TIKAM SAMURAI 127

DALAM KECAMUK PERANG SAUDARA

SUMBARTIME.COM-Pergolakan tengah membakar Minangkabau saat si Bungsu meninggalkan Australia dan menjejakkan kakinya di Bukittinggi. Situasi amat rawan. Terlebih di kampung-kampung. Saling curiga, saling intai dan saling tuduh. Bahkan banyak orang yang ”hilang malam”.

Iklan

Dia sampai di kota itu ketika sore telah turun. Setelah melewati perjalanan jauh dan panjang: Australia – Jakarta – Padang – Bukittinggi. Dia ingin tidur karena lelah dan mengantuk. Namun, bertahun waktu telah berlalu sejak kepergiannya dari kota ini dahulu. Alangkah lamanya terasa.

Dalam waktu yang telah berlalu itu, ada rindu menusuk-nusuk hati. Dia bergegas mandi dan berganti pakaian. Saat berganti pakaian itu dia mendengar suara lengking yang tinggi. Kemudian melemah. Sayup dan mendayu-dayu. Dia tertegak dengan baju belum terpasang.

Suara itu amat dia kenal. Suara peluit kereta api! Ada rasa aneh menyelusup di hatinya. Rasa rindu dan haru yang membuncah. Dia tersenyum tipis, kendati matanya berkaca-kaca.
”Saya sudah di kampung …” bisik hatinya sambil meneruskan memakai baju.

Hotel dimana dia menginap adalah Hotel Indonesia. Sebuah hotel terbilang besar di Bukittinggi saat itu. Terletak di kawasan depan Stasiun Kereta Api. Selesai bertukar pakaian, dia keluar kamar. Mengunci pintu. Kemudian menyerahkan kuncinya pada pegawai hotel di lobi. ”Kereta dari mana yang masuk sebentar ini?” tanyanya pada pegawai hotel. ”Dari Padangpanjang, Uda akan kemana?”

”Akan ke Payakumbuh…”
”Aha..! Kereta yang baru masuk itu memang akan ke sana. Sebentar lagi berangkat. Tapi lebih baik Uda bermalam dulu di sini. Kalau keadaan agak aman setiap tiga hari ada kereta ke Payakumbuh..”
”Terimakasih..”

Si Bungsu melangkahkan kakinya ke jalan. Begitu keluar dari pekarangan hotel dan menoleh ke kiri dia berhadapan dengan Stasiun Kereta Api itu. Di sebelah kanannya ada kedai nasi yang tengah ramai. Beberapa bendi kelihatan berhenti di depannya. Sebelum bergolak dulu, tiap hari ada puluhan bendi menunggu penompang yang turun dari kereta api, yang datang dari kota-kota lain. Tapi sejak bergolak jadwal kereta api jadi tidak menentu.

Beberapa kusir tengah menikmati nasi ramas di atas bendi mereka. Lapau nasi itu hanya dipisahkan oleh jalan dengan Hotel Indonesia itu. Terletak agak di kiri, sekitar lima puluh meter dari hotel. Perlahan dia mengayunkan langkah ke sana. Dari balik kaca dia memandang ke arah makanan yang seperti dipamerkan. Ada goreng belut, dendeng, rebus daun ubi dan sambal lado. Perutnya terasa lapar. Dia memasuki lepau itu.

”Jo-a makan pak?” tanya seorang anak muda sambil meletakkan mangkuk berisi air cuci tangan dan segelas teh di meja di depan si Bungsu.
”Nasi jo baluik, dendeng. Letakkan daun ubi jo samba lado” katanya. Ah, bahagia terasa. Bisa bicara dalam bahasa ibunya kembali. Seorang lelaki separoh baya, bertubuh segar yang tengah menyendukkan nasi bertanya.

”Ado patai jo jariang mudo. Nio ngku?” Petai dan jengkol muda. Ah, sudah berapa lama dia tak mengecap makanan itu?
”Jadih, jariang mudo…” katanya.

