TIKAM SAMURAI 111

SUM BARTIME.COM-Dan si Cina gemuk yang meninggalkan si Bungsu dalam keadaan hidup di hotel Sam Kok itu ternyata telah membuat kekeliruan. Dan kekeliruan itu segera harus dia bayar begitu sampai di markasnya. Markas mereka terletak di sebuah taman yang mirip hutan yang bernama Bukit Merah.

Sebuah rumah yang terletak lima puluh meter dari jalan Henderson, kelihatan angker. Dari jalan rumah itu tak kelihatan. Hanya nampak sebuah jalan masuk yang dipenuhi pohon-pohon serta pinang merah. Berpagar tinggi. Kesanalah taksi hitam legam itu meluncur. Sedan tersebut berhenti persis di teras di depan rumah berwarna putih itu. Seekor anjing herder hampir sebesar harimau menggonggong dua kali.

Iklan

Lalau ketika Cina gemuk itu keluar dari mobil, anjing itu terdiam. Mengibaskan ekornya ke bawah perut, lalu duduk diam-diam. Cina dan orang keling itu masuk. Di ruang tamu mereka segera saja membungkuk memberi hormat pada seorang bule berambut merah yang duduk dengan dada telanjang.

Beres?” tanyanya dengan suara sengau. “Beles bos” jawab si Cina. Sambil menyerahkan dokumen yang tadi dia rampas dari si Bungsu.
Bule itu menerima dokumen tersebut. Namun dia tak segera membukanya.
Apakah dia kau bereskan?”
“Dia bukan apa-apa bos. Anak kemalin yang menangis kena geltak”
“Saya tidak bertanya apakah dia anak kemaren atau anak besok. Yang saya tanya apakah dia telah kau bunuh”

Cina itu ragu-ragu. Temannya yang Keling itu menunduk diam. Nampaknya orang Inggris yang berdada telanjang itu cukup berkuasa. Di belakangnya tegak seorang bule lain, yang bertubuh atletis. Si Bule yang satu ini tetap saja tegak. Diam tak bergerak. “Jawab pertanyaan saya, babi gemuk!” orang Inggris itu membentak.

Ya. Ya, saya segera akan membereskannya bos” si gemuk itu menjawab dengan lemah. Orang Inggris itu mengerutkan kening. “Engkau memang babi. Engkau terlalu membanggakan kekuatanmu. Tapi hari ini engkau telah meninggalkan jejak. Dan ini bukan kali yang pertama engkau berbuat kesalahan. Engkau boleh mengukur sampai dimana kehebatanmu

Sehabis berkata, orang Inggris itu memberi kode ke belakangnya dengan goyangan telunjuk kanannya. Dan orang Belanda yang tadi tegak diam seperti patung maju. Si Gemuk itu kaget. Namun dia kelihatannya tak begitu takut. Sebab dalam organisasi ini, bila dia menang dalam perkelahian maka kesalahannya akan diampuni. Tapi bila dia kalah, maka nyawanya memang takkan pernah tertolong.

Ruang tamu dimana mereka berada itu cukup luas. Si Belanda besar itu mengirimkan sebuah pukulan swing yang amat cepat. Namun lebih cepat lagi Cina gemuk itu menangkap tangannya. Dan segera saja Cina itu memutar tangan yang tertangkap itu disertai sebuah bentakkan. Itu adalah gerakan Yui Yit Su yang amat mahir. Mematahkan dan membanting sekaligus.

Tubuh Belanda itu segara saja terputar diudara. Namun ketika tubuhnya persis berada di atas, menjelang gerakan jatuh ke lantai, tangan kirinya meluncur turun dalam bentuk pukulan. Dan Cina gemuk itu tentu saja tak pernah menduga akan adanya serangan ini. Tak ampun lagi, jidatnya kena hantam. Pletakk!! Cina itu terpekik. Pegangannya lepas. Dan tubuh Belanda itu berputaran di udara. Membentuk gerakkan salto dua kali. Dan turun dengan ringan di atas kedua kakinya!

