Dunia Sudah Berubah, Bangkitlah @by : Riza Falepi

Novel spektakuler

SumbartimePayakumbuh-Hari hari ini kita ribut soal armada hantu yg disampaikan oleh Prabowo, dan saya rasa kalau kita sebagai bangsa anggap saja itu sebagai wake up call. Selama ini kita ribut mencari pemimpin tapi minus akal sehat, lihat saja survey Eep beberapa tahun yang lalu dan menyatakan kurang dari 10 persen orang memilih karena alasan yang cukup rasional atau masuk akal.

Kalaupun masuk akal kelihatannya kemudian terlambat menyadari bahwa itu adalah lipstick atau pencitraan. Fakta hari ini mungkin juga tidak jauh berbeda dengan survey Eep Saifulah walupun survey nya sudah lama terjadi. Ini akan tetap jadi masalah kalau dipelihara dan bisanya bermuara pada rasa frustrasi bahkan bisa berujung revolusi.

Iklan

Saya menangkap pesan Prabowo kira kira seperti itu. Anda bukan saatnya lagi memilih pemimpin yang lemah, walaupun musuh musuh tetap memelihara Indonesia dipimpin oleh bukan orang kuat.

Anda harus memastikan pemimpin di sini adalah orang yang punya akal dan strategi melihat sesuatu dan kemudian membangun kekuatan Indonesia untuk diperhitungkan di tataran global kalau tidak ingin hancur. Bahkan lebih baik berarti walaupun sesudah itu mati, daripada jadi bangsa paria. Itu adalah bahasa puitis Chairil Anwar yang sudah lama mengingatkan kita.

Saatnya Indonesia memilih jalan hidupnya ketika persimpangan jalan terjadi. Inilah bahasa yang tepat ketika kita melihat Indonesia ke depan. Kalau kita lihat hari ini bagaimana begitu cepat berubah. Awal runtuhnya Uni Soviet, US adalah negara yang paling digdaya. Sekitar 80 persen ekonomi dunia dikendalikan US. Hari ini ekonomi dunia 40 persen dikendalikan China.

Belum lagi kebangkitan negara negara berkembang seperti India, Brasil, Turkey, Rusia dan China sendiri yang saat ini mulai menjadi momok bagi barat yang notabene dipimpin US. Gejala gejala ini sudah sangat terasa beberapa tahun belakangan. Bahkan beberapa titik belahan dunia mulai bergolak dan menggambarkan ketakutan barat yang sebentar lagi akan kehilangan hegemoninya.

Power dunia sedang bergeser dari barat ke timur dan ini adalah sunnatullah. Juga sejarah berbicara yang sama, jadi inilah yang ditakutkan barat. Perekonomian barat sejak krisis 2008 sampai hari ini belum tumbuh pada taraf sebaik sebelumnya, bahkan cendrung stagnan. Angkatan kerja dan pemidanya sudah mulai malas dibandingkan bangsa asia.

Sering kita temukan di barat tunawisma yang berpendidikan. Mereka malas dan gengsi bekerja blue colar. Sementara gejala lebih lanjut adalah laut Cina Selatan yang mulai dikuasai oleh negara Tirai Bambu tersebut,di sisi lain Rusia di Eropa Timur bertempur dengan barat, Turkey bertempur di Syria melawan Proxy barat PKK.

Pemilihan umum maupun peristiwa politik di barat juga menggambarkan pilihan rakyat bergerak ke kanan jauh atau Ultra nasionalis. Bahkan bisa kita lihat hari ini bagaimana Trump mereshuffle kabinetnya yang lebih Hawkish, lebih Ultra nasionalis, dan bahkan berencana ingin menghukum Iran dan membatalkan perjanjian nuklir.

Turkey yang anggota NATO pun saat ini mulai dimusuhi barat. Dan aneh bin ajaib adalah koalisi Saudi, UAE, Mesir dan Israel serta US untuk mengangkangi Timur Tengah. Mereka ingin memangkas islam yang demokratis di timur tengah, ingin bersama US memukul Turkey sebagai jembatan Geopolitik barat dan timur untuk mempertahankan hegemoni barat. Tentu lawan barat seperti Rusia, China, Turkey, Iran, Qatar dan Amerika latin juga mengkonsolidasikan diri.

Dengan demikian ketegangan ini akan berlanjut. Dan kita saat ini mau bagaimana? Inilah poin dari buku novel intelijen yang dibahas Prabowo itu sebagai sebuah analisis yang merupakan sebuah pra kondisi dan bisa berujung kepada perang dunia ke 3. Inilah maksud dunia dalam perubahan dan bahkan perubahannya sangat cepat.

Pemimpin Turkey, Rusia, China bahkan sebagian pengamat internasional meyakini kondisi ini namun ketika Prabowo bicara untuk mengingatkan kita dengan buku Ghost Fleet P.W. Singer dan August Cole tersebut justru kita tertawa seolah olah besok ada Tsunami tapi kita tak tahu. Untuk itu merenunglah bangsa ini, apakah kita masih sepakat sebagai bangsa Indonesia atau apakah nanti tinggal nama atau terjajah lagi oleh sejenis VOC baru.

Kembali ke survey Eep tersebut, mayoritas kita bangsa Indonesia tentu akan mengaanggap aneh Wake Up Call Prabowo, bahkan respon SBY yang menyatakan tidak bisa dijadikan acuan Indonesia bubarpun, sebagai ahli strategi tidak bernilai apa apa terhadap penguatan Indonesia di mata pergaulan dunia, kecuali dia di ingat sebagai mantan presiden, tetap kita masih bangsa pinggiran.

Kita juga belum pernah melihat selain Sukarno Presiden berikutnya yang mau menjaga martabat bangsanya dengan konsekuensi lepas jabatan, harta dan bahkan nyawa. Kita saat ini merindukan nahkoda yang kuat untuk membawa Indonesia kembali menjadi power dunia.

Zaman Soekarno walau kita miskin tapi kekuatannya diperhitungkan karena kekuatan militer kita No 2 terbesar di Asia saat itu, dan KITA saat itu lebih merdeka. Kita tidak ingin melahirkan Presiden festival di mana kita hanya bagian dari skenario power dunia, bukan lagi berdiri di kaki kita sendiri seperti yang ditegaskan Soekarno.**

  • Penulis adalah Walikota Payakumbuh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here