TIKAM SAMURAI 240

SUMBARTIME.COM-Amerika tidak hanya berhutang budi padanya. Sekaligus benar-benar merasa malu, karena tak bisa mengeluarkan lelaki perkasa itu dari neraka Vietnam. Saya sangat menyesal….”
Tak ada jawaban apapun dari Ami Florence.
“Ami, Anda masih di situ, Nak?”

“Ya….”
“Saya sangat menyesal, Nak….”
“Terimakasih, Laksamana…” ujar Ami nyaris tak terdengar, sembari memutuskan hubungan radio.

Iklan

Kolonel MacMahon masih menanti beberapa saat. Dia tahu hubungan dengan Ami sudah diputus gadis itu. Dia benar-benar ikut menyesal.
“Kapten Gregor…” ujarnya Laksamana Lee perlahan memanggil pilot heli tersebut.

“Yes, Sir!”
“Nona Florence masih di sana?”
Pilot heli menolehkan kepalanya sedikit ke belakang melihat Ami masih menunduk sambil memegang radio yang tadi diberikan co-pilot kepadanya.

“Ya, dia masih di sini, memegang radio, Sir!”
“Baik, jangan ganggu dia. Gunakan radio pada Anda saja. Perwira navigasi akan memberi petunjuk di mana Anda harus menjemput para bekas tawanan itu….”
“Yes, Sir!”

Namun saat itu Ami Florence mengulurkan radio di tangannya kepada co-pilot.
“Terimakasih…” ujarnya pelan.
“Yes, Mam…” jawab co-pilot.
Ami masih duduk di belakang pilot. Tatapannya kosong.

“Saya ikut menyesal mengenai Bungsu, Mam…” ujar pilot kepada Ami yang sejak tadi memang ikut mendengar percakapan antara Laksamana Lee dengan Ami Florence lewat headphone di kepalanya.
Ami menatap ke arah pilot tersebut.
“Terimakasih…” ujarnya perlahan.

Gadis itu berusaha untuk tersenyum. Namun dia tak mampu menahan air matanya untuk tidak mengalir. Dia dan abangnya, Le Duan, sebenarnya sudah harus menjalani program khusus di Amerika.

Setelah mengikuti program khusus antara tiga sampai empat bulan itu, dia akan ditempatkan di salah satu negara bahagian Amerika atau bisa saja di suatu negara lain yang dia pilih. Program khusus itu antara lain menyangkut pekerjaan yang cocok, dan latihan di program tersebut.

Bisa saja dia ditempatkan di kemiliteran atau polisi. Atau menjadi intelijen di FBI atau CIA yang memang sudah amat dia kuasai.Namun dia sudah bertekad, begitu keluar Vietnam dia akan meninggalkan dunia spionase. Akan hidup sebagai dosen atau penerjemah atau mungkin sekretaris eksekutif.

Masa program itu dia minta undur. Dia ingin jika dia pergi ke Amerika, atau ke ujung dunia manapun, si Bungsu ada bersamanya. Atau lebih konkret lagi, dia ingin pergi kemana pun si Bungsu pergi.

Dia sudah meminta agar abangnya pergi duluan ke Amerika untuk mengikuti program khusus itu. Kepada Le Duan dia katakan terus terang, bahwa dia hanya mau pergi kalau bersama si Bungsu. Le Duan hanya menarik nafas panjang mendengar ucapan adiknya.

Dia tahu sikap adiknya yang bengal dan kadang-kadang bikin pusing. Susah sekali jatuh hati. Namun begitu ada lelaki yang mampu menaklukkan hatinya, maka jatuh hatinya separoh mampus. Kini saat itu nampaknya tiba. Hati adiknya kepincut separoh mampus kepada lelaki dari Indonesia itu.

“Kita akan pergi bersama, Ami. Saya akan menunggumu…” ujar Le Duan di salah satu hotel di Manila, saat Ami menawarkan dia pergi duluan ke Amerika.
“Tapi, saya akan menunggu si Bungsu….”
“Ya, kita sama-sama menunggunya…” ujar Le Duan sambil tersenyum. Ami membalas senyumnya.

