TIKAM SAMURAI 209

SUMBARTIME.COM-Pada jam itu ada kompas,ada pisau kecil yang amat tajam yang bila sebuah tombol kecil ditekan akan keluar seperti sayap di bahagian sisi tengah jam. Kemudian ada kawat baja halus bergulung sepanjang satu meter. Lalu ada pemancar super mini.

Bila suatu saat engkau menghadapi masalah,tombol kecil ini merupakan kunci untuk mempergunakan semua fasilitas yang ada pada jam khusus ini. Bila tombol ini di tekan sekali,yang keluar ada pisau kecil,di tekan dua kali akan keluar kawat baja.Jika suatu saat engkau tersesat,mungkin di laut, di hutan atau di gurun, maka untuk memfungsikan Kompas maka tekan tiga kali. Engkau akan tahu mana Barat,timur,selatan,utara.

Iklan

Jika engkau menekan empat kali sinyal akan dikirim ke pusat-pusat radar tentara Amerika, yang menunjukan dimana posisimu. Dan bila engkau menekan tombol yang satu lagi ini dengan sistem morse, maka engkau bisa mengirim berita singkat yang kau perlukan ke pusat radar pasukan Amerika...”papar Ami malam tadi.

Si Bungsu menarik nafas. Dia menekan tombol kecil merah di bahagian kiri jam itu tiga kali. Plat jam itu berubah menjadi hitam.Kemudian ada empat titik berwarna putih menyala,dengan pangkal huruf-huruf yang menunjukan utara (N) barat (W) selatan (S) dan Timur (E). Kemudian ada sebuah panah kecil. Dari arah yang di tunjuk panah kecil itu,dia segera tahu,kapal ini sedang menuju arah barat.

Alhamdulillah,mereka menuju ke pantai…”bisik hati si Bungsu,sambil menekan tombol itu sekali agak lama. Plat jam tangan itu kembali normal,menampilkan jam tangan biasa. Namun beberapa saat kemudian, dia segera teringat kembali pada tombol jam di tangan nya itu. Sehingga Ami mengetahui bahwa dia masih hidup?.

Untuk apa dia beritahu?setelah lama bergulat dengan pikirannya,dia
mengalah.Betapun dia tahu,Ami pasti tengah merisaukannya,entah hidup atau mati, dengan berpikiran demikian dia menekan tombol di sisi jam itu empat kali.

“Lihat,ada isyarat dari salah satu kapal patroli Vietnam itu…!”seru perwira
navigasi di USS Alamo,yang masih mengamati gerak kapal-kapal Vietnam
itu.Kendati mereka sudah amat jauh dari posisi di mana tadi mereka
menaikkan Le Duan dan Ami Florence.

Kapal itu tengah berlayar menuju Pulau Busu-Angsa,pulau terbesar dari
gugusan kepulauan Kalamian,Filipina.Kepulauan itu persis terletak di atas
pulau Palawan dan di bawah pulau Mindoro,keduanya pulau-pulau dalam
wilayah Filipina.Semua yang masih hadir di ruang komando kapal perang besar itu segera mengerubungi layar radar. Dan paling merasa tegang adalah Ami Florence.

“Bungsu!Itu isyarat dari tangan si Bungsu….”ujar gadis itu,yang segera saja tak mampu membendung air mata haru dan bahagianya, mengetahui bahwa pemuda Indonesia itu masih hidup.
“Dia mengirimkan isyarat…..”ujar perwira navigasi,tatkala melihat titik di layar radar itu berkedip-kedip.

Semua membelalakkan mata ke titik kecil di layar radar,yang secara pasti
nampak bergerak kearah barat.Perwira Navigasi mengeja isyarat morse yang dipancarkan dari jam tangan si Bungsu.
“Saya,..selamat.Di bawah perut kapal….Le,ingat pesanku…Jaga Ami baik-
baik.Saya akan membunuhmu kalau kau tidak menjaganya.Hormat saya untuk Laksamana dan awak kapal USS Alamo…”

Semua awak kapal bertepuk tangan dan menyalami komandan
mereka.Sementara Ami memeluk Abangnya,menangis terisak-isak saking
bahagia mendengar pesan untuk dirinya itu.
“Dia bukan manusia.Kalau bukan malaikat yan hantu.Hanya itu yang bisa
selamat dari bahaya seperti yang dia hadapi sekarang ini…”gerutu nakhoda
Alamo dalam nada amat takjub.

