• AD ART Sumbartime.com
  • Advertorial
  • Disclaimer
  • Home
  • Home
  • Iklan
  • Pedoman Berita
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Visi Misi
Sumbartime.com
Advertisement
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Sumbartime.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Sumbar
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Nasional
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Video
  • Wisata
ADVERTISEMENT
Home Cerbung

TIKAM SAMURAI 239

Sumbar Time by Sumbar Time
22 Agustus 2021
in Cerbung, Tikam Samurai
A A
0
0
SHARES
74
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

SUMBARTIME.COM-Ketika Sea Devil sedang berlayar di bawah laut luas, dan ketika Ami Florence dalam penerbangan dengan heli menuju titik pertemuan untuk melakukan embarkasi para tentara yang dibebaskan itu, Mayor Murphy Black yang semula gagal mengontak USS Alamo, akhirnya mendapat sambungan radio.

ADVERTISEMENT

Dengan permintaan maaf dan rasa menyesal yang amat mendalam, dia melaporkan tidak menemukan si Bungsu di padang lalang Vietnam itu. Di mana pertempuran terakhir terjadi antara pasukan Vietnam dengan pelarian itu.

ADVERTISEMENT

Black juga menuturkan kondisi kritis saat menentukan pilihan, antara turun menjemput si Bungsu dengan peluru hanya beberapa butir, dan harus menghadapi gempuran belasan tentara Vietnam.

Yang risikonya jelas semua awak heli maupun tentara yang sudah dibebaskan itu akan tertawan kembali, atau terlebih dahulu menyelamatkan belasan pelarian yang sebagian dalam keadaan terluka.

BacaJuga

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021

“Orang Indonesia itu nampaknya sengaja memancing tembakan ke arahnya, agar kami bisa lolos dai serangan maut. Saya sudah kembali ke lokasi itu, namun kami hanya menemukan dua mayat tentara Amerika dan beberapa mayat di padang lalang itu.

Tak ada tanda-tanda sama sekali tentang nasib si Bungsu. Menurut analisa saya, kendati tertembak beberapa kali, namun lelaki tangguh itu masih hidup. Paling tidak, tentara Vietnam akan berusaha menyelamatkan nyawanya untuk mengorek keterangan.

Siapa saja dan dimana pasukan yang mencari anggota MIA saat ini berada. Saya rasa, dia sekarang berada di suatu tempat yang amat dirahasiakan dan dijaga dengan amat ketat untuk diinterogasi,” papar Mayor Black.

Laksamana Lee tak menjawab sepatah pun. Selain mengatakan ‘oke’ kemudian mematikan radio. Lama Laksamana ini terdiam sambil tangannya masih me megang handel radio.

Matanya menatap ke arah layar komputer besar, yang memperlihatkan posisi kapal selam Sea Devil yang tengah membawa bekas tawanan yang selamat dan posisi helikopter yang akan menjemput mereka, yang di dalamnya terdapat Ami Florence. Salah seorang di antara tak banyak mata-mata kelas satu Amerika semasa perang Vietnam yang panjang itu, yang besar sekali jasanya untuk Amerika.

Laksamana Lee teringat pada Kolonel MacMahon, adik kelasnya semasa di Whest Point Akademi Militer Amerika. Lenyapnya MacMahon, Komandan SEAL di Vietnam dalam pertempuran laut di lepas pantai Da Nang menyebabkan heboh di kalangan angkatan bersenjata Amerika.

Kini kolonel itu termasuk salah seorang yang berhasil dibebaskan si Bungsu. Dia lalu meminta dihubungkan ke Sea Devil.
“Komandan Sea Devil di sini, Sir!” ujar Kapten Callahan, begitu diberitahu perwira radio USS Alamo bahwa Laksamana Lee akan bicara.

“Ada gangguan dalam pelayaran Anda, Callahan?”
“No, Sir! Sejauh ini aman. Radar kami juga tidak menangkap adanya kapal perang Vietnam dalam jarak lima puluh kilometer dari posisi kami, Sir….”
“Baik, saya harap juga begitu….”
“Thanks, Sir….”

“Apakah Kolonel MacMahon di kapal Anda, Callahan?”
“Yes, Sir! Kolonel MacMahon ada di kapal ini…!”
“Saya dengar dia tertembak. Kalau dia tidak sedang istirahat, saya ingin bicara dengannya, bisa?”
“Yes, Sir! Saya bisa antarkan radio ke tempat tidurnya agar Anda bisa bicara langsung padanya. Harap Anda menunggu, Sir….”

