SUMBARTIME.COM-“Maksud anda…?”
“Alfonso Rogers,Ayah Roxy,bersedia membayar saya berapa saja.Asal anak gadisnya bisa di cari dan di bebaskan..”
“Lalu…”
“Ya,sekarang uang bayarannya tak mungkin lagi saya minta.Anak itu sudah bebas,sedangkan saya di sini.Di antara mayat hiup dan mayat beneran.Kecuali kita bisa membuka Bank di lobang ini,dan ayah gadis itu bisa mengirimkan uang itu kesini…”ujar si Bungsu sambil tersenyum.
Si rambut hampir botak kembali memaki-maki.Namun Letnan Cowie dan yang lainnya hanya nyengir mendengar guyonan orang Indonesia ini.
“Barangkali anda bisa menolong kami keluar dari lobang berair ini Bungsu.Saya sudah tak peduli mati hari ini atau esok.Tapi,kalau mati saya memang akan protes dikuburkan dalam lobang ini..”ujar Cowie sambil meludah.
“Hei, hei, hei! Apakah aku tak salah dengar, bahwa engkau mempercayai orang berkulit berwarna ini akan membebaskan kita?” ujar si rambut hampir botak.
“Jangan dengarkan omomgannya.Jika ada orang yang tak di caci makinya mungkin ibu bapaknya,tapi aku juga kurang yakin akal hal itu…”
Ucapan si Letnan belum berakhir.Sersan Tim Smith yang berambut hampi botak itu menerjangnya.
Namun gerakan kakinya seperti film yang di putar lambat,slow motion kata orang.Letnan Cowie mengibaskan kaki kurus yang terangkat di air secara perlahan itu.Tim Smith segera terjengkang.Tubuhnya tak tenggelam karena cowie dengan cepat meraih leher bajunya yang compang-camping itu.
“Fuck you!Fuck..Fuck..!!!”maki Tim Smith bercarut-carut.
Dan ujung carutnya adalah batuk yang terkaing-kaing.Lidahnya sampai terjulur dan liurnya meleleh oleh batuk terkaing-kaing panjang itu.Si Bungsu baru benar-benar merasakan sebagian Dalam Neraka Vietnam.
Selama tiga hari dia di dalam lobang itu tak sebutir nasipun atau sepotong makanan apapun yang di berikan tentara Vietnam kepada mereka.Namun yang benar-benar membuat mereka kehabisan tenaga adalah bau mayat.Mayat tentara Amerika yang kepalanya di popor waktu pertama kali datang di pinggir lobang ini tak pernah di angkat.
Mayat itu sudah menggembung besar.Baunya minta ampun.Dua tentara yang sama di campakkan ke lobang itu berkali-kali jatuh pingsanNamun letnan Cowie dan sersan Tim Smith berusaha agar dua orang yang sebentar pingsan itu tak tenggelam.
Sebab, jika itu terjadi di pastikan dalam satu menit orang itu akan mati.Kedua orang itu, Cowie dan Smith, nampaknya sudah agak imun dengan bau mayat. Mereka memang ikut menderita dengan bau mayat itu tapi tak sampai pingsan.
Dalam waktu tiga hari dalam keadaan tak makan dan minum itu, si Bungsu jadi tahu azab apa yang dialami Cowie, Smith dan teman-temannya. Mereka di beri makan apabila orang Vietnam itu merasa perlu untuk memberi.
Kadang-kadang sekali sehari, kadang-kadang sampai dua atau tiga hari baru di beri makan. Makananya pun makanan yang sudah agak basi atau makanan yang sudah akan di buang. Benar-benar tak ada gunanya memikirkan konvensi perang tentang hak-hak tawanan perang.
Bahkan ketika bau busuk sudah tak tertahankan,Cowie mengingatkan tak ada gunanya memanggil penjaga.Teriakan memerlukan tenaga.Teriakan menguras energi. Tak ada gunanya, sekalipun sampai ke langit mereka berteriak, takkan ada yang peduli.
Lebih baik menyimpan tenaga agar tak lebih menderita. Satu-satunya harapan mereka mengisi perut adalah ketika hujan. Dengan membuka baju dan menambung air hujan, mereka peras langsung ke mulut.
Air perasan baju itu, alangkah nikmatnya, untuk mengisi perut mereka juga memakan cecak yang jatuh ke lobang tersebut.
“Apapun yang jatuh dari atas, cecak, lipan, keong, katak dan ular sekalipun pernah kami makan ketika ada ular sebasar tangan jatuh kesini,habis kami santap. Hal itu kami lakukan semata-mata demi pempertahankan hidup..”ujar Cowie perlahan.