Ucapan itu di sambut tawa awak kapal yang tetap saja membelalakkan mata menatap titik kecil di layar radar,y ang masih saja bergerak kearah barat itu. Mereka memang tidak bisa membalas pesan itu, karena jam tangan si Bungsu tak di lengkapi terminal penerima.

Beberapa saat setelah sinyalnya di baca oleh awak USS Alamo,si Bungsu
mengirimkan sinyal penutup. “Saya akan mematikan sinyal ini.Salam…”
Dan di layar radar yang kelihatan hanya tinggal titik yang berasal dari kapal patroli Vietnam itu. Sementara titik yang berasal dari sinyal jam tangan itu lenyap dari layar radar.

“Ayo,kita istirahat…”ujar Le Duan kepada Ami.
“Ya,saya rasa kalian harus istirahat,nanti sesampai di Philipina,akan kita atur perjalanan kalian selanjutnya….”ujar Nakhoda USS Alamo kepada dua adik beradik itu.

Desa kecil berpenduduk sekitar dua ratus orang itu tak tercatat Dalam
peta.Desa itu terletak jauh di pinggir wilayah Khe Sanh.Berada di salah satu
wilayah Vietnam selatan yang memiliki belantara dahsyat.

Perang Vietnam
Selatan di bantu Amerika melawan Vietnam Utara telah merubah setiap
jengkal bumi Vietnam Selatan menjadi kancah peperangan paling dahsyat di dunia. Beberapa wilayah diantaranya merupakan tempat yang menjadi Neraka pertempuran paling dahsyat,yang pernah di kenal umat manusia.

Yang paling terkenal diantara wilayah-wilayah yang menjadi Neraka
pertempuran itu yan menyebabkan ribuan tentara Amerika,Vietsel dan
Vietkong tercabut nyawanya adalah bukit yang di beri kode Bukit 937.Namun seusai pertempuran dahsyat pada bulan mei 1969, bukit itu di kenal dunia sebagai ‘Hamburger Hill’ bukit Daging Cincang.

Pada mei 1994,di bukit yang direbut Vietkong ini,tatkala Amerika menerjunkan pasukan Divisi Udara ke 101 untuk merebut kembali tempat strategis tersebut,terjadi kecamuk perang selama 11 hari 11 malam. Kedua belah pihak hanya ber istirahat saat mengisi mesiu di bedil mereka yang sudah ditembakkan.

Dalam Kecamuk yang dahsyat itu,dan perang ini merupakan perang terbesar paling akhir bagi tentara Amerika di Vietnam. Sebanyak 44 tentara Amerika tewas, 29 0rang lainya luka-luka.Tidak ada dokumen yang mencatat berapa tentara Vietkong yang mati dan luka-luka. Namun paling tidak lima atau enam kali lebih banyak dari yang diderita Amerika.

Neraka lainnya dalam perang Vietnam adalah medan tempur Dak To di
bahagian utara Vietnam Selatan.Pertempuran disanan terjadi sebelum
pembantaian hamburger hill.,yaitu bulan november 1967. Pasukan Vietkong menyerbu untuk merebut beberapa daerah yang diduduki pasukan istimewa Amerika. Jika berhasil di rebut,jalan ini akan digunakan sebagai jalur ofensif Vietkong ke seluruh wilayah selatan.

Pasukan istimewa Amerika,yang kewalahan oleh tekanan serangan belasan
ribu tentara Vietkong,mendapat bantuan dari Divisi IV dan Brigade ke
173.Ketika akhirnya Amerika berhasil mematahkan serangan itu,sekaligus
mengakhiri Neraka yang mengerikan tersebut,Vietkong meninggalkan 1.639 mayat tentaranya, sementara tentara Amerika tercatat 289 orang.

Neraka yang lain adalah Cen Thien.Sebelum menusuk Dak To pada November 1967 artileri Vietkong membombardir Cen Thien.Wilayah di kuasai marinir Amerika,dengan gempuran yang dahsyat setiap hari selama september dan Oktober tahun yang sama. Puluhan ribu roket di muntahkan untuk memporak- porandakan pertahanan Amerika.

Tujuan Vietkong merebut CenThien adalah untuk mengancam posisi Amerika di sebelah timur, sepanjang pantai Vietnam Selatan. Ketika bombar-demen selesai, kendati Cen Thien dapat di pertahankan, namun Amerika kehilangan 196 marinir,yang tewas dan 1971 lainnya luka-luka.

