Oleh: Teddy Chaniago
PARIAMAN — Ada yang berbeda dari sudut perempatan jalan dekat lampu merah di tengah Kota Pariaman. Bukan karena macet, bukan pula karena razia kendaraan. Perhatian warga justru tersedot ke sebuah kedai kopi kecil yang belakangan ini seolah berubah menjadi “kantor darurat pengamat negara”.
Di sana duduk seorang lelaki paruh baya dengan gaya yang sulit dijelaskan: baju nyentrik, sepatu veteran yang konon sudah menemaninya lebih dari satu dekade, dan sebatang rokok yang berpindah-pindah di antara jemari seperti mikrofon orator jalanan.
Mulutnya komat-kamit tanpa jeda. Kadang terdengar seperti sedang berkhotbah, kadang seperti sedang berdebat dengan kabinet bayangan yang hanya ia lihat sendiri. Dari kedua lubang hidungnya, asap rokok menyembur bak lokomotif kereta uap zaman kolonial.
Warga kedai menyebutnya, Ajo Nursal, atau lebih populer dengan panggilan Wali.
Sejak musim panas datang dan hasil panen tak lagi menjanjikan, langkah hidup Wali terasa makin tak tentu arah. Mata memerah karena begadang, kopi teh talua tak pernah jauh dari meja, dan rokok seolah menjadi alat bantu berpikir.
Kalimat yang paling sering keluar dari mulutnya sederhana, tetapi penuh beban filosofis:
“Antahlah, paniang den…”
Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia: “Entahlah, pusing aku.”
Awalnya banyak yang mengira Wali sedang pusing soal utang, soal keluarga, atau soal harga cabai. Ternyata dugaannya jauh meleset. Setelah diselidiki ala intelijen kedai kopi, pria yang sehari-hari nongkrong di Kadai Teh Talua Simpang Madin itu ternyata sedang memikirkan nasib Indonesia.
“Sedih saja saya melihat kondisi Indonesia saat ini. Puluhan kepala daerah dan pejabat tinggi negeri masuk kandang situmbin,” katanya sambil menatap jauh ke arah lalu lintas, seolah sedang membaca berita nasional di awan.
Padahal, secara pribadi Wali bukan orang gagal-gagal amat. Ia disebut sukses menjadi panitia Festival Tabuik dan bahkan berhasil memancing puluhan ekor mujair dari sungai di depan rumahnya, prestasi yang di lingkungan tertentu sudah cukup untuk diusulkan menjadi menteri perikanan keluarga.
Namun setiap kali melihat peta Indonesia, wajahnya kembali muram.
Belum lagi urusan ekonomi dan politik yang menurutnya “makin tak jelas bentuknya”. Kenaikan harga Pertamax membuatnya mengambil langkah ekstrem: lebih sering bersepeda onthel, bahkan sesekali berjalan kaki.
“Bensin naik, kaki masih gratis,” ujarnya datar, disambut tawa pengunjung kedai.
Menariknya, di tengah segala kegelisahan itu, ada satu hal yang masih bisa membuat Wali tertawa lepas. Bukan bantuan sosial, bukan diskon listrik, dan bukan pula janji politik.
“Melihat Messi menangis karena gagal juara dunia, itu baru hiburan,” katanya sambil berjingkrak kecil, meski diakuinya ia tidak terlalu suka sepak bola.
Filosofi hidup Wali pun terdengar sederhana dan nyaris menyentuh.
“Biarlah tak kaya dan hidup mewah. Bagi saya, hidup pas-pasan jauh lebih bernilai.”
Pengunjung kedai sempat mengangguk setuju. Suasana mendadak hening dan terasa seperti seminar motivasi gratis. Namun ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik.
Ketika ditanya apa arti “pas-pasan” menurut versinya, Wali menjawab tanpa dosa:
“Kalau mau beli rumah duitnya pas, beli emas duitnya pas, mau pelesir duitnya juga pas.”
Seisi kedai langsung melongo. Ada yang tersedak teh talua, ada yang menepuk meja, dan ada yang mulai curiga bahwa standar “pas-pasan” Wali mungkin sedikit berbeda dengan rakyat kebanyakan.
Di tengah hiruk-pikuk negeri yang sering membuat kepala berdenyut, Ajo Nursal barangkali bukan sekadar penganggur kedai kopi. Ia adalah potret kecil kegelisahan orang biasa: panen seret, ekonomi sempit, politik bikin pening, tetapi humor tetap hidup.
Dan mungkin, di antara asap rokok, teh talua, dan suara kendaraan di simpang Kota Pariaman, terselip satu kesimpulan yang diam-diam disetujui banyak orang:
Kadang yang paling waras di negeri ini justru orang yang berani berkata, “Antahlah, sakik kapalo den…”




