Kening Cina gemuk itu benjol sebesar buah mangga. Bengkaknya merah kehitam-hitaman. Ini adalah pertarungan yang bukan main. Dia melangkah perlahan dengan mata berapi mendekati Belanda itu. Kembali Belanda itu mengirimkan sebuah pukulan cepat ke rusuk. Dan disusul lagi dengan sebuah pukulan dari bawah ke kerusuk. Namun kali ini Cina itu sudah sangat waspada.

Dia mengelak dengan memiringkan tubuh. Benar-benar patut dikagumi, dengan tubuhnya yang gemuk tambun seperti kerbau bunting itu Cina ini masih dapat bergerak amat lincah. Sambil mengelak ke samping tangannya mengirimkan sebuah tusukkan dengan dua jari tangannya ke leher Belanda itu.Serangannya amat cepat. Dan Belanda itu nampaknya anggap enteng. Barangkali karena serangan itu adalah serangan hanya dengan jari-jari tangan, makanya Belanda itu tak begitu mengacuhkannya.

Namun dia segera saja menyadari kekeliruannya ketika ketiga jari Cina gemuk itu menyentuh tenggorokkannya. Serangan itu ternyata bukan sembarangan serangan. Melainkan serangan seorang ahli Kuntau!
Leher Belanda itu, “dimakan” ketiga jari Cina tersebut. Mata Belanda itu mendelik. Wajahnya segera saja jadi pucat. Dari lehernya darah mengalir! Ada tiga bekas luka di lehernya! Dia tersurut. Tapi serangan itu nampaknya tak mematikan.

Belanda itu memang punya otot dan daya tahan yang luar biasa. Itulah sebabnya tadi dia anggap enteng saja. Kini ternyata dia berhasil dilukai. Namun Cina itu juga kaget. Biasanya serangan tiga jarinya itu, tak pernah tidak merenggut nyawa. Tapi kini, Belanda itu kelihatan masih tegak. Justru dengan wajah beringas berang dan siap untuk balas menyerang.
Mereka berhadapan. Saling pandang dan saling intai. Anjing Helder diluar menggonggong. Sekali, kemudian diam.

Belanda itu maju dengan kedua tangan terkepal. Cina itu berputar dengan kedua tangan terbuka. Si Keling dan si Inggris yang jadi Bos di rumah itu melihat dengan diam. Tapi diamnya bos itu berlainan dengan diamnya si Keling. Si Bos diam dengan suatu kenikmatan melihat pertarungan itu. Sementara si Keling dia dengan peluh bercucuran. Dia berharap agar si Gemuk itu keluar sebagai pemenang. Sebab, meski dia termasuk dalam rangkaian tugas untuk melenyapkan anak Indonesia di hotel Sam Kok itu.

Meski dia tak ditugaskan untuk turun tangan langsung, namun dia ikut bertanggung jawab. Maka kalau si gemuk itu kalah nanti, dia akan ikut jadi korban. Harapannya tinggal satu kini, yaitu agar si gendut itu menang.
Perkelahian berlanjut lagi. Suatu saat si gemuk berhasil mendekap tubuh Belanda itu. Dia dekap dengan kuat ke tubuhnya seperti memeluk kekasih. Dengan kedua tangannya yang masih bebas. Belanda besar itu menghantam pelipis dan pangkal telinga Cina itu.

Namun dia jadi kaget. Cina itu tak mengubris serangan itu samasekali.
Dan kini tubuhnya dipiting dengan kuat oleh Cina gendut itu keperutnya yang besar. Dengan perlahan, tapi pasti, Belanda itu mulai kehabisan nafas. Dekapan Cina itu alangkah luar biasa kuatnya. Muka Cina itu mulai merah dan berpeluh karena dia mengerahkan tenaganya. Belanda itu berusaha meronta untuk membebaskan diri.

