TIKAM SAMURAI 154

SUMBARTIME.COM-Kalaupun tembakan itu tak mengenai kedua mereka, maka baling-baling kapal bisa mencelakakan. Kedua orang itu akan tersedot ke dalam putaran turbin yang bisa memecahkan skuba, alat penyelam mereka, dan … maut! Tongky melihat kapal itu mulai bergerak tatkala beberapa meter lagi mereka akan mencapai kapal tersebut.

Dia segera tahu, kehadiran mereka telah diketahui. Dia memberi isyarat pada si Bungsu yang berenang sedikit di belakangnya. Si Bungsu mengangguk, karena dalam air laut yang jernih itu dia telah melihat kapal selam itu bergerak.

Iklan

Tongky memberi isyarat untuk berenang dengan segenap tenaga. Mereka berdua mengerahkan tenaga. Sambil berenang Tongky mempersiapkan dinamit yang telah dipasang ke sebuah besi berani. Asal saja mereka bisa mendekati kapal itu, besi berani berdinamit itu hanya tinggal melekatkan saja. Dia akan lengket. Tongky menyetel jam di dinamit untuk waktu lima menit. Dia memberi isyarat pada si Bungsu yang tengah mempersiapkan dinamitnya pula.

Si Bungsu melihat kelima jari kanan Tongky dikembangkan, sambil mendayungkan kakinya yang memakai telapak itik dari karet itu kuat-kuat, dia menyetel jam dinamit itu ke angka lima. Mereka berpacu mendekati. Dan saat itulah kedua marinir di atas menembakan bedil otomatisnya.

Tembakan itu tak ditujukan kepada mereka sebab mereka tak kelihatan. Tembakan itu ditujukan pada tali yang menyangga kapal itu ke pohon beringin. Tak ada waktu lagi untuk membukanya baik-baik. Keduanya menembak saja tali yang terjuntai ke laut, putus!

Kapal itu bergerak ke tengah, sambil mulai menyelam. Tongky sampai duluan, sekali jangkau dinamit itu lekat. Namun bahaya lain mengancam kedua orang ini. Yaitu putaran baling-baling kapal! Di tempat lain, Miquel yang menjaga tak jauh dari rumah diplomat Belanda itu tiba-tiba melihat dua kendaraan keluar lewat pintu belakang. ‘’Ini dia..’’ bisik blasteran Spanyol – Amerika itu.

Dia membuang rokoknya. Memperhatikan arah mobil tersebut. Kemudian dia naik ke truk tua yang sejak tadi dia parkir di tempat tersembunyi. Dia segera tahu jalan mana yang akan ditempuh oleh kedua sedan yang baru keluar itu. Dengan tenang dia menjalankan truknya. Satu kilometer di pinggir kota, jalan jadi sempit. Kedua sedan yang masing-masing membawa lima marinir itu melaju dengan kecepatan penuh.

Namun ketika menikung ke kanan, tiba-tiba di depan ada truk merah yang berjalan lambat. Kedua sedan itu membunyikan tuter. Namun truk itu tetap saja tak beringsut. Jalannya lambat sekali.
“Hei…! minggir….minggir!’’ seru salah seorang marinir sambil mengeluarkan kepala dari jendela.

Tapi sopir truk itu seperti tak mendengar. Jalan truknya tetap seperti beringsut. Tak ada jalan untuk ke kiri atau ke kanan. Di kiri kanan jalan ada parit besar seperti riol pengaman air. Mau tak mau, mereka harus mengikut terus di belakang truk itu. Dan memaki-maki untuk mempercepat.

Karena truk itu tetap lambat, akhirnya si komandan kapal selam itu menembak ban truk itu. Dan itu memang yang ditunggu Miquel yang menyopir truk itu. Begitu dia mendengar tembakan dan merasa ban belakangnya pecah, dia seperti kaget. Stir dia banting ke kiri sedikit, lalu sekuat tenaga memasukan gigi satu, menekan gas sekuatnya.

Mesin truk itu sudah distel demikian rupa. Begitu gas ditekan dalam persneling satu, truk tersebut seperti terlompat, dan Miquel membanting stir kuat-kuat ke kanan. Kendaraan yang dibelokkan tiba-tiba memang tak punya pilihan lain selain terbalik!

Truk itu terbalik menutup jalan kecil itu secara total! Miquel menggapai palang besi pengaman di depan stir. Kedua sedan di belakang berhenti mendadak. Ke sepuluh awaknya menyumpah dan memaki. Melompat turun! Begitu truk terbalik, Miquel memecahkan kantong plastik di balik kemejanya.