“Ami….”
“Ya…?”
“Apakah kau yakin dia juga mencintaimu?”
Ami tertegun. Tak bisa segera menjawab.
“Kau yakin dia juga mencintaimu, seperti engkau mencintainya, Ami?”
“Aku.. aku ingin menjawabnya ‘ya’, Le….”
“Aku juga ingin seperti itu, Adikku. Aku ingin dia mencintaimu, seperti engkau mencintainya. Tapi apakah kau yakin?”

“Menurutmu, Le?”
“Aku tahu dia menyukaimu, Ami…”
“Apakah dia mencintaiku?”
Le Duan tak bisa menjawab.
“Bagaimana, bagaimana kalau…”
“Kalau dia tidak mencintaiku, Le?”
“Ya, Ami….”

Ami tertunduk. Dia memang tak pernah memikirkan bagaimana jika si Bungsu tidak mencintainya. Sementara dia mencintai lelaki itu sepenuh hati.
“Le…”
“Ya…?”
“Apakah menurutmu, aku akan bunuh diri jika dia tidak mencintaiku?”
Le Duan menatap adiknya. Ami Florence menatap abangnya.

“Bagaimana menurutmu, Le…?”
Le Duan menggeleng perlahan.
“Kenapa kau yakin aku tak akan bunuh diri?”
“Kau takkan bunuh diri, Ami….”
“Kenapa…?”
“Karena lelaki itu juga mencintaimu…!”

Ami menatap abangnya. Le Duan mengangguk. Ami memeluk abangnya. Le Duan mendekap kepala adiknya. Membelainya perlahan. Ami tak mampu menahan air matanya.
“Terimakasih, Le… terimakasih. Hanya engkau saudaraku satu-satunya yang tersisa dari perang panjang yang menghancurkan negeri kita…” bisik Ami.

Le Duan tak mampu bicara sepatah pun, seluruh keluarga mereka memang sudah punah dimakan perang Vietnam yang tiga belas tahun itu. Kini hanya tinggal mereka berdua. Dia sangat menyayangi adiknya ini. Mereka berempat bersaudara.

Hanya Ami yang wanita. Dua saudara lelaki mereka sudah meninggal. Juga orang tua mereka.
“Saya akan menunggu kabar dari si Bungsu Le. Saya yakin dalam seminggu dua ini akan ada kabar mengenai dirinya….”
“Kita akan menunggunya bersama, Ami….” ujar Le Duan.

Lamunan Ami Florence terputus ketika dia mendengar suara ribut di sekitarnya. Dia segera mengetahui helikopter yang dia tompangi sudah mengapung cukup rendah di atas laut. Di bawah sana dia melihat sebuah benda hitam memanjang.

Sebuah kapal selam yang tak begitu besar. Tak ada siapa pun di atas deknya yang mengapung. Sekitar setengah meter dari permukaan air helikopter diturunkan di dek tersebut. Kapten kapal dengan pilot heli saling berhubungan dengan radio. Begitu heli mendarat, petugas kesehatan dan petugas yang lain segera berhamburan turun.

Pada saat itu sebuah pintu dekat menara pendek di kapal selam itu terbuka. Lalu dua orang tentara Amerika dari kesatuan SEAL segera muncul. Mereka berdiri di tepi pintu keluar masuk ke kapal selam itu.

Di dalam kapal selam itu, bahagian radar mengawasi seluruh penjuru dengan seksama. Sementara dua orang letnan yang bertugas menjaga tombol-tombol penembak peluru kendali dan torpedo juga siaga di tempatnya. Siap menunggu perintah dari kapten mereka.

Di USS Alamo Laksamna Lee dan seluruh awak di ruang komando siaga. Bahagian radar menyapu lautan dalam radius 100 kilometer persegi dari kapal selam dan heli yang sedang memindahkan muatan itu.

Dari radar di ruang komando USS Alamo itu semua mereka bisa melihat, dalam radius lebih dari 100 kilometer, tak ada kapal perang sebuahpun di laut gelap tersebut. Dalam radius 100 kilometer persegi mereka hanya melihat dua titik yang berdempetan di layar monitor radar. Kedua titik kecil itu adalah kapal selam Sea Devil dan helikopter penjemput bekas tawanan.

Namun beberapa saat kemudian perwira radar berseru sambil menunjuk sebuah titik di tenggara yang mendekat ke arah kedua titik pertama dengan cepat sekali.

