SUMBARTIME.COM-“Nama saya Mei-mei ..” katanya sambil tersenyum.Ketika Mei-mei melihat kusir itu menatapnya, dia segera mendatanginya. Kemudian dengan sikap hormat menyalami orang tua itu.“Terima kasih atas bantuan Bapak kepada kami ..” katanya.Kusir tua itu tersenyum.
“Nama saya Datuk Penghulu Basa. Kau boleh panggil saya dengan sebutan bapak atau pak Datuk. Tinggallah di sini buat sementara. Menjelang kokomu sehat. Saya rasa rusuknya ada yang patah. Berbahaya kalau dia berada di kota dalam keadaan seperti itu. Teman teman Datuk yang dia pancung semalam dan juga Kempetai pasti mencari. Siapa nama kokomu itu?”
“Bungsu. Kami baru datang dari Payakumbuh..”“Ya. Saya ada di depan penginapan itu ketika kalian turun dari bus ..”Datuk Penghulu Basa lalu menceritakan tentang siapa yang dibunuh oleh si Bungsu di penginapan itu. Tentang kawanan penyamun yang bermarkas di rimba buluh di lembah Tambuo itu.“Hei, kenalkan, muridku si Salim …..”Datuk Penghulu memperkenalkan anak muda yang tadi berlatih dengannya kepada Mei-mei.
Gadis itu menyambut salam tersebut. Salim merasakan hatinya berdebar ketika menyalami tangan gadis Tionghoa yang cantik itu. Hari hari setelah itu si Bungsu dirawat oleh Datuk Penghulu di rumahnya. Dia terpaksa berbaring selama tiga puluh hari di tempat tidur. Rusuknya patah tidak hanya dua buah. Melainkan ada tiga yang kupak dimakan kaki Datuk penyamun dan anak buahnya itu.
Selama itu pula Mei-mei juga tinggal di sana. Dia sebilik dengan upik. Tiap hari Datuk Penghulu Basa tetap mencari nafkah dengan bendinya. Dia menceritakan pada Mei-mei dan si Bungsu. Jepang sebenarnya berterima kasih pada orang yang tak dikenal yang telah membunuh kawanan penyamun itu. Namun selain berterima kasih Jepang juga tetap mencari si Bungsu. Sebab betapapun jua, si pembunuh harus didengar keterangannya tentang peristiwa itu.
Datuk kepala penyamun yang buntung tangan dan kakinya itu dirawat di rumah sakit. Dia masih tetap hidup. Kempetai berhasil mengorek keterangan dari mulut kepala penyamun ini tentang markas mereka di Tambuo. Jepang lalu menggerebek markas mereka dalam rimba bambu itu. Tujuh orang lagi berhasil diringkus dari sana.Kini, orang tak merasa khawatir lagi lewat di penurunan Tambuo seperti masa masa sebelumnya.
Kalau dulu, untuk ke Bukittinggi dari Tigobaleh dan sekitarnya, orang harus memutar jalan ke Simpang Limau. Atau berputar ke Banu Hampu terus ke Jambu Air. Mereka tak pernah aman lewat di penurunan Tambuo itu. Tak jarang orang menemui mayat di Batang Tambuo yang berair deras itu. Tapi kini masa seperti itu sudah lewat. Suatu hari ketika si Bungsu merasa agak baik, dia coba untuk berdiri. Sudah berlalu masa dua puluh hari sejak dia dibawa ke rumah ini.
Tiga tulang rusuknya yang patah sudah agak terasa nyaman, itu karena rawatan datuk itu anak beranak. Mei-mei dengan tambahan ramuan kering yang dia bawa dari gunung Sago. Pagi itu dia terbangun karena kicau burung dan suara bentakan bentakan di luar rumah. Dia buka jendela dan menghirup udara pagi segar yang menerobos masuk. Dilihatnya kopi sudah terletak di atas meja kecil di dalam kamar itu.