Kantong plastik itu berisi cairan merah darah. Kantong itu pecah. Bajunya dibasahi cairan merah, mengalir ke tubuhnya, dan dia menelentangkan diri, mengerang, merintih. Saat itu bermunculan para marinir Belanda di sana. Memaki-maki. Menyumpah-nyumpah.

Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Si sopir kelihatan bergelimang darah. Tak sadar diri. Dua orang segera menyingkirkan tubuh Miquel keluar. Lalu bersama-sama mereka mencoba menyingkirkan truk yang menghalangi jalan itu. Menggeser sebuah truk yang terbalik bukanlah usaha yang mudah, apalagi hanya dengan tenaga sepuluh orang.

Setelah hampir setengah jam truk itu akhirnya tergeser. Kedua sedan itu bisa lewat. Mereka meninggalkan truk tersebut bersama Miquel yang masih terbaring diam. Setengah jam merupakan perpanjangan waktu yang tak sedikit bagi Fabian dan si Bungsu. Begitu sedan itu menjauh, Miquel bangkit sambil tersenyum.

‘’Tugasku selesai, kawan. Terserah kalian acara berikutnya…. Dua setengah jam …’’ katanya sambil melirik jam tangan, lalu memasuki belukar, mengambil jalan pintas menuju kota.

Di dalam air, si Bungsu dan Tongky sedang berusaha keluar dari kesulitan. Mereka baru saja selesai melekatkan dinamit ke dinding kapal itu. Mereka harus menghindar secepat dan sejauh mungkin. Kalau tidak, putaran baling-baling kapal akan menyedot mereka. Memecahkan tabung zat asam dan membunuh mereka.

Tongky yang lebih berpengalaman segera menukik menyelam lebih dalam ke bawah. Dia berharap si Bungsu melihatnya dan meniru gerakannya. Si Bungsu memang melihatnya. Namun sudah terlambat baginya untuk meniru. Kapal itu digerakkan dengan kekuatan penuh untuk menghindarkan mereka memasang dinamit. Tongky terhindar dari putaran air.

Si Bungsu justru terperangkap. Tubuhnya tiba-tiba tersedot dengan kuat. Dia berusaha untuk menghindar, namun kekuatan yang amat dahsyat terus menghisapnya. Dia tersedot. Putaran baling-baling kapal membuat segala benda yang melekat di tubuhnya pada bertanggalan. Mula-mula yang tanggal adalah kaca mata selam yang dia pakai.

Kemudian tabung zat asam di punggungnya. Tali kulit yang mengikat tabung itu dengan tubuhnya putus. Tabung itu sendiri tertarik, menghantam baling-baling yang berputar kencang dan hancur berantakan.

Kini tubuh si Bungsu tak berdaya, dia terhisap makin dekat. Maut menyeringai menantinya. Di dalam kapal, perwira piket tiba-tiba jadi pucat. Dia melihat sinyal merah melekat berdekatan. Tak bergerak secuilpun! Dan sirene lain yang panjang berbunyi.
‘’Dinamit!’’ seru opsir itu.

Namun dia sudah hampir kehabisan nafas. Dia berusaha mengapung ke atas. Sudah beberapa menitkah berlalu? Kapal ini hanya punya waktu lima menit, kemudian akan meledak berkeping-keping. Sambil membiarkan tubuhnya mengapung ke permukaan, dia mengayuhkan tangan dan kaki agar bisa menjauhi kapal tersebut.

Tiba-tiba, dua depan di atasnya, lewat cahaya terang matahari yang menusuk ke tubuh laut, dia lihat beberapa tubuh beterjunan. Pastilah anak-anak kapal yang menyelamatkan diri, meninggalkan kapal tersebut sebelum meledak. Namun si Bungsu sudah kehabisan tenaga. Lemas, dia tak berdaya lagi.

Jauh di bawah sana, Tongky menyadari si Bungsu menghadapi bahaya serius. Begitu mengetahui mesin kapal berhenti mendadak, Tongky mengapung lagi. Dia melihat sesosok tubuh yang lemas. Dia segera mengetahui bahwa tubuh itu adalah di Bungsu.

Cepat dia mendekat dan menarik tubuh tersebut. Membawanya kembali menyelam, menghindarkan diri dari kapal itu. Sambil menyelam, beberapa kali dia menanggalkan alat pernafasan dari mulutnya, kemudian mendekapkannya ke mulut si Bungsu.

Begitu mereasa ada alat pernafasan di mulutnya, si Bungsu segera menghirup oksigen tersebut. Beberapa saat dia bernafas di sana, sambil tubuhnya tetap dipeluk Tongky sambil berenang di laut dalam itu. Mereka bergantian bernafas pada skuba milik Tongky. Dengan cara demikian, mereka akhirnya mendekati pantai dimana Fabian menanti.