Namun pagutan Cina itu seperti pagutan gurita raksasa. Tak tergoyahkan.
Belanda itu mengangkat tangannya kembali. Memukulnya dengan kuat ke pelipis Cina itu. Cina itu menyeringai. Pukulan itu seperti tak dia rasakan. Belanda itu sudah pucat. Nafasnya sudah sejak tadi tertahan oleh kepitan raksasa itu. Dan tiba-tiba matanya terpandang pada mata sipit Cina gemuk itu. Ya, mata Cina ini adalah bahagian terlemah yang tak terlindung.

Cuma apakah bahagian matanya juga kebal? Belanda itu akhirnya menyerang dengan harapan terakhir. Dia memang tak pernah belajar tusuk menusuk dengan jari. Dia hanya tahu main bokser dan gulat. Tapi kini kedua ilmunya itu punah. Dipunahkan oleh kekuatan Cina yang luar biasa ini. Dengan menggertakkan gigi dan mengerahkan sisa tenaganya, dia menusukkan kedua jari telunjuk dan jari jari tengahnya yang kanan ke mata Cina tersebut.

Cina itu sebenarnya sudah akan meremukkan tulang belulang si Belanda. Tapi tiba-tiba matanya jadi gelap. Pedih. Dan sakit bukan main. Dia meraung. Lalu menghempaskan tubuh Belanda itu ke lantai! Belanda itu meraung pula begitu tubuhnya tercampak. Dia seorang pegulat, jatuh terhempas merupakan hal kecil. Tapi kali ini, dengan hempasan Cina gemuk ini, sakitnya terasa amat melinukan jantung.

Cina itu menutup matanya dengan tangan. Matanya berdarah. Tusukkan jari tangan Belanda itu bukan main kuatnya. Untung saja matanya tak copot keluar. Tapi meski tak copot keluar, tusukan itu cukup membuat matanya tak bisa melihat. Dan Cina itu tahu, bahaya tengah mengintainya. Karena itu, begitu dia mendengar lawannya memekik di lantai, dia segera maju kesana. Dia hanya memakai perkiraan saja, dan kakinya terangkat. Lalu dia hujamkan kebawah.

Ketempat dimana kepala belanda itu dia perkirakan terletak. Perkiraannya tak meleset, hanya perhitungannya agak meleset. Belanda itu sudah menelentang. Begitu dia lihat Cina itu menghantamkan kakinya ke bawah, dia berguling menyelamatkan nyawa. Lalu sambil tegak dia putar kakinya dalam bentuk sapuan yang amat kuat ke kaki Cina itu. Cina yang tak melihat apa-apa itu tersapu kakinya.

Tubuhnya jatuh berdembum ke lantai. Saat berikutnya adalah peristiwa yang mengerikan. Belanda yang bertubuh besar kekar itu melambung tinggi. Dan dalam suatu gerakan gulat profesional tubuhnya meluncur turun dengan kedua kaki menghujam ke arah dada Cina yang terbaring menelentang itu. Terdengar suara tulang patah. Cina itu meraung lagi. Darah menyembur dari mulut dan hidungnya.

Merasa masih belum puas, Belanda itu mengalihkan tegak. Lalu kakinya terayun dalam bentuk sebuah tendangan yang amat kuat. Tendangan mendarat di selangkang Cina itu. Cina itu tak lagi meraung. Mulutnya ternganga. Mukanya berkerut. Tangannya yang tadi mendekap mata, dalam gerak perlahan sekali berusaha memegang selangkangnya. Namun gerakkannya terhenti setengah jalan.

Gerakkan itu tak sampai. Karena nyawanya sudah terbang. Cina itu segara saja beralih status dari seorang manusia gemuk menjadi seorang almarhum. Belanda itu berhenti dengan nafas terengah. Menatap pada bosnya dengan peluh membanjiri muka. Bosnya tersenyum. Baginya sama saja siapa yang menang atau siapa yang kalah. Tak peduli dia. Bos ini menoleh pada si keling yang tegak dengan lutut gemetar.

