TIKAM SAMURAI 135

SUMBARTIME.COM-OPR ini memang luar biasa,pesilat yang tak boleh dianggap enteng.Tangannya yang memegang kedua tangan si Bungsu diputar.Si Bungsu berusaha bertahan,tapi dibawah gemuruh suara tentara yang menonton,tubuhnya terseret berputar mengelilingi tubuh Nuad.Makin lama makin kencang.Kakinya terangkat beberapa kali karena kehilangan keseimbangan.

Kedua tangannya terkunci pada genggaman Nuad. Ruangan ini dirasakannya mulai berputar.Suatu saat OPR itu melemparkan tubuh si Bungsu.Tanpa bisa bertahan sedikitpun,tubuhnya meluncur menabrak palunan tentara.Dirinya ditangkap ramai-ramai,setelah di pukul dan ditendang beberapa kali,kembali tubuhnya di lemparkan ketengah.

Iklan

Suara hiruk pikuk itu nyaris tak terdengar ketika tubuhnya jatuh ditengah ruangan,Lalu sebuah injakan sepat berduri Nuad membuat dia ingin muntah. Terdengar tepuk tangan.Suara tertawa.Si Bungsu merangkak bangkit.

Lalu Nuad mendekat dan mengayunkan sebuah tendangan yang mendarat didagu si Bungsu,sampai tubuhnya terangkat keatas karena tendangan berkekuatan penuh itu.Lalu terlempar,dan terhempas lagi kelantai.Dia hampi tamat.Darah meleleh dibibirnya yang pecah dan hidungnya yang remuk.

Seseorang menyiram wajahnya dengan air yang berasal dari penples, tempat air militer. Bibirnya yang pecah terasa pedih. Namun air itu membuat kesadarannya agak lebih baik. Kenapa secepat itu dia ditaklukkan Nuad? Padahal dia mahir Karate dan Yudo yang dilatih oleh temannya yang bernama Kenji ketika di Jepang?.
’Hei, ayo berdiri!” dia dengar seruan orang-orang.

Dia masih menelungkup beberapa saat. Mengembalikan kesadarannya lebih penuh. Memulihkan tenaganya perlahan-lahan. Ketika ada yang menendang kakinya, dia lalu bangkit. Kini orang yang berdiri di depannya sudah bertukar. Bukan lagi Nuad. Tapi OPR lain. Nuad kelihatan tegak di sudut seperti seorang hero. Seolah-olah si Bungsu bukan tandingannya.

Seolah-olah perkelahian sebentar ini menurunkan martabatnya saja. Dengan tatapan yang amat merendahkan, nampaknya dia ”mewakilkan” perkelahian itu pada temannya sesama OPR. Si Bungsu tegak dengan kesadaran lebih baik dari tadi. Dia sempat melirik betapa Nuad yang sedang menghisap rokok dengan sikap petentengan.
”Kau coba saja dengan Siswoyo…!” ujar Nuad padanya.

Ucapannya disambut dengan tawa oleh tentara yang memenuhi ruangan itu. OPR yang bernama Siswoyo itu maju. PerlahaN si Bungsu menyusun konsentrasi. Berapa lamakah dia tak lagi berkelahi? Dan yang lebih penting sudah berapa lamakah umur sumpahnya, bahwa dia takkan mempergunakan kekerasan kepada bangsanya sendiri? Tidak, sumpah itu sudah batal sejak peristiwa dengan Nuad, si OPR, beberapa hari yang lalu di Simpang Aur kuning.

Bukankah dia sudah berniat untuk tak kalah? Siswoyo, OPR yang kampungnya entah di mana di Jawa sana, bergerak maju dengan mengirimkan sebuah pukulan. Namun yang dia hadapi kini adalah seorang lelaki yang telah pulih ingatannya. Lelaki yang telah masak oleh seribu pertarungan.

Mulai dari zaman Jepang dan agresi Belanda ketika dia masih berusia dua puluhan, sampai ke Jepang. Singapura dan Australia. Kini, ketika Siswoyo mengirimkan sebuah pukulan, pukulan si Bungsu justru menyongsong amat cepat dan amat telak. Yang kena adalah kening Siswoyo. Lelaki itu pada mulanya hanya tersurut dua langkah.

