TIKAM SAMURAI 21

SUMBARTIME.COM-Malam itu udara kelihatan cerah. Beberapa orang perempuan kelihatan duduk di atas bangku-bangku yang dibuat berjejer di bawah pohon cery di tepi Batang Agam. Di tempat-tempat yang remang, beberapa serdadu dan opsir Jepang duduk mengelilingi meja bersama perempuan tersebut. Mereka minum kopi dan teh serta makan kue-kue dan bercerita hilir mudik. Di luar keadaan kelihatan sopan.

Namun di dalam rumah-rumah papan yang bercat putih di tepi Batang Agam itu beberapa serdadu tengah bersimbah peluh dalam bilik-bilik mesum.Tertawa cekikikan terdengar di antara pekik-pekik manja. Itulah kampung kecil Lundang. Kampung kecil di mana kaum lelaki Jepang memuaskan nafsunya bersama perempuan-perempuan malam. Setiap hari yang datang kemari adalah serdadu atau opsir Jepang.

Iklan

Orang Indonesia hampir tak pernah terlihat. Kalaupun ada, maka mereka segera saja bisa ditebak berasal dari dua golongan. Pertama, mata-mata pihak Jepang. Kedua, kaum parewa yang suka berjudi dan pemabuk yang tak lagi menghiraukan nilai-nilai masyarakat. Sesuai predikat mereka yang parewa, mereka umumnya kasar-kasar dan menakutkan. Tapi senja ini perempuan-perempuan di Lundang itu merasa surprise bercampur heran. Sebab kesana datang seorang anak muda.

Meskipun wajahnya murung, namun tak dapat disangkal bahwa dia seorang yang gagah. Sinar matanya yang kuyu justru membuat perempuan-perempuan kembang di sana menjadi tertarik. Sejak senja tadi dia ”dikawal” oleh dua perempuan. Untuk ukuran disana, kedua perempuan itu adalah perempuan pilihan. Biasanya mereka hanya mau melayani opsir-opsir berpangkat tinggi. Paling rendah yang berpangkat kapten. Tak sembarangan saja mereka mau melayani orang.

Senja ini keduanya merasa perlu melayani anak muda itu. Soalnya belum pernah mereka dikunjungi urang awak, gagah pula. Mereka bercerita perlahan hilir mudik. Bercerita di bawah bayangan pohon cery. Minum teh manis dan makan pisang goreng. Anak muda itu kelihatannya bukan dari golongan orang berada. Pakaiannya sederhana saja. Pakai baju gunting Cina, celana Jawa dengan kain sarung menyilang dari bahu kiri ke kanan.

Di tangannya ada sebuah tongkat kayu. Kalau saja dia pakai Saluak, maka orang akan percaya bahwa pastilah dia seorang penghulu. Gayanya memang mirip seorang kepala kaum. ”Nampaknya uda tengah menanti seseorang….”, perempuan yang berkulit hitam manis, berhidung mancung dengan mata yang gemerlap dan menarik, berkata. Dia memperhatikan anak muda itu beberapa kali melirik ke gerbang setiap ada orang yang datang.

”Ada teman yang akan datang?” perempuan itu bertanya lagi.
”Ya, saya menanti seseorang.”
”Perempuan?”
”Tidak, bukankah kalian sudah ada?”
”Ya. Tapi kenapa sejak tadi hanya duduk saja di sini? Ayolah ke rumah…”.
Perempuan yang satu lagi, yang berkulit kuning dan dan bertubuh montok, berkata sambil menarik tangan anak muda itu. Umur kedua perempuan itu barangkali tak lebih dari 22 tahun. Masih terlalu muda.