Beberapa saat mencapai pantai, mereka merasa desakan dan getaran air yang kuat. Tongky segera tahu, kapal selam itu telah meledak. Dan ketika beberapa saat kemudian mereka muncul di permukaan air di dekat pantai, mereka tak lagi melihat kapal selam tersebut. Di laut mereka hanya melihat beberapa sosok tubuh yang berusaha berenang ke tepi.

Mereka adalah awak kapal selam itu. Di sekitarnya terlihat berbagai barang mengapung di antara genangan minyak. Tongky menyeret tubuh si Bungsu ke atas.
‘’Terima kasih, kawan. Anda menyelamatkan nyawa saya..’’ ujar si Bungsu, begitu tubuhnya berada di pasir di bawah pohon-pohon yang rindang.

Saat itulah para awak kapal selam yang sedang terapung-apung di laut menampak mereka. Mereka saling berteriak. Namun jaraknya terlalu jauh untuk mengenali, apalagi untuk mendekati. Fabian berada di sana, di dekat si Bungsu dan Tongky.
‘’Ayo cepat, teman-teman mereka barangkali tengah menuju kemari, demikian juga polisi. Ledakan ini mungkin terdengar sampai ke kota..’’ ujar mantan kapten itu.

Mereka bergegas mengangkat alat-alat selamnya, menyeretnya ke semak-semak di mana mereka tadi meninggalkan jip Landrover. Lalu meninggalkan tempat itu. Mengambil jalan lain yang mereka ketahui karena telah mempelajari tempat tersebut dengan seksama.

Pemerintah Malaya jadi heboh. Segera terungkap bahwa perairan Singapura, bahagian dari negara mereka, telah dipakai oleh pasukan Belanda sebagai pangkalan gelap kapal perang. Meledaknya kapal selam itu telah membuka kedok Konsulat Belanda di kota itu. Ribut antara Pemerintah Malaya dengan Belanda segera terjadi. Malaya memanggil Konsul Belanda di Singapura. Lalu mengusir, mempersona non garatakan, Konsul itu.

Dalam konflik Indonesia – Belanda, Malaya memang negara yang netral. Namun hadirnya sebuah kapal selam di perairannya, jelas tak disukai Indonesia yang tengah berperang dengan Belanda. Malaya tak ingin Indonesia mencapnya sebagai negara yang pro-Belanda.

Berurusan dengan Indonesia jelas tak diingini oleh Malaya. Soalnya lagi, bukan karena takut dimusuhi Indonesia saja, melainkan kehadiran sebuah kapal perang tanpa setahu pemerintah setempat, memang bukan urusan yang sepele.

Awak kapal selam yang terbenam itu terpaksa diserahkan oleh pihak Konsulat Belanda kepada pemerintah Malaya. Mereka sempat dihukum masing-masing lima bulan. Barulah lewat saluran diplomatik yang ruwet, ke 45 orang awak kapal selam itu di pulangkan ke negeri Belanda.

Hanya saja, pihak Malaya tetap tak tahu, bahwa selain kapal selam yang meledak itu, masih ada kapal selam lain di perairannya. Bahkan ada empat atau lima kapal perang Belanda yang dikamuflase sebagai kapal dagang, yang berlabuh dengan tenang di antara ratusan kapal-kapal dagang lainnya di teluk Singapura!

Si Bungsu sebenarnya ingin sekali membongkar kedok Belanda itu. Dia menyelidiki kapal-kapal perang yang dipalsukan jadi kapal dagang itu, kemudian memberitahu pihak Malaya. Namun dia tak punya waktu lagi. Teman-temannya telah menyiapkan tiket untuk berangkat ke Dallas.

Apalagi tujuan utamanya adalah mencari Michiko, kekasihnya yang dibawa lari oleh seorang mantan pilot Amerika semasa Perang Dunia II, bernama Thomas. Pilot keturunan Inggeris – Spanyol. Sehari menjelang berangkat, mereka berkumpul di rumah Fabian, dimana si Bungsu menginap selama di Singapura.

‘’Besok engkau akan berangkat dengan Japan Airlines, kawan. Dari sini menuju Hongkong. Dengan pesawat yang sama ke Dallas lewat Hawai. Engkau akan ditemani oleh Tongky. Dia kenal baik kota itu, karena dia tinggal di sana sebelum Perang Dunia II,” ujar Fabian.

Fabian sendiri tak bisa ikut karena akan ke Inggeris mengantarkan ibunya. Namun setiap saat yang dibutuhkan, jika ternyata si Bungsu dan Tongky menghadapi kesulitan di Dallas, mereka akan datang.
‘’Jangan ragu-ragu memanggil kami. Barangkali kalian di sana akan terbentur dengan dinding kejahatan hebat bernama Mafia, siapa tahu bukan? Jika itu terjadi, beritahu kami, kami akan datang..’’

