Profil Ferizal Ridwan – Nurkhalis Pasangan Calon Independen

SUMBARTIME.COM,- Kabupaten Limapuluh Kota sudah terlalu lama mengubur dan mengabaikan potensi yang dimiliki. Sedangkan pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota adalah yang tertua di Sumatera Barat. Sudah semestinya pemerintah Lima Puluh Kota menjadi Induk dan percontohan di bagi pemerintah lainnya di Sumatera Barat. Ragam potensi terkandung yang mulai dari kekayaan budaya, historis, SDA dan SDM. Namun, semua ini hanya digarap sekedar untuk formalitas.

Saat ini Lima Puluh Kota ibarat rumah gadang yang kurang terawat. Rumahnya masih berdiri, tapi atapnya bocor disana-sini, dan dindingnya juga kusam. Dulu Lima Puluh Kota menjadi kebanggaan Sumbar yang melahirkan para cendikiawan, ulama, negarawan dan perantau ulet. Kini, Limapuluh Kota hanya menjadi daerah yang biasa-biasa saja.

Iklan

Indek Pembangunan Manusia (IPM) Limapuluh Kota di tahun 2019 hanya 69,67. Berada di bawah rata-rata nasional yang 71,92. Dari seluruh Kabupaten / Kota di Sumatera Barat, Kabupaten Limapuluh Kota berada di urutan ke 8. Ini menandakan peningkatan kualitas SDM tidak seimbang.. Akhirnya kualitas dan gebrakan masyarakat Limapuluh Kota hanya dipandang biasa-biasa saja oleh masyarakat luar sana. Rasanya perlu dilakukan peningkatan kualitas Pendidikan, kesehatan, moral, social, karakter dan ekonomi untuk meningkat kualitas daerah ini.

Untuk mendorong hal tersebut, perlulah Bupati Limapuluh Kota 2021-2024 memahami berbagai potensi daerah. Apalagi banyak peluang yang bisa digarap untuk meningkatkan kualitas manusia Limapuluh Kota.

Bupati Limapulh Kota perlu memanfaatkan nama besar Pahlawan Nasional Tan Malaka, Menhir di Maek dan penemuan gigi homo sapiens tertua di Goa Lida Ajer, Situjuh Tungka yang mematahkan spekulasi sains bahwa manusia modern pertama berasal dari Afrika. Termasuk sosok Haji Piobang yang merupakan Perwira Militer pertama Indonesia yang memimpin pasukan kekhalifan Turki Ustmani bertempur dengan Pasukan Napolen Bonaparte, Prancis. Dari sini, Limapuluh Kota bisa meningkatkan kehormatan terhadap daerah. Pemimpin yang bersemangat, pasti akan diiringi oleh masyarakatnya sendiri untuk memoles diri.

Kemudian potensi alam Kabupaten Limapuluh Kota yang terbentang seluas 3.355 km2. Tersedia berbagai potensi mineral dan pertanian yang cukup melimpah. Salah satunya pertambangan emas terbesar Kolonial Hindia-Belanda yaitu tambang emas Mangani, di Kecamatan Gunung Omeh. Tak terlepas potensi mineral lain yang bisa mendongkrak perekonomian masyarakat dan daerah.

Di sektor pertanian, Limapuluh Kota memperoleh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebanyak 30,92 persen. Yakni sector terbesar untuk income daerah. Namun, pemanfaatan pertanian belum maksimal. Bisa dilihat dari 23.838 hektar areal sawah, hanya 16.275 yang menjadi sawah irigasi. Masih ada 7.113 hektar atau 31,73 persen dari seluruh areal sawah yang menggantungkan nasib dari curuh hujan. Kemudian lahan produktif, ada 281.951 hektar, tapi yang terpakai hanya 55.663 hektar atau 19.74 persen.

Mendongkrak berbagai potensi yang terkandung di Limapuluh Kota setidaknya bisa meminimalisir pengangguran dan kemiskinan. ditahun 2019, terjadi peningkatan angka kemiskinan pada indeks 26.64. Padahal tahun 2018 berada di indeks 26.48. Memperbaiki semua ini, memang membutuhkan biaya. Tapi kucuran anggaran dari pemerintah pusat setiap tahun yang lebih satu triliyun rupiah, lebih 60 persen habis untuk kebutuhan pegawai. Patut Limapuluh Kota memiliki Bupati-Wakil Bupati 2021-2024 yang mampu membenahi seluruh persoalan ini.

