TIKAM SAMURAI 112

SUMBARTIME.COM-Ceritanya Semula dia ingin membuat perhitungan disana juga. Dia ingin membabat habis si gendut itu. Dia yakin, sekali dia mengayunkan tangan, ketiga samurai kecil itu akan melayang dan menyudahi nyawa si gendut. Tapi secara tiba-tiba ketika si gendut itu melambai dan mengucapkan bai-bai padanya di pintu hotel, sebuah pikiran lain menyelinap di kepalanya.

Kalau dia babat di hotel, maka dia takkan tahu dimana markas mereka. Lagipula dia takkan tahu siapa-siapa di belakang sindikat jual beli perempuan ini. Makanya si Bungsu mengikuti si gendut dengan taksi. Taksi si Bungsu berhenti di luar. Si Bungsu membayar sewanya. Dia sendiri lalu mencari jalan untuk bisa masuk. Rumah ini ternyata berpagar tinggi. Si Bungsu terpaksa memanjat pohon mahoni lalu melompat ke pagar, baru terjun ke halaman. Untung saja pengalaman di gunung Sago dahulu memudahkan pekerjaannya sekarang ini.

Iklan

Dia lalu mengendap-endap ke dekat rumah tersebut. Sedan hitam itu dia lihat parkir di depan teras. Dan dari dalam terdengar suara orang bicara perlahan. Ketika dia akan mendekati lagi, dia dikejutkan oleh salak anjing. Ketika dia menoleh, anjing besar itu siap untuk menerkamnya. Tak ada jalan lain bagi anak muda ini selain mengayunkan tangan. Dan dua buah samurai kecil terbang dengan kecepatan kilat. Lalu menancap di leher anjing besar itu. Dan anjing itupun tamatlah riwayatnya.

Gonggongannya yang dua kali itu sebenarnya adalah gonggong yang tadi terdengar oleh orang-orang yang ada dalam rumah tersebut. Tapi karena saat itu si Belanda tengah bertarung dengan Cina gendut itu, maka gonggongan tersebut tak diacuhkan. Kalau saja mereka memperhatikan gonggongannya, dan melihat keluar, mungkin si Bungsu takkan sempat masuk rumah. Dan si Bungsu masih sempat mengintai perkelahian seru antara si Belanda dengan si Cina lewat kaca jendela.

Dia merasa ngeri juga melihat pertarungan itu berlangsung. Kalau saja dia yang dipagut Cina gendut itu, maka dia yakin nyawanya sudah melayang dengan seluruh tulang ditubuhnya patah-patah. Dan bulu tengkuknya berdiri semua melihat Belanda itu menyudahi nyawa si Cina gendut.
Hih, ini memang bukan pekerjaan main-main pikirnya. Dan dia masuk ketika si Keling kena ancam dikala tak berhasil menyeret mayat Cina gendut itu.

Dan kini, orang Inggris yang tak berbaju itu melihat kedatangan anak muda tersebut dengan heran. Kenapa orang asing ini bisa masuk, kemana si Bleki, anjing besar itu, pikirnya. Dia bersiul. Siulnya melengking tinggi. Siulnya memanggil anjingnya. Namun anjing itu memang sudah mati kok. Tentu saja tak pernah datang.

Bos itu memberi isyarat pada si Keling. Dan seperti seekor anjing pula, si Keling itu berlari ke luar. Dan di halaman, dekat pohon pinang merah, dia melihat anjing itu ditidurkan malaikat maut. Darah mengenang dekat lehernya. Dia berlari lagi masuk.
“Mati…” katanya. Orang inggris itu menatap pada si Bungsu.
“Kamu bunuh anjing itu he?” suara sengau seperti suara kepinding terdengar dari mulut orang Inggirs itu.

“Tidak. Saya tak minta izin padanya untuk masuk kemari. Dia lalu bunuh diri…” si Bungsu menjawab seenaknya. Inggris itu mengeluarkan suara menggeram. Namun dia suka juga mendengar guyon anak muda ini
“Nah, kalau begitu, engkau harus minta izin pada anjing yang satu ini….” Inggris itu menunjuk pada si Keling. Dan bagi si Keling, ini adalah perintah untuknya. Perintah untuk menyudahi nyawa anak muda itu. Dan perintah itu sekaligus juga sebagai keringanan hukuman baginya.