”Tunggulah. Sebentar lagi mungkin dia datang. Tapi bagaimana saya akan ke rumah, kalian berdua.”
”Tak jadi soal. Bisa gantian toh Uda?” ujar perempuan hitam manis itu sambil mengerdipkan matanya yang indah.
Muka anak muda itu jadi merah. Dia melirik ke meja di seberang sana, pada beberapa serdadu dan opsir Jepang yang sedang minum. Rasanya dia mengenal dua orang di antara mereka. Dia coba mengingat-ingat.

”Bagaimana? Ayolah ke rumah!” Perempuan cantik berkulit kuning itu merengek lagi sambil menarik tangannya. Saat itulah salah seorang dari serdadu Jepang yang duduk tak jauh darinya berdiri. Berjalan menuju meja di mana mereka duduk. Tubuh Jepang itu berdegap. Dia menatap pada kedua perempuan yang ada di samping anak muda itu.
”Hmmm… nona mari ikut aku…” katanya sambil memegang tangan si hitam manis. Perempuan itu menyentak tangannya.

”Maaf Kamura, saya sedang ada tamu…”, ujarnya mengelak.
Jepang yang bernama Kamura dan berpangkat Gun Syo (Sersan Satu) itu menyeringai. Menatap pada tamu yang disebutkan si hitam manis tersebut. Ketika yang dia lihat tamunya itu hanyalah seorang lelaki tanggung, pribumi pula, dia tertawa. Memperlihatkan seringai yang memuakkan.
”Ha, kalian orang ada berdua. Ada si hitam ada si kuning. Kamu jangan serakah ya. Saya bawa yang hitam manis ini…”

Jepang itu berkata sambil tetap menyeret tangan si hitam manis. Tak ada daya perempuan itu selain menuruti kehendak Kamura. Teman-temannya tertawa dan bertepuk tangan. Sementara itu si cantik berkulit kuning segera merapatkan duduknya dan memegang lengan anak muda itu erat-erat. ”Cepatlah kita ke bilik. Nanti datang yang lain membawa saya…”, perempuan itu merengek lagi. Anak muda itu, yang tak lain dari pada si Bungsu tak mendengar ucapan si cantik ini.

Pikirannya tengah melayang. Dia coba mengingat seringai buruk Gun Syo Kamura tadi. Dimana dia pernah melihatnya? Tiba-tiba kini dia ingat. Bukankah Jepang itu yang menghadangnya ketika dia akan mendekati ayah, ibu dan kakaknya sewaktu penyergapan di rumah mereka dulu? Dia ingat peristiwa itu. Ayah, kakak dan ibunya baru saja diperintahkan untuk keluar dari persembuyian di atas loteng oleh Kapten Saburo.

Ketika mereka muncul di tangga rumah Gadang, si Bungsu yang berada di antara kerumunan penduduk berlari ke depan sambil memanggil ayah dan ibunya. Tapi seorang serdadu Jepang bertubuh kurus menghadangnya. Dia berhenti, menatap pada serdadu kurus itu. Serdadu itu menyeringai. Dia tertegak ngeri di tempatnya. Nah, serdadu itulah tadi yang membawa si hitam manis ke atas. Dia tandai seringainya itu.

Tadi dia lupa karena serdadu itu tubuhnya tidak lagi kurus seperti belasan purnama yang lalu. Kini tubuhnya besar berdegap. Senang nampaknya dia di Lima Puluh Kota ini. ”Kita masuk?” si cantik kuning itu gembira melihat dia tegak.Si Bungsu menatapnya. ”Ya. Kita masuk..” katanya.
Dengan gembira si kuning itu memegang tangannya. Kemudian membimbingnya ke atas rumah di mana Kamura tadi juga masuk bersama kawannya si hitam manis.

Di dalam kamar, si kuning cantik itu mendudukkan anak muda berwajah murung itu di tempat tidurnya yang beralaskan kain satin dan berbau harum. ”Duduklah. Mau minum apa?” tanyanya dengan manja.
Si Bungsu menatap perempuan itu. Menatapnya diam-diam.
”Jangan memandang seperti itu Uda. Hatiku luluh uda buat….”, katanya manja sambil memegang kedua belah pipi si Bungsu.
”Kulihat engkau mencari seseorang kemari…” perempuan itu berbisik.
Si Bungsu masih duduk diam. ”Kulihat engkau mengenali dan menaruh dendam pada Jepang yang tadi membawa temanku si hitam itu….” perempuan itu berkata lagi perlahan.