“Torpedo…!” ujar perwira radar.
“Empat buah torpedo…!” seru perwira radar tatkala melihat di monitor muncul tiga titik lagi seperti berbaris menuju ke dua titik tersebut.
“Sea Devil…!” panggil Laksamana Lee.
“Yes, Sir…!”

“Kalian lihat sesuatu…?”
“Yes, Sir! Saya dan Kapten Johan Gregor, pilot heli melihat empat buah torpedo datang dari jarak jauh, Sir…!”
“Kalian bisa mengatasi?”
“Siap… bisa, Sir!”

“Pemindahan penumpang sudah selesai?”
“Orang terakhir sudah naik ke helikopter, heli siap meninggalkan Sea Devil, Sir!”
“Good luck!”
“Thank you, Sir!”

Begitu pembicaraan antara Komandan USS Alamo usai, terdengar panggilan dari pilot helikopter.
“Roy…” panggil pilot pada kapten Sea Devil.
“Yap, John….”

“Kami pergi. Engkau bisa menyelesaikan keempat cucut yang datang itu?”
“Yap, berangkatlah….”
“Good luck, Roy!”
“Good luck, Callahan!”

Helikopter yang memang sudah mengapung sekitar sepuluh meter dari dek Sea Devil itu segera berputar dan melaju ke arah laut lepas dengan kecepatan penuh. Sementara Sea Devil membuka seluruh katup memasukkan air secara maksimal. Bersamaan dengan deru air masuk ke tanki dengan tambahan bobot secara drastis, kapal selam tersebut mulai menyelam.

Baik di layar radar Sea Devil maupun di layar radar USS Alamo dan di helikopter, melihat empat titik yang datang dari tenggara itu semakin dekat. Keempat torpedo itu nampaknya berasal dari kapal perang Vietnam yang berada di lepas pantai sekitar Saigon yang sudah berubah nama menjadi Kota Ho Chi Minh.

“Menyelam dengan kecepatan penuh!” seru kapten Sea Devil sambil menarik tuas yang berfungsi menurunkan sirip kapal selamnya. Kapal itu menukik ke dasar samudera, kemudian membuat tikungan tajam ke kiri, ke arah selatan Vietnam.

Awak kapal selam tersebut bersuit panjang sambil berpegangan agar tidak terjatuh dalam manuver kapal selam kecil bertenaga amat kuat itu. Di helikopter dan di USS Alamo orang-orang menatap layar radar tanpa seorang pun berani berkedip. Mereka melihat Sea Devil tiba-tiba lenyap dari radar. Sedetik kemudian keempat titik yang datang dari arah tenggara itu melintas di titik tersebut.

Mereka menunggu apakah ke empat titik itu juga lenyap pada titik pertama yang hilang tadi. Jika itu yang terjadi berarti Sea Devil hancur dihantam ke empat torpedo itu. Namun empat titik itu terus melaju ke arah utara. Makin lama makin jauh, sampai akhirnya lenyap. Mereka semua terdiam. Adalah Laksamana Lee yang pertama mencoba membuka hubungan radio dengan Sea Devil.
“Kapten Callahan…!”
“Yes, Sir!”

Jawaban kapten kapal selam itu segera disambut sorak gembira dan tepuk tangan semua awak USS Alamo yang ada di ruang komando, juga Laksamana Lee. Pilot helikopter juga tersenyum dan bersalaman dengan copilotnya. Mereka memacu heli itu dalam gelap dengan panduan kompas, menuju ke arah Filipina.

“Anda ada di mana, Kapten?”
“Siap, kami tak pergi jauh. Ada di dalam komputer Anda, Sir!” jawab kapten Sea Devil.
Jawabannya disambut gelak tawa awak USS Alamo.
“Tapi Anda tak kelihatan di komputer ini, Kapten….”
“Siap, apakah kami perlu menampakkan diri, Sir?”

Tawa riuh kembali pecah dalam ruang komando itu. Suara tawa riuh itu terdengar jelas oleh kapten Sea Devil.
“Baik, Anda menyelesaikan tugas dengan baik, Nak. Selamat berenang. Good luck!”
“Terimakasih, Sir!” jawab Kapten Callahan.

