas,” ujarnya.

Dikatakan Esa, selaku Ketua Komisi IV, dirinya akan mengupayakan agar hak-hak dasar anak betul-betul terpenuhi di Kota Padang. Karena SD, PAUD dan TK itu merupakan hak dasar dari anak dalam pendidikan, maka harus perhatian dari Pemerintah Kota Padang dan pengambil kebijakan.

“Jangan kita menghabis-habiskan anggaran untuk hal-hal yang sifatnya hanya bisa dilihat kasat mata saja. Sekolah ini sangat penting. Dan sangat paling miris kita, Kepala Sekolah dan Komite disuruh mencari anggaran untuk pembenahan sekolahnya,” cakap Ketua DPC PPP Kota Padang ini.

Ironisnya, kata Esa, malah ada oknum di Dinas Pendidikan Kota Padang yang menyuruh Kepala Sekolah meminta anggaran Pokok-pokok Pikiran (Pokir) anggota dewan. Padahal, tugas Kepala Sekolah dan Komite itu memikirkan sistem belajar mengajar, bukan untuk memikirkan sarana prasarana.

“Minta anggarannya ke mana, kepada anggota dewan. Kok ada oknum Dinas Pendidikan yang menyampaikan seperti itu. Oknum ini menyuruh Kepala Sekolah meminta Pokir anggota dewan. Masa Kepala Sekolah disuruh mencari sarana prasarana,” ungkap Esa.

Padahal, tegas Esa lagi, anggaran pendidikan di Kota Padang, sesuai dengan Undang-undang, 20 persen dari APBD untuk pendidikan. Bahkan Kota Padang sudah hampir mencapai 30 persen.

“Yang sangat miris kita, anggaran itu memang untuk gaji atau tunjangan segela macamnya untuk di sekolah, untuk belanja pegawai. Tetapi di sisi lain, kegiatan-kegiatan itu banyak yang tidak menyentuh kepada sarana prasarana dan proses belajar mengajar,” urainya. ( yendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here