TIKAM SAMURAI 16

EPISODE : TURUN GUNUNG MENUNTUT BALAS

SUMBARTIME.COM-Kampung itu telah ramai sekali. Kehidupan sudah berlangsung seperti biasa. Hari itu hari Jum’at, panasnya bukan main. Lelaki boleh dikatakan semuanya berkumpul di masjid. Mereka sebahagian besar hampir tertidur tatkala khatib membaca khotbah. Khotbah yang dibacakan berasal dari penguasa Jepang. Para khatib tidak lagi bebas berkhotbah seperti biasa.

Mula-mula cara berkhotbah begitu terasa menyakitkan hati umat Islam. Tidak hanya di kampung itu, tapi juga di seluruh Minangkabau.
Namun lama-lama hal itu menjadi biasa. Kehendak penguasa memang harus ditaati. Masih untung yang mereka wajibkan hanya membaca khotbah yang sudah ditentukan.

Lagipula khotbah itu rasanya tak ada yang melanggar ajaran agama. Selain berisi ayat-ayat Al Qur’an dan hadis seperti biasa, menyeru berbuat baik dan menjauhi yang mungkar, kini ditambah dengan menyeru untuk mematuhi perintah yang datang dari Jepang sebagai saudara tua.
Mematuhi perintah Jepang berarti membantu mengamankan kampung halaman. Juga berarti membangun negeri.

Nah, apa beratnya membaca khotbah seperti itu bukan? Jemaah sebenarnya ingin cepat khotbah itu berakhir. Namun tak seorangpun yang berani meninggalkan masjid. Sebab mereka tahu, kalau mereka pergi berarti tak suka pada khotbah. Dan tak suka pada khotbah di masjid berarti tak menyukai seruan Jepang si saudara tua. Nah, ini bisa mengundang kesusahan. Daripada susah lebih baik di masjid. Meskipun ngantuk.
Akhirnya sembahyang Jum’at yang dua rakaat itupun selesai.

Orang-orang bersalaman untuk pulang. Seorang lelaki seporah baya yang duduk di saf paling belakang disalami oleh orang yang duduk di sebelahnya. Dia menerima salam itu dengan senyum. Namun tatkala dia melihat pada orang yang menyalaminya itu, senyumnya lenyap tiba-tiba. Tangannya yang tengah bersalaman itu dia tarik cepat-cepat. Dia seperti orang yang terpandang pada setan di siang hari. Lalu tiba-tiba dia bangkit. Kemudian bergegas ke pintu.

Dua orang lelaki yang akan keluar tertabrak olehnya.
”Hei, bergegas kelihatannya. Akan kemana Datuk?” orang yang ditabrak di pintu mesjid itu bertanya. Lelaki seporah baya yang dipanggil dengan sebutan Datuk itu mula-mula akan terus keluar. Namun dia berbalik dan berbisik pada kedua lelaki yang ditabrak itu. Kedua lelaki itu tak percaya. Mereka surut kembali ke tengah masjid. Menatap orang yang bersalaman dengan Datuk itu. Yang kini masih duduk menunduk. Kedua orang ini juga tersurut.

Kemudian cepat-cepat berlalu. Sudah tentu sikap ini menarik perhatian yang lain. Dan beberapa orang, meniru perbuatannya pula. Berbalik ke tengah masjid dan melihat pada orang yang masih duduk menunduk itu. Kemudian juga mereka seperti melihat setan. Lalu keluar cepat-cepat.
Dalam waktu yang singkat, hampir semua lelaki di kampung itu, yang datang sembahyang Jum’at ke masjid, mengetahui bahwa si Bungsu laknat anak Datuk Berbangsa itu ternyata masih hidup.

Dan kini dia kembali ke kampung ini. Ada perasaan tak sedap dan tak aman di hati hampir seluruh lelaki kampung atas kehadiran si Bungsu.
Anak muda itu masih duduk di tengah masjid. Duduk dengan kepala menunduk. Dia tahu tadi orang memperhatikannya. Dia tahu orang berbisik membencinya. Dan itulah kini yang dia renungkan. Dia menyangka dengan masuknya rumah Allah ini perasaannya akan tentram. Dia menyangka bahwa di rumah Allah ini semua insan sama.