Makanan yang dia inginkan itu diletakkan di depannya. Dia mengangguk pada beberapa orang yang duduk di sampingnya yang juga tengah makan dengan lahap. Kemudian mulai menyuap. Ah, nasi padi baru dan sayur-sayur yang segar. Dia makan dengan lahap. Bertambah sampai tiga kali. Menghabiskan dua piring sayur daun ubi.

Sepiring sambal lado dan enam buah jengkol muda. Sepiring belut dan dua potong dendeng. Ludes senua, nah wajahnya berpeluh. Mulutnya terasa disengat pedas yang hebat. Berkali-kali dia menghapus peluh di wajahnya. Berkali-kali dia mengerang menahan pedas.

”Kopi ciek…” katanya. Secangkir kopi manis segera diletakkan.
”Kapai ka Pikumbuah, Nak?” tanya seorang lelaki yang duduk di sisinya. Dia menoleh, seorang lelaki tua yang tengah menghirup kopi kelihatan menatapnya. Dia coba mengingat. Kalau-kalau dia kenal pada orang ini. Namun dia tak mengenalnya. Dia menggeleng.

”Indak Pak…” jawabnya. Lelaki itu hanya tersenyum. Lalu menghirup kopinya. Selesai membayar makanannya, si Bungsu melangkah ke luar. Orang ramai berkumpul di depan stasiun, yaitu mereka yang akan ke Payakumbuh, Baso, Biaro, Tanjung Alam, Piladang, Padang Tarok. Sambil berjalan dia memandangi orang-orang itu. Berharap kalau-kalau ada di antara mereka yang dia kenal. Namun dia telah jadi orang asing. Tak seorangpun yang dia kenal. Dan tak seorangpun yang mengenalnya.

Akhirnya dia tegak di taman kecil di bawah Jam Gadang. Tak lama setelah dia berdiri di bawahnya jam itu berdentang tiga kali. Gema Jam Gadang itu menegakkan bulu romanya. Dia tertegak diam.
Memandang ke Gunung Merapi yang bahagian kepundannya berwarna kemerah-merahan. Jauh di sana, di kaki sebelah kiri Gunung Merapi, dia melihat Gunung Sago. Ada debar di hatinya. Debar yang rindu. Debar yang sepi. Di kaki gunung itu terletak Situjuh Ladang Laweh.

Dia seperti bisa melihat susunan rumah dan letak mesjid di kaki gunung itu. Dia juga seperti melihat pandam pekuburan ayah, ibu dan kakaknya! Peluit kereta api mengejutkan dirinya dari lamunan. Di hadapannya, di bawah sana, di antara ladang jagung dan padi yang menguning di Kampung Tangahsawah, dia lihat kereta api menuju ke kampungnya, berlari perlahan di atas rel.

Asap hitam mengepul dari lokonya yang berada di depan. Deru mesin dan gemertak rodanya ketika melindas rel baja disampaikan ke telinganya seperti bunyi seruling anak gembala. Perlahan dia mengambil tempat duduk di sebuah kursi kayu yang dicacakkan ke tanah, tak jauh dari Jam Gadang. Memandang ke lembah Merapi dan Singgalang.

Rasanya seperti bermimpi. Dahulu dimasa revolusi, di kiri sana tak jauh dari Jalan Syech Bantam, dia pernah minum kopi di sebuah lapau kecil menanti seorang kurir. Di lapau itu dia membunuh dua orang serdadu Jepang. Setelah serdadu itu membunuh kurir yang dia nanti. Dari sana dia melarikan diri.