Kapten menyuruh seorang letnan navigasi untuk menghantarkan radio kepada MacMahon. Kolonel itu sedang berbaring dan sejak tadi hanya diam menatap ke arah pembaringan Thi Binh dan Roxy di ujung sana, melihat seorang letnan SEAL mendatanginya. Letnan itu memberi hormat kepada komandan tertinggi mereka, yang sudah dua tahun lenyap dan baru saja dibebaskan.

“Komandan USS Alamo ingin bicara dengan Anda, Sir…” ujar letnan itu sambil menyerahkan radio kecil tanpa tali.
“Laksamana Lee…?” ujar MacMahon perlahan mengambil radio dari tangan si kapten.

Tak lama kemudian Laksamana Lee mende­ngar suara di radio.
“MacMahon di sini, Laksamana…!”
“Hei MacMahon, senang mendengar lagi suaramu…!”
MacMahon tertawa renyah.

Senang juga mendengar suaramu, Lee….”
“Bagaimana kondisimu, MacMahon?”
“Agak membaik Lee….”
“Luka di bahu dan dadamu membaik?”
“Ya, agak lebih baik….”
“Masih sempat bermain catur?”

MacMahon tertawa perlahan mendengar pertanyaan kakak kelasnya itu. Soalnya, ketika di West Point dulu, bahkan setelah sama-sama bertugas pun, mereka sering bertanding catur.

“Saya harap bisa segera bertemu Anda, untuk main catur lagi, Lee….”
“Ya saya harap juga begitu. MacMahon…!”
“Ya…?”
“Engkau kenal seorang lelaki Indonesia bernama si Bungsu?”
“Dia yang membebaskan kami, Lee….”
“Apa yang terjadi dengan dia?”

MacMahon tak segera bisa memberikan jawaban. Dia menatap ke pembaringan Thi Binh dan Roxy. Kedua gadis itu masih tidur pulas.
“Dia tertinggal di medan tempur, Lee….”
“Nampaknya keadaan demikian kritis, sehingga dia tak sempat kalian bawa bersama….”

“Maaf Lee. Kondisi saat itu memang sangat kritis…. Engkau juga mengenalnya, Lee?”
“Tidak. Sebulan yang lalu dia mengantarkan Ami Florence, kau ingat dia?”
“Ya, orang kita yang di Da Nang….”

“Nah, setelah terlibat pertempuran yang amat tak seimbang dengan beberapa kapal patroli Vietnam, dia berhasil merebut sebuah kapal patroli. Kemudian mengantarkan Ami dan abangnya ke USS Alamo tapi dia tidak naik ke kapal saya. Begitu Ami turun dia langsung pergi.

Lewat radar kami melihat dia menghancurkan tiga kapal patroli Vietnam lainnya. Dari Ami saya mendapat cerita, bahwa dia datang ke Vietnam atas permintaan milyader AR. Anda masih ingat AR, MacMahon?”
“Alfonso Rogers, milyader yang ikut menyumbang pembelian kapal-kapal Angkatan Laut. Satu diantaranya kapal yang kini Anda komandani, Lee….”

“Anda benar, MacMahon. Anda ingat siapa nama anak tunggal milyader itu?”
“Roxy Rogers. Dia ada bersama saya di kapal ini. Hanya saja saya baru tahu bahwa Roxy adalah anak Alfonso Rogers dari penjelasan si Bungsu, saat membebaskan kami dari tahanan Vietnam.

Kami beruntung berada satu tahanan dengan Roxy. Jika tidak, kami tentu belum akan bebas…” ujar MacMahon.
“Well, berapa hari Anda mengenal si Bungsu, Mac Mahon?”
“Satu hari, Lee….”
“Satu hari?”
“Efektifnya hanya beberapa jam….”
“Maksudmu?”

“Dia datang ke goa tempat kami disekap subuh hari. Kemudian membawa kami ke tempat tiga teman Vietnamnya yang menanti sekitar satu kilometer dari barak tentara Vietnam.

Kemudian kami berbagi regu. Satu regu disuruhnya duluan bersama wanita-wanita yang bertugas di ketentaraan sebagai anggota palang merah dan bahagian logistik, untuk menuju ke danau dan membawa jam tangannya yang bisa memancarkan isyarat. Kemudian dia bersama tiga orang lainnya, Letnan Duval, Roxy dan seorang gadis Vietnam bernama Thi Binh menyelusup ke barak-barak Vietnam.

Mereka berhasil menghancurkan gudang senjata dan membunuh komandannya, seorang kolonel. Saya sendiri bertugas mencegat Vietnam yang memburu rombongan pertama. Artinya, saya hanya mengenal lelaki dari Indonesia itu sekitar tiga atau empat jam, Lee…” tutur MacMahon.
“Dia seorang yang amat perfect dalam pertempuran laut….”