Si Bungsu amat berterima kasih atas setia kawan teman-temannya ini. Sebenarnya Fabian berkeras agar si Bungsu disertai teman-teman yang lain. Seperti Sony dan Miquel. Jadi mereka bisa berangkat berempat. Namun si Bungsu khawatir keberangkatan berempat itu akan memakan biaya besar dan akan menyulitkan dia bergerak mencari jejak Michiko. Sebagai jalan tengah, akhirnya dia berangkat duluan dengan Tongky.

Pesawat yang mereka tompangi itu adalah pesawat DC 10. Sejenis pesawat jet yang terhitung baru kala itu. Bermuatan sekitar lima puluhan orang. Namun dalam trayek menuju Hongkong, hanya separoh tempat duduk yang terisi. Sebahagian besar adalah orang Hongkong, Singapura, Jepang dan beberapa orang Barat. Pintu pesawat hampir ditutup, ketika tiba-tiba seorang gadis berlarian. Nampaknya dia datang terlambat ke bandara.

‘’Maaf, pesawat saya baru mendarat dari Italia. Saya harus ke Amerika..’’ terdengar dia bicara pada pramugari dalam Bahasa Inggeris yang amat fasih. Gadis yang baru datang itu nampaknya adalah juga seorang pramugari. Pakainnya menunjukan hal itu. Nampaknya dia dari perusahaan penerbangan Al-Italia. Ketika dia masuk, hampir semua mata menatap kagum padanya.

Gadis itu luar biasa cantiknya. Tak pelak lagi, dia pastilah orang Italia.
Kulitnya tak dapat dikatakan putih. Lebih tepat dikatakan coklat terang. Berhidung mancung dengan mata yang biru dan rambut hitam kelam. Gadis itu tersenyum ke kiri dan ke kanan. Sikapnya yang ramah sebagai pramugari tak bisa dia lepaskan, meski kini lagi tidak bertugas di pesawatnya.

Gadis itu duduk berseberangan dengan si Bungsu. Antara mereka berdua dibatasi oleh jalan di tengah pesawat. Tongky yang duduk di sebelah si Bungsu menyikut lengan si Bungsu sebagai isyarat. Si Bungsu menoleh dan tersenyum melihat kenakalan temannya itu.

Harus dia akui, gadis di seberang jalan kecil itu memang alangkah cantiknya. Namun dia hanya sekilas memandang gadis itu, ketika si gadis akan duduk.

Gadis itu sendiri sempat menoleh padanya, melemparkan sebuah senyum yang meninggalkan lesung pipit di pipinya yang montok. Kemudian dia kelihatan sibuk dengan tas tangan yang dia bawa. Dari dalamnya dia mengeluarkan sebuah majalah, lalu tenggelam dalam bacaan begitu pesawat mulai bergerak.

Tapi lima belas menit kemudian, ketika pramugrasi Japan Air Lines itu mulai membagi-bagikan makanan, gadis itu meletakkan majalahnya. Membuka sabuk pinggang, kemudian berjalan ke depan. Di depan, dimana pramugari JAL itu tengah menyiapkan makanan, gadis itu nampaknya menawarkan jasa baiknya.

Dan meski ditolak oleh pramugari pesawat, gadis itu tetap berkukuh. Dia mengambil nampan, kemudian menuju cokpit, dimana pilot dan copilot bertugas.

Cukup lama di dalam ruangan itu. Dan ketika muncul lagi di kabin, wajahnya tetap bersinar cerah. Dia membantu ketiga pramugari pesawat itu membagikan makanan dan minuman pada para penumpang. Kehadirannya demikian memikat. Betisnya yang indah berisi tak dibalut oleh kaus tipis seperti pramugradi JAL itu.

Dia membagikan makanan dan minuman dengan senyum dan lesung pipitnya. Setelah itu, dia kembali duduk di tempatnya. Sibuk lagi membaca majalah yang tadi dia keluarkan dari tas tangannya. Nampaknya tak ada komunikasi sedikitpun antara dia dengan lelaki separoh baya yang duduk di sebelahnya.

Lelaki separoh baya itu, barangkali seorang yang berasal dari negeri Amerika Latin, tak acuh sedikitpun atas kehadiran gadis cantik di sebelahnya. Dia tenggelam dalam keasyikannya sendiri, mendengar nyanyian lewat pesawat kecil yang dilekatkannya ke telinganya dan disambungkan pada mik ke langit-langit pesawat. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here