• AD ART Sumbartime.com
  • Advertorial
  • Disclaimer
  • Home
  • Home
  • Iklan
  • Pedoman Berita
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Visi Misi
Sumbartime.com
Advertisement
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Sumbartime.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Sumbar
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Nasional
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Video
  • Wisata
ADVERTISEMENT
Home Cerbung

TIKAM SAMURAI 245

Sumbar Time by Sumbar Time
22 Agustus 2021
in Cerbung, Tikam Samurai
A A
0
0
SHARES
69
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

SUMBARTIME.COM-Sungai cukup besar, airnya amat jernih.“Apakah penduduk di sini suka ikan sungai?” tanya si Bungsu pada Lok Ma, yang bersama prajurit berbedil itu mengawasinya dari atas tebing.

ADVERTISEMENT

“Ikan memang makanan utama mereka bersama nasi. Babi biasanya dijual kepada tentara. Atau di bawa ke desa terdekat, biasanya dua sampai tiga hari perjalanan, untuk dijual. Dibawa pakai gerobak dua atau tiga ekor….”

ADVERTISEMENT

“Dengan apa mereka menangkap ikan?”
“Biasanya dengan kail….”
“Anda keberatan kalau saya memberi beberapa ekor ikan segar kepada mereka?” tanya si Bungsu sambil menunjuk pada beberapa wanita dan anak-anak sekitar dua puluh meter di hilir tempatnya.

Lok Ma menatap ke hilir. Beberapa wanita berada di sana. Sesekali mencuri pandang ke arah si Bungsu maupun ke arah Lok Ma.
“Mereka akan senang sekali. Tapi bagaimana engkau memperoleh ikan segar itu?” ujar sersan tersebut sambil menatap pada si Bungsu yang berendam dalam air setinggi dada.

BacaJuga

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021

Si Bungsu menyelam. Hanya beberapa detik, kemudian dia muncul lagi. Dia memperagakan beberapa butir batu sebesar ibu jari kepada Lok Ma.
“Pernah belajar menangkap ikan dengan batu-batu seperti ini…?”
Lok Ma menggeleng.
“Apa bisa?” ujarnya.
“Bisa…!”

Lok Ma menoleh pada prajurit yang menemaninya. Kemudian bicara dalam bahasa Vietnam. Menceritakan bahwa si Bungsu bisa menangkap ikan dengan batu-batu di tangannya itu. Si prajurit menatap ke arah si Bungsu dengan tatapan tak percaya.

Si Bungsu berdiri dan menatap tajam ke air jernih di sekitarnya. Batu-batu kecil itu dia pindahkan ke tangan kirinya. Hanya sebuah yang berada di tangan kanannya. Tiba-tiba dia menyambitkan batu tersebut ke air sekitar dua depa di depannya. Si Bungsu menanti, Lok Ma dan prajurit berbedil itu juga menanti.

“Tak ada yang kena…” ujar si Bungsu sambil tetap mengawasi air di sekitarnya.
Beberapa saat kemudian dia kembali menyambitkan batu ke arah hilir.
“Kena! Suruh mereka yang di hilir itu mengambilnya…” ujar si Bungsu ke arah Lok Ma.

Lok Ma menatap dengan diam ke air. Tak ada apapun yang terlihat. Namun hanya beberapa detik kemudian, dia melihat seekor ikan sebesar betisnya mengapung dengan perut ke atas.

“Hei, ambil ikan itu! Itu ada ikan yang baru kena lempar batu. Ikan itu untuk kalian, ambil… ambil…!” seru Lok Ma.
Para wanita di hilir hanya termangu, tak mengerti. Sementara itu si Bungsu kembali menyambitkan beberapa batu lagi ke air.

Para wanita itu baru ribut dan berceburan ke air setelah melihat dua tiga ekor ikan mengapung di permukaan sungai. Mereka berebut memunguti ikan yang kepalanya pada pecah itu. Lok Ma ternganga, ketika wanita-wanita itu dengan tertawa mengangkat ikan-ikan yang berhasil mereka kumpulkan. Besarnya tak kurang dari sebesar betis lelaki dewasa.

Beberapa lelaki dan wanita yang berada belasan meter di bahagian hulu segera berenang ke hilir. Mereka sampai ke tempat si Bungsu. Si Bungsu kembali menyelam memunguti beberapa batu. Lalu tangannya menyambit dan menyambit lagi. Enam, sampai tujuh ekor ikan sebesar lengan maupun betis pada mati dan berapungan. Penduduk memunguti ikan tersebut.
“Hei, bisa kupinjam pisaumu?” ujar si Bungsu mengejutkan Lok Ma.

Tanpa pikir panjang Lok Ma mencabut pisau di pinggangnya. Kemudian melemparkannya kepada si Bungsu. Si Bungsu menyambut pisau itu. Lalu kembali memperhatikan sungai di sekitarnya. Beberapa saat kemudian dia menyelam. Semua pada terdiam.

