• AD ART Sumbartime.com
  • Advertorial
  • Disclaimer
  • Home
  • Home
  • Iklan
  • Pedoman Berita
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Visi Misi
Sumbartime.com
Advertisement
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Sumbartime.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Sumbar
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Nasional
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Video
  • Wisata
ADVERTISEMENT
Home Cerbung

TIKAM SAMURAI 44

Sumbar Time by Sumbar Time
12 Mei 2020
in Cerbung, Tikam Samurai
A A
0
0
SHARES
41
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

SUMBARTIME.COM-Adalah si Bungsu yang pertama menegakkan kepala. Dalam geram guruh dan suitan angin di luar surau, dalam kesepian yang kelam itu, dia merasakan sesuatu yang ganjil. Mereka sebenarnya harus merasa aman dengan guruh dan angin ribut itu. Apalagi kalau hujan sempat turun. Sebab dengan demikian Jepang yang mencari mereka tentunya menarik diri ke posnya dan mereka dengan aman bisa menguburkan jenazah Mei-mei.

ADVERTISEMENT

Kemudian dengan aman pula bisa melarikan diri dari kepungan tentara-tentara Jepang itu. Namun tidak demikian halnya dengan si Bungsu. Ada firasat lain yang membuat hatinya tak enak dalam kesunyian di loteng surau kecil itu. Nalurinya yang tajam, yang terbiasa mencium marabahaya, yang telah terlatih ketika hidup lebih dari setahun bersama binatang-binatang buas di belantara Gunung Sago, kini mencium bahaya adanya yang tersembunyi.

ADVERTISEMENT

“Ada apa?” Datuk Penghulu bertanya melihat perobahan air muka anak muda itu.Si Bungsu tak segera menjawab. Dia masih tetap duduk di dekat mayat Mei-mei. Namun matanya berkilat aneh. Wajahnya jadi tegang.“Kita terperangkap. . . .,” katanya perlahan.Datuk Penghulu menegakkan kepala.“Perangkap ?” desisnya sambil coba menangkap suara-suara yang menyelingi suitan angin dan gemuruh guruh di luar surau.Namun dia tak menangkap suara apa-apa.

Tapi dia percaya pada anak muda ini. Dia sudah beberapa kali membuktikan bahwa indera dan naluri anak muda didepannya itu amat tajam. Datuk itu segera teringat pada Imam yang turun tadi. Apakah Imam itu mengkhianati mereka? Ternyata Jepang itu memang mengetahui persembunyian mereka dari Imam tersebut.Ketika Datuk Penghulu membawa Imam itu naik sore tadi, seorang penduduk pribumi yang telah lama jadi mata-mata Jepang, melihat mereka.

BacaJuga

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021

Dia segera saja melaporkannya kepada seorang Letnan yang berada tak jauh dari sana. Dan Letnan itu menanti di rumah si Imam. Begitu Imam itu muncul di rumahnya, dia jadi terkejut. Di ruang depan rumahnya sudah berkumpul dua anak gadisnya dan istrinya. Mereka di kawal oleh enam orang Serdadu Jepang dengan bedil dan bayonet terhunus.“Nah, kini katakan cepat siapa yang ada di surau itu pak imam.?”Letnan Jepang itu segera saja buka suara begitu dia masuk. Imam itu jadi pucat. Namun rasa nasionalnya yang tebal menolak untuk membuka rahasia.“Tak ada siapa-siapa.

Di sana hanya seorang perempuan yang akan sembahyang…”“Apakah tak ada orang lain?”“Tak ada. Boleh lihat kesana.”Imam itu berkata pasti. Sebab dia tahu, loteng surau itu dari bawah kelihatannya hanya terbuat dari bambu. Padahal loteng itu berlapis dua. Bahagian atasnya terbuat dari papan. Garin serta penjaga mesjid lainnya tidur disana. Jalan naik ke atas berada di bahagian belakang, tersembunyi dari pandangan orang.Letnan itu tak mengulangi pertanyaan, tapi tangannya langsung bekerja.

