TIKAM SAMURAI 22

SUMBARTIME.COM-”Ya, Saburo! Kenapa…?” Mariam tertegun kecut melihat sikap si Bungsu.
”Dialah yang telah membunuh ayah, ibu dan memperkosa kakakku sebelum dia dibunuh. Kemudian dialah yang membabat punggungku dengan samurainya. Jahanam. Di mana dia kini…?!”

Suara Si Bungsu hampir saja tak bisa di kontrol jika tidak cepat-cepat mulutnya ditutup dengan tangan oleh Mariam.
”Tenanglah. Kamura di sebelah. Saya tak tahu dimana Saburo. Sudah lama dia tak datang kemari. Padahal biasanya tiap malam dia pasti datang…”
”Mariam. Apakah engkau tak berniat untuk meninggalkan tempat ini?”
”Kemana?”

Iklan

”Kemana saja. Asal jangan kembali ke tempat ini. Barangkali kau bisa hidup dengan tenang si suatu tempat. Dengan seorang suami….”
Mariam mulai lagi terisak.
”Siapa yang tak menginginkan kehidupan yang tentram dengan seorang suami? Itulah dulu yang kuinginkan ketika kawin dengan pemuda yang kucintai sampai Saburo membunuhnya. Dan kini, siapa lagi lelaki yang mau menerimaku sebagai isterinya?”

”Tapi engkau juga tak mungkin di sini terus Mariam…”
”Lalu akan kemana aku?”
”Carilah suatu tempat yang jauh dari sini. Mungkin ada lelaki yang mencintaimu. Engkau masih muda dan …. cantik….”
”Takkan ada yang mau, apalagi bila mereka tahu siapa aku…”
”Engkau belum mencobanya. Jangan menyerah sebelum kau coba….”
”Baiklah, akan kucoba sekarang.

Aku mau meninggalkan tempat ini. Aku mau pergi kalau kau menikahiku. Apakah kau bersedia menjadi suamiku?”
Si Bungsu tertegun. Dia tak menduga perempuan ini akan berkata begitu. Melihat dia tertegun, Mariam berkata lagi.
”Jangan coba mengelak dengan mengatakan bahwa engkau telah punya isteri. Saya mengenal lelaki yang telah kawin dengan yang masih bujangan. Nah, maukah engkau menikah denganku?”

Perempuan itu menatap nanap padanya. Si Bungsu terdiam, peluh mulai membasai tubuhnya. Mula-mula dia masih bisa menatap Mariam. Tapi kemudian dia tertunduk. Mariam terisak. Menelungkup di tilam tipis di pembaringannya. Si Bungsu jadi serba salah. Perlahan dia pegang bahu perempuan itu, mendudukkannya, kemudian tiba-tiba Mariam memeluknya sambil menangis.

”Diamlah… jangan menangis..” ujarnya pelan.
Ketika perempuan itu masih terisak, perlahan di pegang wajahnya. Entah apa yang mendorongnya, tahu-tahu pipi perempuan itu diciumnya. Lalu.. dengan lembut ciumannya pindah ke bibir perempuan itu. Perempuan itu sesaat masih terisak. Kemudian terdiam, lalu membalas ciuman si Bungsu. Tapi kemudian tiba-tiba dia melepaskan bibirnya dari bibir si Bungsu. Si Bungsu kaget dan malu.

”Aku perempuan pertama yang kau cium, Uda?”
Mariam bertanya dengan suara gemetar. Si Bungsu ingin mengangguk. Namun anggukannya tak jadi. Ingin menggeleng, tapi dia tak bisa berdusta. Perasaan malu dan takut bercampur aduk.
”Terima kasih Uda. Engkau membuat aku bahagia. Akan kukenang ciuman ini,” Mariam berkata sambil menghapus air matanya. Si Bungsu menarik nafas lega, kemudian berkata pelan.

”Menghindarlah dari rumah ini Mariam. Akan terjadi huru-hara sebentar lagi…”
”Sudah lama aku memimpikan melihat seorang Minangkabau melawan Jepang. Membunuhnya, berkelahi dengan mereka. Mungkin mereka akan mati. Namun di hatiku, mereka tetap seorang pahlawan. Sudah lama aku ingin melilhat hal itu terjadi. Betapa seorang lelaki Minangkabau tegak dengan perkasa menghadapi samurai Jepang yang zalim itu. Dan kini barangkali aku akan melihatnya.