Vietkong jelas tak kehilangan pasukan,sebab itu memang bukan perang frontal di mana pasukan berhadapan dengan pasukan,individu melawan individu.Tapi Vietkong mengirmkan’tentara’berbentuk roket dari jarak puluhan kilo meter.

Neraka lainnya adalah Lembah La Drang.Lembah yang terletak di dataran tinggi. Di tengah ini berbatasan dengan Kamboja.Wilayah ini yang menjadi basis pasukan Vietnam Selatan dari kesatuan Pleimei Special Forces,digenpur habis- habisan itu, Ameika menerjunkan Divisi Kavaleri Udara I, yang baru sebulan tiba di Vietnam.

Sebenarnya divisi yang mayoritas beranggota generasi muda Amerika ini,belum berpengalaman menghadapi Perang Vietnam yang ganas.Tapi komando Amerika inigin mencoba pasukan yang punya mobilitas tinggi itu. Tentara Vietkong memang dapat di halau ke perbatasan Kamboja.Korban Neraka ini adalah tewas 1.500 Vietkong dan 217 tentara Amerika.Amerika masih mencatat 232 korban luka-luka.

Terakhir adalah Neraka Khe Sanh.Korban disini sebenarnya lebih besar dari hamburger hill yang terkenal keseluruh dunia itu.Gempuran sporadis Vietkong terhadap Khe Sanh yang dikuasai Vietsel dan Amerika, sebenarnya sudah dilakukan mulai tahun1966 dengan menghujani wilayah itu dengan roket artileri.

Pada Tahun 1968,tiba-tiba Vietkong melipat gandakan serangannya. Tak kurang dari 77 hari hujan mortir dan roket artileri merancah setiap jengkal wilayah Khe Sanh, yang di pertahankan marinir Amerika. Inilah gempuran arteleri Vietkong yang dicatat paling dahsyat dalam pertempuran Amerika-Vietnam Utara.

Akhirnya tentara Amerika tidak hanya berhasil mempertahankan Khe sanh.dengan bantuan angkatan udaranya sekaligus mereka juga berhasil menyerang balik.

Namun demikian,inilah pertempuran paling berdarah begi kedua belah pihak.Jika di Hamburger Hill tentara Amerika yang tewas ‘hanya’44 orang,di Khe Sanh ini mereka harus kehilangan 300 tentara.Sementara Vietkong kehilangan 1.500 tentara.Bayangkan dahsyat nya.

Kini setelah Vietnam di kuasai Utara.Khe Sanh ternyata tidak hanya
meninggalkan bekas gempuran yang dahsyat.Bagi Vietnam Utara wilayah itu konon di jadikan tempat rahasia, untuk menyembunyikan sebahagian tentara Amerika yang di nyatakan hilang dalam pertempuran.

Pagi itu,sebuah mobil terseok-seok memasuki sebuah desa kecil yang jauh diluar kota Khe Sanh, yang masih diselimuti kabut yang merayap dari belantara gelap di sekitarnya.Ketika truk itu berhenti, asap putih tebal mengepul dari radiatornya, kemudian menyemburat keluar melalui kap depan diiringi suara mendesis yang keras.Sopirnya, seorang lelaki separoh baya berjambang kasar, menghambur turun.Dari mulutnya menyembur sumpah serapah.

“Hei turun semua,ini ujung perjalanan kalian..!”hardiknya kearah bak belakang. Dari bak belakang truk reot itu kemudian turun empat lelaki dan dua perempuan. Di sebelah barat kampung tersebut menjulang bukit-bukit batu terjal, namun berhutan lebat.Bahagian lainnya, utara, selatan dan timur di kepung oleh belantara perawan. Khusus bahagian utara, belantaranya dilengkapi dengan rawa yang seolah-olah tak bertepi.

Berbagai reptil berbahaya seperti ular,kalajengking dan buaya siap membunuh apa saja makhluk bernyawa yang masuk ke rawa tersebut.Belum lagi pasir apung yang bentuk dan letaknya sulit di deteksi,namun apapun yang terperosok kepermukaannya akan di lulur dan lenyap tak berbekas.

“Kita sampai di desa itu….”bisik seorang lelaki pada temannya yang lebih
muda,yang sama-sama turun dari truk dengannya.

Dia berbicara dalam bahasa inggris.Kedua orang itu memakai caping, topi lebar dari bambu tipis berwarna hitam,yang bahagian depannya menutupi
wajah. Caping seperti itu merupakan topi yang lazim di pakai oleh semua
petani Vietnam.Dengan memakai caping yang menutupi wajah itu,sulit bagi
orang lain mengenali pemakainya.