Bukankah setiap kaum muslim itu bersaudara? Dan bukankah masjid ini adalah lambang dari persaudaraan orang Islam? Mengapa kebencian di luar sana harus dibawa ke rumah suci ini? Atau di rumah Allah inipun manusia sebenarnya tak bisa melepaskan dirinya dari sikap manusia yang hewani. Saling membenci, saling dengki, saling atas mengatasi, saling himpit menghimpit? Atau barangkali dia tak dianggap sebagai seorang Muslim?

”Engkau itu Bungsu?”
Tiba-tiba suara lembut menyapa. Menyadarkan dirinya dari lamunan. Dia mengangkat kepala. Dan matanya tertatap pada Imam yang barusan menyapa. Imam itu masih duduk di depan, di dekat mihrab.
”Benar. Saya inilah pak Haji…” dia berkata sambil kembali menunduk.
”Sudah lama kau tiba di kampung ini?”
Aneh. Suara Imam itu tetap lembut. Tak ada nada permusuhan sedikitpun.
”Saya tiba malam tadi pak….” katanya masih tetap menunduk.
”Angkat kepalamu Bungsu. Ini rumah Allah.

Di sini setiap manusia sama nilainya. Mereka hanya berbeda amalnya di sisi Allah”. Imam itu seperti bisa membaca yang tersirat di hatinya. Dia mengangkat kepala. Menatap Imam itu dengan heran.
”Disenangi. Dibenci. Dipuja. Disanjung. Dilupakan. Dicaci maki, atau tak diacuhkan. Itulah yang dinamakan kehidupan Bungsu. Manusia harus berjuang di antara kemungkinan-kemungkinan itu. Orang takkan mulia karena pujian.

Sebaliknya orang juga takkan mati karena caci maki”. Si Bungsu termenung. Dalam masjid itu tak ada orang lain. Hanya dia dan Imam itu saja. ”Dimana engkau malam tadi? ” Imam itu bertanya lagi.
”Di surau lama di hilir kampung ini pak Haji….”
”Hmm. Masih senang main koa atau dadu?”
Dia menggeleng, kepalanya kembali menunduk.
”Kenapa tak terus ke rumahmu?”
Kini dia mengangkat kepala. Menatap pada haji itu.

”Saya sudah sampai di sana pak Haji. Tapi saya lihat ada orang yang menunggu. Saya tak berani membangunkan mereka. Saya tak tahu siapa yang telah menghuni…”
”Yang menghuni adalah Sutan Lembang. Menantu mamakmu Datuk Sati.
Semua orang di kampung ini menyangka engkau telah mati. Jadi seluruh pusaka keluargamu menurut adat jatuh pada kakak lelaki ibumu. Dia punya rumah banyak. Karena itu rumah ibumu disuruh tunggunya pada anak perempuannya. Isteri Sutan Lembang”.

”Ada yang ingin saya tanyakan pada pak Imam…”
”Tentang kuburan ayah, ibu dan kakakmu yang di tengah laman rumah itu?” Si Bungsu kaget. Alangkah tajamnya firasat Imam ini. Dia memang akan menanyakan kuburan itu. Malam tadi dalam cahaya rembulan, kuburan itu tak dia lihat lagi di tengah halaman itu. Padahal dulu di sanalah dia menguburkan ayah, ibu dan kakaknya.
”Benar. Saya ingin tahu dimana kini kuburan mereka” akhirnya dia berkata juga.

”Dahulu mereka kau kuburkan di tengah halaman bukan? Dan kakakmu dekat jenjang. Benar begitu?”.
Kembali dia terkejut mendengar ketepatan terkaan Haji ini.
”Benar pak Haji…”
”Dan seorang anak yang kau kubur dekat pohon gajus di sebelah sekolah. Dua orang perempuan di bawah batang manggis. Tiga orang lelaki dekat kandang kerbau. Begitu bukan Bungsu?”
”Apakah pak Haji ada waktu saya menguburkan mereka?”
Si Bungsu bertanya di antara rasa kaget dan herannya. Haji itu menarik nafas panjang. Kemudian berkata perlahan.

”Allah Maha Besar. Hari ini Allah membuktikan apa yang kuduga selama ini. Terima kasih Bungsu. Engkau telah menyelenggarakan mayat-mayat itu dengan baik. Salah satu lelaki yang kau kubur itu adalah adikku. Dan anak itu adalah ponakanku. Terima kasih. Saya sudah menduga sejak semula. Bahwa kaulah yang menguburkan mereka. Sebab saat itu semua kami sudah melarikan diri. Kami lihat kau kena hantam samurai.