Namun dari atas tebing, baik Lok Ma maupun prajurit berbedil itu dapat melihat bayang-bayang tubuh si Bungsu di dalam air sungai yang jernih tersebut. Mereka menatap dengan diam dan penuh tanda tanya, apa yang akan dilakukan lelaki tersebut dengan pisau tajam itu.

Cukup lama Lok Ma melihat si Bungsu menyelam hilir mudik di dalam air. Suatu saat tubuhnya nampak berdiam diri dengan berpegangan pada sebuah batu besar di dalam sungai. Kemudian tiba-tiba tubuh lelaki tersebut meluncur ke hilir dengan cepat.

Tak lama kemudian kepalanya muncul, kedua tangannya terangkat. Lok Ma yang semula duduk mencangkung, sampai tertegak tatkala melihat di kedua tangan lelaki tersebut terpegang seekor ikan yang besarnya tak kurang dari paha lelaki dewasa, pisau komando tentara Amerika milik Lok Ma tertancap di bahagian dada ikan tersebut!

“Wuaw…!” seru Lok Ma.
“Wuaw…..!” seru prajurit yang memegang bedil di sampingnya.
Penduduk menatap lelaki asing itu dengan tercengang. Usahkan melihat, mendengar saja mereka belum pernah.

Tentang orang yang mampu menangkap ikan hanya dengan lemparan batu atau menyelam dengan pisau. Apa yang mereka lihat senja ini adalah suatu hal yang amat menakjubkan.
“Apakah komandanmu suka ikan sungai?” tanya si Bungsu tatkala berjalan pulang dari sungai.
“Dia tak begitu suka ikan. Dia suka daging babi. Tapi semua tentara di sini menyukai ikan. Kita bisa pesta ikan bakar malam ini…” ujar Lok Ma.

Beberapa wanita yang tadi berada di hilir, kemudian berpapasan dengan mereka di jalan menuju kampung, pada mengangguk dengan hormat sembari mengucapkan terimakasih pada si Bungsu. Si Bungsu membalas ucapan terimakasih yang sangat dia hafal itu dengan ucapan “terimakasih kembali” sembari membungkukkan badan.

Wanita-wanita itu tertawa bergumam senang mendengar balasan terimakasih mereka yang diucapkan lelaki asing tersebut dalam bahasa ibu mereka. Beberapa lelaki kampung pada berbisik, kemudian mengangguk kepada si Bungsu.

Mereka, terutama kanak-kanak, pada berbaris mengikuti Lok Ma, si Bungsu dan prajurit yang membawa ikan sebesar paha itu. Ikan itu diikat dengan tali moncongnya lewat insangnya. Kemudian sebuah kayu panjang sedepa diambil dari tepi sungai. Dengan kayu itu, ikan besar tersebut dipikul oleh Lok Ma dan si prajurit.

Cara aneh yang dilakukan si Bungsu menangkap ikan di sungai tersebut segera diketahui seisi kampung. Mereka ramai-ramai ke depan rumah besar yang dijadikan markas komandan tentara di desa ini. Sebelas ikan sebesar betis yang dibawa oleh para wanita dibawa ke markas tersebut.

Si overste yang mendengar ramai-ramai segera keluar. Dia terheran-heran melihat semua penduduk berkumpul di depan markasnya. Dan semakin heran melihat ikan demikian banyak dan yang seekor alangkah besarnya. Lok Ma segera menceritakan bagaimana ikan-ikan itu didapat.

Kemudian seorang lelaki tua, pimpinan desa itu maju. Dia bicara kepada si komandan. Si Komandan mendengar pembicaraan pimpinan desa itu dengan seksama. Kemudian dia mengangguk. Lalu bicara pada masyarakat dan belasan tentara yang ada di depan rumah besar itu.

Semua mereka bertepuk tangan usai si komandan berbicara. Di dalam rumah, kepada si Bungsu si overste bercerita, besok kebetulan Hari raya Tet Salah satu hari raya besar di antara belasan hari raya orang Vietnam tiap tahunnya. Penduduk ingin merayakannya dengan mengadakan hiburan sambil makan-makan bersama. Selain seluruh ikan yang baru diperoleh itu, juga akan dipanggang dua ekor babi sumbangan penduduk.

“Tuan suka babi…?” tanya overste tersebut.
Si Bungsu menggeleng.
“Saya seorang muslim…” ujarnya menjelaskan.
“Oo, moslem. Islam… ya agama Islam melarang makan babi…” ujar overste itu mengingat pelajarannya di Akademi Militer.

“Siang tadi Tuan mengatakan saya menderita penyakit paru-paru yang sudah berat. Dari mana Tuan tahu?”
“Dari wajah dan warna ludah Anda, Overste…” jawab si Bungsu perlahan sambil menatap wajah letnan kolonel itu.