“Kita menginap dimana?”bisik yang lebih muda,yang tak lain dari si
Bungsu, juga dalam bahasa inggris. “Ada rumah saudara ku,ayo kita kesana…”ujar yang pertama bicara, sambil mengangkat bungkusan kain miliknya yang terletak di truk, kemudian
menyandangnya di bahu.

Si Bungsu juga mengangkat buntalan kain kecil miliknya.Dia sudah
diingatkan,untuk membara peralatan seperti pakaian atau benda-benda
pribadi lainnya dengan buntalan kain,sebagai mana lazimnya petani Vietnam. Membawa ransel, apalagi buatan Amerika, betapun banyak ransel itu di pasar loak, tetap saja akan menarik perhatian orang. Khususnya mata-mata, yang berseliweran hampir setiap penjuru kota dan desa.

Desa kecil itu terletak memanjang di pinggir jalan.Dan desa ini adalah tujuan terakhir dari jalan yang membelah hutan belantara dan perbukitan, yang jaraknya dari kota Bien Hoa sekitar 150 kilometer.

Ini ujung perjalanan.Mobil datang kemari paling-paling sekali
sebulan.Umumnya kendaraan yang datang hanya truk militer.Sesekali diselingi truk reot seperti yang baru datang ini.Truk-truk yang datang setelah menginap sehari dua hari, kembali ke Bien Hoa.

Di tempat truk ini berhentilah semua truk-truk itu memutar haluan kembali kota Bien Hoa, kota yang terdekat dari desa ini. Bien Hoa terletak 100 kilometer dari Saigon, dulu ibukota Vietnam selatan yang sejak dikuasai Vietkon sudah diganti menjadi Ho Chi Minh.

Jarak 150 kilometer antara Bin Hoa kedesa ini harus mereka tempuh dalam
perjalanan yang memakan waktu dua setengah hari,di jalan yang na’uzubillah
buruknya.Tak ada pemeriksaan apapun,bahkan tak terlihat seorang pun
tentara Vietkong berkeliaran di desa itu.Ini tentu berbeda dengan desa-desa
lainnya di Vietnam yang di penuhi tentara.

Namun si Bungsu sudah mendapat penjelasan panjang lebar tentang desa ini dari informan yang kini menemaninya,yang harus dia bayar cukup tinggi. Desaini, menurut Han Doi, informan yang kini menjadi penunjuk jalannya. Memang tidak dijaga tentara. Dari segi militer, seolah-olah desa ini amat tak berguna sama sekali. Tak masalah hitungan.Tetapi,sesungguhnya itu adalah semata- mata kamusflase.

Tentara tetap berkeliaran,hanya saja mereka memakai pakaian dinas.
Kamusflase itu diperlengkap dengan tak adanya pemeriksaan terhadap siapa saja yang datang kedesa ini. Padahal,setiap apapun yang bergerak di desa ini, takkan pernah luput dari pengamatan mata-mata tentara, bahkan tentara reguler, yang hadir di desa itu dalam pakaian sebagaimana jamaknya penduduk desa.

“Jika masuk kesana,apalagi untuk membebaskan tawanan perang asal
Amerika,sama artinya dengan memasuki kandang singa.Untuk keluar kita tak mungkin mempergunakan jalan umum.Satu-satunya jalan pintas,yang bisa mencapai wilayah pantai adalah menerobos rawa yang harus kita
terobos…”papar Han Doi sebelum mereka meninggalkan Bien Hoa.

“Saya rasa lebih ganas tentara Vietkong.Sebaiknya kita menerobos rawa
saja.Berapa hari di perkirakan kita bisa menerobos rawa itu?”tanya si Bungsu.

“Saya tak menerobosnya.Tapi jarak yang harus kita tempuh takkan kurang dari 50 kilometer..”jawab Han Doi.
“Tak ada sungai?”
“Saya tak tahu,mungkin ada…”
“Sedalam apa rawa itu?”

“Pada bahagian tertentu,kapal bisa berlayar disana,saking dalam dan
luasnya.Namun kapal tentu tak bisa bergerak,karena rawa luas dan dalam itu menyatu dengan belantara perawan.

Pada bahagian tertentu, rawa itu
merupakan bentangan belukar yang amat luas, pada sebahagian lagi kayu-kayu tumbuh sebesar pelukan lelaki dewasa…”

“Saya rasa,rawa itu jalan yang harus kita tempuh….”ujar si Bungsu dengan
nada pasti. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here