“Saya punya firasat.Dan saya selalu yakin pada firasat saya,karena seringkali terbukti benar,bahwa siapaun diri anda Tuan,kami berharap anda bisa membantu kami keluar dari Dalam lubang Neraka ini..”ujar Cowie sambil menatap si Bungsu.
Kali ini Tim Smith yang tukang carut-carut dan induk cemooh itu, tak mengeluarkan kata sepatahpun. Semula dia menatap pada komandan kompinya yang bernama PL Cowie itu dengan tatapan heran mendengar ucapan yang sungguh-sungguh itu.
Ketika dia lihat Cowie menatap lelaki asing itu,dia jadi sadar kalau lelaki itu bukan kroco sebagaimana yang dia duga. Cowie tak pernah memuji jika sesuatu yang dia yakini dan tak pantas di puji.Cowie juga tak pernah berharap, jika firasatnya mengatakan kalau tak ada harapan.
Lalu dia juga ikut menatap si Bungsu.Si Bungsu hanya berdiam diri. Sesekali menggaruk paha, perut dan punggungnya yang gatal. Tiba-tiba Smith ingat sesuatu. Dia teringat perkataan Smith, Dua, tiga hari lalu yang di ucapkan nya berkali-kali.
“Ini orang yang kau sebutkan itu letnan?”ujar Smith perlahan.
Cowie menatap pada Smith beberapa saat.Kemudian mengangguk.Si Bungsu dan kedua tentara lainnya hanya berdiam diri,tak mengerti apa yang di bicarakan kedua orang tersebut.
“Tapi…tapi saya tak melihatnya membawa samurai..”sambil mempelototi si Bungsu. Mendengar ucapan itu, si Bungsu lah yang tersentak. Dia menatap pada Smith, kemudian pada Cowie. Smith kembali bicara.
“Cowie adalah,maaf,maksud saya, sebagaimana orang Amerika keturunan negro lainya, nenek moyang Cowie berasal dari afrika. Beberapa di antaranya masih mewarisi naluri, firasat atau pengetahuan metafisik, semacam ilmu dari dunia ghaib. Pasukan kami beberapa kali selamat karena firasat leluhurnya itu. Dan kami masuk ke lobang Neraka ini karena komandan kami tak mengikuti saran nya.
Nah,beberapa kali Cowie berkata,bahwa dia melihat sebuah bayangan orang asia,berpedang samurai,yang akan datang membebaskan kami.Setahu saya,bangsa yang memakai samurai hanya bangsa Jepang..Tapi..menurut dia sebentar ini,anda lah yang beberapa kali dia lihat dalam bayangan metafisik itu.Apakah anda membawa samurai..?”ujar Smith.
Lama si Bungsu terpana mendengar cerita tim Smith.Dia menatap PL Cowie,negro kurus berbibir tebal dan berambut kribo itu juga menatapnya.si Bungsu segera menyakini cerita Tim Smith kalau ada seseuatu yang lain pada diri negro yang satu ini. Nalurinya membisikkan itu. Sebaliknya,sejak awal-awal kedatangan si Bungsu, Cowie sudah merasakan bahwa lelaki itu bukan sembarang orang.
Si Bungsu tiba-tiba teringat pada Thi Binh. Gadis itu juga pernah melihatnya dalam mimpi. Mimipi itu, menurut penuturan thi Binh, datang berkali-kali saat dia di perkosa dan di paksa menjadi budak nafsu di barak pasukan Vietnam.
Kini ternyata mengalami hal yang sama.Bedanya,jika Thi Binh melalui mimpi,Cowie melihatnya dalam bayangan Metafisik.Semaca halusinasi dan bayang samar,saat orang tertentu berkonsentrasi dan menghubungkan diri dengan alam ghaib.
“Anda pernah memiliki samurai ?”desak Smith.
Si Bungsu menatap pada Cowie. Cowie juga tengah menatap padanya dengan tajam. Demikian juga Smith dan kedua orang lainnya. Akhirnya si Bungsu mengangguk. Ketiga tentara itu pada terpana.
“Oh,my god..!Anda akan mempergunakannya?”ujar Smith dengan suara bergetar.
Si Bungsu tak segera menjawab. Namun di depan Cowie tak seharusnya dia menutup-nutupi siapa dirinya. Lelaki ini memiliki pandangan yang menembus ruang dan waktu. Yang dalam ilmu pengetahuan di sebut alam metafisik,yang di warisi dia dari leluhurnya dari belatara Afrika sana.
“Anda mahir memergunakan samurai?” kembali smith bertanya.
