• AD ART Sumbartime.com
  • Advertorial
  • Disclaimer
  • Home
  • Home
  • Iklan
  • Pedoman Berita
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Visi Misi
Sumbartime.com
Advertisement
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Sumbartime.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Sumbar
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Nasional
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Video
  • Wisata
ADVERTISEMENT
Home Cerbung

TIKAM SAMURAI 244

Sumbar Time by Sumbar Time
22 Agustus 2021
in Cerbung, Tikam Samurai
A A
0
0
SHARES
70
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

SUMBARTIME.COM-Dia jawara saat masih menjadi mahasiswa akademi militer Vietnam Utara. Kalau kini ada orang yang demikian besar mulut sanggup mengalahkan kapten itu, sungguh akan menjadi mimpi buruk yang takkan pernah dilupakan oleh si penantang.

ADVERTISEMENT

Jika dia menyatakan mampu mengalahkan si kapten dengan tangan dan kaki terikat, peristiwa ini tak hanya akan menjadi sekedar mimpi buruk, tetapi suatu tindakan bunuh diri. Atau apakah orang ini sengaja ingin bunuh diri karena tak tahan menderita selama di tahanan, dan lebih tak tahan lagi menghadapi siksaan di hari-hari berikutnya?

ADVERTISEMENT

Jika itu yang dia inginkan, maka keinginannya itu pasti bisa dia dapat dalam waktu takkan kurang dari lima menit. Cara dia membuat si kapten menjadi lahar amarah, memang jalan tersingkat menuju kematian. Kapten Bunh Dhuang yang amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun, tak ingin membuang waktu sedikit pun.

Sebenarnya, jika dapat dia ingin lelaki yang kini dalam posisi terikat kedua tangannya itu dia telan dengan rambut-rambutnya sekalian. Demikian marah dan bencinya dia pada lelaki tersebut. Usahanya untuk membunuh lelaki tersebut sebenarnya sudah dia lakukan dengan dua tendangan ketika si lelaki terikat dengan kepala ke bawah.

BacaJuga

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021

Tendangan pertama menghajar dadanya, yang menyebabkan lelaki itu muntah darah. Dia ingin saat itu lelaki yang sudah mengobrak-abrik markas mereka itu tidak hanya sekedar muntah darah.

Dia berharap yang dimuntahkannya adalah jantung, hati dan parunya sekaligus! Mampus sekalian. Karena tendangan pertama ke dada hanya menyebabkan muntah darah, dia menendang lagi untuk kali kedua, dengan sepenuh kekuatan dan keahlian menendang yang dia miliki. Dengan tendangan kedua itu dia berharap otak lelaki tersebut berhamburan.

Dia ingat pada suatu hari yang amat kritis, di mana dia berserobok dengan seekor harimau yang akan menerkamnya. Dia tendang kepala harimau besar itu sekuat tenaga dan secepat kemampuannya. Akibatnya harimau itu mati dengan mulut, hidung dan telinga bersemburan darah.

Itu bukan mengada-ngada. Kapten Bunh Dhuang memang memiliki keahlian beladiri yang nyaris tak ada tandingannya dalam pasukan Vietnam. Kini dia berhadapan kembali dengan lelaki yang hanya koma setelah dia tendang dua kali tempo hari.

Mereka tegak berhadapan. Dia lihat lelaki itu tegak menyamping padanya. He… he… dia coba-coba memasang kuda-kuda, pikir si kapten yang merasa geli melihat usaha lelaki kurus itu. Mata­nya menatap kepada para perwira dan prajurit yang berada dalam ruangan berukuran sekitar 7 x 7 meter persegi itu.

Tiba-tiba saja timbul niatnya untuk memberikan tontonan yang menarik, sekaligus mendemonstrasikan kemahiran beladirinya. Dia akan malu juga kalau orang ini mati, sementara tangan dan kakinya terikat. Dia pasti akan dicemooh memukuli orang yang dalam keadaan terikat.