Seorang pedagang di jalan Syech Bantam menyembunyikannya. Masuk ke ruang di bawah rumahnya. Kemudian keluar ke belakang. Turun ke jalan yang terletak jauh di bawah sana, di dekat Hotel Antokan. Dari sana, dengan menyelusur rel kereta api, dia berlari ke rumah Datuk Penghulu di Tarok, di mana dia menompang. Datuk itu seorang kusir bendi, yang juga seorang pejuang bawah tanah. Ketika dia sampai ke rumah Datuk itu, dia dapati rumah itu telah musnah jadi abu. Api tengah berkobar memakan sisa puingnya.

Kekasihnya yang bernama Mei-mei, seorang gadis Cina, terhantar tak sadar diri. Gadis itu luka parah dan habis dinista serdadu Jepang. Tidak hanya Mei-mei. Tapi Tek Ani, isteri Datuk itu serta si Upik, anak gadisnya yang berusia lima belas tahun juga diperkosa serdadu Jepang. Mulai saat itu, dia dan Datuk Penghulu menghajar Jepang-jepang di kota ini. Menjebak dan membunuh mereka.

Mei-mei, gadis yang dia temukan di salah satu rumah di Payakumbuh, akhirnya meninggal di loteng sebuah masjid di Tarok. Meninggal sesaat sebelum mereka mengucapkana ijab kabul. Sesaat sebelum mereka disahkan menjadi suami isteri.

Dan…. setelah itu dia bertualang. Dia ditangkap Jepang. Disiksa di dalam terowongan di bawah kota ini. Kemudian ketika lepas, dirawat oleh Salma di rumahnya yang terletak di kampung Atas Ngarai. Dari rumah gadis itulah kemudian dia berangkat ke Pekanbaru. Untuk kemudian terus ke Jepang mencari musuh besarnya, Saburo Matsuyama. Kini Salma berada di Singapura, menjadi isteri Overste Nurdin.

Komandan pasukan di Pekanbaru yang berasal dari Buluh cina. Sebuah kampung kecil di tepian Sungai Kampar. Azan Asyar yang berkumandang dari Masjid Raya di Pasar Atas menyadarkan si Bungsu dari lamunannya. Perlahan dia bangkit, melemparkan pandangannya sekali lagi ke Merapi. Jauh di sana nampak Gunung Sago diselimuti kabut tipis. Di sanalah kampung halamannya, Situjuh Ladang Laweh.

Dia melangkah meninggalkan Jam Gadang. Menyongsong suara azan. Lewat di jalan Minangkabau yang diapit dua deret toko. Di ujung jalan ini ada sebuah bioskop. Agak di depan bioskop itu ada sebuah masjid yang letaknya berdempetan dengan sederet kedai. Itulah Masjid Raya di Pasar Atas, dari mana azan itu berkumandang. Masjid itu didirikan oleh kaum Muhammadiyah di kota itu.

Suara azan yang tadi dia dengar sayup-sayup sekali di dekat Jam Gadang, makin lama makin jelas. Dia masuk setelah mengambil uduk. Ikut sembahyang berjamaah. Makmumnya tak berapa orang, karena situasi pergolakan selalu membuat orang cemas. Selesai sembahyang dia tak segera pergi. Beberapa saat dia masih duduk. Melihat kanak-kanak berdatangan. Ada yang membuka Kitab Ama, ada yang membuka Alquran. Mereka mulai mengaji.

Mereka mengaji sore hari, karena sejak bergolak malam hari biasanya semua toko dan kedai di Pasar Atas itu tutup. Si Bungsu duduk bersandar ke dinding papan yang nampaknya telah rapuh. Mendengarkan anak-anak itu mengaji. Dia teringat pada masa kanak-kanaknya di kampung dahulu. Dia sama-sama berangkat dengan teman-temannya mengaji ke sebuah surau kecil di pinggir kampung.

Ketika teman-temannya masuk ke surau, dia dan beberapa temannya yang lain, berkelok ke sebuah rumah kosong. Di sana mereka berjudi. Main koa, atau remi. Memang judi kecil-kecilan. Bertaruh karet gelang atau kotak rokok. Bertaruh penganan atau pensil.