Keempat tentara dalam lobang itu kembali di ingatkan kembali pada keaadaan mereka saat ini. Mereka juga menatap keliling, kemudian keatas. Ke Bambu yang silang menyilang yang di jadikan penutup lubang. Jerajak bambu yang di jadikan penutup lubang itu sebesar paha lelaki dewasa hanya sekitar empat meter di atas mereka.
Namun karena kukuhnya dan karena kondisi mereka seperti sekarang, tanpa alat apapun untuk bisa dipakai melarikan diri, atap bambu yang tingginya hanya empat meter itu terasa berada jauh di atas langit sana.
Kelima mereka hampir serentak memandang ke atas. Karena saat itu sayup-sayup mereka mendengar pekik wanita. Namun yang terlihat tetap saja bambu bersilang-silang empat segi, daun pepohonan yang ditimbunkan ke bambu itu, yang berfungsi sebagai Kamuflase sekaligus atap lobang tempat mereka
disekap.
Tak ada satu pun yang terlihat. Yang sampai ke tempat mereka hanya suara pekik dan erangan perempuan. Suara pekik dan erangan itu memang
berasal dari mulut seorang wanita, datang dari pondok penjagaan sekitar tiga depa dari mulut lobang tempat menyekap tawanan perang tersebut.
Karena dekatnya jarak antara mulut lobang dengan pondok itulah makanya mereka yang berada di dalam lobang tersebut tidak hanya mendengar pekik si wanita, tetapi juga erangannya. Bahkan sayup-sayup mereka menangkap suara nafas yang tersengal-sengal.
Nafas memburu seperti berlari kencang yang keluar dari mulut lelaki, yang juga keluar dari mulut wanita. Mereka menatap nanap ke atas dengan mata hampir melotot. Seolah-olah ingin mengetahui apa sebenarnya yang tengah terjadi di atas sana. Di atas sana, di pondok penjagaan itu, memang sedang terjadi sesuatu.
Milisi Vietnam, yaitu orang-orang sipil yang menjalani wajib militer, tidak hanya dikenakan pada kaum pria. Juga dikenakan kepada wanita. Itu pun tidak hanya kepada mereka yang dewasa, yang masih kanak-kanak pun demikian. Soalnya, sebelum pecah menjadi Vietnam Utara dan Selatan, negeri ini sudah menjalani peperangan yang sangat panjang.
Sudah sejak zaman negeri ini dijajah Perancis selama 100 tahun. Dalam perang yang amat panjang untuk merdeka, yang meremukkan hampir seluruh sendi kehidupan Vietnam itu, negeri tersebut sudah mengorbankan ratusan ribu, jika tidak jutaan orang.
Itulah sebabnya hampir semua penduduk, lelaki wanita, tua maupun muda, dihimbau untuk angkat senjata melawan penjajahan, atau siapa saja yang mencoba mengekspansi negeri mereka. Yang terakhir, dalam upaya menyatukan negeri itu di bawah kekuasaan komunis, mereka berusaha merebut kembali Vietnam Selatan yang dibeking habis-habisan oleh Amerika.
Namun mereka, orang-orang utara, yang sebelum dan semasa penjajahan Perancis sebenarnya bersatu dengan selatan, kini tidak hanya berhasil menyatukan kembali selatan dengan utara, tetapi juga mengusir tentara Amerika.
Mengusir tentara dari negara paling super dan paling ditakuti, karena memiliki peralatan perang paling canggih di dunia. Jika akhir peperangan itu mendatangkan rasa bangga yang luar biasa bagi rakyat Vietnam Utara yang komunis, karena berhasil mengalahkan tentara dari negara terkuat di dunia, maka bagi Amerika akhir perang Vietnam adalah sebuah aib besar, yang takkan mungkin terhapus dengan apapun sepanjang zaman.
Wanita Vietnam yang ikut memanggul senapan tugasnya sama saja dengan pria. Dalam perang selama puluhan tahun, mereka sudah tertempa dengan berbagai kondisi.
Hari itu, saat kelima tawanan di dalam lobang sekapan mendengar suara jerit dan erang, adalah saat aplusan untuk menjaga lobang penyekapan tersebut. Saat si Bungsu pertama tiba, yang menjaga adalah dua milisi pria, maka kini yang menggantikan adalah seorang milisi wanita dan seorang milisi pria.
Para milisi ini berpakaian hitam-hitam, semuanya tanpa tanda pangkat. Perang, sebagaimana terjadi di belahan bumi manapun, ternyata tidak hanya mendatangkan bencana secara fisik kepada negeri tempat terjadinya perang, tetapi juga memporak-porandakan moral dan nilai-nilai.