Si Bungsu mengagumi ketajaman penglihatan perempuan ini.
”Di balik matamu yang sayu, di balik wajahmu yang murung, tersimpan lahar gunung berapi. Yang akan memusnahkan orang-orang yang kau benci. Sesuatu yang sangat dahsyat dalam hidupmu pastilah telah terjadi. Sehingga engkau menyimpan demikian besar gumpalan dendam di hatimu. Apakah keluargamu dilaknati oleh Jepang?”

Si Bungsu benar-benar terkejut mendengar ucapan perempuan ini. Dia menerkanya seperti membaca halaman sebuah buku.
”Upik, siapa namamu?” tanyanya sambil menatap perempuan cantik itu.
”Tak perlu engkau ketahui. Setiap lelaki yang datang kemari menanyakan namaku. Kemudian mereka akan melupakannya.”
”Katakanlah, siapa namamu!”
”Mariam…”
”Mariam?”
”Ya”

”Apakah itu namamu yang sebenarnya?”
”Tak ada yang harus kusembunyikan. Sedang kehormatan saja di sini diperjual belikan. Apalah artinya menyembunyikan sebuah nama.”
”Maaf. Tapi engkau menerka diriku seperti sudah demikian engkau kenali…”
”Bagi orang lain mungkin sulit buat menebak siapa dirimu. Tapi tidak bagiku. Aku kenal apa yang ada dalam hatimu, karena aku juga mengalami hal yang sama…”
”Keluargamu dibunuh Jepang?”
”Tepatnya suamiku…”
”Suamimu?”

”Ya. Aku yatim piatu. Ibu dan ayah meninggal setelah aku menikah dan suamiku di bunuh Jepang karena tak mau ikut ke Logas. Kemudian diriku mereka nistai. Tak cukup hanya demikian, aku mereka seret kemari. Pernah kucoba untuk melarikan diri, tapi negeri ini tak cukup luas untuk lepas dari jangkauan tangan Kempetai. Akhirnya aku diseret lagi kemari untuk memuaskan nafsu mereka.

Di sini aku… hidup dan menanti mati.”
Perempuan itu mulai terisak. Si Bungsu jadi luluh hatinya. Perempuan secantik ini, yang barangkali sama cantiknya dengan Renobulan, bekas tunangannya dulu. Atau dengan Saleha. Atau dengan Siti. Kini terdampar di Lundang ini. Penuh noda. Dibenci orang kampungnya. Namun tahukah mereka apa penyebabnya maka dia sampai kemari?”
”Mariam.

Dimana kampungmu…” tanyanya sambil memegang bahu perempuan itu. Perempuan itu menghapus air mata. Berusaha menahan tangis.
”Saya berasal dari Pekan Selasa…”, jawabnya perlahan.
”Engkau kenal siapa yang menistai dirimu dan yang membunuh suamimu, Mariam?”
”Jepang yang tadi membawa teman saya, yang berkulit hitam manis itu salah seorang di antara mereka….”

”Maksudmu Jepang yang tadi dipanggil dengan nama Kamura oleh temanmu itu?” Mariam mengangguk.
”Jahanam. Dia jugalah yang dulu ikut membantai kedua orang tuak dan kakakku. Dia yang menerjangku ketika aku lari ke arah ayahku…” desis si Bungsu.
”Siapa lagi yang kau kenal Mariam?”
”Saya tak ingat. Tapi komandannya adalah Saburo…” Si Bungsu tersentak.
”Saburo?” katanya mendesis tajam. Bersambung>>>




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here