“Sama perfectnya dengan pertempuran darat, Lee. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana dia mempergunakan samurai kecilnya untuk membunuh seorang Vietnam dari jarak sepuluh meter. Sebelumnya, saat kami akan keluar dari goa, dia membunuh sekaligus empat tentara dengan samurai kecilnya itu.

Kemudian juga saat dia menghadang tembakan belasan tentara Vietnam, dalam upaya agar heli yang kami tompangi bisa lolos. Barangkali ada delapan atau sembilan tentara Vietnam yang dia rubuhkan sebelum akhirnya senjatanya kehabisan peluru, dan dia mengangkat tangan….”

“Apakah Vietnam langsung menangkapnya?”
“Tidak….”
“Apa yang terjadi?”
“Dari atas heli, kami melihat tubuhnya beberapa kali diterjang peluru. Setelah itu… dari ketinggian saya hanya melihat tubuh mereka seperti titik kecil di bawah.

Saya rasa Vietnam menangkapnya. Jika dia masih hidup, untuk beberapa saat dia belum akan dibunuh, sampai Vietnam yakin tak ada rahasia apapun yang bisa dikorek dari mulutnya mengenai operasi yang dilakukan Amerika saat ini di Vietnam….”

“Saya rasa dia juga tak akan segera dibunuh Vietnam…” ujar Laksamana Lee.
Mereka sama-sama terdiam beberapa saat.
“MacMahon….”
“Ya, Lee….”

“Saya harus mengabarkan pada Ami Florence bahwa si Bungsu tak ada bersama kalian. Gadis itu kini berada dalam heli khusus yang saat ini sudah tak begitu jauh dari posisi kalian. Dia berharap lelaki dari Indonesia itu ada bersama kalian. Baiklah, kita bertemu di Subic kelak, MacMahon….”
“Terima kasih, Lee. Dan saya benar-benar menyesal, tidak bisa membawa si Bungsu bersama kami. Saya juga akan menyampaikan maaf saya pada Nona Ami….”

Hubungan dan percakapan di antara kedua teman lama itupun putus. Ada beberapa saat Laksamana Lee tegak mematung di anjungan USS Alamo. Dia harus menghubungi segera Ami Florence, namun bagaimana dia akan memulai percakapan, untuk memberitakan bahwa si Bungsu tak ada di antara orang-orang yang akan dia jemput itu?

Kalau saja dia sudah mendapat laporan dari Mayor Black sebelum Ami ikut dengan heli itu tadi, barangkali dia bisa memberitahunya. Tapi sampai gadis itu naik ke pesawat, hubungan antara USS Alamo dengan Mayor Black sengaja diputus untuk beberapa saat.

“Hubungkan saya dengan helikopter…” ujarnya perlahan.
“Yes, Sir…!” ujar perwira radio.
“Kapten John Gregor Sir…!” ujar pilot heli di radio.
“Kapten….”
“Yes, Sir…!”

“Sebentar lagi perwira navigasi akan memberikan koordinat di mana Anda harus melakukan embarkasi….”
“Yes, siap Sir…!”
“Bisa saya bicara dengan Nona Ami Florence?”
“Siap, bisa Sir!”

Pilot menolehkan kepala ke belakang. Ke arah Ami yang sedang berpeluk tangan dan menatap ke langit gelap lewat kaca di sampingnya.
“Nona Florence….”
Ami tersentak. Menatap ke arah pilot yang memanggilnya.
“Ya…?”

“Silahkan Anda menggeser duduk ke mari. Laksamana di USS Alamo ingin bicara dengan Anda, Mam….”
Ami Florence merasa jantungnya berdegup. Dia berjalan dengan menunduk di dalam heli itu, mendekat ke belakang tempat duduk pilot. Kemudian duduk di sebuah bantalan besar di sana.
“Sir, ini Nona Florence…” ujar pilot.

Dia segera memberi isyarat pada copilotnya untuk membuka headphone di copilot agar menyerahkan head phonenya pada Florence.
Ami memasang headphone itu ke kepalanya. Kemudian membetulkan letak kap radionya di telinga.
“Yes, Laksamana…?” ujarnya membuka pembicaraan.
“Florence…?”
“Ya….”

“Maaf, saya tidak tahu harus memulai dari mana….”
Hati Florence makin berdebar. Firasat buruk merayapi hulu jantungnya. Ini pasti mengenai si Bungsu, bisik hatinya.
“Mengenai Bungsu…?” ujarnya antara terdengar dan tidak.
“Sekali lagi maaf, Florence. Ya, mengenai Bungsu….”

