TIKAM SAMURAI 204

SUMBARTIME.COM-Kecepatan penuh Le…”seru Ami kepada abangnya.
“Kedua mesin ini sudah pada kecepatan penuh.Kita sedang meluncur dengan kecepatan 150 mil perjam.Kita…”seruan Le Duan dari kemudi terhenti tiba-tiba tatkala matanya tertatap sinar lampu sorot berkekuatan sangat tinggi di kejauhan.

“Mereka menemukan kita..!”seru Le Duan.
“Ya Tuhan,mereka menemukan kita…”desis Ami Florence sambil menatap dengan gugup kearah datangnya cahaya lampu sorot yang terang benderang itu.

Iklan

“Mereka menemukan kita…”ujar Ami kepada si Bungsu.
Namun si Bungsu tetap bersandar dengan diam kebantalan karet pinggir speed boat tersebut.Dia samasekali tidak mencoba untuk melihat kearah lampu sorot itu.

“Berapa lama lagi mereka mencapai kita?”tanya Ami pada abangnya,dengan nada cemas yang tak dapat disembunnyikan.
“Sekitar sepuluh menit.Mereka nampaknya datang dari arah Quang nai.Mereka memberi isyarat untuk mematikan mesin,bagaimana sekarang?”ujar Le Duan.

Quang Nai adalah kota diselatan Da Nang.
“Perlahan saja,jangan dimatikan..”ujar si Bungsu perlahan dengan tetap duduk bersandar dengan tenang.

Jika dia tetap bersandar dengan tenang,tidak begitu halnya dengan Ami Florence.Gadis ini bisa kuat dan tidak takut menghadapi bahaya apabila berada di darat.Namun kini dia berada di laut.Mereka tak punya tempat agak sejengkal untuk bersembunyi,apalagi tempat melarikan diri.Tidak sejengkalpun!Dia memeluk si Bungsu.

“Apapun yang terjadi,jangan tinggalkan aku Bungsu!Jangan tinggalkan aku.Bahkan di penjara sekalipun,please..”ujarnya mulai terisak.
Si Bungsu memegang pipi Ami yang masih berpakaian penyamaran lelaki.

“Dengarkan,Ami.Kau harus menuruti apa yang aku katakan sebelum berangkat tadi.Engkau dan Abangmu tetap di Boat ini.Berbuat seolah-olah kalian pelarian biasa. Mereka takkan membunuh kalian sebelum diketemukan dengan pimpinan mereka.

Peralatan Amerika yang kalian bawa ini merupakan sesuatu yang harus mereka selidiki dari mana asalnya,apakah ada yang lain,berapa jumlahnya dan banyak lagi pertanyaan.Mereka memerlukan informasi itu.Kalian hanya harus memperlambat naik kekapal,selebihnya serahkan padaku,oke?”

Ami Florence mengangguk.kemudian membenamkan dirinya kedalam pelukan lelaki dari Indonesia itu.
“Aku tak takut pada mereka,Bungsu.Aku hanya takut berpisah dengan mu…”bisiknya.

Si Bungsu seolah-olah tak mendengarkan ucapan tersebut.Dia menunggus isyarat dari Le Duan.Speed Boat mereka tetap masih di dalam cengkraman lampu sorot lampu kapal yang semakin dekat ini.Le Duan memberi isyarat dengan brsuit sekali.

Si Bungsu memasang kaca mata selamnya.Saat dia akan memasang alat pernapasan kecil yang hanya perlu di taruh di mulut,tanpa tabung gas.Ami menciumnya.
“Betapapun,kembalilah padaku…”bisik Ami.

Suara menyuruh berhenti,dalam bahasa inggris yang cukup lancar,terdengar lewat pengeras suara dari kapal vietnam itu.
“Buru sergap,12 orang…”ujar Le Duan pada si Bungsu,setelah mengetahui kapal yang mendekat pada mereka.

Dan saat Le Duan mengencangkan mesin speed boatnya,membuat sebuah tikungan tajam kekanan.Menyebabkan bahagian kiri speed boat,yaitu bahagian dari arah datangnya lampu sorot kapal patroli itu,terangkat sekitar setengah meter.

Pada saat itulah,,saat bahagian kiri yang terangkat itu melindungi bahagian kanan dari sorot lampu,si Bungsu menggelindingkan diri.Hanya ada waktu lima detik,dia sudah berada dalam laut,menyelam agak dalam.Speed Boat itu mendatar lagi posisinya dan melaju perlahan kedepan.Meninggalkan si Bungsu dibelakang.

Kapal patroli mendekati speed boat tersebut.Melintas tak jauh dari tempat si Bungsu tadi menceburkan diri.Le Duan menghentikan speed boatnya tatkala dia memperkirakan posisi si Bungsu sudah berada di bahagian belakang kapal patroli itu.

“Stop,matikan mesin..!!”
Terdengar bentakan dari kapal dalam bahasa inggris beraksen Vietnam.Le Duan menghentikan mesin.
“Berdiri dan angkat tangan…!”
Le Duan mengangkat tangannya sambil berusaha menjaga keseimbangan dari goyangan ombak.

