Gizi Buruk yang Menimpa Warga, Desri Ayunda Minta Pemerintah Kota Padang Harus Responsif

Sumbartime-Masih terjadinya kasus gizi buruk di Kota Padang menjadi paradoksal disaat bangsa Indonesia tengah memperingati Hari Gizi Nasional. Artinya pemerintah Kota Padang masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan. Yang terdekat adalah upaya pencegahan sedini mungkin untuk menangani permasalahan gizi di Kota Padang.

Hal ini diungkapkan Desri Ayunda, ketika mengunjungi pasien Gizi Buruk, Habil, anak berusia 7 tahun yang kini hanya bisa terbaring tak berdaya di RSUD Rasyidin, Kota Padang.”Respons pemerintah, atas kejadian gizi buruk seharusnya dipercepat. Bukan hanya sekedar memberikan bantuan beras ataupun makanan tambahan, akses terhadap fasilitas dan tenaga kesehatan juga perlu dipermudah,”ujar Desri, Kamis, 25 Januari 2018.

Iklan

Desri Ayunda menambahkan, Gizi buruk bukanlah masalah yang terjadi secara mendadak, melainkan disebabkan oleh sulitnya akses terhadap nutrisi. Ia bahkan menyatakan ada yang keliru secara sistemik terkait ketersediaan pangan dan kesehatan.

“Pemerintah seharusnya sadar bahwa alarm berbunyi ketika ada kasus gizi buruk yang mencuat dan segera mencari solusi yang bisa menyelesaikannya secara sistemik pula. Bukan sekadar menunjuk pola hidup sebagai akar masalah dari persoalan gizi buruk,”tegasnya.

Desri mengatakan, peningkatan kesadaran masyarakat akan asupan gizi seimbang sejak masa kehamilan adalah kunci awal untuk memerangi kasus gizi buruk. Imunisasi juga bisa menjadi tameng untuk menjaga kesehatan balita sehingga akan memberikan dampak positif bagi tumbuh kembangnya.

Kehadiran Desri Ayunda di RSUD Rasyidin, terkait informasi tentang adanya kasus gizi buruk yang dialami, Habil, anak berusia 7 tahun, warga RT 03 RW 04 Kelurahan Banuaran Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang.

Menurut orang tuanya, Afrizon, kondisi ini bermula setelah Habil menderita kejang-kejang tiga tahun lalu. Sejak itu kesehatan Habil terus menurun. Bahkan sejak dua bulan terakhir anak kedua dari tiga bersaudara ini sukar berbicara, serta tidak bisa lagi duduk dan berdiri.

Afrizon mengakui bahwa dia kekurangan biaya untuk mengobati Habil dan tidak terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Afrizon yang berprofesi sehari-hari sebagai penjual roti keliling ini, hanya bisa membawa anaknya ke pengobatan alternative. Ia mengaku tidak bisa mengurus BPJS Kesehatan karena sejak delapan tahun tinggal di Padang belum mendaptakan kartu tanda penduduk (KTP) karena kesulitan untuk mengurusnya. (yendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here