Tapi setelah itu beruntun terjadi hal yang aneh. Mula-mula matanya jadi juling. Kemudian tegaknya sempoyongan. Lau tubuhnya berputar. Lalu jatuh di atas kedua lututnya. Si Bungsu masih tegak di depannya, dalam jarak tiga depa dengan tenang.
”Hayo Sis! Bangkit. Hajar pemberontak itu!” terdengar seruan-seruan.

Namun tubuh Siswoyo tiba-tiba jatuh tertelentang. Mulutnya berbuih. Matanya yang juling pada putih semua. Dua tentara maju serentak, memegang nadi dan meraba dada Siswoyo. ”Semaput…”, ujar tentara itu. Suasana jadi sepi. Sekali pukul Siswoyo yang berdegap itu bisa keblinger pingsan? Ah, apakah ini suatu kebetulan atau Siswoyo salah mengatur pernafasannya?

Tak mungkin anak muda itu tiba-tiba menjadi begitu tangguh. Padahal sebentar tadi dia jadi mainan oleh Nuad. Tiba-tiba terdengar suara.
”Awas, saya hajar orang Minang yang jadi mata-mata gerombolan ini….!”
Orang berkuak. Yang ngomong adalah Nuad, OPR yang tadi menghajar si Bungsu. OPR yang beberapa hari lalu mengaku orang Bukittinggi, orang Kurai.

Yang memohon-mohon sambil menangis agar nyawanya diampuni. Ngeri melihat mata samurai si Bungsu ketika dia diancam di Tambuo. Kini, dengan pongah dia bilang akan menghajar ”orang Minang” yang jadi mata-mata gerombolan!

Si Bungsu menatap dengan tajam. Sinar kebencian yang hebat membersit dari matanya. Beberapa tentara yang kebetulan tegak di depannya, merasa bulu tengkuk mereka merinding melihat tatapan mata anak muda itu.
”Saya akan layani Saudara, dengan syarat Saudara menyebutkan dimana kampung Saudara…” ujar si Bungsu dengan nada datar. Suaranya terdengar jelas. Tak urung pertanyaan itu membuat Nuad tertegun.

”Jangan banyak bicara, buyung. Atau kau ingin mengulur-ulur waktu, agar lebih lambat saat datangnya kematianmu?”
”Saya orang Situjuh Ladang Laweh. Orang Minangkabau. Saya tak malu mengaku sebagai orang Minangkabau, meski negeri saya memberontak. Dan meski saya tak ikut memberontak, tapi saya tak pernah menghina orang-orang Minang lainnya yang lari ke rimba. Saya ingin dengar di mana kampung Saudara”.

Nuad kaget mendengar ucapan anak muda ini. Dia tertegak menghentikan langkahnya. ”Katakan, Nuad. Dimana kampungmu. Atau karena di ruangan ini banyak orang dari Jawa, lantas kau malu mengaku sebagai orang Minang?” ujar si Bungsu tajam.

”Jahanam kau. Aku orang Bukittinggi. Tapi aku tak masuk kelompok pemberontak busuk seperti kalian!”
”Nah, dengarkan baik-baik, Nuad. Jika hari ini seluruh gigimu kurontokkan, maka itu bukan karena kau jadi OPR. Bukan karena kau orang Pusat. Tapi karena mulut dan ucapanmu yang beracun itu”.

Ucapan si Bungsu terputus, karena tiba-tiba dengan penuh keyakinan, Nuad menyerang dengan dua kali tendangan silat yang tangguh. Tapi anak muda yang dia hadapi kini adalah anak muda yang telah siap. Si Bungsu mengelak ke samping, lalu kakinya menyapu kaki Nuad yang sebelah, yang tegak di lantai. Gerakan itu demikian cepat dan demikian telak. Kaki Nuad yang sebelah itu tersapu dan tubuhnya terputar di udara. Lalu jatuh berdembum ke lantai!

Jika mau, si Bungsu bisa menyusul sapuan kaki itu dengan sebuah hentakan tumitnya ke dada Nuad yang jatuh tertelentang. Tapi itu tak dia lakukan. Dia tetap tegak menanti. Suasana yang tadi riuh rendah tiba-tiba berobah jadi sepi. Nuad merangkak bangkit dengan sakit di punggung dan rasa heran di hati. Apakah dia jatuh karena serangan anak muda itu atau karena lantai yang licin hingga dia tergelincir? Dia lihat anak muda itu masih tegak dua depa di kirinya.

