SUMBARTIME.COM-Sungai cukup besar, airnya amat jernih.“Apakah penduduk di sini suka ikan sungai?” tanya si Bungsu pada Lok Ma, yang bersama prajurit berbedil itu mengawasinya dari atas tebing.
“Ikan memang makanan utama mereka bersama nasi. Babi biasanya dijual kepada tentara. Atau di bawa ke desa terdekat, biasanya dua sampai tiga hari perjalanan, untuk dijual. Dibawa pakai gerobak dua atau tiga ekor….”
“Dengan apa mereka menangkap ikan?”
“Biasanya dengan kail….”
“Anda keberatan kalau saya memberi beberapa ekor ikan segar kepada mereka?” tanya si Bungsu sambil menunjuk pada beberapa wanita dan anak-anak sekitar dua puluh meter di hilir tempatnya.
Lok Ma menatap ke hilir. Beberapa wanita berada di sana. Sesekali mencuri pandang ke arah si Bungsu maupun ke arah Lok Ma.
“Mereka akan senang sekali. Tapi bagaimana engkau memperoleh ikan segar itu?” ujar sersan tersebut sambil menatap pada si Bungsu yang berendam dalam air setinggi dada.
Si Bungsu menyelam. Hanya beberapa detik, kemudian dia muncul lagi. Dia memperagakan beberapa butir batu sebesar ibu jari kepada Lok Ma.
“Pernah belajar menangkap ikan dengan batu-batu seperti ini…?”
Lok Ma menggeleng.
“Apa bisa?” ujarnya.
“Bisa…!”
Lok Ma menoleh pada prajurit yang menemaninya. Kemudian bicara dalam bahasa Vietnam. Menceritakan bahwa si Bungsu bisa menangkap ikan dengan batu-batu di tangannya itu. Si prajurit menatap ke arah si Bungsu dengan tatapan tak percaya.
Si Bungsu berdiri dan menatap tajam ke air jernih di sekitarnya. Batu-batu kecil itu dia pindahkan ke tangan kirinya. Hanya sebuah yang berada di tangan kanannya. Tiba-tiba dia menyambitkan batu tersebut ke air sekitar dua depa di depannya. Si Bungsu menanti, Lok Ma dan prajurit berbedil itu juga menanti.
“Tak ada yang kena…” ujar si Bungsu sambil tetap mengawasi air di sekitarnya.
Beberapa saat kemudian dia kembali menyambitkan batu ke arah hilir.
“Kena! Suruh mereka yang di hilir itu mengambilnya…” ujar si Bungsu ke arah Lok Ma.
Lok Ma menatap dengan diam ke air. Tak ada apapun yang terlihat. Namun hanya beberapa detik kemudian, dia melihat seekor ikan sebesar betisnya mengapung dengan perut ke atas.
“Hei, ambil ikan itu! Itu ada ikan yang baru kena lempar batu. Ikan itu untuk kalian, ambil… ambil…!” seru Lok Ma.
Para wanita di hilir hanya termangu, tak mengerti. Sementara itu si Bungsu kembali menyambitkan beberapa batu lagi ke air.
Para wanita itu baru ribut dan berceburan ke air setelah melihat dua tiga ekor ikan mengapung di permukaan sungai. Mereka berebut memunguti ikan yang kepalanya pada pecah itu. Lok Ma ternganga, ketika wanita-wanita itu dengan tertawa mengangkat ikan-ikan yang berhasil mereka kumpulkan. Besarnya tak kurang dari sebesar betis lelaki dewasa.
Beberapa lelaki dan wanita yang berada belasan meter di bahagian hulu segera berenang ke hilir. Mereka sampai ke tempat si Bungsu. Si Bungsu kembali menyelam memunguti beberapa batu. Lalu tangannya menyambit dan menyambit lagi. Enam, sampai tujuh ekor ikan sebesar lengan maupun betis pada mati dan berapungan. Penduduk memunguti ikan tersebut.
“Hei, bisa kupinjam pisaumu?” ujar si Bungsu mengejutkan Lok Ma.
Tanpa pikir panjang Lok Ma mencabut pisau di pinggangnya. Kemudian melemparkannya kepada si Bungsu. Si Bungsu menyambut pisau itu. Lalu kembali memperhatikan sungai di sekitarnya. Beberapa saat kemudian dia menyelam. Semua pada terdiam.