Lalu memberi isyarat dengan gerakkan kepala. Dan si keling jadi ngerti. Dia berjalan ke arah almarhum gemuk itu. Memegang tangannya, dan menyeretnya. Tapi malang, tubuh Cina bukan main beratnya. Tak bergerak di tarik, meski Keling itu tubuhnya juga berdegap besar. Dia beranjak dari arah tangan. Berjalan ke arah kaki. Kini dia pegang kaki Cina itu. Lalu menariknya. Tak bergerak!

Cina ini nampaknya bukan hanya karena gemuknya saja, tapi karena dosanya juga maka tubuhnya berat setelah dia mati. Menurut orang meski seseorang bertubuh besar, tapi kalau dia banyak beramal dan baik, maka kalau dia mati, tubuhnya jadi ringan. Dan kata orang pula, kalau banyak dosa, meski badan kurus kerempeng, maka mayatnya akan terasa amat berat.

Nah, Cina yang satu ini, sudahlah tubuhnya kayak kerbau bunting dua puluh bulan, ditambah dosanya yang sudah delapan belas gerobak, kini tubuhnya tak bisa bergerak sedikitpun ditarik kawannya. Dan yang menderita adalah temannya ini. Dengan ketakutan, keling itu coba lagi menarik mayat temannya. Tapi sungguh mati, mayat itu tak bergerak. Sedang untuk mengangkat sebelah kakinya saja, Keling besar itu harus mengerahkan seluruh tenaganya?

“Tak bisa?” Bos yang orang Inggris itu bertanya. Keling itu menunduk dengan putus asa. “Lalu mengapa saja kau yang bisa?” Keling itu menunduk dengan wajah yang patut dikasihani. Dia menatap mayat temannya. Dan dia merasakan kini, temannya ini justru lebih beruntung dari dirinya. Sekurang-kurangnya, mayat ini sekarang tak lagi merasakan ketakutan, pikirnya.

Perlahan tangan bos itu bergerak ke meja. Menyingkirkan koran dan majalah dengan gambar telanjang di depannya. Dan dibawah majalah dengan gambar wanita-wanita cantik bertelanjang itu, dia mengambil sepucuk pistol otomatis. “Mau ini?” tanyanya. Keling itu mengangkat kepala. Menatap pada moncong pistol yang mengarah ke arahnya. Dia mengangguk perlahan.

Tapi pada saat yang sama dia menyadari, bahwa bosnya itu bukan mau memberikan pistol itu padanya, melainkan mau memberikan timah pansanya. Makanya dia cepat menggeleng dan berkata. “Nehi. Nehilah bos. Kita orang nehi maulah..” Bosnya menatap dengan mata dingin. Mengangkat pistol setinggi kepala si Keling. Keling itu mengangkat tangannya seperti menutup wajahnya dari mulut pistol yang seperti menyeringai kearahnya itu.

“Nei. Nehii…” katanya sambil mundur. Dan pistol itu memang tak menyalak. Bos yang orang Inggris itu menatap ke arah si Keling. Si Keling yang merasa nyawanya selamat, memandang pada bosnya yang kelihatan memandang padanya dengan heran. Keling itu juga jadi heran. Dan ikut-ikutan mengerutkan kening. Lalu melihat ke belakang, dan dia jadi kaget. Ternyata bosnya memandang kebelakangnya. Bukan pada dirinya.

Di belakangnya, entah kapan datangnya, telah tegak seorang lelaki asing. Di tangan kirinya terpegang sebuah tongkat panjang. Orang asing itu masih muda. Dan keling ini bisa menerka, orang itu pastilah orang Melayu atau orang Indonesia. Dia menyingkir dari tempat tegaknya. Memberikan keleluasaan pada bosnya untuk menatap orang itu.

Keling itu bersukur atas kehadiran orang asing itu. Sebab dengan kehadirannya, nyawanya telah selamat. Meskipun untuk sementara. Dan orang asing itu tak lain daripada si Bungsu. Kenapa dia bisa hadir disana, dikandang singa itu? Padahal tadi dia berada di penginapan Sam Kok setelah ditempeleng dan jatuh bergulingan bersama gadis cantik anak pemilik hotel itu? Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here