Siapa Ferizal Ridwan – Nurkhalis ?

Pembawa perubahan itu ada dipundak Ferizal Ridwan – Nurkhalis

Ferizal Ridwan lahir di Tanjung Gadang, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, 9 Oktober 1973. Ia tamat Pendidikan di SDN Sitanang (1986), SMP Negeri 2 Payakumbuh (1989), SMA Negeri 1 Luhak (1992), kemudian melanjutkan jenjang perkuliahan di STISIPOL Imam Bonjol Padang (2001).

Saat masih duduk di bangku SMA, Ferizal Ridwan sudah aktif di organisasi dan dakwah. Dari sinilah karakternya terbentuk dengan mempelajari banyak hal. Di usia yang masih belia, ia sudah aktif mengisi ceramah Jumat dan Ramadhan di masjid-mesjid kabupaten Limapuluh kota dan kota payakumbuh. Termasuk mengkoordinir teman-teman sejawat untuk berdakwah. Disini cikal bakal, gelar Buya Feri melekat. 

Kepiawaian Buya Feri dalam organisasi melambungkan namanya sebagai ketua karang taruna teladan se-Indonesia tahun 1994. Ia pun makin dikenal sebagai pemuda yang kreatif dan penuh inovatif. Ditangannya citra olahraga sepakbola dan motocross Limapuluh Kota disegani sampai tingkat nasional. Karena itu ia dipercaya menjadi pengurus Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sumbar tahun 1997 dan ketua Askab PSSI kabupaten Limapuluh Kota tahun 2016-2020.

Dalam politik, Ferizal Ridwan mulai meniti sejak tahun 1998 dengan partai Golkar. Hasilnya  terlihat di tahun 2004, terpilih menjadi anggota DPRD Limapuluh Kota termuda saat itu. Rekam jejak Ferizal Ridwan selama menjadi anggota Legislatif cukup gemilang. Ia actor utama dalam pemekaran 3 nagari yakni Durian Gadang (Akabiluru), Sungai Antuan (Mungka) dan Andiang (Suliki). Ferizal Ridwan juga yang gigih merubah Tata Tertib DPRD dalam memulai persidangan harus diawali dengan pembacaan Ayat Suci Al-qur’an dan doa.

Karakrternya yang vocal dan berani memperjuangkan kemaslahatan orang banyak, Ferizal Ridwan tak ragu harus melawan arus. Tahun 2009, dia dilengserkan dari anggota DPRD dan partai Golkar karena melawan Bupati Alis Maradjo. Perlawanan ini bentuk ketidakinginan Ferizal akan jalannya roda pemerintahan yang tidak pro-rakyat.

Namun selama menjadi Anggota DPRD, Ferizal berhasil mendirikan organisasi pergerakan dan pembinaan pemuda seperti Equatior, Dharma Sebumi, Yayasan Pedati Emas dan YPP PDRI. Kelak ditahun selanjutnya, organisasi inilah yang berkontribusi besar dalam penetapan Hari Bela Negara (HBN) dan memulangkan Tan Malaka ke rumahnya di Pandam Gadang, Kecamatan Gunung Omeh.

Selain itu, sosok Buya Feri sangat aktif di bidang social. Para awak media cukup getol membuntuti jikalau ia tengah berjuang menolong Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), anak terlantar dan fakir miskin. Yang paling tersohor, saat Buya Feri menghantarkan “Buyung Amai Si Manusia Kuda” tahun 2007 silam. Si buyung pun mendapat perhatian Wakil Presiden Yusuf Kalla dan mendapatkan bantuan yang layak.

Pada pilkada 2015, Buya Feri terpilih menjadi Wakil Bupati Limapuluh Kota mendampingi Irfendi Arbi. Selama masa jabatan periode 2016-2021, Ferizal memainkan perannya sendiri guna memaksimalkan kinerja dan perjuangan. Jika Ferizal tidak berjalan alurnya sendiri, mungkin Monumen Nasional di Koto Tinggi saat ini masih sekedar harapan.