Artinya, kalau saja dia bisa menyudahi anak muda ini, maka nyawanya akan bisa pula selamat. Nah, diapun bersiaplah. Dia bersiap dengan suatu keyakinan bahwa dia bisa menyudahi anak ingusan ini. Bukankah temannya, Cina gendut yang telah mati itu tadi berkata, bahwa anak muda ini terberak-berak ketika digertak? Keling itu maju. Si Bungsu tegak dengan diam. Dia tak tahu apa kepandaian orang yang satu ini.

Kalau si gendut Cina itu mahir Kuntau dan Yiu Yit Su, dan si Belanda mahir dengan boksen dan gulat, maka apa pula kemahiran si Keling ini? Dia coba mengingat-ngingat, apa kemahiran orang India dalam berkelahi. Seingatnya tak pernah ada yang menonjol. Orang India seingatnya hanya mahir bermain suling untuk menjinakkan ular atau mahir menyanyi dalam film-film. Apakah Keling ini akan memainkan suling atau akan menyanyi, pikirnya.

Tapi Keling yang satu ini bukan sembarang orang pula. Memang tak sembarang orang bisa masuk jadi anggota sindikat Internasional penjual wanita di kota Singa ini. Keling itu mengayunkan kakinya. Kakinya panjang seperti umumnya orang keling yang lain. Ayunan kakinya berisi juga. Namun si Bungsu tak usah banyak bergerak kalau hanya sekedar menghindarkan tendangan model demikian.

Samurainya dia ayunkan kebawah. Pletok!! Sarung samurai itu menggetok lutut orang keling itu. Keling itu menyeringai. Matanya juling seketika. Namun dia tak mau kalah. Sebab kekalahan baginya berarti maut. Ini adalah kesempatan akhir baginya untuk menyelamatkan nyawa yang tinggal diujung tanduk.

Dengan memekik ala kingkong mabuk dia menyerang dengan sebuah tinju. Tinjunya mirip tinju dalam film koboi. Dan si Bungsu kembali menghantamkan samurainya. Kena tepat disiku Keling itu. Keling itu juling lagi matanya. Sakit menyerang hulu hatinya. Namun dia tak pernah mau mundur. Bukankah ini kesempatan terakhir baginya? Dia maju, dan kali ini ditangannya ada sebuah belati!

Kali ini si Bungsu tak mau main-main. Begitu tangan si Keling terayun, tangannya juga terayun. Si Bungsu ingin menyelesaikan persoalan ini dengan cepat. Betapapun, dia harus kembali jadi tukang bantai. Menjual wanita! Bukankah itu sebuah pekerjaan yang alangkah jahanamnya apalagi yang diperjualbelikan adalah wanita-wanita dari Indonesia.

Dalam dokumen yang sempat dia baca sebelum Cina gemuk itu datang ke hotel Sam Kok, dia ketahui, bahwa banyak diantara gadis-gadis Indonesia yang ditipu. Anggota-anggota sindikat datang kebeberapa rumah, dikampung-kampung. Mencari gadis atau janda, bahkan isteri orang yang cantik untuk ditawari pekerjaan ringan bergaji besar. Yang mau segera dibawa. Yang tak mau dibujuk dengan berbagai cara.

Dan jika sudah berhasil, lalu bukan bawa ke kantor atau ke tempat pekerjaan yang mereka harapkan. Mereka langsung dibawa ke kapal. Dan disekap dalam ruangan bawah. Jika jumlah yang dikehendaki sudah terpenuhi, maka kapalpun berangkat. Langsung ke Singapura. Kaum sindikat ini tak pernah khawatir akan kepergok dengan patroli lautan dari pihak Indonesia. Ada tiga penyebab kenapa mereka tak takut.

Pertama, kapal patroli Indonesia saat itu memang tak berapa buah. Kedua, kalaupun kepergok, mereka cukup mengatakan bahwa mereka membawa getah. Kalau diperiksa, mereka cukup memberikan sejumlah uang. Biasanya dengan uang segalanya jadi beres. Tentang uang mereka tak usah cemas. Cukup banyak uang tersedia guna menjalankan operasi itu. Ada uang dollar ada uang rupiah. Tapi yang terbanyak adalah rupiah palsu.

Namun dimata aparat Indonesia, perbedaan uang palsu dengan yang tak palsu tak mereka ketahui. Dan ditahun-tahun lima puluhan ini, uang palsu bukan main banyaknya beredar di Indonesia. Itu baru dua hal kenapa mereka tak takut menghadapi aparat hukum di Indonesia. Kalaupun kedua hal itu gagal, artinya kalau kepergok kapal patroli,lalu aparatnya disogok, tapi masih tetap gagal karena mental dan pengabdian aparatnya kukuh, meski biasanya mental aparat Indonesia yang bertugas di laut saat itu kebanyakan bobrok, tapi mereka tetap saja tak kehilangan akal.