Hm, aku pasti tergelincir karena lantai licin. Bukan karena serangan. Mana bisa anak itu menyerang dan merubuhkanku, pikir Nuad menentramkan hatinya. Dia bangkit. Kalau mau, saat itu si Bungsu bisa membalas dengan menendang dagu Nuad. Persis seperti yang dilakukan OPR itu tadi pada dirinya. Tapi dia telah belajar berkelahi secara sportif. Dia tak mau mengambil keuntungan ketika lawan dalam posisi sulit begitu. Dia nanti OPR bertubuh besar itu tegak.

OPR itu tegak dan menggelengkan kepala dua tiga kali untuk menghilangkan rasa puyeng. Lalu menggeram dan membuat ancang-ancang silat. Kemudian setelah melirik-lirik dua tiga kali, dia menyerang dengan pukulan dahsyat dan cakaran-cakaran berbahaya. Namun kali ini, ganti tangannya yang akan mencakar itu kena tangkap. Dan sebelum dia sadar sepenuhnya, si Bungsu membalik sambil menyentakkan tangan Nuad. Tubuh Nuad tertarik rapat ke punggung si Bungsu.

Dengan sebuah gerak membungkuk yang cepat dan kuat, tubuhnya terangkat melayang lewat kepala si Bungsu, dan dirinya kembali jatuh dengan suara berdembam yang pedih ke lantai batu! Dia kena bantingan soinage, sebuah banting Judo yang telak. Terdengar seruan kagum, kaget dan heran dari mulut tentara-tentara itu.

Si Bungsu membiarkan tubuh Nuad tergeletak nanar. Dia merasakan kepalanya berdenyut. Tapi yang paling sakit adalah pinggulnya yang serasa remuk menerkam lantai.
”Kau takkan jadi terhormat hanya dengan menghina orang kampungmu, Nuad!” ujar si Bungsu perlahan.

Nuad menyeringai, bukan karena ucapan si Bungsu. Tapi karena kenyataan pahit yang dia dapati. Ternyata anak muda itu tak mudah dia taklukkan. Tapi, betapapun, dia harus menghajarnya. Bukankah tubuhnya lebih besar dan dia lebih ditakuti? Perlahan dia bangkit. Tegak dengan pinggul agak dimajukan ke depan karena sakit. Sebenarnya dia sudah ingin menyudahi saja perkelahian ini. Tapi dia malu.

Lagipula, apa yang dia takuti? Bukankah dia berada di pihak APRI dan anak muda ini di pihak PRRI? Dengan pikiran demikian, dia membuka kopelriem-nya. Ikat pinggang tentara besar dan berbesi-besi itu dia lecutkan pada si Bungsu. Namun sekali lagi, tangan anak muda itu mengirimkan pukulan yang amat cepat, dan kuat, ke perut Nuad. Tubuh anggota OPR itu terlipat ke depan.

Lalu sebuah tendangan menghantam dadanya. Nuad tertegak lagi. Lalu sebuah pukulan telak dan kuat sekali, menghantam mulutnya. Darah merah mengucur deras ketika kepalanya terdongak ke belakang. Siapapun yang berada dalam ruangan itu merasa pasti, bahwa paling tidak delapan buah gigi Nuad, atas dan bawah, telah rontok oleh pukulan seperti palu besi itu. Dan kesombongan mata-mata APRI itupun runtuh.

Runtuh dengan rubuhnya tubuhnya yang besar itu. Tak ada kesombongan dan ketangguhannya yang tersisa. Semua telah tersikat habis. Dia jatuh dalam keadaan lebih nista daripada temannya yang bernama Siswoyo tadi. Tak ada arti silat harimau yang dia panggakkan itu. Tak ada lagi Nuad yang ditakuti. Tak ada Nuad mata-mata kesohor itu. Tak ada!