“Buka ikatannya…” ujar si kapten kepada Lok Ma.
“Jangan, engkau takkan mampu menyentuh ujung bajuku sedikit pun, kalau ikatan ini dibuka, kapten…” potong si Bungsu sebelum Lok Ma sempat berdiri.

Ucapan si Bungsu itu, yang jelas-jelas mempermalukan dan sekaligus menganggap dirinya remeh, membuat amarah si kapten benar-benar sampai di batas. Tanpa membuang waktu lagi dia mengirimkan sebuah pukulan lurus ke telinga lelaki yang sejak tadi menyombong terus itu.

Si Bungsu tetap tegak dengan posisi agak menyamping. Pukulan yang lurus mengarah ke wajahnya itu dia biarkan mendekat. Dan dalam jarak yang sudah diperhitungkan, dia mengibaskan kayu yang melintang tempat kedua tangannya terikat. Terdengar suara berdetak.

Kapten Bunh Dhuang meringis. Kepalan tangannya yang memukul, persis di buku-buku jari, kena kibasan sudut kayu sebesar lengan yang tersandang di bahu lelaki tersebut. Ketika dia lihat dua buku jarinya, yaitu buku jari tengah dan buku jari telunjuk, kelihatan terkelupas dan darah meleleh dari sana! Orang-orang pada terbelalak diam.

Si kapten kembali melancarkan dua pukulan beruntun yang amat cepat. Namun hanya dengan merobah posisi kakinya sedikit, kedua pukulan itu lagi-lagi dikibas dan kena hantam, oleh kayu yang melintang di bahu si Bungsu!

Kini kedua buku tangan si kapten terkelupas dan berdarah. Kapten itu menggeram. Tetapi kekuatannya memang luar biasa. Kendati buku-buku kedua tangannya sudah terkelupas dan berlumuran darah, dengan pekik penuh marah dia kembali melakukan serangan cepat dan berkali-kali.

Kaki si Bungsu seperti mencengkam tanah. Bergeser sedikit ke kiri dan ke kanan. Sementara kayu sebesar lengan, yang panjangnya sekitar sedepa, yang melintang di bahunya dengan efektif sekali dia pergunakan untuk menangkis.

Tidak hanya menangkis, bahkan balik menyerang kedua kepalan si kapten yang datang seperti baling-baling ke arah wajah, kepala dan bahunya. Kayu itu seperti bermata dan bernyawa, yang bisa memapas setiap pukulan si kapten.

Belasan kali Kapten Bunh Dhuang menyerang dengan bentakan-bentakan keras, dan belasan kali pula serangannya tidak hanya tak satu pun pukulannya yang berhasil “menyentuh ujung baju” si Bungsu, malahan kedua tangannya yang memukul tetap saja kena sabet kayu di bahu lelaki itu. Sampai suatu ketika, terdengar suaranya demikian keras.

Orang tak tahu apakah suaranya masih bentakan atau pekikan. Jika pekik, orang juga tak tahu persis apakah pekik marah sembari melancarkan serangan dengan jurus maut, atau pekik itu karena kesakitan.
Bentuk pekik keras Bhun Dhuang baru menjadi jelas tatkala dia terlompat mundur beberapa langkah. Orang-orang pada merinding melihat kedua kepalan tangan si kapten, yang besarnya nyaris sebesar buah kelapa kuning, benar-benar berlumur darah.

Tidak hanya itu, bulu tengkuk mereka merinding melihat kedua pergelangan tangan kapten tersebut terkulai. Pada masing-masing pergelangannya kelihatan sebuah bengkak merah kebiru-biruan sebesar telur bebek. Yang membuat mereka hampir tak bisa mempercayai penglihatan mereka adalah posisi lelaki dari Indonesia yang kedua tangannya terikat itu.

Diserang demikian dahsyat dari segala penjuru, tubuhnya ternyata tak pernah bergeser dari tempat berdirinya semula, di dekat kursi yang remuk kena tendang si kapten. Bekas jejak kakinya di lantai tanah memperlihatkan bahwa dia hanya menggeser tegak di radius setengah meter.