Florence merasakan tubuhnya tiba-tiba menggigil dan berkeringat dingin. Dia tak mampu bicara sepatah pun. Dia seperti menanti vonis hukuman mati.
“Florence…?” himbau Laksamana Lee.
Tak ada sahutan!
“Florence. Anda masih di sana, Mam…?”
“Yy.. Ya… Laksamana….”

ADVERTISEMENT

“Dengan permintaan maaf saya harus menyampaikan pada Anda, Mam. Bahwa si Bungsu tidak berada di Sea Devil, kapal selam yang kini sedang Anda tuju….”

Ami Florence tak bicara. Namun masih ada sedikit harapan, si Bungsu dikatakan tidak berada di Sea Devil, tidak dikatakan sudah mati. Dia menunggu kepastian lebih lanjut.
“Dia tidak berada di Sea Devil, berarti masih berada di suatu tempat, Laksamana?”

“Ya, Mam. Dia masih berada di suatu tempat, di belantara Vietnam sana….”
“Masih… masih….”
“Ya Mam, dia masih hidup! Itu dipastikan oleh laporan Mayor Murphy Black, komandan gugus tugas khusus dari SEAL yang ditempatkan di Teluk Kompong Sam, yang menjemput dengan helikoptertawanan yang berhasil dibebaskan si Bungsu….”

Florence menghapus keringat di dahinya. Dia menarik nafas panjang. Kendati dia sangat kecewa orang yang dicintainya itu tidak berada di Sea Devil, namun dia bahagia lelaki itu kini masih hidup.

“Dia sendirian di Vietnam sana, Laksamana?”
Laksamana Lee tak segera menjawab.
“Laksamana?”

“Maaf. Dia tertawan oleh Vietnam. Namun Mayor Black memastikan bahwa dia masih hidup. Tubuhnya tidak terdapat di antara mayat-mayat yang bergelimpangan di padang lalang di mana pertempuran terakhir pecah saat mereka akan dijemput helikopter….”

Sekali lagi Ami Florence menghapus peluh dingin di wajahnya.
“Dia tertawan oleh Vietnam?” ujarnya perlahan.
“Ya, Nak. Cerita lengkapnya bisa engkau tanya pada Kolonel MacMahon di Sea Devil, salah seorang dari 17 pasukan Amerika yang dibebaskan si Bungsu, termasuk Roxy Rogers….”

Ami Florence seperti tercekik sesuatu di kerongkongannya mendengar kabar dari Laksamana Lee. Dia masih terdiam sambil memegang radio yang hubungannya masih terbuka dengan USS Alamo. Lewat radio Laksamana Lee dapat mendengar gadis itu menarik nafas berat dan panjang.

“Saya sangat menyesal, Nak. Sepanjang laporan yang saya peroleh, baik dari Kolonel MacMahon maupun Mayor Murphy Black, Komandan SEAL yang menjemputnya, lelaki dari Indonesia itu sengaja menjadikan dirinya umpan. Agar para tawanan bisa lolos. Bersambung…

ADVERTISEMENT
Previous Post

Teka Teki Penemuan Mayat Pria di Rumpun Pisang Sijunjung Terungkap, Ternyata Korban Pengeroyokan Sopir

Next Post

7 Gugatan Pilkada di Sumbar Dikabulkan MK, Ketua KPU Sumbar : Tunggu Jadwal Sidang

Sumbar Time

Sumbar Time

Setiap Waktu Bernilai Informasi

BacaJuga

Cerbung

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 257

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 256

22 Agustus 2021
Next Post
7 Gugatan Pilkada di Sumbar Dikabulkan MK, Ketua KPU Sumbar : Tunggu Jadwal Sidang

7 Gugatan Pilkada di Sumbar Dikabulkan MK, Ketua KPU Sumbar : Tunggu Jadwal Sidang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Justictalk ” Ngobrol santai melek hukum”

https://youtu.be/r3p0YSm3qWE
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

7 Juni 2024
Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

30 Desember 2023
Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

23 Desember 2023
Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

5 Mei 2024

Depósitos protegidos e ganhos instantâneos no casino Bwin para Portugal

0
Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

0
BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

0
Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

0
Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026
Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

25 April 2026
Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

18 April 2026
Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

10 April 2026

Berita Terbaru

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026
Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

25 April 2026
Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

18 April 2026
Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

10 April 2026
ADVERTISEMENT
Sumbartime.com

Sumbartime.com -"Setiap Waktu Bernilai Informasi"

Ikuti Kami

  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.

No Result
View All Result
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer
  • Iklan

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.