Kenapa aku harus pergi? Tidak, aku akan berada di sini sampai huru hara itu usai, Uda…” Si Bungsu tak lagi berkata. Dia tegak dan melangkah. Kemudian membuka pintu. Berbelok ke kanan. Menerjang pintu kamar dimana Kamura tadi masuk dengan perempuan berkulit hitam manis itu.
Kamura yang tadi membawa si Hitam Manis kini tengah bermandi peluh dalam kamar tersebut.

Si Hitam Manis juga bermandi peluh. Tubuhnya yang tak berkain tertelentang. Sebelah kakinya terjuntai kebawah tempat tidur. Dan Kamura sedang duduk di lantai di antara kaki si Hitam Manis ketika tiba-tiba pintu kamarnya dihantam hingga terbuka. Kamura terlompat bangun. Si Hitam Manis hanya menelungkupkan tubuhnya. Dia menyangka yang masuk adalah kawan Kamura. Sebab sudah biasa Jepang-Jepang itu bergantian masuk kesebuah bilik bila temannya telah puas.

Namun kini yang masuk bukanlah tentara Jepang, melainkan si Bungsu. Kamura memaki berang melihat yang masuk ternyata seorang Melayu.
”Bagero! Masuk siapa kemari yang kamu berani, he!? ” bentaknya terbalik-balik. Padahal yang ingin dia ucapkan adalah ”Siapa kamu yang berani masuk kemari, he”. Mata si Bungsu menyipit.

Mulutnya terkatup rapat. Kemudian dari sela bibirnya terdengar suara mendesis: ”Aku anak Datuk Berbangsa dari kampung Situjuh Ladang Laweh. Yang kalian bunuh dua tahun yang lalu. Dimana Saburo kini? ”
Tanpa lebih dahulu memakai celananya. Kamura menerjang si Bungsu. Namun si Bungsu sudah siap. Dia mengelak. Tubuh Kamura yang telanjang bulat itu menerpa pintu. Kemudian terpelanting ke ruangan tengah. Si Hitam Manis terpekik.

Di ruang tengah, dua orang serdadu Jepang yang tengah keluar jadi tertegun. Kemudian tertawa terbahak-bahak melihat Kamura yang telanjang bulat itu. Mereka menyangka Kamura mabuk. Namun Kamura dengan cepat menyentak samurai di pinggang seorang perwira, dan menerjang kembali masuk kekamar dimana tadi si Bungsu tegak. Tapi tubuhnya segera tercampak lagi keluar kamar. Dan kali ini dengan tubuh hampir terpotong dua pada dadanya!

Perempuan-perempuan yang ada dalam rumah petak itu pada terpekik. Empat orang sedadu Jepang segera naik menghambur keatas. Di pintu bilik si Hitam Manis itu, tegak si Bungsu dengan sebuah tongkat di tangannya. Dia tegak dengan tenang. Menatap pada enam Jepang yang kini tegak pula menatapnya. Mereka bertatapan. Dengan sudut matanya si Bungsu melihat di sebelah kirinya, agak jauh di tepi dinding, tegak Mariam di antara beberapa temannya.

Perempuan itu menatap padanya dengan sinar mata penuh kebanggaan. Salah seorang dari perwira Jepang itu segera saja mencabut pistol dan menembakkannya kearah si Bungsu. Si Bungsu menggelinding di lantai. Gerakkan Lompat Tupai! Peluru perwira itu menerpa tempat kosong. Dua kali menggelinding dengan cepat, akhirnya ketika dia tegak samurainya bekerja. Perwira itu terpekik. Tangannya yang tadi menembakkan pistol putus hingga siku. Sebelum pekiknya berakhir, samurai di tangan si Bungsu bekerja lagi.

Kepalanya belah dua! Suasana tiba-tiba jadi sepi. Hening mencekam! Si Bungsu tegak di depan kelima serdadu Jepang itu dengan wajah yang sedingin batu es. ”Saya si Bungsu. Saya mencari Kapten Saburo. Dimana dia? ”.Suaranya terdengar tanpa emosi. Namun Jepang-Jepang itu terkenal sebagai orang yang tak mengenal takut sedikitpun. Dua orang segera maju dengan mempergunakan jurus-jurus karate. Namun Samurai si Bungsu segera bekerja. Kedua mereka roboh dengan leher hampir putus. Empat yang mati dalam waktu tak sampai lima menit.