Sekeras apapun si kapten berusaha mendesaknya, paling-paling dia hanya menggeser kaki kanan ke samping, kemudian meliukkan atau memiringkan badan sebagai jurus mengelak yang amat tangguh. Begitu pukulan si kapten hampir menerpa wajahnya, kayu sebesar lengan yang di bahunya memapas pukulan itu dengan keras.

Setiap tangkisan atau papasan ujung kanan atau ujung kiri kayu itu, hampir bisa dipastikan selalu menghantam dua tempat secara persis. Jika tidak buku-buku jari yang terkepal, pastilah pergelangan tangannya.

Pekik keras terakhir ternyata disebabkan rasa sakit yang luar biasa, tatkala si Bungsu menghantam secara keras dan telak kedua pergelangan tangan si kapten. Menyebabkan persendian kedua pergelangan tangan itu retak dan lepas!

ADVERTISEMENT

Hanya sesaat kapten Bunh Dhuang yang tubuhnya seperti gorilla itu tertegun. Saat berikutnya dia menyerang. Barangkali semula dia merasa tak perlu memakai kaki, dengan kedua kepala tangannya yang seperti martil itu, menurut dia, dia bisa meremukkan wajah dan rusuk lelaki dari Indonesia ini.

Namun ternyata selain memang tidak bisa menyentuh tubuh lelaki tersebut sedikit pun, kedua tangannya justru dibuat lumpuh. Kini, kendati terlambat, dia menyerang dengan tendangan yang amat terlatih dan dengan kekuatan penuh. Namun orang yang dia hadapi benar-benar tidaklah takabur ketika mengatakan bahwa kapten itu “takkan pernah mampu menyentuh ujung bajunya sekalipun”.

Kini ucapannya yang semula terdengar takabur itu dibuktikan orang itu. Ketika kaki kanan si kapten baru saja terangkat beberapa jari dari tanah, sebelum digerakkan ke depan dalam bentuk sebuah tendangan yang amat keras, tubuh si Bungsu berputar dua kali.

Tiba-tiba saja ujung kanan kayu tempat t­ngannya diikat, menempel di tenggorokan si kapten. Kapten itu dengan terkejut membatalkan tendangannya. Dia menelan ludah dengan susah payah. Ujung kayu itu tidak disodokkan, hanya ditempelkan begitu saja persis ke jakunnya.

Dia tidak tahu bagaimana orang ini bergerak dengan cepat dan menempelkan ujung kayu itu ke lehernya tanpa dapat dia ketahui sedikit pun! Ada beberapa saat mereka saling menatap. Kemudian si Bungsu memutar tegak, dan ujung kayu itu lepas dari leher di bawah dagu si kapten.

Dia membelakang bulat kepada si kapten. Dan kapten itu tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Sebuah tendangan menyamping dia arahkan ke tengkuk lelaki yang membelakanginya itu. Semua orang seperti terhenti bernafas. Namun hanya selisih sekian detik si Bungsu memiringkan tegak dan kakinya bergeser mendekat si kapten.

Tendangan maut itu lewat hanya dalam ukuran sejari dari hidung si Bungsu. Namun karena tubuhnya sudah mendekat ke arah si kapten, ketika tendangannya ditarik kaki kapten itu tersangkut di bahu si Bungsu.

Pada saat yang sama, ketika sebelah kaki si kapten tersangkut di bahu kanan si Bungsu ujung kayunya menohok persis di bawah hidung si kapten. Ujung kayu itu tertempel di bibirnya. Tiap kepalanya mencoba miring ujung kayu itu tak pernah lepas. Lengket seolah-olah ada lem di sana.

Si kapten tak bisa menggerakkan kepalanya terlalu jauh, karena sebelah kakinya masih tertahan di bahu si Bungsu. Dia hanya berdiri dengan kaki kiri. Terjingkat-jingkat seperti orang bodoh. Lalu detik berikutnya, si Bungsu melepaskan tekanan ujung kayu itu dari bawah hidung si kapten.