Namun lama-lama, judi itu berkembang jadi judi benaran. Persis seperti dirinya yang lama-lama berkembang jadi dewasa. Dan akhirnya pula, siapa yang tak kenal padanya di bidang judi? Kini dia melihat kanak-kanak mengaji. Lelaki dan perempuan. Dan membayangkan masa kecilnya yang tak terlalu indah di kampung dahulu.

”Alif di ateh a, alif di bawah i, alif di dapan u : A – I – U”
Suara guru diikuti bersama. Berdengung dan serentak.
”Ba di ateh – ba, Ba di bawah – bi, Ba di depan – bu: Ba, Bi, Bu”

Suara murid-murid seperti koor yang kompak. Seperti sudah hafal akan setiap bunyinya. Si Bungsu bersandar diam. Beberapa murid mengaji, kanak-kanak berusia sekitar tiga sampai enam tahun, sesekali melirik padanya. Di antara suara A, I, U, Ba, Bi, Bu, Ta, Ti, Tu beberapa murid berbisik sesamanya. Kemudian menoleh selintas pada lelaki yang bersandar itu.

Karena tolehan-tolehan itu, guru mengajinya juga menoleh. Guru mengaji itu, seorang gadis cantik berusia sekitar delapan belas tahun, juga melihat orang itu. Gadis itu segera mengetahui, bahwa orang yang tengah bersandar itu, adalah orang baru. Dia bisa mengatakan hal itu dengan pasti.

Sebab meskipun…… ke masjid ini yang datang bersembahyang adalah pedagang dan musafir yang singgah, tapi gadis itu mengenal mereka. Dia tahu cara dan lagaknya. Beberapa kali gadis itu menoleh. Murid-muridnya pada berbisik melihat ibu guru mereka beberapa kali mencuri pandang pada lelaki yang bersandar itu.

Si Bungsu sama sekali tak mengetahui, bahwa ada murid mengaji yang mencuri pandang dan berbisik tentang dirinya. Si Bungsu juga tak tahu, bahwa guru mengaji anak-anak itu juga mencuri pandang padanya.

Dia tak mengetahui semuanya itu, sebab yang ada di masjid itu hanyalah tubuhnya. Sementara fikirannya tengah menikam jejak masa lalunya di kampung sana. Dia seperti melihat dirinya hadir dalam kelompok anak-anak mengaji itu. Ketika kanak-kanak itu pulang, beberapa lelaki masuk ke masjid tersebut.

Guru mengaji itu masih duduk di tempatnya tadi. Hanya kini ada tiga orang wanita tua di dekatnya. Guru mengaji itu melirik ke arahnya persis di saat dia juga memandang pada gadis itu. Gadis itu menunduk dengan wajah bersemu merah.

Beberapa orang gadis kelihatan membuka Alquran. Mereka mengaji. Si Bungsu masih tetap duduk dan kembali bersandar ke dinding. Dulu dia juga pernah mengaji Alquran. Hanya tak sampai khatam. Tak pernah sampai tamat.

Ketika rombongan sesama mengajinya berbaris berarak diiringi gendang dan rebana, berpakaian indah-indah keliling kampung dalam acara Khatam Quran, dia berada di bekas surau tempat masa kanak-kanaknya mengaji dulu. Surau itu telah ditinggal. Majid sudah pindah ke tengah kampung, di sanalah dia selalu berjudi.

Ya, ketika teman-temannya Khatam Quran, dia berjudi. Kadang-kadang siang, kadang-kadang malam. Dan selalu menang. Dia termenung dalam mesjid itu. Dia tak tahu bahwa gadis yang guru mengaji tadi, beberapa kali melirik padanya. Dia juga tak tahu, bahwa beberapa di antara gadis-gadis yang mengaji itu ikut melirik.