Sebuah tamparan mendarat di pipi si Imam. Demikian kuatnya tamparan itu, sehingga Imam itu terpelanting dan mulutnya berdarah. Istri dan anak-anaknya terpekik dan mulai menangis. Imam itu menatap dengan penuh kebencian pada Jepang-Jepang tersebut.“Jahanam. Kalian takkan selamat di tangan negeri ini . . .” desisnya.Letnan itu menggerakkan kaki. Ujung sepatunya yang keras mendarat di dagu Imam tersebut. Kembali Imam ini terpelanting.

Kali ini giginya copot beberapa buah. Istrinya memburu dan memeluknya. Ketika anak gadisnya juga mendekat. Letnan itu menyambar tangannya. Gadis itu terpekik dan meronta. Tapi Letnan itu merenggut pakaiannya hingga robek. “Nah, Imam, bicaralah yang sebenarnya. Kalau tidak, anakmu ini akan kubawa ke kamar ..”Ujar Letnan itu menyeringai. Imam itu melompat bangkit ingin menghantam letnan tersebut. Tapi sebuah tendangan kembali membuat dia terjajar.

“Hmm Baik. Kalau kau tak mau buka suara, saya akan menikmati anakmu ini.”Si Letnan lalu menyeret gadis berusia enam belas tahun itu ke bilik, Akhirnya Imam itu tak bisa berbuat lain dari pada harus mengaku. Dia berharap agar kedua orang yang ada di loteng surau itu menyadari bahwa bahaya mengancam mereka. Dia berharap agar kedua mereka segera turun dan melarikan diri. Dia terpaksa mengakui bahwa kedua buronan yang di cari Jepang itu berada di loteng surau itu.

Jalan ini benar-benar dia lakukan dengan sangat terpaksa. Orang tua mana yang tak menginginkan keselamatan anaknya? Si Letnan memang tak jadi membawa gadis itu ke kamar. Dia memberi instruksi kepada delapan orang Kempetai yang ada diluar untuk mencek kebenaran ucapan si Imam. Dia juga memerintahkan untuk menangkap mereka. Kalau ternyata laporan imam ini tak benar, maka dia akan melanjutkan rencananya menyelesaikan anak gadis Imam yang ada di rumah ini.

Kedelapan Kempetai itu segera menuju ke surau tersebut. Kedatangan mereka inilah yang dapat dirasakan oleh naluri si Bungsu.“Kita harus meninggalkan surau ini. . . . .,” kata Datuk Penghulu.“Tapi bagaimana dengan Mei-mei.” ujar si Bungsu. Datuk Penghulu menarik nafas.
“Terpaksa kita tinggalkan nak. Tapi yakinlah Jepang takkan menganiaya mayatnya. Kita hanya sedih tak bisa mengurus mayatnya sebagaimana yang kita kehendaki.

Namun mayat akan dikuburkan. Mungkin oleh Jepang, mungkin oleh penduduk yang disuruh Jepang. Percayalah. Kini mari kita menghindar dari surau ini sebelum terlambat. . . .”Si Bungsu menatap pada mayat Mei-mei. Tanpa dapat dia tahan, air matanya mengenang di pelupuk matanya.“Semasa hidupmu, kita jarang bersama. Ketika engkau meninggal pun, aku terpaksa meninggalkan jasadmu. Kita memang orang-orang yang bernasib malang Mei-mei. Kudoakan semoga engkau bahagia ditempatmu yang baru.

ADVERTISEMENT

Jika di dunia jasadmu menderita, semoga Tuhan menempatkan rohmu di tempat yang bahagia. Dan aku yakin, Tuhan akan menempatkanmu disana. . . Selamat tinggal sayang. . . .”Dia menunduk. mencium kening mayat yang mulai mendingin itu. Kemudian dengan mengeraskan hatinya, dia tegak.“Kita berangkat. . .,” katanya pada Datuk Penghulu. Datuk Penghulu sendiri merasakan matanya basah melihat kedua anak muda ini.“Mei-mei anakku, maafkan kami tak bisa menyelenggarakan jenazahmu. Hanya Tuhan yang tahu bahwa kami benar-benar menyayangimu.

