PANINJAUAN – Di balik ketenangan perkampungan yang sejuk dan alami di Nagari Paninjauan, Kecamatan X Koto Di Atas, Kabupaten Solok, denyut intelektual justru terus hidup.
Nagari yang dahulu dikenal sebagai salah satu penghasil cengkeh terbaik di Sumatera Barat itu kembali menggeliat, kali ini bukan karena komoditas, melainkan karena jejak literasi yang begitu kuat.
Paninjauan memang bukan nagari sembarangan. Sejumlah tokoh besar bangsa lahir dari tanah ini, mulai dari mantan Wali Kota dan Bupati Solok H. Syamsu Rahim, mantan Dandim 0908 Bontang Kolonel Thamrin Moeis, hingga wartawan senior Indonesia Yon Moeis.
Jejak kepemimpinan dan pemikiran dari tanah ini sudah lama mengisi panggung daerah maupun nasional.
Layaknya nagari-nagari terkenal lain di Ranah Minang yang memiliki identitas khas, seperti Sulit Air dengan “Nagari 1.000 Pengusaha”, Muara Labuh dengan “Nagari 1.000 Rumah Gadang”, Koto Gadang dengan “Nagari 1.000 Dokter”, serta Pandai Sikek dengan “Nagari 1.000 Ukiran”. Paninjauan kini mulai menegaskan jatidirinya sendiri.
“Nagari 1.000 Penulis.”
Itulah predikat yang dinilai paling pantas disematkan.
“Nama itu cocok dan pantas untuk Paninjauan. Banyak talenta besar dalam dunia tulis-menulis yang lahir atau berdarah Paninjauan,” ujar wartawan senior nasional, Yon Moeis, sambil menikmati kopi panas dan goreng pisang yang menghangatkan diskusi penuh nostalgia itu.
Yon Moeis menegaskan, penyematan gelar tersebut bukanlah sesuatu yang dilebih-lebihkan. Sejak dahulu, Paninjauan telah melahirkan penulis, jurnalis, dan intelektual dalam jumlah yang tak sedikit, bahkan sulit dihitung.
Deretan nama besar tercatat jelas dalam lintasan sejarah literasi Paninjauan.
Mulai dari Arifin Sutan Batuah, penulis sejarah dan literatur Paninjauan; Kaswir, mantan Kabiro LKBN Antara Bengkulu; hingga para jurnalis dan penulis yang namanya melanglang ke media-media nasional dan daerah:
Suarni Tampubolon, Zeynita Gibbons, Ida Dasrida, Sukwan Hanafi Piliang, Josep Syair, Teddy Gustedria, Muharika Dewi, Hendri Mardzu, Ryan Syair, Hendra Elison, Marlim Asman, Tibrani, Afriadi Nursal, hingga Irfan Arif.
“Menjadikan Paninjauan sebagai Nagari 1.000 Penulis bukan proyek ambisius apalagi mengada-ada. Ini penghargaan bagi para penulis yang lahir dan tumbuh dari darah Paninjauan,” tegas jurnalis senior Sukwan Hanafi Piliang.
Gagasan besar itu juga mendapatkan sambutan hangat dari Hasril Chaniago, jurnalis kawakan Sumatera Barat sekaligus budayawan dan sejarawan terkemuka.
“Harus diakui, tak banyak nagari di Ranah Minang yang identik dengan dunia tulis-menulis. Kalaupun ada, bisa dihitung dengan jari,” ujarnya.
Menurutnya, Paninjauan layak didorong menjadi nagari literasi yang diperhitungkan di Sumatera Barat. Selain sebagai bentuk penghargaan, ini juga penguatan identitas kultural yang dapat mendorong tumbuhnya generasi penulis masa depan.
“Saya mendukung penuh dan siap berpartisipasi untuk mewujudkannya,” tegas Hasril Chaniago, mantan Pemimpin Redaksi Mimbar Minang sekaligus penulis sejumlah buku Best Seller.
Dengan dukungan tokoh-tokoh besar dan jejak literasi yang kuat, Paninjauan kini berdiri di ambang lahirnya identitas baru, sebuah nagari yang tak hanya dikenal oleh sejarah, tapi juga oleh tinta para pemikirnya.
Nagari 1.000 Penulis bukan sekadar slogan, ia tengah menjelma menjadi gerakan, komitmen, dan kebanggaan.
(Alex.Jr)



