Lalu ketika dia mendengar nada ‘blip’ tanda hubungan radio diputus dari USS Alamo, dari kedalaman lima belas meter di Laut Cina Selatan itu dia juga mematikan hubungan radionya. Lalu memacu kapal selam itu kembali ke Teluk Kompong Sam, di mana kesatuan mereka, unit kecil pasukan SEAL yang tangguh itu, ditempatkan secara rahasia sejak setahun yang lalu.

Di salah satu ruangan VIP rumah sakit tentara di sebuah kota di Philipina, MacMahon menatap Ami Florence yang duduk di sisi pembaringannya dengan diam. Suasana sepi mencekam sejak dia usai menuturkan pertemuannya dengan si Bungsu, dan bagaimana mereka terpisah dalam pertempuran terakhir itu.

“Saya yakin dia masih hidup, Florence…” ujar MacMahon sambil memegang tangan Ami.
“Sampai Vietnam tahu tak ada rahasia yang bisa dikorek dari mulutnya?” ujar Ami lirih.

MacMahon tak dapat memberi komentar.“Saya akan menemui gadis yang bernama Thi Binh itu…” ujar Ami sambil membetulkan selimut MacMahon, lalu bangkit.
MacMahon memegang tangannya.

“Dia masih anak-anak, Florence. Negeri kalian diamuk perang. Banyak keluarga yang remuk redam. Jika dia mencintai seseorang itu karena dia ingin dilindungi. Tidak lebih dari itu. Kau faham maksudku, Nak…?” ujar MacMahon.
Ami Florence tertegak diam. Menatap si kolonel yang memang sudah dia kenal cukup dekat saat perang masih berkecamuk di Vietnam.

“Terimakasih Mac…” ujarnya sambil membungkuk, kemudian mencium pipi MacMahon.
Lalu dia melangkah perlahan keluar. Menutup pintu. Melangkah menelusuri koridor berudara sejuk masuk ke ruangan VIP yang lain. Thi Binh yang berada di pembaringan menatap kedatangannya dengan mata berbinar.
“Hai, Thi-thi….”
“Hai, Ami….”

Ami membungkuk, mencium kedua pipi gadis itu. Namun ketika dia akan bangkit, lehernya ditahan oleh kalungan kedua lengan Thi-thi. Mereka bertatapan dalam jarak yang tak sampai satu jengkal.
“Ada apa?” ujar Ami dalam bahasa Vietnam sambil tersenyum dan menatap mata gadis itu na­nap-nanap.
“Menatapmu membuat rinduku pada si Bungsu jadi terobati….” ujar Thi Binh.
Dug!

Jantung Ami seperti akan copot mendengar ucapan itu. Mukanya segera saja berubah. Namun gadis itu masih tersenyum. Dia melepaskan kalungan tangannya di leher Ami. Namun kini ganti memegang tangannya, dan menariknya duduk di sisi pembaringannya.
“Dari Bungsu, saya mendengar banyak sekali cerita tentang Kakak…” ujar Thi Binh.
Dug!
Lagi-lagi jantung Ami berdegup.

“Ya… saat pertama dia datang ke rumah kami, dia bercerita tentang Kakak. Bahkan ketika di perjalanan pun, saat melewati danau yang banyak buayanya, di rakit dia juga bercerita tentang Kakak…” ujar Thi Binh separoh membual.

Ami terperangah. Dia tahu gadis centil yang cantik ini separoh membual. Namun dia tak kuasa mencegahnya. Dia dibuat geram, marah, gondok, jengkel, senang dan gemas. Semua campur aduk jadi satu. Namun dia memang datang untuk mencari cerita tentang keberadaan si Bungsu di Vietnam setelah berpisah dengannya di USS Alamo.

Ami Florence mengumpulkan semua cerita, menyimak dengan diam sambil menyimpan dalam memorinya segala data dan detil yang penting tentang si Bungsu saat-saat terakhir lelaki yang dicintainya itu di Vietnam. Cerita tentang itu dia dapat dari tiga orang, yang memang berada bersama si Bungsu pada saat-saat terakhir.

Ketiga mereka adalah Letnan Duval, Roxy dan Thi Binh. Sebab dengan ketiga orang inilah si Bungsu bersama-sama bertempur tak jauh dari barak tentara Vietnam, sebelum dia menyuruh Duval, Roxy dan Tin Binh berangkat duluan menyusul rombongan Kolonel MacMahon.