”Nampaknya dia orang baru…” Salah seorang guru mengaji itu berbisik pada teman di sebelahnya. ”Baru darimana?” bisik temannya yang lain.
”Entahlah. Tapi yang jelas dia orang baru datang…”
”Tadi katamu dia sudah lama duduk di sana. Sudah sejak engkau mengajar surat Ama…”

”Ya, tadi dia duduk dekat tiang itu…”
Bisik-bisik mereka terputus ketika guru mengaji melecutkan rotan sebesar ibu jari dan panjangnya setengah meter, ke lantai.
”Simakkan kaji…! Simakkan kaji! Jangan bergunjing ketika temanmu membaca kaji!!” suara rotannya menimbulkan suara yang pedih menerpa lantai.

Kedua gadis yang berbisik-bisik itu cepat menunjuk ke Alquran. Seperti menyimak kaji yang tengah dibaca salah seorang teman mereka.
”Halaman berapa kini Emy?” guru mengaji itu bertanya.
”Halaman seratus dua belas, Engku…” ujar gadis cantik yang guru mengaji yang ditanya itu.

”Halaman berapa kini Siti?”
”Halaman seratus dua belas, Engku…” jawab temannya yang tadi berbisik dengannya. ”Hmm… Besok kalian harus menyalin seluruh ayat di halaman seratus dua belas itu seluruhnya. Bawa ketika mengaji besok. Halaman berapa yang tengah kau baca itu Rohani?”
”Halaman seratus dua puluh, Engku…” jawab gadis yang tengah membaca Alquran itu. ”Nah, kau dengar Emy, Siti? Sudah halaman seratus dua puluh…”

Muka kedua gadis itu merah seperti udang dibakar. Untung hari malam. Sehingga merah muka mereka tak kentara. Mereka menunduk dalam-dalam. Kemudian membalik halaman Alquran di hadapan mereka beberapa lembar. Sehingga akhirnya bertemu halaman yang tengah dibaca oleh teman mereka itu. Gadis cantik guru mengaji anak-anak itu, bersama teman-temannya yang lain, sudah beberapa kali Khatam Quran.

Artinya, mereka telah lebih dari dua atau tiga kali menamatkan Quran. Mereka masih tetap datang mengaji kemari karena demikianlah tradisi di kampung mereka ini. Khatam yang pertama biasanya ketika usia masih muda, hanya sekedar menghafal saja. Makin dewasa, pengajian dilanjutkan dengan mempelajari makna serta tajuid atau yang lainnya. Tiba-tiba temannya memberi isyarat. Gadis cantik guru mengaji kanak-kanak itu tak berani mengangkat kepala. Dia malu kalau dimarahi lagi oleh gurunya.
”Dia telah pergi….” bisik temannya yang memberi isyarat itu.

Mendengar itu barulah gadis itu mengangkat kepala. Menoleh ke anak muda yang sejak tadi duduk bersandar itu. Anak muda itu telah lenyap dari sana. Dia menunduk lagi. Tapi hatinya entah kenapa tiba-tiba saja jadi resah. Lelaki itu telah pergi. Aneh, dia tak penah mengenal lelaki itu. Bahkan baru kali ini dia melihat wajahnya. Tapi karena wajahnya yang murung dan matanya yang sayu amat meninggalkan kesan di hatinya.

Ketika pulang dari mesjid, dia coba melirik ke kiri dan ke kanan. Berharap anak muda itu ada di pinggir jalan yang dilalui. Namun si Bungsu memang tak terlihat puncak hidungnya. Gadis itu pulang ke rumahnya, di sebuah toko bertingkat dua di daerah pasar atas itu. Di bahagian bawah tempat ibu dan ayahnya berdagang emas.

Di bahagian atas adalah rumah tempat tinggal mereka. Sekeluarnya dari masjid itu si Bungsu menuju ke pasar. Dia menuju Los Galuang, sebuah bangunan beratap setengah bundar, disana biasanya tempat orang berjualan tembakau atau selimut. Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here