”Kempetai datang!!” Mariam berteriak. Dan saat itulah ketiga serdadu Jepang yang masih hidup maju serentak sambil menghunus samurai mereka. Tapi yang mereka hadapi adalah si Bungsu! Seorang lelaki yang telah bersumpah untuk takkan mati sebelum dendam keluarganya terbalas. Begitu serangan datang, dengan kecepatan yang tak terikutkan oleh mata samurainya berkelebat. Dua kali sabetan mendatar, menyebabkan dua Jepang yang ada di depan dan dikirinya rubuh dengan perut menganga.

Kemudian sambil berputar setengah lingkaran dia menikamkan samurainya ke belakang. Jepang yang terakhir, mati tersate tentang dada kirinya. Sebuah Tikam Samurai! Persis seperti yang dipergunakan oleh Datuk Berbangsa di halaman rumah gadangnya dahulu. Saat dia menyentak samurainya, Jepang itupun rubuh.

”Lewat pintu belakang!” dia dengar suara perempuan berseru.
Dia segera mengenali suara itu sebagai suara Mariam. Suara sepatu Kempetai terdengar menjejak tangga di depan. Si Bungsu tegak. Kemudian menatap pada perempuan-perempuan itu. Dia segera menampak Mariam.
”Terima kasih Mariam. Saya akan balaskan dendammu.” dan Kempetai pertama muncul di pintu tengah. Si Bungsu menyelinap kebelakang. Punggungnya kelihatan oleh Kempetai itu.

”Bagero! Berhenti!” teriaknya sambil menembakkan pistol.
Namun si Bungsu telah lenyap. Tiga Kempetai segera memburu ke belakang. Di belakang mereka disambut oleh gelapnya malam. Jauh di bawah sana, deru arus Batang Agam terdengar menderu menegakkan bulu roma. Jepang-Jepang itu pada plengak-plenguk mencari kalau-kalau lelaki yang baru saja melarikan diri itu bersembunyi di sekitar tempat tersebut.

Tapi si Bungsu telah terjun dan lenyap dalam arus Batang Agam di bawah sana. Baginya berenang dan menyelam bukan lagi hal baru. Berenang di Batang Agam ini memang kegemarannya sewaktu masih muda dulu.
Keenam Kempetai yang baru datang itu tertegun tatkala menyaksikan tubuh teman mereka terhantar malang melintang di dalam rumah itu. Dari bekas luka di tubuh mereka jelas kematiannya diakibatkan senjata tajam.

Seperti samurai atau pedang. Namun Kamura dan beberapa temannya ini adalah seorang pesilat Samurai yang tangguh. Siapa yang telah melumpuhkan mereka?
”Siapa itu orang tadi?” tanya salah seorang kearah kerumunan perempuan-perempuan di ruangan tersebut.
”Seorang Jepang.” Terdengar suara dari kerumunan perempuan-perempuan itu. Dan yang bicara itu adalah Mariam. Dia mencubit teman di sampingnya sebagai isyarat. Cubitan yang tak kelihatan itu segera saja dimengerti oleh temannya.

Lalu perempuan muda yang dicubit itu angkat bicara.
”Ya. Nampaknya seorang tentara yang berpakaian seperti penduduk sini. Tadi sebelum terjadi perkelahian, dia kelihatan bicara akrab dengan Kamura. Tapi tak lama setelah dia menyusul masuk, terjadilah perkelahian … ”.
Kempetai yang bertanya itu mengerutkan kening. Tadi dia memang melihat sesosok tubuh menyelinap kebelakang. Tapi tak jelas siapa orangnya. Mereka lalu menanyai perempuan-perempuan itu dengan gencar. Para perempuan itu, meskipun mereka hidup melacurkan diri namun memiliki rasa cinta Tanah Air yang luar biasa, yang barangkali tak seberapa dimiliki oleh perempuan-perempuan yang bukan pelacur.

Mereka seperti sepakat, seiya sekata untuk membenarkan dan menuruti cerita bohong yang mula pertama diucapkan oleh Mariam. Dan para Kempetai serta pimpinan Jepang di Payakumbuh, tak bisa berbuat selain mempercayai hal itu. Sekurang-kurangnya buat sementara.
Sebab siapa diantara penduduk pribumi yang bisa memainkan Samurai hingga sanggup mengalahkan Kamura dan seorang perwira lainnya serta empat teman mereka? Tak mungkin ada pribumi yang bisa.