Kemudian Ami mencari informasi tentang pasukan SEAL di bawah pimpinan Mayor Murphy Black di Teluk Kompong Sam. Yaitu orang yang kali terakhir kembali ke tempat pertempuran guna mencari si Bungsu. Namun dari seluruh cerita yang dia himpun, muaranya tetap satu. Si Bungsu hilang atau tertawan dalam pertempuran terakhir itu. Artinya lelaki itu masih hidup di salah satu tempat di belantara Vietnam di sana.

Kini dia berada di sisi pembaringan Thi Binh. Dia ingin mendengar cerita yang lebih lengkap tentang si Bungsu dari gadis kecil ini. Setelah lama saling menatap, akhirnya Thi Binh bicara perlahan kepada Ami Florence.
“Sebenarnya, sayalah yang banyak bercerita dan bertanya tentangmu pada si Bungsu, Ami….”

“Kau bertanya tentang diriku kepada si Bungsu?
“Ya….”
“Darimana engkau mengetahui aku mengenal si Bungsu….”
“Dari mimpiku….”
Ami tersenyum. Merasa kena diakali oleh gadis kecil nakal ini.
“Ami, kau pernah merasa datang ke dalam mimpiku?”
Ami Florence menggeleng. Thi Binh menatapnya.

“Berbulan-bulan saya, juga belasan wanita Vietnam lainnya, dijadikan budak pemuas nafsu oleh puluhan tentara Vietkong. Suatu hari saya mulai diserang Vietnam Rose, sipilis!

Saya demam dengan panas yang amat tinggi. Dalam sakit dan hampir mati itu, saya berdoa meminta Tuhan membantu saya, membunuh orang-orang yang memperkosa saya….”
Thi Binh terhenti, air mata mengalir di pipinya. Ami Florence tertegun mendengar derita dahsyat yang dialami gadis kecil ini.

“Suatu malam, dan malam-malam berikutnya, ke dalam mimpi saya datang seorang lelaki yang memakai senjata seperti ninja. Di malam yang lain, lelaki itu saya lihat lagi di dekat sebuah kapal perang yang besar bersama seorang gadis indo-Vietnam yang cantik dan abangnya.

Gadis indo itu menangis tatkala pemuda ninja dari Indonesia itu tidak naik ke kapal perang besar itu bersamanya, melainkan pergi dengan boat kecil dan saat itu dia berkata ‘sabarlah Thi-thi… saya akan datang membantumu‘ Gadis indo di dalam mimpi saya itu adalah engkau Ami. Saya sudah meilhatmu dan abangmu dalam mimpi saya, Ami…” tutur Thi Binh.

Ami Florence ternganga mendengar cerita yang dahsyat itu. Dia hampir-hampir tak mempercayai pendengarannya.
“Bukan hanya engkau yang tak percaya, Nona. Semula si Bungsu pun tak percaya atas apa yang dituturkan Thi-thi tentang mimpinya.

Tapi dari mana dia tahu tentang ninja, tentang Indonesia, tentang kapal perang besar, gadis indo yang cantik yang ternyata dirimu, jika mimpi itu tak pernah ada?”
Ami menoleh ke arah suara di belakangnya. Ternyata tanpa diketahui sejak tadi di ruangan itu sudah ada Duc Tio dan Han Doi.
“Aku tahu, engkau mencintainya. Aku juga….”
Dug!

Hati Ami Florence bedegup mendengar pernyatan Thi Binh.
“Dia memang patut mendapat cinta banyak orang, Thi-thi….”
“Termasuk kita…?”
“Termasuk kita…!”
“Kau tidak marah aku mencintainya, Ami?”

Ami Florence menggeleng. Kemudian memeluk gadis kecil itu. Air matanya merembes, mengingat entah bagaimana nasib lelaki yang sedang mereka bicarakan. Entah masih hidup, sedang disiksa, entah sudah mati.

Si Bungsu membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah dunia yang serba terbalik. Ada orang-orang, api unggun, rumah-rumah bambu semuanya berada dalam posisi terbalik.
Selain itu ada rasa sakit… Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here