Tinggallah nak. . . ,” Ujarnya perlahan.Kemudian mereka mulai menuruni jenjang yang menuju ke belakang surau. Gerimis menyambut mereka begitu menjejakkan kaki di tanah.“Mereka sudah dekat. .” si Bungsu berbisik.Datuk Penghulu bergegas membawa si Bungsu ke dekat sebuah tebat di belakang surau. Dia hapal betul dengan situasi surau ini. Sebab dia termasuk salah seorang yang membuat surau itu. Derap sepatu Kempetai terdengar memasuki surau ketika Datuk tersebut mulai memasuki tebat.

“Masuklah . . . .”, katanya pada si Bungsu.Si Bungsu tak banyak tanya. Dia segera masuk. Tebat itu cukup dalam. Mereka bisa menyelam. Di arah batang pisang itu, di bawahnya ada terowongan yang tembus ke sungai kecil di balik hutan bambu sana.“Kita akan keluar persis di belakang rumah Imam tadi. Kita bisa menyelami terowongan itu. cukup lama, salah-salah bisa kehabisan nafas sebelum sampai ke sungai belakang bambu itu. Dan jika kita sampai kehabisan nafas, maka mayat kita akan tersangkut dalam terowongan. Ayo mulai menyelam. . . .”

Datuk itu memang mulai membenamkan diri. Saat itu seorang Kempetai telah sampai ke loteng dan berteriak pada temannya di bawah. Jepang-Jepang itu mulai mencari ke belakang surau. Sesaat sebelum mereka muncul, si Bungsu telah membenamkan diri dan mulai menuju terowongan yang di maksud Datuk Penghulu.Terowongan air itu melintasi sebuah tanggul sebelum sampai ke sebuah sungai kecil. cukup lama si Bungsu menahan nafas dan berenang mengikuti arus air, kemudian dia merasa melayang-layang.

Dia menjangkau tangannya ke atas. Ketika dirasanya tak ada langit-langit yang menghalangi, dia lalu muncul.“Lekaslah ….” Ujar Datuk Penghulu yang telah tegak di tebing, dan mulai melangkah.“Yang kelihatan lampu sedikit itu rumah Imam tadi,”Datuk Penghulu berkata sambil menunjuk ke belakang. Di rumah Imam itu Letnan yang tadi memegang anak gadis si Imam masih duduk di kursi. Sementara di lantai, duduk Imam yang berlumuran darah itu bersama-sama istrinya.

Di luar hujan gerimisan turun. Mata Letnan itu menyambar dengan kilatan birahi ke tubuh anak Imam itu. Gadis itu punggungnya kelihatan jelas karena bajunya robek. Letnan itu beberapa kali menelan ludahnya. Pinggul gadis itu merangsang birahinya. Dan tiba-tiba dia memberi isyarat pada seorang prajurit yang menjaga. Prajurit itu mendekat. Mereka berbisik. Kemudian si Letnan bangkit.

Dan menyambar tangan gadis itu.“Tuan telah berjanji tidak mengganggu kami. . . . “, Imam itu berkata.Tapi Letnan itu nyengir seperti iblis. Dia tetap menarik tangan gadis yang meronta-ront a itu. Tapi apalah dayanya. Letnan itu terlalu kuat baginya. Dalam dua kali renggut dia sudah sampai ke pintu bilik. Gadis ini berteriak. Ayahnya bangkit akan menolong anaknya. Tapi ketiga prajurit lainnya sudah siap sejak tadi. Dengan sebuah pukulan popor bedil Imam itu terkulai.

Istrinya terpekik memeluknya. Sementara gadis itu dengan masih memekik-mekik di seret ke bilik orang tuanya. Dua puluh depa dari rumah itu, si Bungsu dan datuk Penghulu yang baru saja keluar dari sungai, telah melangkahkan kaki untuk memulai pelarian mereka, jadi tertegun. Mereka seperti mendengar pekik perempuan.Pekik itu juga terdengar oleh beberapa penduduk yang rumahnya berdekatan dengan rumah Datuk Penghulu. Namun tak seorang pun diantara para lelaki yang ada disekitar itu yang berani memberikan pertolongan.