Pernah Ferizal memangku jabatan Bupati selama 42 hari saat Irfendi Arbi pernah menunaikan ibadah haji tahun 2017. Dalam masa 42 hari ini, Ferizal Ridwan mencetuskan 16 kebijakan yang 15 kebijakan sukses dirasakan masuyarakat sampai saat ini. Hanya 1 kebijakan yang masih tertunda. Jika Ferizal tidak berani mengambil sikap dalam persoalan Embargo BNPB, mungkin jika terjadi bencana di Limapuluh Kota. Bantuan kemanusiaan tidak akan pernah sampai ke daerah ini.

Dengan kecerdasan, kepiawaian, semangat dan prikemanusiaan yang tinggi, sungguh sangat pantas diberikan kepercayaan untuk Memimpin Limapuluh Kota selanjutnya.

Apalagi ia berpasangan dengan sosok yang tepat : Nurkhalis SH. Seorang petani dan aktivis yang sudah puluhan tahun memperjuangkan nasib petani. Namanya cukup harum di kalangan petani Sumbar. Ini yang menjadi alasan kementerian Pertanian RI mempercayakan Gerakan Pemuda Tani (Gempita) Sumbar dibawah koordinasi Nurkhalis.

Pemahaman tentang pertanian didapatkan Nurkhalis setelah terjun langsung menjadi seorang petani. Kemudian mulai mempelajari proses dan dinamika pertanian. Baik persoalan harga, pasar, panen, pengolahan lahan, hingga monopoli pangan.

Nurkhalis sadar banyak persoalan yang meliputi dunia petani. Terlebih lagi tentang kesejahteraan para petani. Karena itulah ia memilih Hukum sebagai jurusan diperkuliahan dulu. Ilmu hukum akan sangat membantu para petani agar tidak tertindas dari aturan yang salah.

Selain di pertanian, Nurkhalis juga aktif berorganisasi dan kepemudaan. Pernah menjadi pengurus inti KNPI Sumbar, Pelajar Islam Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan lainnya. Inilah alasan kenapa banyak mahasiswa yang menjadi kawan perjuangannya.

Sebagai Calon Wakil Bupati Limapuluh Kota, Nurkhalis sudah mumpuni untuk diposisi ini. Ia paham pertanian, organisasi dan punya hubungan baik dengan pemerintah pusat. Tiga modal dasar untuk bisa melayani, mengabdi dan berdedikasi untuk Limapuluh Kota lebih bermartabat.

Selain itu, dengan kondisi Limapuluh kota yang memiliki karakteristik alam yang heterogen, diperlukan setiap kebijakan yang selaras dengan lingkungan dalam pembangunan. Prestasi Nurkhalis di sector pertanian menunjukkan ia adalah sosok yang berpengalaman tentang manajemen lingkungan hidup dan hukum.

Inilah Nurkhalis, anak asli Nagari Sungai Antuan, Kecamatan Mungka. Terlahir menjadi petani dan terbangun untuk memperjuangkan petani. Tokoh yang masih tergolong muda, baru 42 tahun. Seorang pekerja keras, cerdas dan ikhlas.

Kombinasi Ferizal Ridwan – Nurkhalis adalah rahmad bagi Limapuluh Kota. Dua manusia cerdas mewakafkan diri untuk tanah kelahiran. Sekarang Yang Maha Esa memberikan kesempatan bagi masyarakat Limapuluh Kota memperbaiki diri melalui Pemilihan Bupati – Wakil Bupati tanggal 9 Desember 2020 nanti. Memilih Ferizal – Nurkhalis usah lah ragu. Mereka berdua maju dari jalur Independen. Jika duduk menjadi Bupati-Wakil Bupati Limapuluh Kota 2021-2024, takkan ada intervensi politik dari manapun. Untuk menjalankan roda pemerintaha, malah lebih mengedepankan peran masyarakat.

Tanggung Jawab Dan Panggilan Jiwa

Tak asing rasanya di telinga bahwa kepemimpinan Irfendi Arbi – Ferizal Ridwan selama menjadi Bupati-Wakil Bupati Limapuluh Kota periode 2016-2021 tidak sejalan. Mereka berdua sering terlibat konflik dingin. Banyak stigma yang menghakimi mereka lebih mementingkan unjuk kekuatan dalam pertikaian. Sampai-sampai sudah dicap tidak lagi mempedulikan kemajuan dan pembangunan daerah. Sebelum menilai hal demikian, akan lebih arif rasanya menelusuri lebih jauh tentang karakter keduanya.