Overste itu menatap si Bungsu beberapa saat, tanpa berkata sepatah pun. Kemudian menunduk. Dan tiba-tiba matanya basah. Dia berusaha menghapusnya. Seperti tak ingin dilihat menangis di depan orang. Namun betapapun dia tak mampu menahan agar matanya tak basah.

“Saya telah membunuh anak-anak saya yang paling saya cintai dengan menularkan penyakit celaka ini. Usia mereka masih terlalu muda untuk mampu bertahan…” ujarnya perlahan dengan suara terdengar bergetar.
“Saya ikut berduka…” ujar si Bungsu perlahan.

“Saya sudah berobat kemana-mana. Tetapi, rokok, minuman keras, heroin dan perang celaka ini tidak hanya menghancurkan hidup saya, juga anak-anak saya yang tertular…” ujar si overste.

ADVERTISEMENT

“Saya pernah belajar membuat ramuan obat, tatkala saya sendirian selama dua tahun dalam belantara di kampung saya. Semula ramuan obat itu saya buat asal-asalan, untuk mempertahankan hidup. Namun setelah mencoba berbagai jenis daun, kulit, akar, getah kayu rumput dan lumut yang ternyata berkhasiat untuk obat.

Lalu ketika saya di Amerika, seorang Indian menambah banyak sekali pengetahuan saya tentang ramuan obat dari lumut, rumput, akar, daun dan getah beberapa jenis kayu lagi. Jika Anda mau mencoba Overste, di sungai tadi saya telah mengumpulkan lumut yang baik sekali untuk obat, berikut beberapa jenis rumput dan daun kayu….”

“Berapa lama ramuan itu bisa se…” pertanyaan overste itu terhenti oleh sedakan batuk yang mula-mula ringan.

Namun batuknya makin lama makin keras dan membuat dia sulit bernafas. Si Bungsu tahu, jika siang hari orang yang menderita penyakit seperti overste ini takkan begitu merasakan penyakit yang menggerogotinya. Sebab siang hari udara panas.

Namun begitu malam mulai turun, seperti sekarang, penyakit itu kambuh. Makin dingin hari, makin dahsyat serangannya.
“Saya akan kembali ke pondok saya, akan saya buatkan ramuan itu segera…” ujar si Bungsu sambil berdiri

Overste itu hanya mampu mengangguk, sementara batuknya kemudian menyerang berkali-kali. Lok Ma yang ada dalam rumah itu segera membantu komandannya. Mengambilkan sebaskom air panas dari periuk di tungku, kemudian sebuah handuk kecil yang bersih.

Di luar rumah, si Bungsu melihat kesibukan penduduk dan tentara mempersiapkan segala sesuatu untuk merayakan Hari Raya Tet malam nanti. Mereka membuat dua perapian untuk membakar ikan dan babi. Kemudian sebuah lagi untuk menanak nasi. Melihat si Bungsu muncul, beberapa lelaki datang menyalaminya.

Beberapa wanita saling berbisik. Para tentara menatapnya dengan diam. Dia masuk ke pondoknya. Mengambil lumut dan beberapa jenis daun yang dia bungkus dengan daun pisang senja tadi. Di daun pisang itu bahan-bahan tersebut dia remas menjadi satu.

Saat dia keluar kebetulan Lok Ma datang. Kepada Lok Ma dia minta dicarikan air kelapa muda. Kemudian anak pisang. Dalam waktu yang tak begitu lama bahan-bahan itu diantarkan Lok Ma kepadanya. Dia meminta sebuah baskom alumunium, atau periuk kecil. Ramuan itu dia masukkan ke periuk kecil. Bersambung>>>

ADVERTISEMENT
Previous Post

Ketua Bhayangkari Cabang 50 Kota Terima Penghargaan dari Bupati dan Dekranasda Kabupaten Limapuluh Kota

Next Post

Satreskrim Polres Bukittinggi Gulung Komplotan Pencurian Plastik Toko Senilai 2 Milyar

Sumbar Time

Sumbar Time

Setiap Waktu Bernilai Informasi

BacaJuga

Cerbung

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 257

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 256

22 Agustus 2021
Next Post
Satreskrim Polres Bukittinggi Gulung Komplotan Pencurian Plastik Toko Senilai 2 Milyar

Satreskrim Polres Bukittinggi Gulung Komplotan Pencurian Plastik Toko Senilai 2 Milyar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Justictalk ” Ngobrol santai melek hukum”

https://youtu.be/r3p0YSm3qWE
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

7 Juni 2024
Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

30 Desember 2023
Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

23 Desember 2023
Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

5 Mei 2024

Depósitos protegidos e ganhos instantâneos no casino Bwin para Portugal

0
Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

0
BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

0
Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

0
Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026
Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

25 April 2026
Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

18 April 2026
Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

10 April 2026

Berita Terbaru

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026
Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

25 April 2026
Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

18 April 2026
Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

10 April 2026
ADVERTISEMENT
Sumbartime.com

Sumbartime.com -"Setiap Waktu Bernilai Informasi"

Ikuti Kami

  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.

No Result
View All Result
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer
  • Iklan

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.