SUMBARTIME.COM-Maut kini sedang mengintai ratusan warga yang bermukim di kawasan Jorong Polong Dua, Jorong Batu Ampar serta Jorong Simpang Tiga, Nagari Koto Alam, Kabupaten Limapuluh Kota.
Keretakan tanah selebar 1 meter dan sepanjang 300 meter, membuat warga yang tinggal di kawasan tersebut merasa ketakutan dan dihantui oleh bencana besar yang diprediksi bisa menghapus kawasan pemukiman mereka dari peta Kabupaten Limapuluh Kota.
Terutama warga yang tinggal di Jorong Polong dua yang secara geografis pemukimannya berada di bawah Jorong Batu Ampar. Keretakan tanah selebar 1 meter dan panjang 300 meter di Jorong Batu Ampar membuat warga Polong Dua menjadi cemas serta ketakutan jika keretakan itu berbuah menjadi bencana serta malapetaka.
Menurut Ilham, warga Jorong Polong Dua, keretakan tanah yang cukup panjang di Jorong Batu Ampar itu, sewaktu waktu akan mengalami abrasi serta longsoran yang cukup dahsyat serta menimpa kawasan pemukimannya jika penyebab utama dari keretakan itu dibiarkan merajalela, ujarnya. Apalagi ditambah saat ini curah hujan deras cukup sering terjadi di lokasi sejak seminggu terakhir ini, timpal Ilham.
Sementara itu hasil investigasi data yang dihimpun, berdasarkan keterangan beberapa warga Kawasan setempat mereka meyakini penyebab utama terjadinya keretakan tanah yang cukup panjang itu akibat eksploitasi pertambangan dengan menggunakan bahan peledak seperti dinamit yang menggila di kawasan tersebut, ujar mereka mengungkapkan.
” Saat ini ada puluhan perusahaan tambang di seputar Koto Alam yang beraktifitas,” ungkap Cihel salah satu warga setempat kepada awak media, Jumat (13/12) malam.
Menurutnya, rata rata perusahaan tambang tersebut menggunakan bahan peledak untuk menguras kekayaan alam di Nagari Koto Alam. Dijelaskan Cihel, rata rata perusahaan itu berasal dari luar dan bekerja sama dengan pemilik lahan untuk mengeksploitasi tanah Kekayaan Koto Alam. Ada puluhan perusahaan yang melakukan aktifitasnya di lokasi secara gila gila an, sehingga menyebabkan ekosistem mengalami dampak kerusakan yang cukup parah dan dirasakan secara langsung oleh mayoritas warga tempatan.

” Banyak warga yang mengalami kerugian materil akibat eksploitasi yang dilakukan oleh pihak perusahaan tambang yang berkongkalingkong dengan para oknum, bang,” ujarnya geram.
Menurutnya saat ini banyak areal persawahan warga yang tidak bisa lagi untuk ditanami karena telah bercampur dengan air lumpur limbah buangan pertambangan. Sementara dampak nyata dan kini siap mengintai ratusan nyawa anak manusia adalah telah terjadinya keretakan tanah sepanjang 300 meter yang sewaktu waktu bisa abrasi dan menimbulkan bencana besar akibat efek daya ledak pertambangan yang nyaris tiap waktu terjadi, tukuknya mengatakan.
Senada dengan Cihel, warga setempat lainnya Hermidol. Dalam pesan tertulisnya kepada dapur redaksi yang masuk pada Jumat (13/12) pagi, juga menjelaskan terjadinya keretakan tanah yang juga merusak beberapa unit rumah warga di Koto Alam penyebab utamanya diduga keras akibat ekspolitasi pertambangan dengan memakai bahan peledak yang gila gilaan, terang.
Sementara itu dampak positif adanya puluhan perusahaan yang beraktifitas di kawasan mereka nyaris tidak dirasakan oleh ribuan warga tempatan.
” Hanya segelintir orang saja. Terutama pemilik lahan saja yang menikmati hasilnya,” aku Hermidol.
Menurutnya awal puluhan perusahaan itu masuk ke Koto Alam kepada warga mereka meminta izin untuk beraktifitas dengan konsekuensi akan mensejahterakan warga tempatan. Namun mayoritas warga merasa ditipu, hanya segelintir oknum saja yang menikmati fee dari proyek pertambangan tersebut. Sementara dampak yang ditimbulkan berpotensi akan terjadi peristiwa bencana yang diperkirakan cukup dahsyat bila keretakan tanah itu amblas dan menjadi lonsoran.
Untuk itu, kepada para petinggi Daerah Maupun Propinsi termasuk legeslatifnya segeralah turun tangan menyelesaikan persoalan yang kini sedang menghantui sebagian besar Warga Koto Alam.
” Saya dan ratusan warga tempatan berharap agar para petinggi Sumbar itu mendengarkan jeritan kami,” tutupnya menjelaskan. (aa)





