“Yang satu lagi itu,berdiri cepat..!atau kami tembak…”
“Adik saya sakit keras…”jawab Le Duan. Kapal patroli itu nampaknya tetap menjaga jarak sekitar lima meter dari speed boat.Menjaga hal-hal yang tak diingini.

Kendati tak dapat melihat mereka yang ada di kapal, namun Le Duan dan Ami memastikan, hampir semua awak kapal patroli itu tengah berdiri didek kapal, menodongkan senapan otomatis kepada mereka. Selain,seorang lagi berada di senapan mesin 12,7 yang menjadi andalan kapal patroli jenis ini.

“Tegakkan dia,atau kami tembak sekarang…!”perintah kapal patroli itu.
“Baik,,baik jangan tembak…”ujar Le Duan dengan bahasa Vietnam,sambil melangkah kebahagian depan mendekati Ami yang berpura-pura sakit.
“Lemparkan selimutnya…!sergah kapten kapal.

Nampaknya dia khawatir kalau dibalik selimut itu ada bedil,yang tiba-tiba bisa ditembakkan kepada mereka.Le Duan mengambil selimut yang menutupi tubuh Ami.

Kemudian melemparkanya ke laut.Lalu dengan bersusah payah di mendudukkan Ami.Patroli kapal itu melihat seorang lelaki berkumis bertubuh kurus dan bertopi.Dan dikapal mereka juga melihat tak ada benda lain selain dari sebuah tas pakaian.

“Lemparkan tas itu kelaut…!!”kembali terdengar perintah dari atas kapal.
Le Duan mengambil tas itu dan melemparkannya ke laut.Saat itu sebuat tali di lemparkan ke arah mereka.
“Ikatkan…!!”perintah kapten lewat pengeras suara.

Le Duan yang masih duduk dengan tangan sebelah menyangga tubuh Ami,segera mengambil tali yang sebesar jempol kaki itu.Melepaskan tangannya dari punggung Ami.lalu mengikatkan ujung tali itu di gelang-gelang almunium yang berjejer di pinggir speed boat.Setelah tali itu diikatkan,speed boat mereka di tarik hingga merapat ke kapal.

Saat itu si Bungsu sudah berhasil naik dari buritan kapal patroli tersebut.Mereka sudah memperhitungkan skenario ini dengan matang.Perhatian awak kapal pasti diarah seluruhnya ke speed boat itu,Kesempatan itulah yang di pergunakan si Bungsu untuk muncul ke permukaan air di belakang kapal lalu merayap naik keatas kapal.

Semula dia mempersiapkan dengan tali kenyal,yang ujungny diberi cangkok almunium berlapis karet,tali itu di persipkan jika kapal terlalu tinggi,di lemparkan dari air dan berharap tali itu menyangkut di terali atau tiang di pinggir kapal,atau benda apapun.Karena di bungkus dengan karet yang cukup tebal,cangkoknya pasti tidak akan berbunyi walau mengenai besi di kapal.

Tapi tali cangkok itu tidak jadi di gunakan si bungsu.Buritan kapal jenis buru sergap itu hanya setengah meter dari air.Dengan sekali menjangkaukan tangan dia berhasil mencapai besi melengkung di belakang kapal.

Hanya dua meter dari buritan kapal itu ada sebuah senapan mesin yang di jaga seorang tentara.Tapi saat itu tentara itu sedang mengarahkan senapan itu kearah speed boat sebagaimana senapan mesin 12,7 yanhg ada di depan. Si Bungsu yang sudah naik dan sedang mendekati penjaga itu untuk menghabisinya,tiba-tiba mengundurkan niatnya.

Sebuah kapal patroli yang lain tiba-tiba muncul dan mengarahkan lampu sorot yang terang itu kearah kapal yang berhenti.Hampir saja tubuhnya di terkam cahaya lampu itu kalau dia tidak cepat-cepat berlindung di bawah menara rendah dekat senapan mesin itu.

Dari sana dia menggulingkan diri untuk kembali melosohkan dirinya kembali kelaut.Dia berlindung di balik bayang-bayang gelap kapal patroli.Dan saat itu terjadi dialog saling tanya antara kapten kapal dengan kapal yang baru datang.

Menurut skenario yang mereka rancang tadi sebelum berangkat,untuk memberikan kesempatan pada si Bungsu dengan Le Duan pura-pura jatuh kelaut karena kehilangan keseimbangan karena memapah Ami,namun le Duan membatalkannya saat-saat terakhir.

Karena dia berpendapat,kalau dia jatuh ke laut sekarang pasti akan memperlama kapal patroli yang baru datang itu dekat kapal yang mereka naiki.Itu berbahaya.Lawan mereka jadi bertambah banyak,namun Ami berpendapat lain.Karena belum terjadi apa-apa dengan kapal yang akan mereka naiki,dia berpikri si Bungsu belum berhasil naik.

Dia berbisik pada abangnya untuk menjatuhkan diri kelaut,namun abangnya tetap berpikir sebaliknya.Ketika abang adik ini saling bberbisik berbeda pendapat itulah kapal patroli yang satunya melanjutkan perjalanan.