Namun dari atas tebing, baik Lok Ma maupun prajurit berbedil itu dapat melihat bayang-bayang tubuh si Bungsu di dalam air sungai yang jernih tersebut. Mereka menatap dengan diam dan penuh tanda tanya, apa yang akan dilakukan lelaki tersebut dengan pisau tajam itu.
Cukup lama Lok Ma melihat si Bungsu menyelam hilir mudik di dalam air. Suatu saat tubuhnya nampak berdiam diri dengan berpegangan pada sebuah batu besar di dalam sungai. Kemudian tiba-tiba tubuh lelaki tersebut meluncur ke hilir dengan cepat.
Tak lama kemudian kepalanya muncul, kedua tangannya terangkat. Lok Ma yang semula duduk mencangkung, sampai tertegak tatkala melihat di kedua tangan lelaki tersebut terpegang seekor ikan yang besarnya tak kurang dari paha lelaki dewasa, pisau komando tentara Amerika milik Lok Ma tertancap di bahagian dada ikan tersebut!
“Wuaw…!” seru Lok Ma.
“Wuaw…..!” seru prajurit yang memegang bedil di sampingnya.
Penduduk menatap lelaki asing itu dengan tercengang. Usahkan melihat, mendengar saja mereka belum pernah.
Tentang orang yang mampu menangkap ikan hanya dengan lemparan batu atau menyelam dengan pisau. Apa yang mereka lihat senja ini adalah suatu hal yang amat menakjubkan.
“Apakah komandanmu suka ikan sungai?” tanya si Bungsu tatkala berjalan pulang dari sungai.
“Dia tak begitu suka ikan. Dia suka daging babi. Tapi semua tentara di sini menyukai ikan. Kita bisa pesta ikan bakar malam ini…” ujar Lok Ma.
Beberapa wanita yang tadi berada di hilir, kemudian berpapasan dengan mereka di jalan menuju kampung, pada mengangguk dengan hormat sembari mengucapkan terimakasih pada si Bungsu. Si Bungsu membalas ucapan terimakasih yang sangat dia hafal itu dengan ucapan “terimakasih kembali” sembari membungkukkan badan.
Wanita-wanita itu tertawa bergumam senang mendengar balasan terimakasih mereka yang diucapkan lelaki asing tersebut dalam bahasa ibu mereka. Beberapa lelaki kampung pada berbisik, kemudian mengangguk kepada si Bungsu.
Mereka, terutama kanak-kanak, pada berbaris mengikuti Lok Ma, si Bungsu dan prajurit yang membawa ikan sebesar paha itu. Ikan itu diikat dengan tali moncongnya lewat insangnya. Kemudian sebuah kayu panjang sedepa diambil dari tepi sungai. Dengan kayu itu, ikan besar tersebut dipikul oleh Lok Ma dan si prajurit.
Cara aneh yang dilakukan si Bungsu menangkap ikan di sungai tersebut segera diketahui seisi kampung. Mereka ramai-ramai ke depan rumah besar yang dijadikan markas komandan tentara di desa ini. Sebelas ikan sebesar betis yang dibawa oleh para wanita dibawa ke markas tersebut.
Si overste yang mendengar ramai-ramai segera keluar. Dia terheran-heran melihat semua penduduk berkumpul di depan markasnya. Dan semakin heran melihat ikan demikian banyak dan yang seekor alangkah besarnya. Lok Ma segera menceritakan bagaimana ikan-ikan itu didapat.
Kemudian seorang lelaki tua, pimpinan desa itu maju. Dia bicara kepada si komandan. Si Komandan mendengar pembicaraan pimpinan desa itu dengan seksama. Kemudian dia mengangguk. Lalu bicara pada masyarakat dan belasan tentara yang ada di depan rumah besar itu.
Semua mereka bertepuk tangan usai si komandan berbicara. Di dalam rumah, kepada si Bungsu si overste bercerita, besok kebetulan Hari raya Tet Salah satu hari raya besar di antara belasan hari raya orang Vietnam tiap tahunnya. Penduduk ingin merayakannya dengan mengadakan hiburan sambil makan-makan bersama. Selain seluruh ikan yang baru diperoleh itu, juga akan dipanggang dua ekor babi sumbangan penduduk.