Pada detik yang hampir bersamaan dia membungkuk. Kaki kanan kapten itu terbebas. Namun dalam gerakan yang amat cepat, ujung kiri-kanan kayu di bahu si Bungsu secara bergantian ‘menetak’ dengan cepat beberapa tempat di tubuh si kapten.

Mula-mula menusuk persis ke hulu hati di dadanya. Kemudian dia berputar, ujung kayu itu menetak pelipis kanan. Lalu dia berputar lagi, ganti kini ujung yang satu lagi menetak tengkuk. Sekali putar lagi, ujung yang satu menetak pelipis kiri. Lalu si Bungsu menggeser kakinya dengan amat cepat. Kini dia tegak dengan kaki dan tubuh lurus dua depa di hadapan si kapten.

Semua orang, termasuk si kapten dan semua perwira yang menyaksikan peristiwa itu, dibuat tak bergerak sedikit pun. Semua orang tahu, sebuah tusukan ujung kayu ke hulu hati dan tiga tetakan ke pelipis kiri dan kanan serta ke tengkuk si kapten, jika dilakukan dengan kekuatan penuh, tidak hanya ditempelkan sedikit seperti yang terjadi, pasti sudah mencabut nyawa si kapten. Semua mereka tahu itu. Orang ini ternyata melakukan demonstrasi beladiri yang luar biasa hebatnya.

Si Bungsu tegak dengan diam, dengan sikap yag amat tenang. Tak ada ekspresi kelelahan mau pun kesommbongan sedikitpun. Gerakannya yang demikian cepat sejak menangkis pukulan si kapten sampai gerakan terakhir, seperti tak meninggalkan bekas lelah sedikit pun pada dirinya. Sementara si kapten tegak dengan nafas memburu.

Mereka berdua saling menatap. Akhirnya overste yang menjadi komandan di pasukan itulah yang memecahkan kesunyian dengan bertepuk tangan. Diikuti para perwira, kemudian oleh semua tentara Vietnam yang ada di rumah besar itu.

Mereka benar-benar belum pernah menyaksikan pertarungan dengan ketangguhan individu demikian hebat. Si kapten, untuk pertama kali dalam hidupnya, merasa benar-benar merasa ditaklukkan.

Pada tusukan pertama saja, tatkala ujung kayu itu ditusukkan ke hulu jantungnya, lelaki itu sudah bisa membunuhnya. Ujung kayu itu tidak hanya menyentuh sebuah titik kematian di tubuh si kapten, tetapi empat titik dalam jarak waktu yang hanya hitungan detik.

Jika dia memiliki empat nyawa,maka sebenarnya kini empat nyawa nya itu telah melayang di ujung kayu lelaki tangguh itu.Orang-orang pada berhenti bertepuk tangan,tatkala si Kapten merapatkan kedua kakinya,berdiri lurus menatap si Bungsu.Kemudian membungkukkan badan,memberi hormat sebagaimana layaknya karateka atau judoka bersikap kepada orang yang mereka hormati.Lalu dia berbicara dengan bahasa Vietnam yang di tujukan pada si Bungsu.

“Anda benar-benar tangguh.Terimakasih anda sudah mengajar saya bagaimana seharusnya bersikap satria.Terimakasih,anda telah mengampuni nyawa saya…”

Si Bungsu tertegun.Tak di sangka kapten itu akan berbuat dan berkata begitu.Dia balas sikap kapten itu juga dengan tegak lurus,kemudian dengan tangan yang masih terikat di kayu itu,dia membungkukkan badab membalas penghormatan yang di berika padanya.
Dengan kejujuran kemudian dia berkata dengan bahasa inggris,yang di terjemahkan lok Ma untuk si kapten,dan untuk semua yang hadir di rumah tersebut.

“Andalah yang telah menyelamatkan nyawa saya.Ketika saya di gantung dengan kepala kebawah.Anda bisa saja membunuh saya dengan peluru atau pisau.Namun hal itu tidak anda lakukan.terimakasih atas kemurahan hati anda kapten…”

Kapten itu membalas penghormatan itu beberapa kali dan kemudian menghadap pada si overste yang jadi komandannya.Bicara dalam bahasa Vietnam.Tak satupun ucapan si kapten di terjemahkan Lok Ma.Overste itu menanyakan sesuatu.Kemudian overste itu bicara pada si Bungsu.