Ami segera melaksanakan niatnya,berpura-pura kalau dia kehilangan keseimbangan karena perahu karetnya di goyang ombak yang ditimbulkan oleh kapal yang baru berangkat itu.Dengan mendorong abangnya.Untung perhatian sebagian awak kapal itu terbagi dengan kapal yang baru berangkat itu,sehingga pura-pura kehilangan keseimbangan itu tidak diketahui.

Mereka hanya melihat kedua lelaki di perahu karet itu tercebur kelaut,sebagian menyumpah,dan malah ada yang tertawa.Tali dilemparkan kearah mereka,dan mereka meraihnya.Dan tali yang mengikat perahu mereka di alihkan mengikatnya ke belakang kapal.

Kapal patroli itu dijalankan dengan perlahan.Saat tubuh Ami dan Le Duan masih bergelantungan dan berusaha untuk naik.Seluruh awak kapal patroli itu berjumlah sebelas orang.Satu oarang masih menjaga senapan mesin di belakang dan satu di depan dekat senapan mesin 12,7,dan satunya di anjungan sekat juru mudi, menjaga mesin kapal agar tetap hidup.

Dari delapan awak yang tadi berkerumun di terali, melihat pelarian yang mereka sergap itu, tiga diantaranya tetap menodongkan senjata ke arah Ami dan Le Duan,yang saat itu sudah mencapai bibir dek kapal.

Lima yang lain kempali pada pos masing-masing.Komandan kapal patroli buru sergap itu adalah tentara berpangkat kapten,segera menuju ruang kemudi.Setelah memberi perintah pada wakilnya yang berpangkat letnan,untuk mengikat kedua pelarian itu.

Untuk sementara nampaknya mereka belum mau mengintrogasi apakah ada kapal karet lain yang ikut malam itu menyebrangi laut untuk lari.Kapal meeka segera di pacu kearah selatan.Ami Florence yang pertama kali merangkak di atas dek itu dagu di hajar dengan sebuah tendangan.

Gadis itu tercampak di dek.Nampaknya itu salah satu cara tentara itu penyambut para pelarian yang berhasil mereka tangkap.Kemalangan Ami tak hanya sampai disitu.demikian kerasnya tendangan didagunya, membuat kumis palsunya tercampak.Ketika lampu sorot di arahkan padanya,ketiga tentara itu terbelalak melihat lelaki yang tendang itu tidak berkumis lagi.

Tentu saja mereka kaget,belum ada kejadian satu kali tendangan bisa mencampakkan kumis orang.Setelah mereka perhatikan,baru mereka sadar kalau pelarian itu adalah lelaki dalam penyamaran.

Wajahnya yang putih dan halus ,dan bulu mata yang terlalu lentik untuk seoarang lelaki,di tambah dadanya yang ber’bukit’.Karena bajunya basah kuyup jatuh kelaut,tidak dapat menyembunyikan bentuk tubuhnya.Salah seorang tentara yang melihat keganjilan itu,mendekat dan tiba-tiba breet! baju Ami tentang dadanya robek besar.

Gadis itu tak berbuat apa-apa,matanya hanya terpejam.Gadis itu bukannya membiarkan apa yang dilakukan tentara itu,tapi memang dia dalam keadaan pingsan.Sebuah tendangan keras tadi telah membuat dia pingsan.

Dalam keadaan begitulah di gerayangi oleh tentara itu.Le Duan yng sudah mencapai bibir dek,melihat bahaya yang mengancam adiknya segera bangkit,namun sebelum dia melangkah jauh sebuah popor menghajar tengkuk nya hingga tersungkur.Dua tentara lagi,yang melihat temannya yang sedang melakukan pekerjaan tangan di tubuh itu juga tak dapat menahan diri.

Dengan mata mendelik dan liur meleleh mereka mendekat.Mungkin,karena saking nafsunya salah seorang terpeleset.Kawannya yang seorang lagi,begitu sampai menunduk menolak kawannya yang sedang asyik meraba sana-sini sampai terjengkang.Tangan nya segela terulur untuk meraba dada Ami yang terbuka lebar itu.

Namun tiba-tiba dia merasa kepalanya seperti dihantam martil yang sangat besar,seolah-olah hantaman itu mencampakkan kepalanya dari lehernya.Terdengar suara berderak.tentara itu tak lagi sempat marah,karena matanya sudah mendelik dan lehernya patah.Dia juga tak sempat tahu kalau temannya,yang tadi terpleset itu dan temannya yang terjengkang tadi karena dia dorong.

Dia tak tahu,kalau kedua temannya yang jatuuh tadi karena dihantam tengkuknya oleh samurai kecil.Bahkan dia tak sempat tahu kalau yang menghantam kepalanya adalah Le Duan.lelaki yang tadi dia hantam dengan popor.Le Duan Memang tidak kenal telak,dia memang cepat menjatuhkan diri pura-pura pingsan agar tak di hajar bertubi-tubi. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here