Dalam sebuah gelas terletak beberapa bunga bunga kobra bunga mawar.Pastilah Mei-mei yang meletakkannya. Seperti kebiasaan gadis itu setiap pagi selama di rumah ini. Datuk Penghulu pasti belum kembali. Sebab malam tadi dia berkata, bahwa malam ini mereka ada perlu. Kabarnya ada pertemuan pejuang di Bukit Ambacang. Datuk itu termasuk salah seorang dari pejuang itu.
Ketika dia menoleh ke arah belakang, dia tertegun. Di lapangan kecil di belakang rumah itu, dilihatnya orang sedang bersilat. Yang satu pastilah si Salim. Kemenakan Datuk Penghulu. Dia kenal pemuda itu selama berada d i rumah ini. Pemuda baik dan rendah hati dan berbudi.Yang dia hampir hampir tak percaya atas penglihatannya adalah lawan si Salim bersilat itu. Lawannya adalah seorang perempuan. Seorang gadis.
Berpakaian serba hitam dan rambutnya yang panjang diikat tinggi tinggi. Pakaian yang hitam sangat kontras dengan kulitnya kuning bersih. Jurus silat yang dia bawakan amat berlawanan dengan tubuhnya yang lemah lembut, dan wajahnya yang cantik. Mei-mei. Mei-mei belajar silat Ini benar benar suatu yang luar biasa.Di tepi lapangan, si Upik anak Datuk Penghulu Basa melihat dengan penuh perhatian.
Sesekali gadis kecil itu bersorak bila tendangan atau pukulan Mei-mei mengenai tubuh Salim. Atau sesekali gadis itu berseru berang bila kebetulan pemuda itu mengenai tubuh Mei-mei. Si Bungsu benar benar terpesona. Dia tak mengerti silat. Tapi melihat gerakan Mei-mei, dia yakin gadis itu sudah mulai cepat dengan kaki dan tangannya. Padahal baru dua puluh hari dia belajar.Saat itu, ketika Salim berniat menangkap pukulan tangan Mei-mei, gadis itu membiarkannya.
Ketika Salim berniat menguasai tangan tersebut, di luar dugaan, kaki kiri Mei-mei yang berada di belakang kaki kanannya, menendang kedepan dengan kuat dan cepat sekali. Tendangan itu demikian telaknya. Salim baru menyadari bahaya tendangan itu ketika sudah terlambat.Tendangan itu masuk keperutnya Tak ada ampun. Tubuhnya terlipat dan terguling ketanah. Si Upik bersorak gembira. Mei-mei tertegun melihat akibat tendangannya.
Salim meringis dan merangkak bangun. Mei-mei membantunya tegak dengan wajah penuh penyesalan.“Maaf… maafkan saya tak sengaja …” Salim tegak tapi tersenyum.“Benar benar jurus cuek Sadapo yang sempurna. Saya tak pernah berhasil sebaik itu dalam mempergunakan jurus tersebut…”Salim berkata jujur sambil menghapus peluhnya. Mereka terkejut tatkala mendengar tepuk tangan dari rumah.
Ketika mereka menoleh, mereka melihat si Bungsu tegak dengan senyum di dekat jendela. Mei-mei menghambur gembira melihat anak muda itu sudah bisa berdiri.“Koko ..” serunya tersendat.“Moy-moy. Selamatlah. Engkau telah menjadi seorang pesilat..” suara si Bungsu terdengar bernada gembira dan bangga.Mei-mei menatap anak muda itu. Dan tiba tiba dia memeluk anak muda itu dengan isak tertahan.
Gadis ini sangat merisaukan kesehatan si Bungsu, itu sebabnya ketika kini dia melihatnya telah mampu berdiri, hatinya sangat bersyukur. Dia menangis karena bahagia. Hanya si Bungsu yang jadi terheran heran, tatkala mengetahui“Mei-mei menangis. Hei, ada apa Mei-mei ..?”“Saya bahagia, koko telah sembuh. Saya sangat khawatir koko tak sembuh sembuh. Saya sangat hawatir …..”