Tadi anda katakan,bahwa anda bisa menyembuhkan penyakit sipilis dengan ramuan hanya dalam seminggu.Apakah anda masih mempunyai obat itu…”
“Tidak,tetapi saya bisa membuatnya dengan dedaunan yang ada disini…”

Overste itu kembali berbicara dengan si kapten.Kemudian kepada Lok Ma.sersan lok Ma akhirnya mendekati si Bungsu.Memutus kedua tali yang mengikat tangannya,begitu juga yang menikat kakinya.

“Anda menjdai tamu kami,tuan.Sampai beberapa tentara sembuh,setelah itu kami akan mengantarkan tuan ke da Nang atau hanoi..”ujar si overste,sembari
memberi perintah pada Lok Ma.

Yang pertama dilakukan si Bungsu adalah mandi di sungai sepuas-puasnya,di sungai besar dan deras yang terletak tak jauh dari rumah besar tempat dia di interogasi tersebut. Untuk pergi kesungai dia di kawal oleh dua orang tentara bersenjata. Lok Ma memberi dia sepasang pakaian, lengkap dengan sepatu.

Di sungai beberapa orang lelaki dan perempuan terlihat sedang mandi atau mencuci.Mereka pada berhenti sebentar,menatap padanya dengan pandangan heran.

Tapi begitu tertatap pada dua orang tentara yang tegak menjaga,dengan bedil siap tembak di tebing, mereka dengan cepat mengalihkan pandangan dari si Bungsu. Mereka melanjutkan mandi atau mencuci. Kendati sama-sama orang Vietnam, namun penduduk demikian takut pada tentara.

Usai mandi, dari batu yang bermunculan di tepi sungai, si Bungsu memilih segenggam lumut yang warna hijaunya sudah kehitam-hitaman kerena sudah belasan tahun ada disana. Kemudian di jalan kecil antara sungai itu dan perkampungan kecil itu, dia memetik beberapa helai daun. Lumut dan pucuk-pucuk rimba itu dia bungkus dengan daun pisang dan di bawa kebarak. Dia di tempatkan di sebuah barak kecil.

Ada selembar tikar yang dianyam dari bilah-bilah bambu dan sehelai selimut yang bergaris-garis,seperti selimut yang lazim di pakai di rumah sakit. Bedanya, selimut itu sudah compang-camping. Dua orang tentara mengantarkan nasi ransum dengan sedikit daging ikan.

Si Bungsu jadi tahu kalau disini menu utamanya adalah ikan.Saat makan,tentara yang mengantarkan makanan itu berbicara dengan pelan,namu karena tentara itu memakai bahasa Vietnam,jadi dia tak mengerti apa yang dimaksud tentara itu.

Tentara itu membuka baju,dan memperlihat kan lengan nya yang masih berbalut perban.Lalu si tentara menunjuk bedil,menunjuk si Bungsu.Si Bungsu jadi mengerti kalau kedua tentara itu ikut dalam pertempuran di padang lalang itu saat heli datang menjemput tawanan itu. Kedua tentara itu memberi hormat dan mengulurkan tangan.Si Bungsu menatap mereka sejenak,kemudian menyambut uluran tangan tersebut.

“Terimakasih anda tidak membunuh saya,kalau tidak ibu saya akan sangat sedih sekali.Saya anak tunggal…”ujar tentara itu.
Si Bungsu hanya mengerti ucapan kata-kata terimakasihnya saja,karena dia pernah diajarkan oleh Ami Florence.

”Terima kasih kembali..”ujarnya dengan bahasa Vietnam.Setelah itu tentara yang satu nya lagi yang mengulurkan tangan.
“Terimakasih…”katanya sambil membungkuk kan badan sampai dua kali.

