Ada Dugaan Permainan Kejahatan Dunia Pendidikan di MTSN Koto Nan Ampek Payakumbuh?

gambar ilustrasi

SUMBARTIME.COM-Bak api dalam sekam, dan sewaktu waktu akan  siap membakar, fenomena persoalan dunia pendidikan di Kota Payakumbuh seakan akan tak pernah habisnya.

Dari hasil investigasi di lapangan, ditenggarai sebuah sekolah yang cukup bonafit setingkat SLTP di kota Payakumbuh diduga telah terjadi permainan yang dianggap telah merugikan para peserta didik terutama siswa serta wali murid itu sendiri.

Iklan

MTSN Koto Nan Ampek yang digadang gadangkan sebagai sekolah sarat prestasi di Kota Payakumbuh disinyalir dan diduga telah melakukan praktek kejahatan di dunia pendidikan yang terorganisir.

Diduga dengan modus menerima siswa tahun pelajaran baru sebanyak banyaknya hingga mencapai belasan lokal serta isi peserta didik yang melebihi muatan lokal dinsinyalir untuk meraup rupiah dari uang sumbangan para peserta didik baru yang belajar dan menuntut ilmu di sekolah Madrasah tersebut.

Anehnya menurut data dari tahun pelajaran 2016, perekrutan serta penerimaan siswa baru mencapai 10 lokal untuk katagori kelas 7, namun pada tingkat kelas 8 pada tahun berikutnya menciut menjadi 8 lokal, dan selanjutnya pada kelas 9 hanya menjadi 6 lokal.

Artinya, menurut beberapa sumber, telah terjadi penciutan siswa pada tingkat kelas 9 hampir separoh dari  jumlah penerimaan siswa yang rata rata per lokal  pada kelas 7 di isi sebanyak 42 siswa.

Penciutan lebih dari separo siswa tersebut yang menjadi kejanggalan bagi para pengamat dunia pendidikan di Kota Payakumbuh.  Para pemerhati dunia pendidikan mengaku heran kemana perginya separoh siswa yang pernah mendaftar dan belajar pada kelas 7 di MTSN Koto Nan Ampek tersebut.

Menurut pemerhati, ada dugaan kejanggalan sedang terjadi di MTSN Koto Nan Ampek terkait penyusutan massal siswa yang belajar di sekolah tersebut. Jumlah siswa saat awal masuk berjumlah total sebanyak 420 orang, namun pada kelas 9 telah menjadi 210 siswa. Mereka mempertanyakan kemana separo lebih siswa yang pernah diterima dan menempuh pendidkikan di sekolah yang terkenal cukup bonafit tersebut.

Diwaktu yang bersamaan, salah seorang Kepala Sekolah SMP Negri di Kota Payakumbuh, dengan hati hati dia menyebutkan bahwa ada kesepakatan tak tertulis sesama sejawat jika mereka tidak mau menerima siswa buangan (pindahan) dari MTSN Koto Nan Ampek Payakumbuh tanpa mau menjelaskan secara rinci apa maksud jelasnya.

Terpisah dari pengakuan seorang siswa berinisial Buyung bersama dengan orang tuanya mengaku dirinya sedang mencari sekolah baru setelah secara halus ‘dipaksa’ pindah oleh pihak MTSN.

Menurut pengakuan Buyung dirinya sudah tidak kerasan lagi sekolah di MTSN Koto Nan Ampek. Alasan dirinya pindah dari sekolah tersebut, karena selalu mendapatkan teror dari pihak sekolah sehingga membuat dia jarang masuk dan malas sekolah.

Alhasil karena jarang sekolah banyak tugas sekolah yang tidak tuntas sehingga diduga oinilah penyebab alasan dirinya diminta keluar dari sekolah yang bersangkutan, ujarnya yang dibenarkan oleh orang tuanya sendiri.

Hal yang sama juga terjadi pada siswa siswa lain yang telah terlebih dahulu keluar dari MTSN dan terpaksa pindah ke Kabupaten Limapuluh Kota demi mensukseskan program pemerintah wajib belajar 9 Tahun. Dari pengakuan beberapa sumber praktek ini telah terjadi sedikitnya sejak 6 tahun lalu sampai sekarang.

Diduga ada praktek penerimaan siswa baru dengan sebanyak banyaknya hingga konon kabarnya tahun ajaran ini mencapai belasan lokal dengan rata rata 40 orang per lokal demi mengejar fulus atas nama sumbangan pembangunan sekolah masing masing persiswa sebesar 1 Juta Rupiah, ujar beberapa sumber.

Ketika kebenaran dugaan tuduhan tersebut di klarifikasi serta tanggapan diminta dan dihubungi kepada pihak sekolah MTSN Koto Nan Ampek melalui WA Kepala Sekolahnya, sampai berita ini diturunkan awak media belum mendapatkan balasan. (aa)