Yang paling menderita adalah para wanita. Ya musuh, ya orang kampung sendiri, asal dia ikut berperang tiba-tiba saja fi’ilnya berubah menjadi beringas. Kaum wanitalah yang senantiasa paling banyak menjadi korban kebuasan perang. Kebuasan tentara penyerang, maupun tentara pihak bertahan.
Begitulah kebuasan sebuah perang. Kebuasan yang tak mengenal batas moral dan agama. Tak mengenal batas buruk dan baik. Bila keberingasan dan nafsu sudah memanjat ke ubun-ubun, semua batas pun runtuh.
Dua milisi yang tegak berjaga di bawah pondok itu pun bersiap turun, manakala melihat penggantinya sudah tiba.
Saat keduanya akan turun, tiba-tiba yang seorang matanya terpandang pada dada wanita milisi yang akan menggantikannya. Padahal baju seragam tentara berwarna hitam yang dikenakan wanita itu
buahnya terkancing semua. Namun karena dada wanita itu memang demikian ranum dan sekal, ada celah terbuka di antara dua kancing bajunya.
Dari celah baju yang tersingkap tak sampai seukuran kelingking itu, dia mengintip pangkal dada wanita tersebut. Putih dan memabukkan dan mengirimkan sentakan ke ubun-ubun. Anggota milisi yang akan turun itu mendagut liurnya. Lalu dengan kaki separoh menggigil menuruni tiga buah anak tangga pondok tersebut.
Sambil melangkahi tiap anak jenjang, matanya melotot ke dada wanita tersebut. Dia masih menahan diri. Tapi pikirannya merayap kemana-mana. Bukan, bukan kemana-mana. Pikirannya merayap hanya ke satu tempat, yaitu ke balik baju wanita itu. Kesela dadanya yang ranum dan sekal. Nafasnya memburu ketika dia sampai di bawah. Perempuan itu lalu naik. Si milisi menoleh ke belakang.
Dan… ampun, ketika perempuan itu naik, pinggulnya yang besar membayang jelas. Terbungkus oleh celana hitamnya yang ketat. Tubuhnya agak kurus. Namun dada dan pinggulnya yang amat sintal membuat lutut lelaki yang melihat goyah gemertak.
Senyum dan tatap matanya amat mengundang selera buruk lelaki. Itulah yang terjadi begitu dia menaiki anak tangga di pondok pengawalan tersebut. Dia baru saja akan menghenyakkan pinggulnya di lantai beralas tikar, ketika anggota milisi yang baru turun itu tiba-tiba saja sudah berada di sisinya.
“Ada apa?” ujarnya kaget sambil menatap ke arah milisi tinggi kurus bermata juling yang tegak di depannya.
Perang panjang sering membuat manusia kehilangan akal sehat. Dan akal sehat itulah yang hilang dari tempurung kepala anggota milisi kurus tinggi di pondok penjagaan itu. Dia langsung saja menyergap wanita itu. Si wanita yang kaget bukan main, berusaha berontak dan berteriak.
Namun teriaknya tersumbat di tenggorokan. Mulut milisi kurus itu sudah menyumpal mulut si wanita dengan rakus. Berontaknya hanya berupa gelinjang tanpa daya, karena si kurus sudah dikuasai nafsu. Satu-satunya harapan adalah dua milisi lelaki yang kini berada di bawah pondok.
Yang satu adalah yang sama-sama datang dengannya ke pondok ini untuk menggantikan tugas penjagaan. Yang satu lagi adalah teman si kurus, yang akan mereka gantikan. Namun reaksi kedua lelaki itu justru bertolak belakang dengan yang diinginkan si wanita. Kedua mereka justru mengawasi jalan setapak ke arah kampung.
Melihat kalau-kalau ada yang datang. Tentu saja takkan ada yang datang. Tempat penyekapan itu terletak di tengah pepohonan dan hutan bambu. Jarak ke perkampungan ada sekitar 500 meter. Memekik kuat pun si wanita tetap takkan terdengar ke kampung. Apalagi pekiknya tertahan di tenggorokan.
Angin bertiup kencang. Atap penutup lobang penyekapan di depan pondok itu terkuak-kuak. Cahaya terang menerobos masuk ke lobang itu. Bau busuk segera menerobos ke atas. Para milisi tersebut segera pada menutup hidung mereka dengan kain. Salah seorang segera melemparkan tali yang tadi dia sandang di bahunya. Si wanita yang masih berpeluh hanya menatap dari tempat duduknya di atas pondok. Dia seperti kehabisan tenaga untuk bergerak.
“Ikat mayat itu dengan tali ini…” ujar pimpinan milisi Vietnam itu dalam bahasa Inggris.