“Orang kalau gembira pasti tertawa. Ini gembira kok menangis. Hei Salim, bagaimana ini. Pesilat tak boleh menangis bukan ?” Salim hanya tersenyum, si Upik berlari pada Mei-mei.“Jangan menagis, Uni…” katanya.Mei-mei melepaskan pelukannya dari si Bungsu, kemudian menghapus air matanya. Kemudian menatap pada si Bungsu. Si Bungsu tersenyum.“Teruslah berlatih. Saya bangga melihatmu jadi seorang pesilat ..”“Kami sudah selesai.
Hanya tinggal menutup dengan pernafasan ..” terdengar suara Salim.“Ayolah kita tutup latihan ini Uni. Kesehatan bisa rusak bila tak diakhiri dengan latihan pernafasan itu ..” Ujar Upik membujuk Mei-mei. Gadis itu kemudian melangkah lagi ke lapangan kecil di belakang rumah tersebut. Lalu mengatur pernafasan sebagai penutup latihan.Si Bungsu mengenal latihan ini. Pernafasan mempertajam pendengaran dan mengatur tenaga yang telah terpaksa.
Latihan begitu tiap hari dia lakukan ketika di gunung Sago dahulu. Mei-mei memang telah mulai latihan silat sejak dua hari kedatangannya kerumah Datuk Penghulu ini. Dia tertarik melihat si Upik berlatih.Karena itu ketika Datuk Penghulu Basa menawarkan untuk ikut, tanpa malu malu diapun ikut. Dengan cepat ternyata dia bisa menguasai pelajaran yang diberikan. Sebenarnya Datuk Penghulu bukan sekedar menawarkan latihan saja pada Mei-mei.
Dia punya alasan yang kuat. sebagai guru gadang aliran Silek Tuo yang berasal dari Pariangan Padangpanjang, yaitu aliran silat yang merupakan induk dari silat silat yang ada di Minangkabau, seperti silat Lintau, Kumango, Pangian dan lain lain, dia dapat melihat tulang seorang pesilat pada tubuh orang. Mula pertama melihat Mei-mei, hatinya berdetak keras. Susunan tulang Mei-mei merupakan susunan yang hampir hampir sempurna bagi seorang pesilat.
Dia yakin gadis ini mempunyai bakat silat yang luar biasa.Itulah sebabnya dia menawarkan gadis itu untuk belajar. Dan ketajaman penglihatannya itu segera saja terbukti. Ketika dalam waktu tak sampai satu bulan, Mei-mei telah melalap dan memahami dengan baik pelajaran pelajaran pokok dan kunci kunci serangan yang diberikan Datuk Penghulu Basa. Tak seorangpun yang mengetahui, bahkan Mei-mei sendiri, bahwa gadis itu sebenarnya adalah turunan seorang pesilat tangguh. Ayah dari kakek Mei-mei berasal dari Tinggoan di daratan Tiongkok sana.
Dan ayah kakeknya ini adalah seorang Tiang Bujin, atau dedengkot silat aliran Siau Lim Pay yang sangat tersohor. Ayah dari kakeknya bergelar Bu Beng Tay Hiap. Si Pendekar Pedang Tak Bernama. Setiap pesilat di daratan tlongkok pasti menaruh segan pada pendekar itu. Dan ternyata bakat dan susunan tulangnya menurun pada buyutnya yang dilahirkan di Indonesia, yaitu Mei-mei. Tak seorangpun yang mengetahui hal ini.
Dan itu pulalah sebabnya, kenapa ketika ditawarkan untuk belajar silat oleh Datuk Penghulu gadis itu menerima dengan rasa gembira. Tentu saja dia gembira, sebab darah pesilat di dalam tubuhnya mendorong-dorong. Hanya saja selama ini tak pernah mendapat penyaluran Pelajaran silat yang diberikan padanya, segera saja dapat dia terima secara sempurna.
Di samping merasa bangga dan gembira, Datuk Penghulu juga merasa kaget pada kemajuan yang dicapai gadis itu. Si Upik yang telah setahun belajar, kini justru diajar oleh Mei-mei. Dan kini kalau Datuk itu tak di rumah, Salimlah yang membimbing Mei-mei. Bersambung>>>

