”Ketika kami kembali sebulan kemudian, kuburan itu kami gali kembali. Kami pindahkan ke pekuburan kaum. Ternyata mayatmu tak kami jumpai. Semua orang menyangka mayatmu diseret binatang ke kaki gunung dan memamahnya di sana. Namun aku menduga, engkau pasti selamat. Dan engkaulah yang menguburkan mereka. Aku tak tahu bagaimana caramu menguburkan mayat sebanyak itu dalam keadaan luka. Dan aku juga tak tahu berapa lama waktu kau perlukan untuk mengubur mereka.

Namun aku yakin, pekerjaan itu pastilah pekerjaan yang tak mudah bagimu, mengingat lukamu yang parah itu. Sekali lagi terima kasih nak. Atas bantuanmu mengubur mayat ponakanku, mayat adikku, dan mayat seluruh penduduk yang terbunuh. Kau selenggarakan mayat mereka, meskipun semasa hidupnya mereka selalu membencimu. Tuhan akan membalas budimu nak…”

Air mata Imam itu merembes di pipinya. Betapa tidak, dia yakin anak muda inilah yang telah menolong mayat-mayat itu. Namun alangkah malangnya dia. Dia tak mampu menjelaskan pada orang kampung tentang keyakinannya itu. Dia takut orang kampung akan membencinya. Dia jadi malu pada kelemahan dirinya itu. Seorang Imam yang tak berani mengatakan yang benar hanya karena dia takut dilucilkan orang kampung. Padahal dia tahu benar ada ayat yang berbunyi ”Katakanlah yang benar, meskipun sangat pahit”.

Dia menangis menyesali kelemahannya. ”Jadi kuburan ibu, ayah dan kakak saya sudah dipindahkan ke makam kaum di hilir sana pak Haji?”
”Ya, mereka sudah dipindahkan ke sana nak….”
”Terima kasih pak….” dia lalu bangkit.
”Akan kemana kau Bungsu?”
”Saya akan ke kuburan itu pak….”
”Setelah itu?”
”Belum saya pikirkan….”
”Kalau engkau masih lama di kampung ini. Singgahlah ke rumah saya. Masih di tempat yang lama. Dekat pohon kuini besar yang sering kau lempari buahnya dahulu. Singgahlah….”

”Terima kasih pak. Insya Allah. Saya permisi. Assalamualaikum….”
”Waalaikum salam….”
Dia turun dari masjid. Imam itu menatap punggungnya. Aneh kalau lelaki yang turun dari mesjid tadi merasa suatu yang tak sedap dan suatu ketegangan yang mencengkam mereka atas kehadiran anak muda ini, pak Haji ini justru sebaliknya. Ketika menatap punggung anak muda itu, menatap bayang-bayangnya melangkah keluar, ada semacam perasaan bangga dan aman menjalari hati tuanya.

Ya, si Bungsu telah kembali setelah dianggap mati sejak peristiwa berdarah yang memusnahkan keluarganya belasan purnama yang lalu. Orang kampungnya tak melihat satu perubahanpun pada diri anak muda itu. Kesan mereka terhadapnya tetap sama seperti dahulu. Seorang penjudi dengan muka murung dan mata sayu seperti orang yang tak punya semangat.

Dan lebih daripada itu, mereka tetap menganggapnya sebagai seorang laknat yang telah membuka rahasia tentang penyusunan kegiatan di kampung ini dalam melawan Jepang. Itulah sebabnya dia tetap tak disukai kembali ke kampungnya. Perasaan tak suka itu segera saja diperlihatkan di hari pertama dia berada di kampung kelahirannya itu.

Saat tengah berjalan menuju ke rumahnya setelah kembali dari kuburan, lewat sedikit dari masjid dia dihadang oleh enam lelaki yang rata-rata mempunyai tubuh kekar. Dengan wajah yang tetap murung dan sinar mata yang kuyu, dia tatap lelaki itu satu persatu. Dia segera mengenali mereka. Mereka adalah pesilat-pesilat. Dua di antaranya adalah murid ayahnya, yang lain murid Datuk Maruhun.

”Assalamualaikum……..” sapanya perlahan setelah dari pihak yang mencegat beberapa saat tetap tak bersuara.
Salah seorang satu terbatuk-batuk kecil. Orang itu dia kenal sebagai Malano, murid ayahnya.
”Apa perlumu kemari Bungsu….” Malano bertanya. Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here