Mereka semua mengetahui bahwa di rumah Datuk itu ada Kempetai. Dan bila ada perempuan memekik, itu bisa disadari apa artinya.Tak ada yang berani menolong. Sebab pertolongan berarti melawan Jepang. Dan melawan Jepang artinya cabut kuku atau dibunuh. Nah, dari pada mencari susah lebih baik diam di rumah. Itu lebih selamat. ‘Bikin apa cari penyakit,’ pikir mereka.Tapi tak demikian halnya dengan si Bungsu dan Datuk Penghulu. Hampir bersamaan, mereka yang sedianya akan melarikan diri itu, pada mengayunkan langkah panjang ke ruamh Imam tersebut. Mereka sadar, jika mereka kelihatan oleh Jepang, itu artinya maut mengintai.

Tapi menyadari bahwa ada orang lain yang butuh pertolongan, mereka melupakan bahaya yang mengancam diri mereka sendiri. Mereka segera mancapai belukar di pinggir rumah itu. Pekik dan tangis masih terdengar dari dalam.“Ada tiga orang diluar” si Bungsu berbisik.Lalu seperti sudah bermufakat, tiba-tiba saja mereka meloncat ke depan. Ketiga Serdadu Jepang yang tegak di bawah cucuran atap itu, yang berteduh dari gerimis, terkejut melihat kehadiran mereka yang amat tiba-tiba.

Yang seorang berniat membentak, tapi suaranya hanya sampai di tenggorokan. Kerampangnya kena tendang Datuk Penghulu. Kemudian sebuah tinju mendarat di jantungnya. Dia terjajar, mati.Yang dua lagi mengangkat bedil. Namun bedil itu tak pernah meletus. Sebuah sinar halus melesat amat cepat. Dan tahu-tahu yang satu lehernya hampir putus, yang satu lagi dadanya terburai. Mereka mati tanpa sempat mengeluh. Dan tak sempat pula mengetahui, apa yang menjadi malaikat maut yang merenggut nyawa mereka demikian cepatnya.

Dan si Bungsu menyisipkan kembali samurainya. Datuk Penghulu memberi isyarat. Si Bungsu mengangguk. Di dalam bilik si Letnan tadi sudah merenggut seluruh pakaian anak gadis Imam itu. Gadis malang itu tegak di sudut ruangan dengan tubuh menggigil tanpa pakaian secabikpun. Kempetai itu menjilat bibir dan meneguk liurnya beberapa kali melihat tubuh montok gadis itu.

“Hhhhh, bagusy badan . . .bagusy badaaaan . . . .,” katanya seperti orang menggigil.Dan dalam gigilannya itu dia membuka pula pakaiannya sendiri. Kemudian mendekat pada si gadis. Gadis itu tak kuasa lagi memekik. Dia menutupi wajahnya. Dan tiba-tiba dia terkulai pingsan saking ngeri dan malunya. Tubuhnya yang terkulai cepat disambut oleh Jepang itu. Kemudian menghempaskannya ke pembaringan. Saat itulah jendela kamar itu pecah di hantam dari luar.

Seiring dengan masuknya papan pecahan jendela, sesosok tubuh berpakaian serba hitam tiba-tiba saja sudah tegak dalam kamar itu. Dia adalah Datuk Penghulu yang masuk dengan meloncat menerjang jendela kamar Kempetai itu tertegun. Tapi itulah tegunnya yang terakhir. Itulah kesempatan baginya untuk tertegun semasa hidupnya, sebab setelah itu dengan penuh kebencian pukulan Datuk Penghulu menghujam ke arah jantungnya.

Dia berusaha untuk mengelak dengan mempergunakan tangkisan karate. Namun Datuk itu sudah sampai ke puncak berangnya. Begitu tangannya ditangkis, tangan yang menangkis itu dia tangkap.Kemudian dengan sebuah pelintiran yang telak, tubuh Jepang itu terjerembab ke tanah. Saat berikutnya, dengan masih memegang tangan kanan Jepang itu, kaki Datuk Penghulu menghujam ke bawah. Hujaman pertama membuat tulang leher Jepang itu berderak.