Si Bungsu kemabli menjawab”terimakasih kembali’seperti yang pernah diajarkan Thi Binh. Sambil membungkuk kan badan sambil duduk,kemudian kedua tentara itu meninggalkan pondok.S i Bungsu yang tinggal sendiri,segera menyantap nasi dan ikan panggang tersebut dengan lahap.

Nampaknya, dimanapun, ikan segar yang dibakar dan di beri sedikit garam sangat nikmat.Kendati nasi nya dikit,karena ikan bakarnya lumayan besar jadi perut nya kenyang juga,selesai makan dia mengamparkan selimut bergaris itu diatas tikar bambu tersebut.

Kemudian membaringkan badan,sambil pikiran nya melayang pada tentara yang menahannya di barak ini.Lewat ciri mata dan bintik di wajah tentara yang ada di rumah besar tadi juga dua tentara yang mengantar nasi tadi,si Bungsu tahu mereka terkena penyakit Vietnam Rose,sebutan lain dari penyakit sipilis. Dia bertekad untuk menolong mereka semampu nya.Akhirnya karena didera kelelahan dan kekenyangan dia tertidur pulas sekali.

Hari sudah senja,ketika dia di bangunkan oleh Lok Ma.Dia datang dengan ditemanin seorang prajurit,yang tetap siap sedia dengan bedil nya.Lok Ma mengatakan kalau overste ingin bertemu dengannya malam nanti setelah makan malam.

Lok Ma bercerita waktu berjalan ke sungai,kalau sembilan tentara Amerika yang di tawan disini telah di pindahkan,termasuk tawanan yang di kandang babi di sebelah kurungan si Bungsu.
“Balasan?saya hanya melihat sekitar lima orang.Dimana yang lain di tahan ?”
“Mereka dikurung di sungai di belakang kandang babi tersebut.Kurungan mereka jauh lebih parah.Mereka berminggu-minggu di rendam sebatas leher.Makanan di masukan kedalam plastik kemudian di ulurkan dengan tali.Mereka hanya menikmati di daratan ketika di interogasi….”tutur Lok Ma.

“Kemana mereka dipindahkan?”tanya si Bungsu.
Namun begitu pertanyaan itu di ucapkan,dia segera sadar kalau tak ada jawaban dari pertanyaan itu.

“Tidak ada yang mengetahui,kapan para tawanan di pindahkan dan kemana mereka akan di pindahkan. Hanya komandan yang tahu. Perintah pemindahan di berikan secara lisan pada seseorang…”
Si Bungsu hanya mendengar tentang penuturan pemindahan tawanan Amerika itu dengan diam. Beberapa lelaki dan wanita terlihat di hulu maupun di hilir sungai. Bersambung>>>

ADVERTISEMENT
Previous Post

Terlibat Dalam Kasus Pemerkosaan, Pasangan Suami Istri di Bukittinggi Ditangkap Polisi

Next Post

Sebutir Peluru dari Bedil Polisi Hentikan Pelarian Raja Jambret Kota Padang

Sumbar Time

Sumbar Time

Setiap Waktu Bernilai Informasi

BacaJuga

Cerbung

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 257

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 256

22 Agustus 2021
Next Post
Sebutir Peluru dari Bedil Polisi Hentikan Pelarian Raja Jambret Kota Padang

Sebutir Peluru dari Bedil Polisi Hentikan Pelarian Raja Jambret Kota Padang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Justictalk ” Ngobrol santai melek hukum”

https://youtu.be/r3p0YSm3qWE
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

7 Juni 2024
Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

30 Desember 2023
Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

23 Desember 2023
Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

5 Mei 2024

Depósitos protegidos e ganhos instantâneos no casino Bwin para Portugal

0
Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

0
BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

0
Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

0
Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026
Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

25 April 2026
Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

18 April 2026
Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

10 April 2026

Berita Terbaru

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026
Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

25 April 2026
Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

18 April 2026
Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

10 April 2026
ADVERTISEMENT
Sumbartime.com

Sumbartime.com -"Setiap Waktu Bernilai Informasi"

Ikuti Kami

  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.

No Result
View All Result
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer
  • Iklan

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.