Ferizal Ridwan memang orang yang vocal dan berani. Sebagai Wakil Bupati, ia berperan untuk mengawasi dan mengevaluasi kinerja roda pemerintahan, termasuk Bupati. Bilamana ada kebijakan dan program yang tidak pro-rakyat, wajar rasanya Ferizal memberikan peringatan kepada Bupati dan jajaran. Sampai pada akhirnya, Ferizal harus berlaku frontal untuk mencegah hal-hal yang merugikan masyarakat dan daerah. Mungkin keberanian Ferizal untuk mengatakan TIDAK kepada Bupati yang dijadikan alasan bagi lawan politik dan para penjilat untuk menurunkan kredibilitas Ferizal Ridwan. Fitnah pun bertebaran.

Tapi apakah Ferizal Ridwan lengah atau menyerah akan hal ini ? Jawabannya TIDAK. Karena ia masih bertanggung jawab atas kebijakan dan program yang tidak pro-rakyat tersebut untuk diluruskan kembali. Termasuk dengan visi-misi yang dirangkum saat mencalonkan diri Bersama Irfendi Arbi dulu. Maju sebagai Calon Bupati Limapuluh Kota tahun 2020 inilah satu-satunya jalan. Ia tetap focus untuk akan hal ini.

Ferizal Ridwan ber’itikad mengubah keadaan yang seolah diabaikan begitu saja selama ini. Sekarang bukan masanya lagi pemimpin hanya duduk manis di ruang kerja saja. Pemimpin mesti bekerja dengan hati nurani. Menyelami langsung apa yang dirasakan masyarakat. Melayani dengan segenap tenaga, pikiran, dan hati. Daya dan upaya tak kenal lelah untuk masyarakat.

Berbekal pengalaman menjadi Wakil Bupati, Ferizal paham semua persoalan di Limapuluh Kota. Basamo-samo kito angkek derajat dan martabat Limapuluh Kota. Karena itulah Ferizal meminta Nurkhalis mendampinginya untuk menjadi Bupati-Wakil Bupati Limapuluh Kota. Masyarakat harus dilayani, bukan melayani. Inovasi Ferizal untuk mereformasi layanan public sudah teruji selama ia menjadi Bupati 42 hari. Penuh gebrakan dan terasa untuk jangka waktu yang panjang.

Nurkhalis yang notabene berlatar belakang petani dan aktivis, tidak gampang menerima ajakan Ferizal Ridwan. Perlu pertimbangan terlebih dahulu. Di batinnya tersirat, apakah perjuangan untuk petani selama puluhan ini akan terbuang sia-sia atau malah menjadi alternative untuk bisa menambah kekuatan perjuangan?.

Setelah melihat kualitas diri dan ketulusan Ferizal Ridwan, Nurkhalis melihat banyak peluang dan aksi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan Petani dan martabat Limapuluh Kota. Bersama Ferizal Ridwan, ia mulai menatap tugas mulia.

Mari dunsanak semua, mari kita bangkit. Bersama Ferizal Ridwan – Nurkhalis kita bangun lagi nigari hingga sendi-sendi yang terdalam. Berbasiskan warisan para bijak yang begitu mengagumkan. Memberikan pijakan berharga pada kita bagaimana cara melangkah bangkit ke depan.

Di ma bumi dipijak, di situ langik dijunjuang. Kita hidup di atas tanah air yang sama. Negara yang merdeka. Kita harus bahagia dengan cara paling sederhana. Limapuluh Kota harus tumbuh berkembang, sejak dari dalam dada kita nan lapang, dan Limapuluh Kota harus maju.

Ferizal Ridwan dan Nurkhalis berjuang hendak mengajak dan memimpin kita bersama memajukan Liamapuluh Kota. Maju dalam arti yang transformatif, menjadi lebih baik bagi semua masyarakatnya, bukan sekadar berubah yang tak tentu arah atau unggul tanpa ukuran yang jelas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here