Akal ketiga adalah Bedil! Ya, mereka memiliki bedil. Mulai dari pistol sampai ke mitraliur ukuran ringan. Senjata-senjata itu tersimpan dengan rapi, namun bisa diambil dan dipergunakan setiap saat diperlukan.
Dalam dokumen yang dibuat Overste Nurdin itu juga si Bungsu membaca bahwa di kapal saja perempuan itu sudah dijadikan pemuas nafsu binatang para awaknya.

Dan jangan lupa, masih dalam dokumen yang sama tertulis bahwa awak kapal dan anggota sindikat yang di Jakarta, adalah orang Indonesia asli!
Tapi untuk uang, persamaan Bangsa dan Tanah Air ternyata tak berguna dalam menyelamatkan kehormatan seseorang. Dan si Bungsu memang berniat menebas seluruh anggota sindikat yang dia jumpai! Dan Keling itu memang malang. Dia tak tahu apa yang menyebabkan dirinya lumpuh. Jatuh. Dan mati.

Si Bungsu kini memandang tepat-tepat pada orang Inggris yang masih memegang pistol itu. Bayangan sepuluh hari yang lalu melintas lagi di kepalanya. Yaitu ketika dia bersama Nurdin akan keluar dengan taksi dari daerah Pelabuhan di Anting. Sesaat sebelum taksi mereka dimakan peluru, ia menoleh ke belakang. Di belakangnya sebuah taksi mendekat.

Di depannya kelihatan duduk dua orang asing. Yaitu satu memegang kemudi. Yang satu kelihatan memegang sebuah tongkat. Ketika hampir mendekati taksi mereka, orang asing yang memegang tongkat itu mengeluarkan tongkatnya makin panjang. Dan dia melihat tongkat itu adalah moncong senjata. Kemudian dia menunduk. Terdengar tembakan. Nurdin terkulai. Namun wajah orang asing itu tak pernah lekang dari ingatannya.

Dia ingat benar. Berambut pirang dengan mata biru. Dan kini, dihadapannya, orang asing yang menembak Nurdin itu, duduk di depannya tanpa baju. Di tangannya terpegang sebuah pistol otomatik. Dan si Bungsu seperti mendengar suara anak Nurdin sesaat sebelum dia meninggalkan gedung Konsulat untuk pindah ke Hotel Sam Kok.

“Dia telah melukai ayah. Orang itu harus paman lukai pula. Paman bunuh saja. Ya paman? Paman mau berjanji akan membunuh orang yang melukai ayah…?’ “Ya, paman akan membunuhnya. Percayalah…” Dan perjanjiannya dengan anak sahabatnya itu seperti menyentak jantungnya. “Hmmm, kamu mau berlagak di depan saya he? Ayo maju koe kemari anjing!” dan sambil berkata begitu orang Inggris itu melepaskan sebuah peluru.

Peluru itu menerpa pelipis si Bungsu. memutus puluhan helai rambutnya. Sebuah tembakan yang amat terlatih. Tak melukai kulit sedikitpun.
“Majulah kemari anjing! Kalau tidak, peluru ini akan menyudahi nyawamu…” Inggris itu ngomong lagi. Si Bungsu masih tegak dengan diam. Semburan peluru ketika di daerah pelabuhan dahulu masih membayang dikepalanya.

Namun saat itu orang Inggris tersebut memang membuktikan ucapannya. Pistol di tangannya menyalak dan peluru diarahkan ke jantung si Bungsu. namun mata si Bungsu yang waspada melihat gerak jarinya ketika akan menarik pelatuk. Sebelum dentuman berbunyi, dia melemparkan tubuhnya ke samping. Seiring dengan itu, samurai panjangnya melayang dalam kecepatan kilat!

Samurai itu menancap di sandaran kursi si Inggris. Persis di tentang jantungnya! Namun orang Inggris itu ternyata juga sudah matang dalam perkelahian begini. Kalau tidak, mustahil dia menduduki tempat yang cukup tinggi dalam sindikat. Karena begitu samurai si Bungsu menancap di kursinya, dia tak lagi ada disana! Dia sudah duluan menghindar. Si Bungsu segera tegak. Dan jadi kaget melihat samurainya hanya menerkam sandaran kursi.

