Sumbartime – PADANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat mencatat perkembangan ekonomi daerah sepanjang Mei 2026 menunjukkan sejumlah perubahan pada berbagai sektor. Salah satunya, inflasi Sumatera Barat pada Mei 2026 mencapai 0,90 persen secara bulanan atau month-to-month (m-to-m).
Berdasarkan data BPS Sumatera Barat yang dirilis 2 Juni 2026, inflasi secara tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) tercatat sebesar 0,47 persen. Sementara itu, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, inflasi secara tahunan atau year-on-year (y-on-y) mencapai 3,91 persen.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan angka 1,73 persen dan memberikan andil sebesar 0,58 persen. Komoditas yang paling berpengaruh dalam kelompok tersebut adalah cabai merah.
Selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga mengalami inflasi sebesar 1,57 persen dengan andil 0,17 persen. Komoditas yang menjadi penyumbang utama pada kelompok ini adalah nasi dengan lauk.
BPS juga mencatat beberapa kelompok pengeluaran lainnya mengalami inflasi, yakni pakaian dan alas kaki; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga; perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga; kesehatan; transportasi; informasi, komunikasi dan jasa keuangan; serta rekreasi, olahraga dan budaya.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi, sedangkan kelompok pendidikan tercatat tidak mengalami perubahan selama Mei 2026.
Untuk wilayah kabupaten/kota yang menjadi daerah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), seluruhnya mengalami inflasi secara bulanan. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 1,03 persen, kemudian Kota Padang 0,92 persen, Kabupaten Dharmasraya 0,91 persen, dan Kota Bukittinggi sebesar 0,44 persen.
NTP Sumbar Naik 3,93 Persen
Di sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) Sumatera Barat pada Mei 2026 tercatat sebesar 130,73. Angka tersebut meningkat 3,93 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan NTP dipengaruhi oleh peningkatan harga hasil produksi petani yang mencapai 5,17 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya kebutuhan konsumsi, biaya produksi, serta penambahan barang modal yang tercatat sebesar 1,20 persen.
Peningkatan NTP terutama terjadi pada subsektor hortikultura dan tanaman perkebunan rakyat. Sebaliknya, subsektor tanaman pangan, peternakan, dan perikanan mengalami penurunan.
Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) Sumatera Barat pada Mei 2026 mencapai 137,36 atau meningkat 4,90 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi tersebut dipengaruhi kenaikan harga hasil produksi petani sebesar 5,17 persen, lebih tinggi dibandingkan peningkatan harga penambahan barang modal yang hanya 0,26 persen.
Kunjungan Wisman ke Sumbar Menurun
Pada sektor pariwisata, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pada April 2026 tercatat sebanyak 5.730 kunjungan.
Jumlah tersebut turun 3,99 persen dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 5.968 kunjungan. Secara kumulatif selama Januari hingga April 2026, kunjungan wisman melalui BIM mencapai 22.375 kunjungan, atau turun 14,66 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Untuk wisatawan nusantara (wisnus), jumlah perjalanan menuju Sumatera Barat pada April 2026 mencapai 1,89 juta perjalanan. Angka tersebut turun 32,52 persen dibandingkan Maret 2026.
Secara kumulatif, jumlah perjalanan wisnus selama Januari-April 2026 mencapai 8,06 juta perjalanan, turun 36,79 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Sementara tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang pada April 2026 tercatat 45,82 persen, naik 2,92 poin persentase dibandingkan Maret yang berada di angka 42,90 persen. Sebaliknya, TPK hotel nonbintang turun 3,25 poin persentase menjadi 17,83 persen.
Penumpang Pesawat Domestik Turun
BPS juga mencatat perkembangan transportasi di Sumatera Barat. Penumpang penerbangan domestik yang berangkat melalui BIM pada April 2026 sebanyak 86,76 ribu orang, turun 6,11 persen dibandingkan Maret yang mencapai 92,40 ribu orang.
Jumlah penumpang domestik yang datang juga mengalami penurunan cukup besar. Pada April 2026 tercatat sebanyak 67,39 ribu orang, atau turun 41,80 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Untuk penerbangan internasional, penumpang yang berangkat melalui BIM mencapai 17,81 ribu orang atau naik 13,40 persen dibandingkan Maret 2026. Sementara penumpang yang datang tercatat 15,27 ribu orang, turun 21,04 persen.
Pada angkutan laut dalam negeri, jumlah barang yang dimuat mencapai 227,40 ribu ton atau turun 34,55 persen dibandingkan Maret. Sementara barang yang dibongkar justru meningkat 9,61 persen, dari 321,06 ribu ton menjadi 351,91 ribu ton.
Adapun jumlah penumpang yang berangkat menggunakan kereta api pada April 2026 mencapai 202,28 ribu orang, meningkat 7,35 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, jumlah barang yang diangkut melalui kereta api turun 29,53 persen secara bulanan.
Ekspor Sumbar Tembus US$1,03 Miliar
Dari sektor perdagangan luar negeri, nilai ekspor Sumatera Barat sepanjang Januari-April 2026 mencapai US$1.035,18 juta. Nilai tersebut meningkat 30,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebesar US$794,92 juta.
Kenaikan ekspor terutama didorong sektor industri pengolahan yang tumbuh 31,91 persen. Lima negara yang menjadi tujuan utama ekspor Sumatera Barat selama periode tersebut adalah India dengan nilai US$267,06 juta, Pakistan US$177,39 juta, Myanmar US$120,59 juta, Tiongkok US$119,76 juta, dan Mesir US$107,96 juta.
Tiga komoditas utama ekspor Sumatera Barat adalah golongan lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15), karet dan barang dari karet (HS 40), serta berbagai produk kimia (HS 38). Ketiganya masing-masing memberikan kontribusi sebesar 84,94 persen, 3,51 persen, dan 3,31 persen.
Di sisi impor, nilainya mencapai US$364,46 juta pada Januari-April 2026, meningkat 187,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama berasal dari impor bahan baku dan bahan penolong yang secara kumulatif naik 174,96 persen.
Negara asal impor terbesar Sumatera Barat selama periode tersebut adalah Singapura dengan nilai US$247,20 juta, Malaysia US$59,03 juta, Argentina US$19,15 juta, Kanada US$15,54 juta, dan Australia US$7,26 juta.
Sementara tiga komoditas utama impor adalah bahan bakar mineral (HS 27) dengan share 83,55 persen, ampas atau sisa industri makanan (HS 23) sebesar 6,36 persen, serta pupuk (HS 31) sebesar 4,21 persen.
Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Sumatera Barat pada Januari-April 2026 mencapai US$670,71 juta. Nilai ini meningkat sekitar US$2,42 juta dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebesar US$668,30 juta.
Data tersebut menunjukkan perkembangan ekonomi Sumatera Barat pada awal 2026 bergerak beragam, mulai dari kenaikan inflasi dan nilai tukar petani hingga peningkatan ekspor, sementara sejumlah indikator pariwisata dan transportasi mengalami penurunan secara bulanan maupun tahunan.

