Kendati bahasa Inggrisnya tak begitu baik, namun mereka yang berada dalam lobang sekapan itu faham apa yang disuruh. Letnan PL Cowie maju dan mengikatkan tali sebesar empu jari kaki itu ke pinggang mayat yang sudah tiga hari mengapung di dalam lobang itu.
Tali itu segera ditarik. Masih untung mayat itu belum berulat. Udara dingin di dalam lobang tersebut membuat mayat itu tak cepat menjadi rusak. Lalu di bawah todongan bedil salah seorang milisi, dua milisi lain segera menarik mayat itu ke atas. Diperlukan kerja yang cukup menguras tenaga untuk menarik mayat gembung itu.
Si wanita yang masih duduk tersandar menutup hidungnya dan membuang pandangannya ke tempat lain. Betapapun sudah seringnya dia ikut dalam pertempuran dan menyak sikan mayat bergelimpangan, namun melihat mayat gembung yang baru saja diangkat itu tetap saja membuat perutnya mual.
Setelah mayat diangkat, bambu-bambu kembali ditutupkan ke lobang tersebut. Kemudian semak-semak ditimbunkan kembali di atasnya. Setelah itu, mayat tersebut mereka bawa kearah hutan. Dan dikubur di sebuah lubang dangkal. Lalu ketiga milisi itu kembali ke perkampungan.
Kini di pondok penjagaan wanita itu hanya tinggal bersama seorang milisi lelaki. Di dalam lobang penyekapan, kelima lelaki yang terkurung di sana bisa agak bernafas lega. Kendati bau bangkai masih saja memenuhi lobang tersebut.
Mereka bersandar dengan diam. Air dalam lobang itu nampaknya agak menyusut. Jika semula sebatas dada, kini sudah turun sedikit. Namun masalah mereka untuk bertahan hidup tidak hanya harus berjuang melawan lapar, tapi harus mampu berdiri terus menerus. Tidak satu pun batang atau ranting yang bisa dijadikan tempat berpegang.
Satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah bersandar ke dinding. Penat bersandar mereka berjalan di dalam air berlumpur itu. Si Bungsu menjadi faham cerita Cowie, bahwa sebahagian dari tentara Amerika yang ditawan dalam lobang ini mati karena tak kuat berdiri.
Mereka terbenam dan mati lemas. Ini adalah cara menyiksa yang luar biasa. Tentara Vietnam tak perlu rugi sebutir pelurupun untuk membunuh tawanannya. Satu persatu tawanan mati karena lapar, gila atau sakit, kemudian terbenam. Mereka harus berjuang untuk bisa tetap tegak, dengan kaki yang makin melemah.
Semakin lama mereka mampu bertahan untuk berdiri, makin lama pula mereka bisa bertahan hidup. Siapa pun yang berada dalam lobang penyekapan itu pasti takkan pernah membayangkan apa yang mereka hadapi kini.
Yaitu kala mereka hidup di kota di Amerika sana, saat mereka masih belum mendaftar menjadi tentara. Saat sebahagian dari mereka masih mengisi hidupnya dengan masuk bar keluar bar. Masuk nightclub yang satu ke nightclub yang lain. Menenggak bir atau wisky, melahap lezatnya hamburger atau sandwich, berjoget dan kemudian main perempuan.
Kini, dalam lobang neraka segi empat berair kuning dan berbau bangkai ini, mereka kembali mendengar cekikikan perempuan. Mereka pada memasang telinga.
Suara cekikikan itu suara siapa lagi, kalau bukan suara milisi wanita bertubuh agak kurus tapi berdada dan berpinggul bahenol, yang bisa membuat mata lelaki jadi juling dan lemas kelelep itu. Dia memang sedang terlibat pembicaraan dengan teman lelakinya yang sama-sama menjaga di pondok pengawalan tersebut. Penempatan pengawalan di pondok itu nampaknya hanya sebagai sikap berjaga-jaga.
Lobang itu memang tak perlu diawasi benar. Sebab, hampir bisa dipastikan orang yang disekap di dalamnya, takkan bisa melarikan diri. Tapi begitulah, namanya saja tawanan perang. Kan aneh kalau tak ada yang menjaga tempat mereka ditawan. Itulah sebabnya setiap 12 jam pengawalan ditukar.
Perempuan itu sedang berada dalam posisi berbaring menelungkup di lantai pondok. Di bahagian depan, agak ke samping kanan, duduk temannya yang lelaki. Sesekali memandang ke arah timbunan semak belukar yang menutupi lobang penyekapan. Namun matanya lebih sering menatap bongkol pinggul perempuan yang menelungkup itu. Bersambung>>>


