“Tuan suka babi…?” tanya overste tersebut.
Si Bungsu menggeleng.
“Saya seorang muslim…” ujarnya menjelaskan.
“Oo, moslem. Islam… ya agama Islam melarang makan babi…” ujar overste itu mengingat pelajarannya di Akademi Militer.
“Siang tadi Tuan mengatakan saya menderita penyakit paru-paru yang sudah berat. Dari mana Tuan tahu?”
“Dari wajah dan warna ludah Anda, Overste…” jawab si Bungsu perlahan sambil menatap wajah letnan kolonel itu.
Overste itu menatap si Bungsu beberapa saat, tanpa berkata sepatah pun. Kemudian menunduk. Dan tiba-tiba matanya basah. Dia berusaha menghapusnya. Seperti tak ingin dilihat menangis di depan orang. Namun betapapun dia tak mampu menahan agar matanya tak basah.
“Saya telah membunuh anak-anak saya yang paling saya cintai dengan menularkan penyakit celaka ini. Usia mereka masih terlalu muda untuk mampu bertahan…” ujarnya perlahan dengan suara terdengar bergetar.
“Saya ikut berduka…” ujar si Bungsu perlahan.
“Saya sudah berobat kemana-mana. Tetapi, rokok, minuman keras, heroin dan perang celaka ini tidak hanya menghancurkan hidup saya, juga anak-anak saya yang tertular…” ujar si overste.
“Saya pernah belajar membuat ramuan obat, tatkala saya sendirian selama dua tahun dalam belantara di kampung saya. Semula ramuan obat itu saya buat asal-asalan, untuk mempertahankan hidup. Namun setelah mencoba berbagai jenis daun, kulit, akar, getah kayu rumput dan lumut yang ternyata berkhasiat untuk obat.
Lalu ketika saya di Amerika, seorang Indian menambah banyak sekali pengetahuan saya tentang ramuan obat dari lumut, rumput, akar, daun dan getah beberapa jenis kayu lagi. Jika Anda mau mencoba Overste, di sungai tadi saya telah mengumpulkan lumut yang baik sekali untuk obat, berikut beberapa jenis rumput dan daun kayu….”
“Berapa lama ramuan itu bisa se…” pertanyaan overste itu terhenti oleh sedakan batuk yang mula-mula ringan.
Namun batuknya makin lama makin keras dan membuat dia sulit bernafas. Si Bungsu tahu, jika siang hari orang yang menderita penyakit seperti overste ini takkan begitu merasakan penyakit yang menggerogotinya. Sebab siang hari udara panas.
Namun begitu malam mulai turun, seperti sekarang, penyakit itu kambuh. Makin dingin hari, makin dahsyat serangannya.
“Saya akan kembali ke pondok saya, akan saya buatkan ramuan itu segera…” ujar si Bungsu sambil berdiri
Overste itu hanya mampu mengangguk, sementara batuknya kemudian menyerang berkali-kali. Lok Ma yang ada dalam rumah itu segera membantu komandannya. Mengambilkan sebaskom air panas dari periuk di tungku, kemudian sebuah handuk kecil yang bersih.
Di luar rumah, si Bungsu melihat kesibukan penduduk dan tentara mempersiapkan segala sesuatu untuk merayakan Hari Raya Tet malam nanti. Mereka membuat dua perapian untuk membakar ikan dan babi. Kemudian sebuah lagi untuk menanak nasi. Melihat si Bungsu muncul, beberapa lelaki datang menyalaminya.
Beberapa wanita saling berbisik. Para tentara menatapnya dengan diam. Dia masuk ke pondoknya. Mengambil lumut dan beberapa jenis daun yang dia bungkus dengan daun pisang senja tadi. Di daun pisang itu bahan-bahan tersebut dia remas menjadi satu.
Saat dia keluar kebetulan Lok Ma datang. Kepada Lok Ma dia minta dicarikan air kelapa muda. Kemudian anak pisang. Dalam waktu yang tak begitu lama bahan-bahan itu diantarkan Lok Ma kepadanya. Dia meminta sebuah baskom alumunium, atau periuk kecil. Ramuan itu dia masukkan ke periuk kecil. Bersambung>>>


