Yang ada kini hanya seonggok tubuh tak bertenaga dengan mulut berdarah dengan banyak gigi yang rontok. OPR itu pingsan! Ketermanguan si Bungsu setelah menghajar Nuad yang sombong itu dikejutkan oleh tepuk tangan. Dia menoleh. Yang bertepuk tangan adalah tentara-tentara yang tegak diseputar ruangan. Seorang sersan malah maju, menyalami si Bungsu.

”Kau hebat. Hebat…
dan sportif. Selamat!”
Ucapnya jujur sambil mengguncang tangan si Bungsu. Beberapa orang tentara maju pula menyalaminya.

Ketiga temannya yang ada dalam sel ternganga ketika dia diantarkan sersan yang siang tadi menangkapnya di rumah Kari Basa.
”Sanak menghajar si kafir itu?” tanya yang berbaju polisi.
”Siapa yang kafir?”
”OPR celaka itu. Dia orang komunis. Dia kafir!”

Jawab si baju polisi penuh semangat dan penuh kebencian. Si Bungsu menatapnya. ”Semua tentara yang menyerang negeri kita ini kafir. Semua komunis” ujar orang itu kembali dengan bersemangat. Si Bungsu menatapnya lagi. ”Dan semua orang yang memberontak di negeri ini adalah Islam?” tanyanya pelan. ”Ya. Kita semua Islam!”
”Termasuk yang merampok dan memperkosa perempuan di desa-desa sana?”

Orang berbaju polisi itu tertegun. Ganti dia menatap si Bungsu.
”Saya tak tahu siapa sanak. Ucapan sanak seperti mata-mata. Apakah sanak juga seorang kafir?” Tangan si Bungsu melayang. Sebuah tamparan mendarat di pipi lelaki itu. Lelaki itu terjajar. Si Bungsu sudah berniat menghajar PRRI yang seorang ini. Namun tiba-tiba dia merasa kasihan. Kasihan pada kebodohan dan fanatisme irasional orang berbaju polisi itu.

Lalu dia berkata perlahan : ”Saya cukup banyak melihat tentara PRRI yang tak pernah sembahyang. Apakah dia juga Islam? Saya cukup banyak mendengar tentara PRRI merampok dan memperkosa perempuan di kampung-kampung. Apakah juga dia orang Islam menurut ukuran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad? Sebaliknya saya cukup banyak melihat tentara APRI yang sembahyang, yang berbuat baik.

Apakah semuanya kafir? Apakah asal dia PRRI adalah Islam dan asal dia APRI adalah kafir?” Yang ditanya tak menjawab. Dia mengusap pipinya yang tadi kena tampar. Lalu menatap pada temannya yang berpakaian tentara.

Lalu menatap pada lelaki yang seorang lagi, yang berpakaian rapi. Dia seperti meminta bantuan untuk menyokong pendiriannya. Untuk memperkuat pendapatnya tadi. Bahwa semua APRI yang menyerang ini adalah tentara kafir. Namun tak seorangpun yang bicara. Justru si Bungsulah yang bicara.

”Harap dibedakan, antara tujuan politik dan agama. Jangan yang satu digunakan untuk menutupi maksud yang lain. Saya tak tahu kenapa saya ditangkap. Tapi yang jelas, saya sudah terlibat demikian jauh dalam urusan yang saya tak tahu ujung pangkalnya. Kalian berperang melawan tentara pusat adalah untuk menuntut pembangunan daerah yang lebih merata. Kenapa tiba-tiba harus dicap pusat adalah kafir?”

Ucapan ini diucapkan si Bungsu perlahan saja. Seperti untuk dirinya sendiri. Karena diserang lelah, dia membaringkan diri di lantai. Dingin lantai itu sesungguhnya, namun dalam keletihan yang sangat, apalah artinya sebuah kedinginan dibanding dengan tubuh yang ingin istirahat. Dia tertidur. Sementara tiga lelaki lainnya dalam tahanan itu masih saling bertukar pandang.

Menjelang subuh si Bungsu terbangun. Ada yang menggoyangkan tangannya. Dia membuka mata. Tak seorangpun yang kelihatan dalam kegelapan di kamar tahanan itu. Namun dia yakin, seseorang telah membangunkannya. Lalu terasa lagi, tangan sebelaah kanannya ada yang menggoyang perlahan. Dia menahan nafas. Kemudian kembali terdengar suara bisikkan. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here