Dan kalaupun bisa, takkan mungkin mempunyai keberanian untuk menyerang serdadu Jepang. Tak mungkin! Sebab pada saat ini, gerakan-gerakan tentara Indonesia belum begitu gencar mengadakan perlawanan pada Jepang. Baru berupa tindakan-tindakan sporadis. Jepang sendiri seperti tak punya kesempatan untuk mengusut peristiwa ini secara jelimet.

Sebab dimana-mana, tidak hanya di Minangkabau, juga di seluruh Indonesia, mereka sedang sibuk membangun benteng pertahanan. Benteng-benteng pertahanan itu mereka bangun berupa lobang-lobang dari coran beton. Tersebar di seluruh kota, di tempat-tempat yang strategis, termasuk di sepanjang pantai.

Musuh yang paling mereka khawatirkan untuk datang menyerang adalah Tentara Sekutu di bawah pimpinan Jenderal Mac Athur yang berkedudukan di Manila, Filipina. Selain membuat benteng-benteng dalam bentuk lobang-lobang yang diperkukuh dengan beton cor yang tak mampu diruntuhkan dengan bom sekalipun, maka pusat suply senjata, dan benteng pertahanan secara besar-besaran mereka buat di Bukittinggi.

Di kota ini, selain lobang-lobang pertahanan dari beton cor, mereka juga membuat terowongan yang silang siur di bawah kota. Terowongan yang sangat besar. Bisa dilalui Jeep masuk sampai jauh ke dalam. Untuk membuatnya mereka tinggal mengerahkan tentara Belanda yang tertawan yang disebut internir, dan para lelaki bangsa Indonesia. Ribuan orang dikerahkan membuat terowongan yang kelak dikenal sebagai terowongan maut.

Dia dinamai terowongan maut oleh karena seluruh pekerja yang ikut menggali terowongan itu tak satupun yang keluar hidup-hidup. Tak satupun! Semua mati di dalam terowongan itu. Kematian mereka memang disengaja oleh Jepang demi menjaga kerahasiaan terowongan itu. Terowongan itu kabarnya melintas di atas bangunan – bangunan fital. Di samping itu juga mempunyai pintu tembus ke tempat-tempat strategis di dalam maupun jauh di luar kota.

Menurut sementara cerita yang berasal dari tawanan yang tak sempat dibunuh, terowongan itu konon juga dibangun dari perut di bawah kota Bukittinggi tembus ke lapangan udara Gadut. Kemudian ke Balingka dan ke Anak Air. Terowongan sepanjang itu itu diperlukan Jepang untuk dua tujuan. Pertama, tempat menimbun berbagai macam logistik dan pertahanan Jepang di Sumatera untuk melawan tentara Sekutu.

Setelah terowongan itu siap, pemusatan dan kedatangan persenjataan dari Sumatera Utara tak lagi melewati jalan biasa. Sampai di Gadut, perlengkapan itu lenyap begitu saja. Menurut cerita dari sana langsung masuk terowongan dan dipusatkan disuatu tempat di perut bumi di bawah kota Bukittinggi. Dalam rencana strategisnya, jika Sekutu datang menyerang mereka akan bersembunyi di terowongan itu. Pada waktu tertentu mengadakan serangan mendadak ke kota.

Di terowongan itu mereka mempunyai perbekalan baik makanan maupun persenjataan yang bisa menghidupi satu batalyon pasukan dengan kekuatan 1.000 orang selama setahun! Suatu penimbunan dan pemusatan suply yang tak tanggung-tanggung dalam sejarah Kemiliteran. Kedua, dalam keadaan sangat genting mereka bisa mempergunakan lapangan terbang gadut untuk melarikan diri dengan pesawat udara.

Saat terowongan itu dibangun, pimpinan tertinggi balatentara Jepang di pulau Sumatera dipegang oleh Tei Sha (Kolonel) Fujiyama. Dia memilih menempatkan pusat komandonya di bekas kantor tentara Belanda beberapa puluh meter dari mulut terowongan yang sedang di bangun di Panorama. Pusat komando Fujiyama ini kelak dijadikan Museum ABRI di depan Tugu 17 Agustus di Panorama.

Pintu terowongan juga dibangun di belakang kantornya. Dari sana, lewat terowongan yang berbelit dia bisa mencapai beberapa tempat di kota Bukittinggi. Seperti ke Jam Gadang, Benteng atau Kebun Binatang.Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here