Kemudian hentakkan kedua adalah hentakkan tumit ke hulu hati. Jantung dan hati Jepang itu pecah oleh jurus Hentak Alu yang dipergunakan oleh Datuk tadi.Pada saat Datuk itu menjebol jendela, saat itu pula si Bungsu membuka pintu depan. Kemudian dia berdiri dua depa dari ketiga Jepang yang mengawasi imam dan istrinya itu.

Semula mereka tak acuh. Menyangka bahwa yang hadir itu adalah temannya yang tadi keluar. Tapi begitu mendengar jendela dijebol, mereka terkejut. Dan ketika diperhatikan, ternyata yang tegak dekat pintu adalah pemuda yang mereka cari-cari.“Bagero ini dia. Dia iniiiiii..!!” yang seorang memekik saking kagetnya.Serentak mereka mengangkat bedil. Tiga letusan bergema mengoyak kesunyian. Bersambung>>>

ADVERTISEMENT
Previous Post

Hari ini, Ditemukan 2 Orang Klaster Baru Positif Corona di Payakumbuh

Next Post

Lima Puluh Kota Bertekad Tetap Nol Positif Covid 19

Sumbar Time

Sumbar Time

Setiap Waktu Bernilai Informasi

BacaJuga

Cerbung

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 257

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 256

22 Agustus 2021
Next Post
Lima Puluh Kota Bertekad Tetap Nol Positif Covid 19

Lima Puluh Kota Bertekad Tetap Nol Positif Covid 19

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Justictalk ” Ngobrol santai melek hukum”

https://youtu.be/r3p0YSm3qWE
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

7 Juni 2024
Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

30 Desember 2023
Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

23 Desember 2023
Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

5 Mei 2024

Depósitos protegidos e ganhos instantâneos no casino Bwin para Portugal

0
Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

0
BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

0
Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

0
Dari Palmerah untuk Bukittinggi, PJS Belajar ke Tempo, Membawa Misi Jam Gadang Menuju Panggung Nasional

Dari Palmerah untuk Bukittinggi, PJS Belajar ke Tempo, Membawa Misi Jam Gadang Menuju Panggung Nasional

12 Mei 2026
Kantor Polsek Kapur IX Direhab Secara Swadaya, Warga Apresiasi Kepemimpinan AKP Rika Susanto

Kantor Polsek Kapur IX Direhab Secara Swadaya, Warga Apresiasi Kepemimpinan AKP Rika Susanto

9 Mei 2026
Peringati Hardiknas 2026, Stafsus Menteri ATR/BPN Rezka Oktoberia Apresiasi Gebrakan Kapolda Sumbar di Kampus UIN IB

Peringati Hardiknas 2026, Stafsus Menteri ATR/BPN Rezka Oktoberia Apresiasi Gebrakan Kapolda Sumbar di Kampus UIN IB

6 Mei 2026
Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026

Berita Terbaru

Dari Palmerah untuk Bukittinggi, PJS Belajar ke Tempo, Membawa Misi Jam Gadang Menuju Panggung Nasional

Dari Palmerah untuk Bukittinggi, PJS Belajar ke Tempo, Membawa Misi Jam Gadang Menuju Panggung Nasional

12 Mei 2026
Kantor Polsek Kapur IX Direhab Secara Swadaya, Warga Apresiasi Kepemimpinan AKP Rika Susanto

Kantor Polsek Kapur IX Direhab Secara Swadaya, Warga Apresiasi Kepemimpinan AKP Rika Susanto

9 Mei 2026
Peringati Hardiknas 2026, Stafsus Menteri ATR/BPN Rezka Oktoberia Apresiasi Gebrakan Kapolda Sumbar di Kampus UIN IB

Peringati Hardiknas 2026, Stafsus Menteri ATR/BPN Rezka Oktoberia Apresiasi Gebrakan Kapolda Sumbar di Kampus UIN IB

6 Mei 2026
Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026
ADVERTISEMENT
Sumbartime.com

Sumbartime.com -"Setiap Waktu Bernilai Informasi"

Ikuti Kami

  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.

No Result
View All Result
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer
  • Iklan

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.