Dan lebih kaget lagi dia, ketika menoleh kesamping. Orang Inggris itu tegak di sana dengan sikap petenteng-petentengan. Memandang padanya dengan sikap seorang jagoan menatap penjahat kelas teri! “Hmm, ayolah berlagak lagi kau monyet…!” suaranya mendesis. Si Bungsu tegak lurus. Menatap diam ke arah orang Inggris yang sejak tadi sudah memakinya sebagai anjing dan monyet ini.

Sebuah letusan bergema. Dan pelurunya menerkam paha si Bungsu. anak muda itu terpental ke belakang. Terguling di lantai.
“Ayo, bangkitlah. Coba berlagak jagoan padaku…!” dan sebuah letusan bergema lagi. Pelurunya menerkam lengan kanan si Bungsu.

Anak muda itu terguling untuk kedua  kalinya. Empat kali tembakan. Berarti kini masih tersisa satu peluru lagi. “Bangkitlah. Kau seorang jagoan bukan? Dan seorang jagoan biasanya sok perkasa. Kalau akan ditembak suka tegak lurus dan menantang dengan dada terbuka dengan mata menatap tegas seperti mata anjing. Kau tegaklah dan cobakanlah sikap gagah perkasa konyolmu itu…! Kalau tidak kepalamu akan kuremukkan ketika menelungkup itu….”

Orang itu nampaknya memang tak main-main. Dan si Bungsu memang berusaha untuk tegak. Darah sudah berceceran di lantai. Dia menggigit bibir. Kepalanya mulai pusing. Kebanyakan mengeluarkan darah bisa membahayakan dirinya. Dia tahu benar akan hal itu. Namun dia teringat lagi pada permintaan Eka, gadis kecil Overste Nurdin.

“Paman berjanji akan membunuh orang yang melukai ayah, ya paman?”
“Ya, paman berjanji..” Dan dia bangkit. Tegak dengan tangan tergantung lemah keduanya. Lengan kanan dan paha kirinya telah berlumur darah. Sakitnya hanya Tuhan yang tahu. “Nah, kini kau datang kesini sambil merangkak. Cepaat..!” perintah orang Inggris itu menggeledek. Si Bungsu menurut. Dia membungkuk.

Tangan kirinya bergoyang. Dua buah samurai kecil yang diikat di lengan kirinya itu melosoh turun. Disambut jari-jarinya. Terlindung dari penglihatan si Inggris oleh punggung tangannya. Dan kini terpaksa mempergunakan samurai yang dilengan kiri. Sebab tangan kananya sudah lumpuh. Ini adalah kesempatannya yang terakhir. Kalau kesempatan ini tak dia pergunakan, maka tamatlah riwayatnya. Dia membungkuk terus untuk memenuhi perintah si Inggris agar dia merangkak.

Tapi begitu tubuhnya membungkuk itu, tubuhnya berputar. Dia pikir orang itu pening dan akan jatuh ke lantai. Namun si Bungsu berputar sambil melemparkan kedua samurai kecil itu di tangan kirinya. Dan kedua samurai itu menancap di tenggorokkan si Inggris . masuk hingga hulu samurai itu hanya nampak satu senti. Yang satu menancap di leher si Belanda yang tadi mengalahkan Cina gendut itu. Samurai yang satu itu hanya menancap separohnya.

Namun Belanda itu seperti orang dicekik setan. Matanya juling dan lidah terjulur. Dia berusaha untuk mencabut samurai itu dari lehernya. Namun usahanya itu alangkah sulitnya dia lakukan. Darah meleleh di sela batang samurai kecil itu. Akhirnya yang mampu dia lakukan adalah jatuh. Belum mati. Yang sudah mati adalah si Inggris yang memegang pistol otomatik itu. Ujung samurai kecil itu menyembul sedikit di tengkuknya.

Dia merasakan nafasnya sesak. Jantungnya seperti akan pecah. Dia mengangkat pistol. Berusaha menarik pelatuknya. Namun itulah usahanya yang terakhir. Pelatuk pistol itu tak pernah mampu di tarik. Yang tertarik justru pelatuk nyawanya. Dan nyawanya melompat ke luar dari tubuhnya yang laknat itu. Nyawanya melayang justru ketika tubuhnya masih tegak.

Dan tubuh yang tak bernyawa itu, jatuh dengan bunyi bergedubrak ke atas tubuh Cina gemuk yang tadi ketika mereka masih sama-sama hidup adalah anak buahnya. Kini setelah mereka mati, maka tak ada perbedaan mana yang bos dan mana yang buah. Ketika sudah mati, yang buruh dan yang majikan jasadnya sama-sama jadi bangkai! Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here